
Pagi buta Patih Baladewa yang kini telah menjadi seorang petani di wilayah daerah kerajaan Dharmasraya yaitu di desa tirip, berjalan menyusuri jalan melewati beberapa petak sawah untuk bisa sampai ke ladang yang selama ini dia garap untuk menyambung hidupnya dan untuk mengawasi keadaan di wilayah kekuasaan kerajaan Dharmasraya
Badan tinggi tegap dengan sorot mata yang tajam melihat sekitar tempat tinggal nya yang kini menjadi kurang terurus, seringnya terjadinya kekacauan di desa yang dia tempati menjadi alasan utama mengapa desa itu tak begitu ramai di tinggali oleh para penduduk
Hanya terlihat beberapa petani yang masih bisa bertahan dengan seadanya, pungutan yang dilakukan oleh kerajaan sangat menyiksa penduduk yang masih memilih untuk tetap tinggal di sana
Seperti contoh adalah tetangganya sendiri yang sering dipukuli setiap kali dia tak mampu memenuhi besarnya upeti yang di tentukan oleh pihak kerajaan
Bahkan terkadang seorang Demang pun berani mengambil upeti kepada penduduk, yang membuat penduduk desa tirip banyak yang memilih untuk pergi ke wilayah kekuasaan kerajaan Adibuana yang konon penduduk nya makmur dan sejahtera
Bagi penduduk yang memiliki kekayaan lebih, akan memilih untuk pergi meninggalkan desa
__ADS_1
Karena bekal untuk perjalanan ke wilayah kekuasaan kerajaan Adibuana memerlukan bekal yang tidak sedikit, tetapi berbeda dengan penduduk yang dibawah garis kemiskinan akan memilih tinggal dan menerima nasib mereka
Seperti saat ini segerombol orang berpakaian serba orange sedang berjalan dengan membawa tombak dan tameng di kedua tangannya
Menghampiri setiap rumah para penduduk seperti orang yang tak memiliki dosa mereka meminta para penduduk untuk mengeluarkan setiap bahan makanan yang mereka miliki
Beras, jagung, gaplek, dan berbagai hasil kebun mereka keluarkan dari dalam rumah masing-masing penduduk
Berdiri bersilang tangan seorang lelaki dengan tubuh kekar duduk di atas sebuah bangku yang ada di salah satu rumah penduduk
Takut jika mereka melawan maka mereka akan dibunuh, membuat para penduduk hanya terdiam tak kala lelaki yang sering di sebut Ki Karso Taji datang menagih upeti
__ADS_1
Patih Baladewa sebenarnya ingin sekali menghentikan apa yang dilakukan oleh para Demang maupun kerajaan yang sewenang-wenang menyalahgunakan kekuasaannya
Tetapi tujuan utama nya di sini membuat nya harus menahan niat nya untuk menegakan keadilan untuk saat ini, meski hati kecilnya terasa tersayat melihat para penduduk lemah teraniaya tetapi apa boleh buat
..............
Matahari telah menyingsing di ujung barat, suara burung telah lenyap berganti dengan suara kelelawar yang mulai terdengar di atas langit
Patih Baladewa duduk menikmati sepiring nasi dan lauk pauk nya, untuk mengganjal perutnya yang merasa lapar setelah seharian dia menghabiskan waktunya untuk mengurus ladang nya
Tetapi tiba-tiba matanya menatap tajam, pendengaran nya mulai dipasang dengan sungguh-sungguh dan terhenti pula untuk mengunyah setiap makanan yang ada di dalam mulutnya
__ADS_1
"Tok...tok...tok..." Suara ketukan dari pintu belakang mulai terdengar setelah matahari telah berganti dengan sinar rembulan
Patih Baladewa paham siapa yang ada di balik pintu tersebut, karena ketukan tiga kali adalah sebuah simbol dari apa yang telah dia sepatu oleh seorang lelaki yang sering dia panggil dengan panggilan paman Hastrayasa