
Setelah satu hari penuh membangun sebuah rumah yang terbuat dari kayu yang ada di hutan manggalingan, Patih Baladewa berpamitan pada paman Hastrayasa untuk memulai tujuan yang mereka sepakati, Patih Baladewa berjalan keluar dari dalam hutan manggalingan dengan sudah merubah semua penampilannya
Setelah sampai di desa tirip di wilayah kekuasaan kerajaan Dharmasraya, Patih Baladewa mendirikan sebuah rumah dan bekerja sebagai buruh tani agar penyamarannya tak diketahui oleh masyarakat, ataupun prajurit kerajaan Dharmasraya
Karena kini seluruh kekuasaan kerajaan Dharmasraya sudah sepenuhnya di kuasai oleh kerajaan Lingga, dan penobatan prabu Losanjaya yang sebelumnya menjadi raja di kerajaan Lingga akan dilakukan esok hari, bagitu kabar yang tersebar di seluruh penjuru wilayah kekuasaan kerajaan Dharmasraya
Patih Baladewa masih belum percaya dengan apa yang terjadi, tapi melihat sudah tak ada lagi peperangan di wilayah kerajaan Dharmasraya, itu berarti sudah ada yang menjadi pemenang diantara kedua kerajaan yang sebelumnya berperang
Hari-hari yang ditunggu telah tiba, semua rakyat dalam wilayah kekuasaan kerajaan Dharmasraya berkumpul di alun-alun, di pusat kerajaan Dharmasraya
Semua menanti pemimpin mereka yang baru, siapa yang akan menjadi raja setelah ada kabar bahwa raja yang sebelumnya, Gusti prabu Adiyaksa telah tewas, Patih Baladewa ada diantara kerumunan orang yang menyaksikan penobatan raja yang baru
Satu persatu petinggi istana keluar di aula alun-alun, terlihat Senopati Wiryo hadirojo, Dewi Mayangsari, Tumenggung Aryo Tejo dan rombongan dari kerajaan Lingga yang hadir mengisi satu persatu tempat yang telah di sediakan
Prabu Losanjaya berjalan paling akhir, melemparkan senyum ke arah rakyat yang berdiri berkerumun di depannya, hanya ada raut wajah bahagia di wajahnya, bahkan raut wajah dari Senopati Wiryo hadirojo, Dewi Mayangsari dan Tumenggung Aryo Tejo tak menunjukkan raut wajah kesedihan
Semua itu bisa di lihat jelas oleh Patih Baladewa yang berdiri menggunakan caping, diantara ribuan rakyat kerajaan Dharmasraya, "bede#bah mereka semua" gumam Patih Baladewa
__ADS_1
Senopati Wiryo hadirojo maju ke depan, semua rakyat terdiam tak ada yang bersuara, "saya Senopati Wiryo hadirojo memberitahukan kepada seluruh rakyat di bawah kekuasaan kerajaan Dharmasraya, bahwa mulai saat ini, Gusti prabu Losanjaya sebagai raja baru di kerajaan Dharmasraya, karena prabu Adiyaksa yang sudah tewas dalam pertarungan melawan Gusti prabu Losanjaya, jadi mari kita sambut raja baru kita Gusti prabu Losanjaya" Senopati Wiryo hadirojo berkata sambil mempersilahkan prabu Losanjaya maju ke depan
Semua rakyat yang berkumpul saling berkata satu sama lain, mendengar berita bahwa prabu Adiyaksa telah tewas dan di ganti kan dengan prabu Losanjaya yang sebelumnya adalah raja dari kerajaan Lingga, semua tahu siapa kerajaan Lingga, kerajaan yang selalu memiliki hasrat untuk menguasai kerajaan lain dan senang dengan adanya peperangan
Prabu Losanjaya berjalan maju, tersenyum melihat semua rakyat yang begitu banyak di wilayah kekuasaan kerajaan Dharmasraya, berbeda dengan kerajaan Lingga yang hanya memiliki rakyat separuh dari rakyat kerajaan Dharmasraya
"Aku bersumpah, akan menjadikan kerajaan Dharmasraya sebagai kerajaan yang akan ditakuti oleh seluruh kerajaan yang ada di Nusantara, jika ada kerajaan yang berani menentang maka akan bernasib seperti prabu Adiyaksa" setelah perkataan prabu Losanjaya selesai, sebuah tiang pancung yang sebelumnya tertutup oleh kain, kini dibuka oleh salah satu prajurit dan terlihat kepala prabu Adiyaksa berada di atas sebuah meja
Semua orang yang melihat sedikit tak percaya tapi itu memang kepala dari prabu Adiyaksa, bahkan Patih Baladewa yang melihat ke arah kepala prabu Adiyaksa, merasa geram menggenggam erat kedua tangannya, tapi jika dia bertindak gegabah semua rencana yang dia buat bersama dengan paman Hastrayasa akan sia-sia
Acara penobatan dilakukan tujuh hari tujuh malam dengan berbagai pesta di dalam istana, semua orang menikmati semua sajian yang di berikan oleh istana, "sudah lama istana tak menggelar pesta seperti ini" kata Senopati Wiryo hadirojo
Di lain tempat di dalam sebuah aula, prabu Losanjaya berjalan menuju ke arah sebuah bangunan megah yang di kelilingi oleh banyak tanaman bunga, dan beberapa gazibo yang ada di sekitarnya
"Tuk...tuk...tuk..." Suara ketukan pintu terdengar di salah satu kamar
"Siapa...???" Balasan Dari dalam kamar tersebut
__ADS_1
"Ini aku prabu Losanjaya"
Berjalan untuk membuka pintu seorang wanita cantik dengan tatapan tajam, "ada apa Gusti prabu..????" Jawab wanita tersebut
"Apa kau sudah lupa dengan janjimu Dinda Mayangsari.." jawab prabu Losanjaya membuat ingatan wanita itu kembali pada saat awal mula dia membuat perjanjian dengan prabu Losanjaya
"Tidak mungkin Gusti prabu" jawab Dewi Mayangsari sambil menunduk
Perlahan prabu Losanjaya mendekat pada Dewi Mayangsari dan dengan perlahan mendekat kan wajahnya pada wajah Dewi Mayangsari, Dewi Mayangsari sedikit menoleh melihat wajah prabu Losanjaya mendekat ke arah wajahnya
Prabu Losanjaya tersenyum melihat Dewi Mayangsari sedikit malu-malu, tapi dia tetap saja mendekat tanpa menunggu persetujuan dari Dewi Mayangsari wajahnya kini sudah saling menatap
Tatapan prabu Losanjaya penuh dengan na#fsu, dapat terlihat dari tangannya yang mulai menyentuh setiap bagian dari tubuh Dewi Mayangsari
Sentuhan hangat dari prabu Losanjaya membuat Dewi Mayangsari serasa melayang jauh di atas awan, keduanya menikmati apa yang terjadi, membuat mereka berdua menghabiskan malam dengan melakukannya berulang kali
Setelah semuanya selesai, prabu Losanjaya menutup tubuhnya dan berbaring di sebelah Dewi Mayangsari yang tampak lemas, mencoba mengatur nafasnya yang belum teratur, mencoba mengalirkan kembali tenaga ke dalam tubuhnya
__ADS_1
"Apa yang kanda prabu lakukan setelah ini....???" Dewi Mayangsari bertanya
"Untuk saat ini aku ingin menikahkan putra ku Satria Mahardika dengan putri dari kerajaan Adibuana yaitu putri Sekar Ningrum" jawab prabu Losanjaya Sambil membelai rambut Dewi Mayangsari