
Di istana kerajaan Dharmasraya
Seorang wanita duduk termenung di sebuah gazebo yang ada di sekitar taman istana, wanita itu tampak merenung, entah memikirkan apa, semua orang tak ada yang tau,, "mohon ampun Gusti Ratu,, saat ini Gusti Ratu di tunggu Gusti prabu di aula singgasana" terdengar suara dari dayang istana yang ada di belakangnya, membuat lamunannya seketika terhenti untuk mendengarkan apa yang di ucapkan oleh dayang tersebut
Tak ada jawaban dari wanita yang dipanggil Ratu oleh dayang tersebut, hanya anggukan kepala sudah bisa menjadi simbol diantara pembicaraan keduanya
Kembali termenung sejenak sebelum akhirnya wanita itu bergegas menuju ke arah aula singgasana
Sedangkan di aula singgasana
__ADS_1
Suasana tampak ramai, semua punggawa dari kerajaan Dharmasraya berkumpul di aula yang sangat luas tersebut
Mulai dari Patih Joyo winoto, Senopati Aryo Tejo, Senopati Wirang Geni, Tumenggung Hadi Sujatmoko, Tumenggung Condro Lukito, dan para petinggi kerajaan Lingga juga ikut hadir mulai dari Patih Doso Sosro, kedua Senopati kerajaan Lingga Warid lastari dan Sutarji hanung asto semua sudah duduk manis di masing-masing tempat yang sudah di sediakan, begitupun prabu Losanjaya yang duduk santai di atas singgasana
Terdengar suara langkah kaki, pelan perlahan tapi semakin mendekat ke arah aula singgasana, seorang wanita dengan santai berjalan melewati semua punggawa yang ada di ruangan tersebut, wanita itu masih menunjukan kecantikan yang sempurna bak bidadari yang turun dari khayangan
"Maaf hamba terlambat Gusti prabu" kata wanita itu dengan hormat sambil duduk di samping prabu Losanjaya
Perlahan tangan prabu Losanjaya menggenggam tangan Dewi Mayangsari dan mencium punggung tangannya
__ADS_1
Semua punggawa yang menyaksikan tak sedikitpun ada yang berani berkomentar, karena takut jika akan menyinggung raja mereka
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perubahan yang dilakukan oleh prabu Losanjaya, kepergian Patih Wiryo hadirojo yang juga tak kunjung kembali setelah lima belas tahun mencari daun Cemoro yang ada di puncak gunung Merapi, pernah beberapa kali Gusti prabu Losanjaya mengirim orang untuk mencari tau keberadaan Patih Wiryo hadirojo, tapi tak ada satupun yang kembali pula, semua menghilang bagai di telan bumi
Maka Gusti prabu Losanjaya memilih Joyo winoto sebagai pengganti Patih Wiryo hadirojo, sosok Joyo winoto bukanlah orang sembarangan karena prabu Losanjaya memilihnya setelah melakukan sayembara panjang yang mampu mengalahkan ratusan pendekar sakti di tanah ini
Sedangkan Senopati Wirang Saji yang kembali bersama dengan prajurit yang membawa jasatnya, dengan kondisi tak lagi bernyawa setelah dadanya terlihat terkena pukulan ajian gelap ngampar, tapi entah siapa yang menyerang semua tak ada yang tau
Tapi menurut prajurit yang melihat pertarungan Senopati Wirang Saji di saat sebelum dia mati, adalah sosok kakek tua dengan pakaian serba hitam
__ADS_1
Kini posisinya digantikan oleh anaknya sendiri, yaitu Wirang Geni yang ditunjuk menjadi Senopati yang baru menggantikan ayahnya sendiri, kemampuan nya tak ada bedanya dengan ayahnya yang sudah tiada, membuat prabu Losanjaya tak ragu untuk memilih dirinya
sedangkan nasib malang di terima oleh Satria Mahardika, tak kunjung mendapatkan daun Cemoro yang ada di puncak gunung Merapi membuat dirinya harus meregang nyawa karena tak ada yang bisa mengobati lukanya