
Tertunduk lemas dan akan di bawa ke dalam istana, karena dua prajurit sudah mengangkat tubuhnya, Dewi sekardalu tampak sudah tak memiliki daya untuk berdiri, tapi sesaat sebelum Dewi sekardalu di paksa untuk berjalan, sekelebat bayangan hitam datang, berdiri tepat di depan kedua prajurit yang memaksa Dewi sekardalu berjalan dan langsung menyerang nya, dan mengambil Dewi sekardalu sesaat kedua prajurit itu tersungkur menerima serangan dari sosok berjubah yang tak tau siapa orangnya
Kejadian terjadi begitu cepat saat semua rombongan menikmati kemenangan prabu Losanjaya yang kini menjabat sebagai raja baru di kerajaan Dharmasraya
Bahkan prabu Losanjaya yang kaget dengan kedatangan sosok berjubah itu tak sempat untuk melawan, karena kejadian terjadi sangat cepat
"Siapa itu Romo...???" Tanya Satria Mahardika
"Romo juga tidak tahu, tapi biarlah, karena dia tidak ada artinya apa-apa" balas prabu Losanjaya pada anaknya
Rombongan kerajaan Lingga masuk ke dalam istana kerajaan Dharmasraya bersama semua orang yang memihak kepadanya, tubuh prabu Adiyaksa di bawa oleh prajurit dan kepalanya di masukan ke dalam sebuah karung dan di bawa masuk ke dalam istana
..........
Di luar kerajaan Dharmasraya
Seorang lelaki paruh baya berlari menggendong seorang anak kecil berusia tiga tahun di dadanya, matanya tajam mengarah ke depan, mencoba mencari pijakan yang tepat agar langkahnya tak terpeleset, karena saat ini dia sudah jauh dari pemukiman penduduk dan mulai memasuki sebuah hutan
Berlari dan terus berlari, nafas yang terus terdengar terengah-engah tak menjadi alasan untuk membuatnya berhenti berlari, meski malam di selimuti kabut dan udara yang dingin tapi masih terlihat keringat membasahi seluruh tubuh lelaki paruh baya tersebut
Sesaat masuk ke dalam sebuah hutan yang menjadi arah tujuannya saat ini, langkahnya terhenti sesaat melihat sebuah makhluk besar tinggi menjulang berdiri menghadang langkah nya, sesaat tubuhnya tampak semakin berkeringat, ketakutan melihat sosok yang muncul bukanlah dari bangsa manusia
Lelaki itu sadar bahwa tempat berada dia saat ini adalah hutan terlarang, hutan manggalingan, bukan sembarang hutan , melainkan hutan tertutup untuk bangsa manusia, konon siapa yang berani masuk maka sudah di pastikan dia tidak akan bisa keluar dari dalam hutan itu
__ADS_1
Sesaat ingatan nya kembali teringat dengan sebuah gelang yang diberikan oleh prabu Adiyaksa padanya, yaitu sebuah gelang dari akar pohon, itu adalah akar pohon tertua di hutan tersebut yang berarti, siapa yang membawanya sudah menjadi bagian dari dalam hutan manggalingan
Segera lelaki itu memakai gelang yang tersebut dan benar sosok makhluk hitam tinggi besar itu langsung hilang dari hadapannya, "syukurlah" kata yang terucap dari bibir lelaki paruh baya itu
Perlahan wajahnya menoleh ke belakang tak ada apa-apa yang bisa dia lihat, hanya pepohonan yang lebat dan rimbun yang nampak oleh cahaya obor yang dibawanya
Setelah beberapa saat menenggak air minum yang dia bawa, dia langsung melanjutkan perjalanannya, tapi kali ini dia sudah tidak berlari seperti awal dia memasuki hutan tersebut , pandangannya lirih mencari sebuah tempat yang cocok untuk menjadi tempat persembunyian selama pelarian
Berada di Sebuah tebing tinggi menjulang, di bawah nya terlihat ada sebuah gua, lelaki itu mulai memasuki gua yang tampak memang tak berpenghuni, tapi di balik mata biasa, banyak di rasakan sebuah kehadiran dari makhluk yang tak kasat mata
Lelaki itu adalah paman Hastrayasa yang membawa putri Arumdalu dari kerajaan Dharmasraya, yang mengalami penghianatan besar-besaran oleh bawahannya sendiri
Paman Hastrayasa yang merupakan empu dan penjaga ruang pusaka kerajaan, bisa melihat dan merasakan makhluk di luar dunia manusia, banyak jin, siluman dan makhluk halus lainnya yang menghuni tempat itu
Setelah keadaan membaik dan semua sudah merasa aman paman Hastrayasa beranjak dari dalam goa dan kembali ke dalam hutan, mencari ranting pohon yang bisa dijadikan api unggun untuk menghangatkan tubuh putri Arumdalu
Bagi anak seusia putri Arumdalu tempat tinggalnya saat ini memang bukanlah hal yang pas, tubuhnya yang masih terlalu sensitif dengan alam liar yang ada di sekitar nya, bisa saja membuat banyak masalah pada fisik putri Arumdalu
Tapi paman Hastrayasa memiliki keahlian dan teknik yang tinggi dalam urusan pusaka dan ilmu pengobatan, dia bisa membuat keadaan menjadi membaik, dia tau apa yang harus dilakukan pada anak seusia putri Arumdalu
Membuat tubuhnya tetap hangat di malam hari adalah salah satunya, tapi setelah beberapa lama dia mencari kayu bakar, dia mendengar suara gemuruh di tepian hutan, seperti suara sebuah pertarungan, sejenak langkahnya dia arahkan pada tempat dimana suara itu berasal
Semakin dekat dan semakin terlihat siap yang bertarung di tepian hutan, ternyata adalah Patih Baladewa berhadapan dengan sosok tinggi besar yang sebelumnya menghadang langkah Paman Hastrayasa
__ADS_1
"Patih Baladewa" ucap paman Hastrayasa sebelum akhirnya menghampiri ke arah pertarungan
"Apa yang kakang Patih lakukan di sini, apa kakang mengikutiku.. .???" Tanya paman Hastrayasa pada Patih Baladewa
"Aku juga tidak tau, tapi Gusti prabu Adiyaksa memberikan gelang ini, dan aku mengikuti kemana arah hatiku berkata" jawab Patih Baladewa sambil menunjukkan gelang yang sama seperti milik paman Hastrayasa
Setelah melihat musuh yang dia hadapi memiliki gelang akar pohon tersebut, tiba-tiba sosok hitam itu lenyap entah kemana, membuat Patih Baladewa kebingungan dengan apa yang terjadi
"Gelang itu adalah akar dari pohon tertua di hutan terlarang ini, Gusti prabu adalah orang yang telah menaklukkan penguasa hutan terlarang ini, dan dia diberikan simbol, akar pohon ini sebagai pertanda bahwa siapa pun yang memakainya maka dia ada hubungan dengan prabu Adiyaksa" penjelasan paman Hastrayasa membuat Patih Baladewa mengerti mengapa ini semua bisa terjadi
Berjalan kedua orang itu menuju ke sebuah goa yang menjadi peristirahatan sementara sebelum akhirnya akan mendirikan sebuah rumah di dalam hutan ini
"Bagaimana keadaan prabu Adiyaksa.....???" Tanya paman Hastrayasa
"Aku juga tidak tau, setelah aku melawan para penghianat itu, aku di perintahkan Gusti prabu Adiyaksa untuk meninggalkan istana dan dia hanya memberikan gelang ini" jawab Patih Baladewa dengan nada datar
"Mungkin ini sudah rencana Gusti prabu, menyembunyikan kita di sini dan suatu hari nanti kita akan menuntut balas untuk apa yang sudah mereka lakukan" kata paman Hastrayasa sambil memandang putri Arumdalu yang tertidur di gendongan nya
Paman Hastrayasa mengeluarkan sebuah pedang naga merah dari dalam tubuhnya, Patih Baladewa kaget dengan apa yang paman Hastrayasa perlihatkan, karena yang dia tau pusaka pedang naga hijau dan pusaka pedang naga merah hanya milik prabu Adiyaksa
"Bagaimana paman bisa memiliki pedang itu....????" Patih Baladewa mencari tau dengan bertanya pada paman Hastrayasa
"Gusti prabu memintaku untuk lebih menyempurnakan pedang naga merah ini, agar di saatnya kelak pewaris pedang ini, bisa menuntut balas akan atas semua yang mereka rebut dari pemilik nya" jawaban itu sudah menggambarkan jelas jika kelak harapan mereka hanyalah putri Arumdalu
__ADS_1
"Kalau begitu, kita bagi tugas masing-masing paman, aku akan menyamar dan mengawasi keadaan setelah apa yang kita alami, dan tugas paman membuat Putri Arumdalu menjadi pendekar hebat tanpa tanding" paman Hastrayasa mengangguk atas usulan Patih Baladewa karena hanya dialah yang masih setia dengan kerajaan Dharmasraya, meski saat ini nasib kerajaan tersebut belum mereka ketahui