Back To Castle

Back To Castle
tigapuluhdua


__ADS_3

Sebuah Medan yang akan menjadi Medan pertempuran bagi prajurit kerajaan Adibuana dan prajurit kerajaan Dharmasraya yaitu wilayah timur kerajaan Adibuana masih terlihat damai dan sejahtera


Semua petani bercocok taman seperti biasa, para pedagang menjajakan dagangannya di pasar yang cukup ramai dengan para pengunjung yang silih berganti berdatangan


Sebuah langkah cepat menerobos setiap pepohonan yang ada, menuju suatu tempat yang cukup ikonik di wilayah tersebut


Rumah Rakijanwojo merupakan tujuan dari tamu tak di undang yang kini sedang dijaga ketat karena ada isue penyerangan yang tak bisa di prediksi dari kerajaan Dharmasraya


"Maaf tuan ada Patih Lintang Sanggabumi datang di ruang tamu" Suara prajurit terdengar dari balik pintu kamar Rakijanwojo


Sekejap Rakijanwojo keluar dari dalam kamarnya dengan meninggalkan selimut yang masih membungkus sosok perempuan cantik yang terbalut kain tipis


"Sembah hamba Gusti Patih" Rakijanwojo duduk jongkok di hadapan Patih Lintang Sanggabumi


Disebelahnya terbujur sosok lelaki yang tak asing bagi Rakijanwojo dengan kondisi yang mengenaskan


"Maaf Gusti Patih, apa yang terjadi pada kakang Hastrayasa...????"

__ADS_1


"Semua diluar perkiraan ku" wajah rumit tergambar saat Patih Lintang Sanggabumi berkata


"Ada apa sebenarnya Gusti Patih.....????" Kembali Rakijanwojo bertanya karena masih belum puas dengan jawaban pertama Patih Lintang Sanggabumi


"Aku bertemu dengan Darso dan Harso murid dari nyai Ageng Tirtayasa"


Mendengar nama nyai Ageng Tirtayasa mata Rakijanwojo terbuka lebar, sosok yang di anggap sudah lama tiada, kini berganti murid nya yang berbuat ulah


"Apa mungkin ratu kegelapan akan kembali Gusti Patih....????" Rakijanwojo mencoba bertanya kemungkinan yang ada


Nafas panjang terhembus dari bibir Patih Lintang Sanggabumi sebelum menjawab pertanyaan Rakijanwojo


Lemas Rakijanwojo mendengar jawaban itu , dia memeluk kedua lututnya untuk menggambarkan ekspresi jiwanya


Mengingat-ingat Dimana dahulu saat pertempuran melawan perguruan milik nyai Ageng Tirtayasa yang hampir membuat dirinya tewas


"Ini akan menjadi hal yang sangat berat Gusti Patih"

__ADS_1


Patih Lintang Sanggabumi tak bergeming dan tak menanggapi perkataan Rakijanwojo, tujuannya saat ini adalah menyelamatkan Putri Sekar Ningrum terlebih dahulu


"Apa kau tau cara mengobati paman Hastrayasa.....????" Patih Lintang Sanggabumi menyadarkan lamunan Rakijanwojo atas datangnya kembali generasi nyai Ageng Tirtayasa


Tatapan wajahnya mengarah pada kakang Hastrayasa dan kemudian terpejam


"Ada satu orang, yaitu guru saya Gusti, tapi untuk saat ini saya tidak bisa meninggalkan wilayah ini, karena menurut teliksandi kerajaan, dalam waktu dekat ataupun lama akan ada serangan dari kerajaan Dharmasraya"


Bak petir menyambar di siang hari tanpa hujan yang mengiringi, jantung Patih Lintang Sanggabumi seperti tersambar petir itu


Perkataan yang dia dengar dari Rakijanwojo menambah beban berat bagi dirinya, setelah beban untuk menyelamatkan Putri Sekar Ningrum, kini dia juga harus menyelamatkan kerajaan


Mata terpejam hati yang bimbang perasaan bercampur aduk di dalam diri Patih Lintang Sanggabumi, membuat wajahnya tertunduk lemas menatap lantai


Diangkat kembali wajah yang mencoba tegar, meski beban berat terpikul di pundaknya "dimana tempat guru paman berada.....???"


"Di lereng gunung Merapi, namanya eyang guru Suropati" balas Rakijanwojo dengan tatapan penuh arti

__ADS_1


"Aku serahkan keamanan kerajaan kepadamu kakang, aku akan pergi ke lereng gunung merapi, aku mohon pamit" langkah Patih Lintang Sanggabumi terdengar meninggalkan rumah Rakijanwojo setelah berpamitan


"Berhati-hatilah Gusti Patih"


__ADS_2