
"Duduk kakang Patih, ada perlu apa sehingga kakang Patih sangat tergesa-gesa seperti ini, apa ada perkembangan yang sangat penting dari kerajaan Dharmasraya...???" Paman Hastrayasa bertanya pada Patih Baladewa
Mengatur nafas sejenak Patih Baladewa mencoba menenangkan pikirannya, karena dia juga tak tau harus memulai darimana cerita yang akan dia ceritakan
"Aku juga bingung paman, tapi apa yang aku lihat memanglah sebuah kenyataan yang pahit, prabu Adiyaksa sudah tewas dan sekarang kerajaan Dharmasraya dipimpin oleh prabu Losanjaya" perkataan Patih Baladewa membuat paman Hastrayasa sedikit kaget, bagaimana mungkin seorang prabu Adiyaksa yang sakti mandraguna bisa tewas dengan mudah, pasti ada yang tidak beres
"Aku membawa buktinya paman" Patih Baladewa memberikan karung yang berisi kepala dari prabu Adiyaksa pada paman Hastrayasa
Paman Hastrayasa enggan untuk membuka karung tersebut, karena dia tahu itu pasti bukanlah hal yang baik yang ingin dia lihat, sekilas menengok ke dalam karung, air matanya menetes semakin lama semakin deras, tak percaya dengan apa yang dia lihat
Patih Baladewa juga tak bisa berkata apa-apa lagi karena dia juga merasakan duka yang sangat mendalam tentang semua yang terjadi pada kerajaan Dharmasraya
"Mari segera kita kuburkan ini" paman Hastrayasa menarik tangan Patih Baladewa untuk segera mengubur kepala dari prabu Adiyaksa
Setelah urusan dengan paman Hastrayasa selesai ke esokan harinya Patih Baladewa pamit untuk kembali ke tempat asalnya, yaitu Menyamar sebagai buruh tani
Di sebuah lereng di kaki gunung Merapi seorang wanita nampak sedang mencari kayu bakar, di gendongan nya terdapat beberapa kayu kering yang dia dapatkan setelah beberapa lama berkeliling mengitari hutan tersebut, sesaat setelah beberapa lama berkeliling dia mendengar sebuah suara kuda sedang berlari ke arahnya, wanita itu lari sekencang-kencangnya melihat seorang lelaki berkuda mengejar dirinya, karena terlalu kencang dia berlari, diapun terjatuh dan terlihat senyum di wajah lelaki itu melihat wanita yang dia kejar kini sudah tak bisa lagi melarikan diri dari hadapannya
"Mau kemana lagi manis...???" Tanya lelaki tersebut
__ADS_1
"Tak perlu takut seperti itu, aku tidak akan berbuat kasar" kata lelaki tersebut dengan berdiri di depan wanita yang tergeletak di hadapannya
Wanita itu masih mencoba berlari tapi tangan lelaki itu langsung memegang pundaknya wanita tersebut dan langsung mendorongnya ke depan, kembali jatuh tersungkur wanita itupun berteriak meminta tolong, kondisi hutan yang tampak sepi me.buat teriakannya seolah tak terdengar oleh siapapun
Perlahan lelaki itu berjalan dan mendekap wanita yang sudah tak bisa berbuat apa-apa itu, tangannya kuat mencengkram leher wanita itu membuat wanita itu sulit bernafas
Lelaki itu melemparkan tubuh wanita tak berdaya itu hingga membentuk sebuah pohon, rintihan keras setelah tubuh wanita itu membentur batang pohon besar membuat tatapan lelaki itu semakin tajam dan nafsunya semakin tinggi dengan mendengar rintihan wanita tersebut
"Sudahlah jangan kau habiskan tenagamu untuk mencoba kabur cantik, aku tidak akan menyakitimu jika kamu tidak memberontak" lelaki itu kembali berkata dan mendekat ke arah wanita yang sudah tak berdaya
Tatapan wanita itu tampak takut karena sepertinya dia seperti orang yang trauma dengan sebuah siksaan, mendekat hingga menyentuh tubuh wanita itu dengan kedua tangannya, membuat nafasnya terengah-engah, belaian dari atas hingga bawah membuat nafasnya semakin tidak beraturan, meski wanita itu mencoba melepaskan dekapan lelaki itu, tapi tenaganya masih sangatlah lemah, lelaki bertubuh kekar itu langsung membuka setiap kain yang membalut tubuh wanita itu
"Apa yang kau lakukan, bisa-bisanya kau berbuat seperti itu disaat yang genting seperti ini, sedikit saja kita terlambat membawa dauh Cemoro yang di minta Ki Anom Sudarsono, makan nyawa Satria Mahardika bisa melayang" lelaki itu mengingatkan tujuannya datang ke tempat ini, kepada kawannya yang masih mendekap erat wanita di pelukannya
"Sial" gumam nya dalam hati
Sesaat lelaki itu melepas cengkraman nya wanita itu langsung menutupi bagian tubuh nya yang terbuka, melihat ke arah belakang dengan tatapan tajam ke arah lelaki yang masih menunggangi kuda, dengan kagetnya lelaki berkuda itu melihat wanita yang di lihat dihadapan nya adalah "Dewi sekardalu" kata yang keluar dari bibirnya
"Senopati Wiryo hadirojo, dasar penghianat" teriak wanita itu yang tak lain adalah Dewi sekardalu dengan lantang
__ADS_1
"Apa kalian sudah saling mengenal...???" Lelaki yang berdiri diantara Dewi sekardalu dan Wiryo hadirojo bertanya
"Dia adalah istri dari prabu Adiyaksa kakang wirang saji" balas Senopati Wiryo hadirojo
Senyum semakin lebar, wajah bahagia tampak semakin terlihat di wajah Senopati Wirang Saji, nafsunya semakin memuncak setelah mendengar bahwa wanita yang kini dihadapan nya adalah seorang ratu
Berjalan mendekat ke arah Dewi sekardalu, Senopati Wirang Saji menunjukan sikap biadabnya dengan kembali mencengkeram tubuh Dewi sekardalu
"Tolong......tolong....." Rintihan kata dari Dewi sekardalu tak dihiraukan oleh oleh Senopati Wirang Saji
Semakin keras tangan kanan Senopati Wirang Saji mencengkeram leher Dewi sekardalu dan tangan kirinya semakin liar menjelajah setiap inci dari bagian tubuh Dewi sekardalu
Sesuatu mengganjal di area dada Dewi sekardalu membuat matanya semakin lebar terbuka, senyuman tipis tergambar di wajahnya yang tampak sudah mulai berkeriput
Tiba-tiba sebuah belati melesat lurus dari balik semak-semak ke arah tangan kanan Senopati Wirang Saji, "ahhhhh....." Rintihan panjang terdengar setelah sebuah belati menancap di pergelangan Senopati Wirang Saji
Patih Wiryo hadirojo dengan seksama melihat apa yang sedang terjadi, melihat ke arah lengan Senopati Wirang Saji membuatnya siapa yang berani melakukan itu
"Bang#sat, tunjukan siapa kau sebenarnya, jangan menjadi seorang pengecut" teriak Senopati Wirang Saji dengan mencabut segera belati yang menancap di tangan nya
__ADS_1
"Hanya luka seperti itu sudah membuatmu kesakitan anak muda" secara jelas suara lelaki terdengar dari balik semak-semak