
Senyum manis tergambar di wajah Patih Baladewa melihat sosok yang hadir di depan pintu tersebut adalah paman Hastrayasa
"Silahkan masuk paman" kata Patih Baladewa dengan menjulurkan tangannya ke dalam rumah
Paman Hastrayasa memasuki rumah milik Patih Baladewa, namun kali ini dia tidak datang sendirian, dia bersama seorang gadis muda yang sangat cantik
Patih Baladewa tidak bertanya tentang siap gadis muda itu, karena dia sudah tau bahwa gadis muda yang bersama paman Hastrayasa adalah putri Arumdalu
"Selamat malam putri Arumdalu" salam Patih Baladewa sambil membungkuk di hadapan putri Arumdalu
"Salam dari saya paman Patih" balas putri Arumdalu
__ADS_1
Senyum manis terlihat di wajah putri Arumdalu melihat sosok lelaki dengan tubuh besar kekar dengan jambang yang tumbuh di sekitar dagunya
"Bagaimana keadaan di sini kakang Patih...???" Paman Hastrayasa mulai membuka pembicaraan
Patih Baladewa terdiam sesaat kembali teringat dengan apa yang terjadi selama ini di wilayah kekuasaan kerajaan Dharmasraya
"Semua tampak sudah tak seperti dulu paman, para Demang dan para petinggi kerajaan memaksa penduduk untuk membayar upeti yang sangat tinggi, para penduduk yang tak mampu memenuhi tingginya upeti akan di siksa dan dihukum oleh mereka" penjelasan dari Patih Baladewa sudah bisa dibayangkan oleh paman Hastrayasa betapa buruknya kepemimpinan kerajaan Dharmasraya saat ini
"Bagaimana menurut paman, apakah kita sebaiknya bertindak sekarang..????" Kembali Patih Baladewa berkata kali ini sebuah pertanyaan dia lemparkan pada paman Hastrayasa
Sedikit menarik nafas, sebelum paman Hastrayasa kembali berkata "aku akan pergi ke wilayah kerajaan Adibuana, disana aku memiliki adik seperguruan yang mungkin bisa aku ajak bergabung"
__ADS_1
"Kebetulan sekali, menurut mata-mata yang ada di istana, prabu Losanjaya juga akan berencana menyerang kerajaan Adibuana, mengingat banyaknya penduduk yang pindah ke wilayah kerajaan Adibuana, membuat prabu Losanjaya geram dan ingin meruntuhkan kerajaan Adibuana juga paman" pernyataan yang di ungkapkan Patih Baladewa sontak membuat paman Hastrayasa meninggikan alisnya
Mengingat kekuasaan kerajaan Adibuana adalah sebuah kerajaan yang besar, bahkan wilayahnya dibagi menjadi empat bagian untuk mengatur roda perekonomian agar bisa maksimal
Itu berarti akan sangat menyengsarakan rakyat jika nantinya mereka juga akan turun ke Medan perang jika saja pertempuran itu benar-benar terjadi
Diantara pembicaraan keduanya tiba-tiba putri Arumdalu berkata "maaf paman Patih, apa ada kabar mengenai ibu dan kakak ku...????" Terkejut Patih Baladewa mendengar pertanyaan putri Arumdalu, wajahnya dia geser untuk menatap gadis yang kini tengah tumbuh menjadi dewasa
"Oh ya paman lupa, sebenarnya ada berita baik dan kurang baik yang paman ingin sampaikan" sejenak Patih Baladewa menarik nafas, mengatur pola duduknya dan sedikit membenarkan nada suaranya
"Katakan kakakng Patih, sedikit atau banyak semua informasi sangat berguna bagi kita semua" kata paman Hastrayasa dengan memandang serius ke arah Patih Baladewa
__ADS_1
"Jadi menurut kabar yang aku terima Dewi sekardalu diselamatkan oleh orang tak dikenal sesaat sebelum dirinya dibawa masuk ke dalam istana kerajaan, sedangkan kakakmu Sastra Praja tewas dalam pertarungan malam itu" tertunduk lemas putri Arumdalu mendengar apa yang paman Patih Baladewa katakan, hatinya hancur tak tau apa yang harus di lakukan, tubuhnya lemas bersandar pada bahu paman Hastrayasa