
Perkataan Joko Patah membuat ibundanya Dewi sekardalu, maupun Patih Lintang Sanggabumi terkejut
Entah apa yang ada di pikiran Joko Patah, baik ibundanya maupun Patih Lintang Sanggabumi juga tak mengerti
"Disaat seperti ini dia masih sempat-sempatnya berpikir seperti itu" gumam Patih Lintang Sanggabumi
Bagi Patih Lintang Sanggabumi, ini sebuah kejutan yang tak sekalipun terpikirkan olehnya
Dia berfikir jika lelaki bernama Joko Patah ini merupakan orang licik yang sengaja memanfaatkan kesempatan
Sedangkan bagi Joko Patah ini sebuah sikap yang sulit untuk dia ambil, dia yakin jika dengan berhubungan bad#an, maka pikirannya bisa kembali jernih dan merasa tenang, seperti saat dia melakukan dengan wanita di sebuah warung di wilayah kerajaan Dharmasraya beberapa saat lalu
"Apa yang kamu katakan Joko, ibunda tak pernah mengajarkan hal seperti itu, jika kamu mau menolong, kamu harus dengan ikhlas dari hati" kata ibundanya Dewi sekardalu dengan tegas
"Maafkan aku ibunda" balas Joko patah dengan wajah menunduk
Semua memang sulit untuk Joko jelaskan tapi lebih sulit lagi keadaan jiwa Joko Patah saat ini, jiwa mudanya bergejolak disaat melihat seorang wanita
Usia yang menginjak remaja membuat dirinya mulai menyukai lawan jenis, dan kepergiannya beberapa waktu lalu membuka jiwa pubertas di dalam diri Joko Patah
__ADS_1
Hal yang mengenai wanita, semua selalu terbayang dan sering membuat dirinya melamun memikirkan akan hal itu
Itu mengapa Joko Patah kini sulit berkonsentrasi karena pikirannya sedang terobsesi oleh makhluk yang tercipta dari tulang rusuknya
"Maafkan aku bibik, atas semua perkataan ku yang telah menyinggung perasaan bibik" kembali Joko Patah berkata setelah beberapa saat terdiam sambil menatap ke arah Patih Lintang Sanggabumi
Tak ada jawaban hanya diam seribu bahasa Patih Lintang Sanggabumi mendengar apa yang telah dia dengar dari bibir lelaki muda di depannya
"Ijinkan aku pergi ke kota ibunda, aku berjanji akan segera kembali setelah pikiran dan batinku tenang" kembali lagi Joko patah berkata kali ini tatapannya mengarah pada ibundanya
Dewi sekardalu melihat sikap dan sorot tatapan Joko Patah dengan seksama, seperti ada hal yang dia sembunyikan di balik semua perkataannya
"Apa maksudmu dengan ketenangan putraku, bukankah di sini alam memberikan sebuah ketenangan" kali ini Dewi sekardalu mencoba bertanya akan maksud perkataan putranya
"Katakan putraku...!!!!" Pertegas Dewi sekardalu melihat Joko Patah yang enggan untuk berbicara
"Maaf ibunda, maksud ketenangan yang saya maksudkan adalah hubungan antara lawan jenis"
Bak petir menyambar di dalam dada Dewi sekardalu, dia tak menyangka jika saat ini putranya Joko Patah sedang dimabuk oleh asmara "pantas saja dia berkata seperti itu kepada Patih Lintang Sanggabumi" gumam Dewi sekardalu
__ADS_1
Semua terdiam tak ada satupun yang berbicara, semua merasa canggung untuk sekedar memulai percakapan
"Apa kau pernah melakukannya putraku...???" Kali ini Joko Patah yang seperti tersambar petir mendengar perkataan dari ibundanya
Wajah Joko patah semakin menunduk menandakan bahwa apa yang ditanyakan oleh ibundanya sudah menemui jawaban tanpa harus dikatakan
Dewi sekardalu menarik nafas panjang, melonggarkan otot-otot yang sempat tegang beberapa saat yang lalu, mencoba menerima kenyataan
Apa yang dilakukan Joko Patah di usianya kini memang tidaklah salah, tapi itu semua juga tidak bisa untuk dibenarkan
Semua ada cara dan waktu yang tepat untuk melakukan itu, tapi jika ketenangan yang dimaksud Joko Patah memang ada benar nya
Semua orang, bahkan Dewi sekardalu juga merasakan hal sama seperti apa yang dirasakan oleh Joko, jika setelah melakukan hubungan antara lawan jenis, semua beban terasa terlepas dari dalam jiwa
"Jika seperti itu pergilah putraku, dan cepatlah kembali setelah kau merasa
Cukup mampu untuk mengobati paman Hastrayasa" kali ini wajah Joko Patah terangkat, seakan mendapatkan jalan terang
Tapi bagi Patih Lintang Sanggabumi kepergian Joko Patah merupakan hal buruk baginya, karena waktu perjanjiannya dengan Darso di lembah jurang dalam tinggal beberapa hari lagi
__ADS_1
Jika sampai Patih Lintang Sanggabumi tidak datang, bisa dipastikan jika nyawa putri Sekar Ningrum menjadi taruhannya
Joko patah berdiri dari tempatnya, namun sebelum Joko Patah melangkahkan kaki sebuah kata terucap dari Patih Lintang Sanggabumi "aku bersedia menikah denganmu"