
Keluar dari tempatnya beristirahat, Dewi sekardalu meninggalkan Patih Lintang Sanggabumi dan putranya Joko Patah yang masih dalam permainannya
Berjalan menuju halaman mencari asal dimana suara itu berasal, tampak di balik kejauhan, ada sebuah obor berjalan mendekat kepadanya
Menatap tajam dan bersiap jika yang datang merupakan sebuah serangan, namun pandangannya sedikit berubah kala melihat sosok yang datang seperti tidak asing di matanya
Meski penglihatan kurang tajam karena suasana malam yang gelap, namun mata Dewi sekardalu masih bisa bekerja normal
Lelaki bertubuh kekar dan ****** yang ada di sekitar dagunya itu yang membedakan wajah seorang yang dia kenal, dengan orang yang berjalan datang ke arahnya saat ini
Semakin dekat sosok itu terlihat, tiba-tiba langkah lelaki itu terhenti, matanya menatap dengan penuh arti ke arah Dewi sekardalu
"tolonggggg,,," teriak seorang lelaki dengan kondisi kulit gosong yang dibopongnya membuat pandangannya beralih ke arahnya
"Bertahanlah paman" kata lelaki bertubuh kekar tersebut sambil berjalan kembali
Setelah berhadapan dengan Dewi sekardalu, lelaki kekar itu bertanya "apa eyang Suropati berada di sini,,,???"
"Masuklah" balas Dewi sekardalu sambil menuntun mereka masuk ke dalam
Diletakan di sebuah dipan bambu yang ada di dalam rumah tersebut, lelaki dengan kondisi gosong tersebut tampak dalam kondisi kritis
__ADS_1
"Maaf dimana eyang Suropati berada, paman Rakijanwojo sangat membutuhkan pertolongannya" kembali lelaki bertubuh kekar itu menjelaskan maksud kedatangannya
"Maaf beliau tidak ada di sini, tapi mungkin muridnya mampu membantu kalian" balas Dewi sekardalu sambil menatap tajam pada lelaki yang sepertinya dia kenal
"Lantas dimanakah dia berada...???"
Belum sempat Dewi sekardalu membalas pertanyaan lelaki di depannya, sebuah suara mendesah mulai terdengar di telinga mereka masing-masing
"Aaahhhhhhhhhhh"
Suara itu baru jelas terdengar saat semua sudah merasa tenang, karena sebelumnya kepanikan akan keadaan Rakijanwojo membuat semua orang merasa khawatir
Tapi kini setelah kondisi sedikit tenang suara itu terdengar berulang-ulang, membuat Dewi sekardalu maupun Patih Baladewa dan satu gadis cantik yang datang bersama Patih Baladewa salah tingkah
Patih Baladewa mengerti apa arti suara mendesah itu, hanya saja di saat seperti ini dia sendiri juga tak mampu berbuat apa-apa
Sedangkan gadis cantik yang ada disebelahnya hanya tidak tau harus berbuat apa, karena kini sepertinya dari gestur tubuh nya dia mulai tidak nyaman dengan mendengar suara itu
Disela-sela semua orang yang menunggu suara itu terhenti, tatapan tajam lelaki kekar itu kembali menatap ke arah wanita yang sedari tadi terdiam
"Maaf sebelumnya, sepertinya wajah nyai mengingatkan ku pada seseorang" kata lelaki bertubuh kekar itu pada wanita yang ada di depannya
__ADS_1
Wanita itu mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke arah lelaki yang sedang berbicara kepadanya
Tidak ada jawaban dari Dewi sekardalu hanya tatapan dalam yang seolah mengisyaratkan sesuatu
Tapi tiba-tiba sebuah pintu kamar yang sebelumnya tertutup, kini tengah terbuka dan sosok wanita dengan pakaian tipis terlihat keluar dari dalam kamar dan menyeret seorang lelaki yang belum sepenuhnya memakai pakaiannya
Hanya bagian vital yang tertutup dengan sempurna, selebihnya hanya numpang di tubuhnya saja
Melihat jika ada banyak orang yang memandang padanya Patih Lintang Sanggabumi hanya tersenyum pada mereka semua
Dewi sekardalu berjalan ke arah Patih Lintang Sanggabumi dan putranya "putraku apa kau bisa menyembuhkan lelaki itu" kata ibundanya sambil menunjuk ke arah lelaki yang terbaring dengan kondisi gosong
"Tapi setidaknya ibu suruh menantu ibu yang cantik ini melepaskan tangannya" balas Joko sambil tersenyum tanpa dosa
Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, Patih Lintang Sanggabumi pun melepaskan cengkraman tangannya di pergelangan Joko Patah
"Tapi bukankah lebih baik kalian pakai dulu pakaian kalian dengan baik" tiba-tiba suara laki-laki kekar yang sedari tadi hanya menjadi penonton kini berani berkata sambil memalingkan pandangannya
Melihat cara pandang lelaki tersebut membuat Patih Lintang Sanggabumi maupun Joko Patah melihat ke arah pakaian mereka masing-masing
"Haaaaaaaaaa"
__ADS_1
Teriakan melengking beriringan antara Patih Lintang Sanggabumi dan Joko Patah membuat penging di telinga, karena ternyata mereka baru sadar bahwa mereka sedangan bu#gil