Back To Castle

Back To Castle
sembilan


__ADS_3

Berjalan keluar dari dalam semak-semak, seorang kakek-kakek tua dengan pakaian serba hitam dan memiliki jenggot yang agak panjang


"Bre#ngsek, beraninya main belakang, dasar kakek tua Bangka" cacian dan makian di keluarkan oleh Senopati Wirang Saji


Tersenyum kakek itu mendengar semua kata dari Senopati Wirang Saji yang terus menggerutu karena kesakitan


Dewi sekardalu langsung menutup kembali tubuhnya untuk yang ke dua kali, dan bergegas berlari mengarah pada kakek tua tersebut


"Tolong aku kakek, mereka mau memp#erkosa ku, dan telah membunuh anak dan suamiku" kata Dewi Sekardalu sambil bersembunyi di balik tubuh kakek tua itu


Ingatan Patih Wiryo hadirojo kembali di malam saat terjadinya pertarungan di kerajaan Dharmasraya, bahwa seorang lelaki tertutup pakaian hitam menyelamatkan Dewi sekardalu sesaat sebelum dibawa masuk ke dalam istana


"Siapa kakek tua itu, meskipun tua tapi dia sepertinya memiliki ilmu yang cukup tinggi" gumam Patih Wiryo hadirojo

__ADS_1


"Mengapa kakang diam saja, serang dia kakang" berkata Senopati Wirang Saji sesaat setelah melihat Patih Wiryo hadirojo termenung


Terdiam Patih Wiryo hadirojo meski Senopati Wirang Saji menyuruhnya untuk melawan, turun dari kudanya dan berjalan ke arah Senopati Wirang Saji, Patih Wiryo hadirojo berkata "sebaiknya kita cepat pergi sebelum terjadi hal-hal yang tak di inginkan" kata Patih Wiryo hadirojo berbisik pada Senopati Wirang Saji


"Hanya melawan kakek tua saja , kakang Patih tidak mampu, biar aku sendiri yang menghabisi kakek tua Bangka itu"


"Jangan gegabah" belum selesai Patih Wiryo hadirojo memberikan saran, Senopati Wirang Saji langsung melesat berdiri di depan kakek tua yang tampak masih sehat


Tersenyum kakek itu melihat lawannya yang memiliki kesombongan yang begitu tinggi, "lebih baik kamu turuti, kemauan nya untuk pergi anak muda" kakek itu berkata sambil menunjuk ke arah Patih Wiryo hadirojo


Satu dua jurus ilmu Kanuragan di keluarkan oleh Senopati Wirang Saji, tapi tak ada yang merepotkan kakek tua itu


Setiap gerakannya sangat lentur untuk menghindari setiap jurus yang di keluarkan oleh Senopati Wirang Saji, bahkan Senopati Wirang Saji harus mengeluarkan tenaga dalam nya hanya untuk membuat kakek itu serius dalam bertarung

__ADS_1


"Sebenarnya anak muda seperti mu terlalu dini untuk mati, tapi karena perbuatan mu yang menyalahi aturan, sepertinya kau memang tidak ada gunanya hidup lebih lama anak muda" kakek tua itu mencoba mengeluarkan sebuah ajian


"Akhirnya kau serius juga kakek tua" sebuah ajian juga sepertinya akan di keluarkan oleh Senopati Wirang Saji, sebuah cahaya terang mulai keluar di tangan kanannya membentuk sebuah pusaka berwujud keris


Menyerang maju dengan pusaka keris yang di keluarkan oleh Senopati Wirang Saji, kekuatan nya memang sangat dahsyat, setiap tebasan dari keris tersebut mampu memotong pepohonan yang ada di belakang kakek tua tersebut di saat kakek tua menghindari setiap tebasan nya


Mundur beberapa langkah sebelum kakek tersebut mengeluarkan sebuah ajian, langit tiba-tiba mendung gelap dan suara gemuruh Guntur terdengar "ajian gelap ngampar" Kata kakek tua itu dan sebuah pukulan mengarah ke arah Senopati Wirang Saji, meski Senopati Wirang Saji menahan pukulan itu dengan pusaka Pamungkas nya tapi, masihlah kurang mumpuni jika harus berhadapan dengan ajian gelap ngampar, tumbuhnya terpental jauh membentur pepohonan dan terlihat tak bergerak setelah tergeletak di atas tanah


Melihat Senopati Wirang Saji yang sudah dalam keadaan tak lagi bergerak, dengan sekujur tubuhnya terlihat seperti orang tersambar petir, hitam dan rambutnya sedikit berdiri membuat Patih Wiryo hadirojo segera bergegas meninggalkan tempat itu, memacu kudanya dengan sangat kencang melewati setiap pepohonan yang semakin lebar karena semakin masuk ke dalam hutan, sampai para prajurit nya kuwalahan mengejar kuda milik Patih Wiryo hadirojo


Berjalan pelan kakek tua itu mengarah pada Dewi sekardalu yang kini bersembunyi di balik pohon besar "akhirnya semua sudah selesai Gusti ratu" kakek tua itu berkata sambil memberi hormat pada Dewi sekardalu


"Tak perlu berlebihan seperti itu kakek, aku sangat berterima kasih atas pertolongan kakek, apalagi saat ini aku bukanlah seorang ratu lagi, jadi aku mohon kakek memanggil ku sekardalu saja" balas Dewi sekardalu menanggapi perlakuan kakek tua

__ADS_1


Tersenyum kakek tua itu mendengar apa yang di ucapkan oleh Dewi sekardalu


"Mari ikut saya" kata kakek itu dengan berjalan melewati Dewi sekardalu


__ADS_2