
Keadaan di kerajaan Dharmasraya
Pasukan besar yang di siapkan prabu Losanjaya di wilayah selatan dekat perbatasan kerajaan Adibuana tampak semakin hari semakin matang
Patih Aryo Tejo memimpin langsung pasukan yang sudah di siapkan oleh kerajaan nya, semua berjumlah 70.000 ribu prajurit siap perang
Hanya menunggu perintah dari prabu Losanjaya maka semua akan siap bergerak untuk menghancurkan kerajaan Adibuana
Sedangkan di dalam istana sendiri prabu Losanjaya masih tampak duduk termenung di singgasana
Seorang prajurit menghadap dan duduk membungkuk di depan prabu Losanjaya "ada apa prajurit" suara prabu Losanjaya terdengar sebelum prajurit itu menyampaikan maksud nya
"Maaf Gusti prabu saya hanya di utus oleh Patih Aryo Tejo untuk menyampaikan bahwa pasukan yang ada di perbatasan sudah siap"
"Hmmmm,, pergilah" terlihat gestur tangan prabu Losanjaya meminta prajurit itu pergi
Setelah prajurit itu keluar dari aula singgasana terlihat seorang lelaki tua mulai memasuki aula singgasana
Berjalan sambil memberi hormat pada prabu Losanjaya dan langsung duduk di salah satu kursi yang berbaris kosong di singgasana
"Kebetulan Ki Anom Sudarsono datang, aku ingin meminta pendapat, bagaimana jika esok kita mulai menyerang wilayah kerajaan Adibuana" tatapan mata tajam seraya berkata menghadap kiblat Anom Sudarsono
__ADS_1
"Kalau boleh hamba tau, wilayah mana dulu yang akan kita serang Gusti, karena wilayah kerajaan Adibuana memiliki empat wilayah bagian" perjelas pertanyaan Ki Anom Sudarsono pada prabu Losanjaya
"Aku ingin menyerang bagian terdekat di wilayah timur, untuk sekedar memberikan kejutan bagi kerajaan Adibuana itu" balasan prabu Losanjaya setelah mendengar pertanyaan Ki Anom Sudarsono
"Di sana ada penasehat wilayah timur Rakijanwojo Gusti, kita harus menyiapkan jago tanding yang sepadan untuk mengalahkan nya" usulan Ki Anom Sudarsono membuat prabu Losanjaya berfikir sejenak
"Menurut Ki Anom siapa yang pantas.....????"
Ki Anom pun sejenak berfikir setelah pertanyaan nya dibalik menjadi pertanyaan untuk dirinya
"Bagaimana jika kita mengangkat seorang panglima perang Gusti, Dengan begitu kita dengan mudah mengawasi mereka dari tempat ini, aku punya seorang yang mungkin bisa menjadi orang itu" tersirat senyuman aneh dari bibir Ki Anom Sudarsono setelah berkata
Menanggapi usul dari Ki Anom Sudarsono prabu Losanjaya menganggukkan kepalanya pelan "hmmm,,,seperti nya itu ide yang cukup bagus"
"Saya yang menjamin Gusti" tegas Ki Anom meyakinkan perkataannya
Ki Anom Sudarsono bergegas meninggalkan prabu Losanjaya yang masih duduk di atas singgasana dengan senyuman yang menggambarkan sesuatu
..............
Di sebuah goa yang cukup jauh dari keramaian seorang lelaki bersemedi dengan sebuah cahaya hitam mengelimuti tumbuh nya
__ADS_1
Ketukan langkah kaki mulai terdengar di dinding goa yang sunyi nan sepi membuat siapapun pasti bisa merasakan jika ada seseorang yang datang
Dari balik sebuah batu besar terlihat seorang lelaki berjalan menuju ke arah lelaki yang kini sedang melakukan meditasi ataupun bertapa entah apa yang dia lakukan
Dipandang tanpa sedikitpun berkata apapun hanya senyuman dan tangannya yang mengelus rambut panjang yang tumbuh di dagunya dengan tatapan datar ke arah Petapa itu
Perlahan mata Petapa itu terbuka "ada perlu apa kakang.....?????" Pertapa menyapa dengan masih duduk ditempatnya
"Sudah puluhan tahun aku tidak bertemu denganmu, mengapa kau masih saja menanyakan hal seperti itu, seharusnya kau tau maksud kedatangan ku"
Suara tawa terdengar dari Petapa setelah jawaban dari kakang nya terdengar
"Maaf kakang Anom aku hanya berbasa-basi"
"Aku ingin kau memimpin penyerangan di wilayah timur kerajaan Adibuana, semua persiapan sudah siap, kau hanya perlu memimpin mereka" kata Ki Anom menyatakan maksud kedatangannya
"Sepertinya menarik, tapi aku tak ingin imbalan uang, aku ingin mendapatkan kedudukan jika aku berhasil mengalahkan mereka" senyuman licik tersirat dari Petapa itu
"Jangan menganggap remeh dulu, wilayah timur merupakan wilayah yang dipimpin oleh Rakijanwojo, sosok yang konon sakti mandraguna" kali ini wajah serius tergambar saat ku Anom berkata
"Lantas apa yang kakang inginkan jika kakang masih meragukan ilmu ku" balasan itu membuat raut wajah Ki Anom menjadi cerah
__ADS_1
"Aku mengandalkan mu"
maaf baru lanjut update, ada keperluan yang tak bisa di tinggal, terima kasih telah mau meluangkan waktu membaca karya saya