
Di tempat ruang aula pertemuan
Mayat-mayat para prajurit sudah terlihat berjatuhan, entah itu dari pihak lawan maupun pihak istana, semua hampir ada di setiap sudut aula
Dan masih banyak lagi prajurit yang masih bertarung demi kemenangan yang mereka yakini, prabu Adiyaksa yang menggunakan jurus Panglimunan, hanya berjalan di samping para prajurit yang sedang bertarung tanpa bisa di lihat oleh mereka
Memasuki setiap kamar demi kamar yang ada di sekitar aula, yang menjadi tempat beristirahat para tamu, tapi tetap saja tak menemukan putri Arumdalu
Berfikir sejenak untuk kemungkinan dimana putri dan paman nya berada, prabu Adiyaksa hanya memikirkan satu tempat "ruang pusaka" hanya itu
Bergegas ke tempat penyimpanan pusaka, dan apa yang dia cari berada di balik rak-rak pusaka yang ada di dalam ruangan tersebut, memang di sana ada tempat tersembunyi yang hanya di ketahui oleh prabu Adiyaksa dan paman Hastrayasa, yang saat memang di tugaskan untuk menjaga, bahkan sebagai seorang empu yang mampu membuat pusaka di kerajaan tersebut
Prabu Adiyaksa melepas jurus Panglimunan dan wujudnya kini kembali seperti sedia kala, berjalan menuju ruang tersembunyi tersebut, dan benar paman Hastrayasa dan putri Arumdalu berada di tempat itu
"Paman apa yang terjadi..??" Tanya prabu Adiyaksa
"Hamba juga kurang tau, tapi ada yang janggal dari penyerangan ini" jawab paman Hastrayasa sambil masih menggendong putri Arumdalu yang masih berumur tiga tahun
Prabu Adiyaksa mengeluarkan sebuah pusaka dari dalam tubuhnya, dua pusaka terbang melayang diatas kepalanya, sebuah pedang yang memiliki warna merah dan warna hijau berputar di atas kepalanya, dan pedang itu mengeluarkan energi dari dalam pedang tersebut
Perlahan dengan tenaga dalam nya prabu Adiyaksa memegang kedua pedang itu di tangan kanan dan kirinya, setelah beberapa saat mengalirkan tenaga dalam pada kedua pedang itu, kini pedang itu sudah tidak mengeluarkan energi, prabu Adiyaksa menyerahkan pedang berwarna merah kepada paman Hastrayasa "tolong paman lebih sempurnakan pedang naga merah ini, agar kelak di suatu saat bisa mengalahkan pedang naga hijau ini, jika saja aku kalah dalam peperangan ini, aku harap kelak putri ku mampu membalas semua perbuatan mereka yang telah mengkhianati kita" prabu Adiyaksa berkata setelah memberikan pedang naga merah pada paman Hastrayasa
"Baiklah anak prabu, paman akan menjaga dan membesarkan putri Arumdalu dengan baik, jika waktunya tiba Paman akan memberikan pedang ini untuk putri Arumdalu, dan menyampaikan semua yang anak prabu katakan" balas paman Hastrayasa
"Pergilah ke hutan manggalingan dan bawalah ini" prabu Adiyaksa menyerahkan sebuah gelang yang terbuat dari akar pohon, paman Hastrayasa paham apa maksud dari gelang tersebut dan memohon pamit pada prabu Adiyaksa, untuk segera menyelamatkan Putri Arumdalu
Prabu Adiyaksa bangkit dan kembali memasukan pedang naga hijau ke dalam tubuhnya, dan bergegas keluar dari ruang pusaka dengan menggenakan pakaian perang dan tombak di tangan kanannya
Setelah keluar dari dalam ruang pusaka, semua mata prajurit memandang ke arahnya berdiri, "Gusti prabu" prajurit dengan baju berwarna oranye berkata
__ADS_1
Sedangkan prajurit yang memakai baju berwarna hitam hanya menatap tajam ke arahnya, "itu yang kita cari" teriak salah satu prajurit yang memakai pakaian hitam
Pertarungan kembali berlanjut, prabu Adiyaksa yang memiliki kekuatan tinggi dengan mudah menghabisi para penyusup, dan yang menjadi pertanyaan adalah setelah cadar dari penyusup itu dibuka, mereka adalah prajurit dari istana sendiri
"Siapa dalang di balik semua ini" gumam prabu Adiyaksa
Berjalan keluar dari aula pertemuan menuju ke garis depan peperangan, prabu Adiyaksa melihat Patih Baladewa sedang menghadapi seorang yang tak asing di mata prabu Adiyaksa
Danang Suseno, Wiryo hadirojo dua kata itu yang keluar dari bibir prabu Adiyaksa, sebelum akhirnya dia melesat ke arah pertarungan mereka
Patih Baladewa memang bukan sosok lama yang ada di kerajaan Dharmasraya, tapi kekuatan nya dan cara berfikir yang cerdas membuat prabu Adiyaksa mengangkatnya sebagai Patih di kerajaan Dharmasraya,
Sedangkan Senopati Danang Suseno dan Senopati Wiryo hadirojo merupakan orang lama yang sejak kakek dan nenek mereka dulu sudah mengabdikan diri pada kerajaan Dharmasraya, hingga sekarang di teruskan oleh mereka
Kekuatan Patih Baladewa mampu menahan imbang kedua Senopati tersebut, tapi jika di biarkan terlalu lama Patih Baladewa pasti akan kewalahan karena Wiryo hadirojo memiliki ajian Bandung Bondowoso sehingga membuat kekuatan sebesar apapun pasti tidak akan bisa melukai tubuhnya
Sedangkan Danang Suseno memiliki ajian jala sutra membuat lawan nya tak akan berani menyerang secara langsung pada pemilik jurus tersebut
Nafas Patih Baladewa terengah-engah, karena ajian lembu sekilan membutuhkan tenaga dalam yang besar untuk menggunakannya, tapi tak ada pilihan lain jika Danang Suseno menggunakan ajian jala sutra maka tidak ada ajian lain yang bisa di keluarkan oleh Patih Baladewa kecuali ajian lembu sekilan
Prabu Adiyaksa datang di tengah-tengah pertarungan Patih Baladewa dan kedua Senopati istana "apa yang sebenarnya terjadi" perkataan prabu Adiyaksa membuat pertarungan mereka berhenti
Senopati Danang Suseno dan Wiryo hadirojo saling memandang satu sama lain "maaf prabu Adiyaksa kami sudah tak memihak pada kerajaan Dharmasraya" kata Danang Suseno dengan tegas
"Jadi ini semua ulah kalian, sepengecut inikah kalian berdua, beraninya dibelakang ku, mundurlah Patih Baladewa, biar aku yang menghabisi mereka berdua" kata prabu Adiyaksa dengan mendorong Patih Baladewa mundur beberapa meter
Prabu Adiyaksa kali ini bukan main-main, kekuatan untuk mendorong Patih Baladewa mundur saja sudah menggambarkan bahwa dia tak main-main dalam hal ini
Senopati Danang Suseno dan Wiryo hadirojo bersiap dengan serangan gabungan, prabu Adiyaksa bersiap dengan tenaga dalam yang mulai keluar dari kedua tangannya
__ADS_1
Serangan maju lurus ke depan oleh prabu Adiyaksa, tapi serangannya di halangi dengan mudah oleh Wiryo hadirojo, dengan ajian Bandung Bondowoso tubuhnya Kokok seperti semen
Tombak yang di lepaskan lurus sebagai serangan pembuka dengan mudah dihalau dan bengkok saat menyentuh tubuh Wiryo hadirojo
Senyuman prabu Adiyaksa terlihat jelas, dia sadar yang dia hadapi bukanlah orang sembarangan, karena dia sendiri lah yang memilih mereka berdua menjadi Senopati
Jadi sudah bisa dibayangkan bahwa mereka pasti memiliki kekuatan yang tidak bisa di anggap remeh
Danang Suseno dan Wiryo hadirojo sangat serius dengan pertarungan ini, bahkan sebenarnya mereka tidak ingin melakukan pertarungan ini, tapi apa boleh buat, mereka tidak punya pilihan karena sekutu mereka belum juga muncul
"Bagaimana ini, apa kita akan menang menghadapi Gusti prabu...???" Danang Suseno bertanya pada Wiryo hadirojo
"Aku juga tidak yakin, tapi semoga mereka segera datang"
Ketiganya mulai menyerang satu sama lain,dengan ilmu Kanuragan, prabu Adiyaksa dengan ajian tameng Waja untuk melawan Wiryo hadirojo sekaligus untuk menahan serangan ajian jala sutra jika Danang Suseno menggunakan nya
Serangan ilmu Kanuragan ketiganya sangat kuat, membuat pertarungan terlihat seimbang, meski prabu Adiyaksa hanya seorang diri, tapi melawan mereka berdua masih lah terlihat mudah
Satu pukulan over head tangan kanan dari prabu Adiyaksa mampu dihindari oleh Danang Suseno dengan mengelak ke arah kiri, tapi tendangan kaki kanan yang prabu Adiyaksa lepaskan ke sebelah kiri mampu menyentuh tubuh Danang Suseno, yang sudah tak bisa lagi mengelak
Mundur beberapa meter kebelakang sesaat terkena tendangan dari prabu Adiyaksa, meskipun bukan serangan telak tapi setidaknya mampu mengenai sasaran
Mengambil kuda-kuda untuk mengeluarkan sebuah jurus, "ajian jala sutra" sebuah cahaya kuning melesat ke arah prabu Adiyaksa
Sesaat cahaya itu menyentuh tubuh prabu Adiyaksa, tapi tak membuat sang prabu merasakan apa-apa, karena sang prabu sudah menggunakan ajian tameng Waja untuk membentengi tubuhnya dari serangan ajian jala sutra milik Danang Suseno
Terkejut Danang Suseno melihat bahwa apa yang menjadi ajian pamungkasnya tak berarti apa-apa, dan senyuman di bibir prabu Adiyaksa yang melihat Danang Suseno seperti tak percaya dengan apa yang terjadi
Wiryo hadirojo yang melihat kejadian itu juga tak percaya, jika ajian tameng Waja mampu menahan ajian jala sutra, bergerak dengan cepat prabu Adiyaksa menyerang lurus ke arah Danang Suseno
__ADS_1
Danang Suseno yang tak sempat menghindar karena pergerakan prabu Adiyaksa sangat cepat, menerima pukulan telak di dadanya, membuat tubuhnya tersungkur dan muntah darah