
Mata Dewi sekardalu mulai lebam, dan meneteskan air mata, dengan suara khas tangisan perempuan terdengar di tempat pertarungan yang sebelumnya penuh dengan gemuruh suara dari sisa-sisa pertarungan, kini menjadi sunyi hanya suara tangisan dari Dewi sekardalu yang terdengar
Prabu Losanjaya sekilas melihat ke arah Dewi Mayangsari yang berdiri di dalam rombongan nya, terlihat wajah datar tapi dengan bibir yang tampak gelisah
Tersenyum manis prabu Losanjaya melihat keadaan itu, sepertinya ada maksud lain di dalam diri prabu Losanjaya dengan Dewi Mayangsari
Darah segar membanjiri tanah, aroma amis darah mulai tercium di tempat pertarungan, prabu Losanjaya berjalan ke depan menuju ke arah pedang naga hijau yang masih menyala terang, menerangi gelapnya malam
Di lihatnya prabu Adiyaksa yang sudah tergeletak di samping pedang naga hijau, perlahan tangannya mencoba meraih pedang itu, tapi energi kuat keluar dari dalam pedang naga membuat prabu Losanjaya tak bisa meraih pedang itu, bahkan untuk menyentuh saja tidak mampu
Seorang dari rombongan prabu Losanjaya berjalan maju "Gusti prabu kita harus melakukan ritual nya terlebih dahulu, agar kita bisa menguasai pedang ini" berkata orang itu dengan nada berbisik pada prabu Losanjaya
Prabu Losanjaya tersenyum dan memerintahkan orang tersebut menyiapkan ritual nya, dia adalah orang yang menjadi penasihat dari kerajaan Lingga, Anom Sudarsono
Panji Sastra di bopong oleh dua prajurit dan di letakan di sebuah tempat yang sudah di sediakan oleh Anom Sudarsono
__ADS_1
Tangisan anak kecil berusia lima tahun terdengar nyaring di telinga semua orang menyaksikan ritual itu, Dewi sekardalu meronta-ronta mencoba melepaskan tali ikatan yang mengikat tubuhnya, tapi tak sedikitpun tali tersebut longgar
"Tolong jangan sakiti anak ku.... Tolong... tolong....jangan sakiti" teriakan Dewi sekardalu tak sedikitpun ditanggapi oleh semua orang
Bahkan Dewi Mayangsari yang notabenya selir dari prabu Adiyaksa tampak tak menghiraukan Dewi sekardalu yang meronta meminta tolong
Dewi sekardalu menangis dengan apa yang dia lihat, tak pernah sedikitpun terpikirkan dalam fikirannya jika keluarga nya akan berakhir seperti ini
Anom Sudarsono membaca sebuah mantra, dan menaruh sebuah maron dibawah tubuh Panji Sastra yang di rebahkan di atas sebuah meja kayu yang telah di desain sesuai kebutuhan ritual tersebut
Saat Anom Sudarsono mengangkat sebuah belati di atas tubuh Panji Sastra, teriakan keras terdengar oleh semua yang menyaksikan ritual itu, teriakan Dewi sekardalu yang semakin kuat untuk yang ke sekian kalinya
Dewi sekardalu menangis tanpa bisa lagi mengeluarkan suara, tangisan yang keluar dari dalam hati yang paling dalam, melihat orang-orang yang di sayangi harus berakhir tragis
Panji Sastra terlihat tak mampu bergerak setelah kedua prajurit memegangi tangan dan kakinya, mulutnya di sumpal dengan sebuah kain agar tak lagi berteriak
__ADS_1
Tubuhnya perlahan terlihat lemas setelah darah sudah banyak keluar dari dalam tubuhnya, lewat nadinya yang kini sudah terlihat membiru
Matanya terpejam dan kedua prajurit tersebut sudah tak lagi memegangi tubuh dari Panji Sastra, itu berarti Panji Sastra sudah tak lagi bernyawa
Dewi sekardalu tertunduk lemas, semua tenaganya habis untuk berteriak dan menangis, dan sesaat terlihat prabu Losanjaya berjalan maju mengarah pada sosok Panji Sastra yang sudah tak bergerak
Dia mengambil maron yang terisi oleh darah Panji Sastra dan meminum darah itu sampai habis, semua orang yang melihat tampak terlihat sedikit mual dengan apa yang mereka lihat saat ini
Tapi tak ada di antara mereka yang berani bergerak dari tempatnya untuk pergi, hanya tatapan mata mereka jelas mengarah ke arah yang lain
Berbeda dengan Anom Sudarsono yang melihat tajam ke arah prabu Losanjaya yang sedang meminum darah dari Panji Sastra
Setelah beberapa saat meminum darah dari Panji Sastra tanpa ada rasa ragu ataupun sedikit jijik, prabu Losanjaya berjalan mengarah pada pedang naga hijau yang tertancap di tanah
Tangannya perlahan meraih gagang pedang naga hijau, meskipun masih ada energi yang keluar dari dalam pedang tersebut tapi seolah tak menjadi halangan bagi prabu Losanjaya memegang gagang dari pedang naga hijau
__ADS_1
Setelah mampu memegang pedang naga hijau, prabu Losanjaya mengangkat ke atas dan di ikuti sorak-sorai dari para pengikutnya
Tertawa lepas setelah kemenangan yang dia dapat, begitu tampak jelas di wajah prabu Losanjaya, Patih Satria Mahardika, Senopati Wiryo hadirojo, tumenggung Suryo Tejo dan Dewi Mayangsari dan semua rombongan yang berada di pihak kerajaan Lingga