
Berjalan menuju ke arah lelaki, yang di tunjuk oleh dua orang teman lelaki yang sudah tak berdaya, dan kini bahkan masih juga belum bergerak
"Hai anak muda,,, jangan sok jagoan di sini" sindir lelaki yang baru saja datang sambil meletakan kakinya di atas meja pemuda yang masih asyik menikmati makanannya
Tak ada jawaban dari lelaki yang masih saja tak peduli dengan sikap lelaki yang ada di depannya
Tak mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keinginannya, kaki yang saat ini ada di atas meja itu langsung di arahkan pada pemuda yang masih sibuk dengan makanannya
Berserakan sisa makanan yang jatuh ke tanah, membuat pemuda itu menatap ke arah lelaki yang usianya sedikit lebih tua darinya itu
Keduanya saling menatap tajam mencoba menggertak dengan mulai mengeluarkan tenaga dalam dari masing-masing tubuh mereka
Sebuah serangan lurus tepat ke arah dada pemuda itu dengan sebuah pedang, tapi masih dengan mudah pemuda itu menghindar dan bahkan beberapa kali sempat memukul mundur lawannya
Kembali berkerumun para penduduk menyaksikan pertarungan antara seorang pendekar muda dengan salah satu antek-antek kerajaan Dharmasraya
"Siapa mereka paman.....????" Salah satu penonton yang menggunakan caping di atas kepalanya bertanya pada seorang yang ada di sebelahnya
__ADS_1
"Lelaki yang bertubuh buntal itu adalah Sanjoyo salah satu antek-antek kerajaan Dharmasraya, sedangkan pemuda itu aku juga baru pertama kali melihatnya di sini"
Saat ini kondisi Sanjoyo sudah terdesak karena setiap serangannya bisa dengan mudah di kalahkan oleh pemuda yang menjadi lawannya
"Tunggu" berkata Sanjoyo dengan sedikit menarik nafas
"Kita tak pernah ada permusuhan, bukan kah lebih baik kita bekerja sama, aku bisa memberikan kekayaan kepadamu" Sanjoyo mulai menego nasib agar tak semakin babak belur
"Kau telah mengganggu sarapan pagi ku, kau masih bilang kau tak memiliki urusan denganku" sinis pemuda itu menanggapi perkataan Sanjoyo
"Kau simpan saja mulut besarnya" sebuah serangan cepat mengarah pada Sanjoyo yang sudah tak mampu lagi melawan
Tergeletak tubuh Sanjoyo tak bernyawa, banyak penduduk yang merasa senang dengan kematian Sanjoyo tapi ada pula yang takut jika sampai kerajaan Dharmasraya tau dan akan mengirim jago tanding yang lebih kuat daripada Sanjoyo
Setelah Sanjoyo tergeletak tak ada yang berani sedikitpun berkata sebelum akhirnya suara lelaki yang sedari tadi memperhatikan pertarungan itu berteriak "Hidup pendekar muda,,, Hidup pendekar muda" beberapa kali teriakan itu terdengar dan mulai disahuti oleh para penduduk lainnya
.............
__ADS_1
Setelah semua selesai pemuda itu langsung pergi meninggalkan tempat pertarungan dan perlahan berjalan menuju ke arah luar desa
Cukup jauh keluar dari desa, tiba-tiba langkahnya terhenti "siapa kalian, mengapa mengikuti ku...???" Dua orang yang menggenakan menutup mukanya dengan caping keluar dari balik semak-semak
"Maafkan kami, kami hanya ingin tau siapa sebenarnya tuan muda ini" salah satu dari dua orang itu berkata
"Namaku Joko Patah, aku kesini untuk melihat bagaimana keadaan wilayah kerajaan ini"
"Kebetulan jika begitu kisana, aku tau betul bagaimana keadaan di sini, mari ikut saya, kita cari tempat yang tepat untuk mengobrol"
Joko Patah sejenak menatap ke arah kedua orang yang menutupi kepalanya dengan caping tersebut "mengapa kalian tidak membuka dulu caping kalian" kata Joko patah dengan nada datar
Lelaki yang sebelumnya berbicara dengan Joko patah pun membuka capingnya di ikuti oleh sosok yang ada di sebelahnya
"Maaf kisana jika caping ini membuat Anda tidak nyaman, aku Sutarji dan ini keponakan saya Rengganis" Rengganis hanya membungkuk sejenak memberi salam pada Joko Patah setelah namanya disebut
"Cantik juga dia" gumam Joko Patah melihat ke arah Rengganis
__ADS_1