Back To Castle

Back To Castle
sepuluh


__ADS_3

Berjalan Dewi Sekardalu mengikuti kemana kakek tua itu melangkah, sebuah rumah yang terbuat dari kayu terlihat di kejauhan "apa itu rumah kakek...???" Dewi Sekardalu bertanya disela-sela perjalanan


"Benar itu rumah kakek"


"Berarti kakek yang menolongku saat malam itu...???" Kembali sebuah pertanyaan dilontarkan oleh Dewi sekardalu


"Benar kakek lah yang membawa Dewi sekardalu ke tempat ini" Dewi sekardalu terdiam setelah tahu jika kakek tua inilah yang menyelamatkan nyawanya


...........


Di tempat lain masih di lingkup gunung Merapi, seorang lelaki terus memacu kudanya sampai menembus lebatnya hutan hingga berdiri di ujung tebing yang curam


Sosok ingatan tentang kakek yang membunuh Senopati Wirang Saji masih menghinggapi setiap langkahnya, bahkan untuk saat ini Patih Wiryo hadirojo masihlah berfikir tentang siapa sosok kakek tua itu

__ADS_1


Jika dilihat dari usianya, tak mungkin kakek setua itu mesih mampu bergerak layaknya manusia berumur setengah abad


Terdiam sejenak menghubungkan tentang kakek tua itu dengan siapa yang menyelamatkan Dewi sekardalu di saat malam pertempuran itu, karena keduanya sama-sama memakai pakaian yang serba hitam


Sejenak menarik nafas untuk menenangkan tubuhnya, Patih Wiryo hadirojo turun dari kudanya dan memandang ke depan "sepertinya aku harus melanjutkan dengan berjalan kaki" sejenak memandang ke arah kudanya dan sejenak lagi mengarah pada jalan yang akan dia lalui


Setelah berjalan beberapa lama Patih Wiryo hadirojo seolah kembali pada tempat awal dia memulai berjalan, jalan yang dia lalui memang terlihat lurus ke depan tapi setelah lama berjalan mengikuti jalan ujung jalan itu adalah awal dari jalan itu sendiri


"Sepertinya ada yang mencoba bermain-main denganku" gumam nya dalam hati


Membuat pemandangan di sekitar nya berubah seratus delapan puluh derajat, jala. Yang sebelumnya hanya tampak lurus, kini tak lagi seperti sedia kala


Kembali Patih Wiryo hadirojo memulai perjalanan, kini Patih Wiryo hadirojo sudah hampir sampai di puncak gunung Merapi

__ADS_1


Tapi semua tak segampang yang pikirkan Patih Wiryo hadirojo, dia teringat dengan perkataan Ki Anom Sudarsono tentang kesulitan mengambil daun Cemoro di puncak gunung Merapi


Sebuah pohon Cemoro yang tumbuh di tengah-tengah kawah gunung Merapi yang terlihat merapi merah membara, seolah siap melebur apapun mereka yang mendekat


Patih Wiryo hadirojo menelan air liurnya, memikirkan cara untuk bisa mengambil daun dari pohon Cemoro itu, tapi sesaat saat dia baru melangkah beberapa jengkal sebuah sosok manusia yang mirip sekali dengannya, muncul di hadapannya


Patih Wiryo hadirojo terkejut dan mundur beberapa langkah ke belakang dengan perasaan rumit dia memandang ke arah sosok itu "siapa dia, bisa mirip sekali denganku" gumam nya dalam hati


Tanpa berpikir panjang Patih Wiryo hadirojo langsung menyerang sosok manusia yang mirip dengan nya, tapi semua serangan yang dia lakukan seperti tertahan dengan jurus yang sama


semua gerakan dari sosok yang mirip dengan Patih Wiryo hadirojo semuanya sama, bahkan jurus yang dikeluarkan juga sama, membuat Patih Wiryo hadirojo kebingungan karena seolah berhadapan dengan sosok dirinya sendiri


bahkan saat Patih Wiryo hadirojo menggunakan ajian Bandung Bondowoso sosok itu juga sama-sama mengeluarkan ajian yang sama

__ADS_1


perlahan tapi pasti tenaga Patih Wiryo hadirojo semakin lama semakin terkuras, begitupun makhluk itu pun sama, tubuhnya terlihat sedikit membungkuk, mencoba mengatur nafasnya


terbenak di fikirannya untuk mencoba melukai dirinya sendiri, disaat itu dia lakukan, sosok itupun mengikuti apa yang di lakukan oleh Patih Wiryo hadirojo


__ADS_2