
Joko patah berjalan sambil menggendong paman Hastrayasa di pundaknya
Dalam setiap perjalanan tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Patih Lintang Sanggabumi
Joko Patah yang sesekali melirik wanita yang ada di belakangnya, tapi balasan tatapan tajam tergambar di wajah Patih Lintang Sanggabumi
Membuat Joko Patah mengurungkan niatnya untuk sekedar berbincang dengannya
Joko Patah terus berjalan mendaki bukit melewati lembah, dengan tatapan tajam lurus ke depan
"Apa masih jauh...???" Dari belakang suara wanita terdengar membuat Joko Patah tersenyum
"Mungkin jika kita saling berkenalan dan berbincang disepanjang jalan mungkin akan terasa sangat singkat perjalanan ini" balas Joko Patah meski tak menghentikan langkahnya
"Jangan bermain-main denganku, aku tak punya banyak waktu" kini semakin serius nada perkataan yang diucapkan Patih Lintang Sanggabumi
"Akupun juga begitu bibik, setidaknya jika bibik berkata lebih lembut itu bisa membuat bibik terlihat lebih cantik" jawab Joko dengan sedikit mengejek
"Jaga ucapan mu"
.................
__ADS_1
Keadaan di desa tirip saat ini semakin tak bisa dikendalikan, demi memenuhi hasrat prabu Losanjaya yang ingin mengerahkan prajurit dengan jumlah ribuan saat nantinya menyerang kerajaan Adibuana
Banyak rakyat yang dipaksa ikut dalam pelatihan perang tanpa memikirkan kesejahteraan mereka
Seperti romusha mereka semua dipaksa untuk turut serta dalam membangun pondasi perang kerajaan
Banyak yang tewas dalam pelatihan karena fisik yang tidak kuat menahan porsi latihan yang dipaksakan
"Sungguh kejam apa yang telah mereka lakukan" terdengar sebuah obrolan dari dua orang di salah satu rumah kecil di pinggiran desa
"Apa yang harus kita lakukan paman Patih" jawab sosok gadis muda yaitu putri Arumdalu
Tapi setelah beberapa saat pintu rumah tersebut di tendang dengan keras dan hancur
Beberapa prajurit kerajaan berdiri di depan rumah dan bersiap membawa paksa mereka
"Biar aku yang menghadapi putri"
Sekejap dengan cepat Patih Baladewa langsung menghadang para prajurit agar tak sampai masuk ke dalam rumah
Perawakan nya yang kini tampak asing bagi para prajurit membuatnya berani berhadapan muka dengan para prajurit itu
__ADS_1
Tapi sepertinya beberapa prajurit masih mengenalinya, karena ada beberapa prajurit yang menatap aneh dan saling bergunjing dengan prajurit lain yang ada di sebelahnya
"Ada perlu apa kalian kesini" spontan Patih Baladewa berkata
Membuat para prajurit ragu untuk menyerang, semakin gaduh pergunjingan para prajurit itu saat mendengar suara dari lelaki kekar yang kini ada di hadapan mereka
Seakan kenal dengan sosok yang saat ini menjadi lawannya, "apa aku tidak salah kenal" bisik salah satu prajurit pada prajurit lainnya
Kembali para prajurit menatap ke arah lelaki berbadan kekar di depannya, seolah meyakinkan apa yang dia lihat dan dia dengar bukanlah seperti dugaan mereka
"Ayo kita bawa dia" dengan cepat para prajurit memaksa Patih Baladewa untuk ikut dengan mereka
"Apa boleh buat" gumam Patih Baladewa dan langsung menyerang para prajurit
Meski dengan sedikit jurus para prajurit sudah tak ada yang mampu lagi berdiri, namun Patih Baladewa tak meneruskan pertarungan dan memilih pergi bersama dengan putri Arumdalu
Berlari menuju hutan untuk menghilangkan jejak Patih Baladewa dan Putri Arumdalu kini mencari tempat persembunyian baru
Dengan kejadian ini sudah dipastikan dia tak akan bisa kembali lagi ke persembunyian lamanya
Yang saat ini mereka lakukan hanya bersembunyi dan menunggu waktu yang pas untuk bertemu paman Hastrayasa untuk menentukan langkah selanjutnya
__ADS_1