
Di Medan pertarungan antara Patih Lintang Sanggabumi dan Darso keduanya menunjukan kekuatan yang menakutkan
Hutan yang sebelumnya rimbun penuh dengan pepohonan hijau dan aneka satwa maupun fauna, kini menjadi tanah lapang yang gersang
Tak ada satupun pohon yang tersisa dengan radius puluhan meter hanya tinggal dua sosok yang masih saling beradu ilmu Kanuragan maupun ajian yang tersisa
Dari jarak jauh hanya terlihat sebuah cahaya kuning dan cahaya hitam yang saling berbenturan hingga menimbulkan lubang besar dimana-mana
Puluhan lubang besar tercipta akibat dari kedua jurus yang meleset dari sasaran mereka berdua, dan kini tempat pertarungan mereka sudah seperti danau saja jika ada air yang menggenangi tempat tersebut
Patih Lintang Sanggabumi menyerang penuh dengan ajian gelap sayuto dan tubuhnya dilindungi ajian tameng Waja sehingga menimbulkan warna kuning terang yang digunakannya sebagai pager awak
Sementara Harso menyerang dengan ajian raungan macan dan tubuhnya diselimuti warna hitam pekat dari ajian Bandung Bondowoso, yang membuat efek dari ajian gelap sayuto tak begitu terasa
Keduanya saling menatap, saling menarik nafas untuk mengatur tempo serangan yang akan dilakukan selanjutnya
__ADS_1
Pertarungan bisa dilihat seimbang meskipun keduanya belum sama-sama mengeluarkan ajian pamungkas
Kedua tangan Patih Lintang Sanggabumi terlihat didepan dada dan membentuk sebuah simbol segitiga dengan jari kiri dan kanan yang di satukan
Matanya terpejam cahaya kuning yang awalnya muncul berubah menjadi warna merah, langit tiba-tiba kembali gelap dan angin berhembus sangat kencang
"Gawat" gumam Darso dalam hatinya, sepertinya dia mengerti apa yang akan terjadi
Disaat posisi Darso seperti ini, sebuah sosok berjalan ke arah Darso dengan menyeret seorang lelaki dan bahunya memikul sosok gadis dengan rambut terurai kebawah
Teriakan Harso membuat Patih Lintang Sanggabumi membuka mata dan melihat ke arah suara itu berasal, berdiri Darso dan Harso di depan Patih Lintang Sanggabumi dengan senyuman sinis
"Bang#sat, seorang pendekar tidak bertarung dengan cara seperti itu" kata Patih lintang Sanggabumi dengan penuh emosi
Harso tertawa menertawakan wanita yang ada di depannya "kau masih tetap seperti dulu,,, lemahh"
__ADS_1
"Bukan aku yang lemah tapi sikapmu yang seperti seorang pecundang" balas Patih Lintang Sanggabumi dengan raut wajah kesal
"Hahahahahahaha, sudahlah hentikan semua omonganmu, karena itu tidak akan merubah sesuatu" senyum licik tersirat di bibir Harso
Tak ada kata-kata lagi dari Patih Lintang Sanggabumi tatapan matanya regu, entah apa yang dipikirkan karena kini di pelupuk matanya tergenang sebuah air mata yang cukup untuk membasahi pipinya
Tubuh paman Hastrayasa dilemparkan ke arah Patih Lintang Sanggabumi, dengan tangkas di tangkap dan dibaringkan paman Hastrayasa di tanah dengan kondisi yang kurang baik
"Jika kau ingin dia selamat, Temui aku sebelum purnama tiba di lembah jurang dalam" kata terakhir Darso sebelum keduanya hilang dari hadapan Patih Lintang Sanggabumi dengan membawa putri Sekar Ningrum
Tertunduk bersimpuh lutut Patih Lintang Sanggabumi di iringi hembusan angin yang cukup kencang
Perlahan bangkit dari keterpurukan, entah apa yang terjadi di dalam dirinya, di saat Harso berkata sesuatu pasti seperti tersimpan beban di benak Patih Lintang Sanggabumi hingga tak mampu untuk melawan setiap ucapannya
Di angkat dan dibawa tubuh paman Hastrayasa yang sudah terlihat tak berdaya, kulitnya membiru dan tubuhnya sangat lemah seperti orang lumpuh
__ADS_1