
Langit kembali berwarna kelabu bahkan kali ini lebih pekat dari pada sebelumnya
Antara Joko maupun Harso masih dengan kuat menahan masing-masing ajian yang mereka keluarkan
Angin berhembus sangat kencang, bahkan merobohkan setiap pepohonan yang ada di sekitar tempat pertarungan
Tanpa bisa dia hindari kini tubuh Harso terpental jauh saat pedang berkilau emas milik Joko berhasil menembus pertahanan milik Harso
Ajian Ba'da tubi tak mampu menahan besarkan kekuatan dari pedang yang masih menyala terang berwarna keemasan
Pedang yang Joko gunakan adalah pedang dari wujud tenaga dalam, bukan pedang yang memiliki fisik sedangkan ajian Ba'da tubi adalah ajian yang digunakan untuk menyerang secara fisik
Jadi saat pedang milik Joko bersentuhan dengan ajian Ba'da tubi, Joko tak sedikitpun merasakan efek apapun
Karena tubuhnya terhalangi oleh tenaga dalam miliknya, sama halnya saat dirinya menggunakan ajian Tameng Waja
Maka tubuhnya akan tahan terhadap serangan fisik apapun, karena sesungguhnya sebelum serangan itu menyentuh fisik si pengguna, serangan itu sudah akan bersentuhan terlebih dulu dengan tenaga dalam yang di keluarkan dari dalam tubuh pengguna ajian tersebut
__ADS_1
Darso melihat jika adiknya kembali terlempar langsung menghilang dari hadapan Patih Lintang Sanggabumi, dan berdiri di sebelah tubuh Harso yang sudah tak bergerak
Berada di posisi yang sulit kini Darso mencoba lari dan menuju ke atas bukit
Patih Lintang Sanggabumi maupun Joko Patah mengejar Darso karena apa yang mereka cari belum mereka dapatkan
Diatas sebuah bukit ada sebuah jurang yang diatasnya terkurung seorang wanita muda yang cantik
Darso berdiri di samping kurungan wanita tersebut, dengan tatapan mengarah pada kedua orang yang menjadi musuhnya
"Katakan dimana tubuh guruku kau simpan, kalau tidak makan aku akan melempar gadis ini ke dalam jurang"
Tak ada perlawanan dari gadis itu, meski tampak meronta-ronta namun Darso dengan kasar memperlihatkan gadis itu tak ubahnya seekor binatang
"Baiklah,,, aku akan katakan" berkata Patih Lintang Sanggabumi sambil memohon agar Darso tak berbuat nekad
"Cepat katakan" perjelas kata Darso sambil semakin mencengkram erat leher gadis tersebut sambil menjerit kesakitan
__ADS_1
"di sebuah Goa di pesisir timur wilayah ini" kata Patih Lintang Sanggabumi dengan tegas
"sekarang lepaskan gadis itu" kembali perkataan Patih Lintang Sanggabumi terdengar
Darso tidak melepaskan putri Sekar Ningrum dengan cuma-cuma, dia melempar tubuh putri Sekar Ningrum dengan senyuman puas
"itu sebagai imbalan atas apa yang kalian lakukan pada adikmu"
Joko Patah yang melihat seorang gadis dilempar ke dalam jurang, langsung mengikuti kemana arah gadis itu dilemparkan
tak memiliki rasa takut atau apa dia langsung terjun menyusul ke dalam jurang
Darso menghilang dengan kedipan mata dari pandangan Patih Lintang Sanggabumi yang kini sedang berdiri di bibir jurang yang tak tampak dasarnya
hanya gelap hitam dan pekat sampai cahaya matahari pun tak mampu menyinari dasar jurang tersebut
apalagi saat mengingat cerita jika di dasar jurang tersebut adalah lembar siluman ular
__ADS_1
membuat hati Patih Lintang Sanggabumi berdetak sangat kencang , diliputi rasa khawatir dan rasa cemas karena baik putri Sekar Ningrum maupun Joko Patah belum juga nampak di permukaan
namun dari dalam jurang nampak cahaya kuning melesat lurus ke atas langit, entah cahaya apa itu, Patih Lintang Sanggabumi hanya menatap tajam ke arah mana cahaya itu akan jatuh