
Ruang singgasana kerajaan Dharmasraya
Tampak begitu berbeda setelah di isi oleh beberapa orang-orang baru, Losanjaya sebagai raja, Wiryo hadirojo kini menjadi Patih, Aryo Tejo yang sebelumnya hanya seorang tumenggung kini menduduki sebagai Senopati dan di dampingi Senopati Wirang Saji sebagai sekutu nya, yang terakhir Setyobudi sebagai Tumenggung yang baru, dia adalah anak dari Danang Suseno yang tewas dalam peperangan melawan prabu Adiyaksa
"Satria Mahardika" sebuah nama di panggil oleh prabu Losanjaya
Berjalan maju menghadap dan duduk jongkok di depan prabu Losanjaya "Satria Mahardika siap menerima perintah" berkata dengan lantang
"Sekarang aku menyerahkan kerajaan Lingga padamu putraku"
"Hatur nuwun Romo prabu, hamba siap menerima apa yang menjadi titah Romo prabu" Satria Mahardika tersenyum setelah membalas perkataan prabu Losanjaya
"Dan satu lagi, aku ingin menikahkan mu dengan putri dari kerajaan Adibuana, apa kau mau putraku.....???" Prabu Losanjaya menanyakan kesanggupan Satria Mahardika untuk dinikahkan dengan putri dari kerajaan Adibuana
Tampak semakin tersenyum bibir Satria Mahardika, mengingat bahwa kecantikan putri dari kerajaan Adibuana sangat tersohor di seluruh penjuru kerajaan-kerajaan yang ada, tak ada yang tak mengenal putri cantik jelita tersebut, meski usianya baru Lima belas tahun tapi Dewata sudah menganugerahkan kecantikan yang luar biasa
"Hamba menyerahkan semua keputusan di tangan romo prabu" balas Satria Mahardika dengan senyum tergambar di wajahnya
Tersenyum prabu Losanjaya mendengar jawaban dari putranya, sebuah rencana besar ada di pikirannya, jika sampai itu terwujud maka betapa bahagianya dirinya, "patih Wiryo hadirojo, besok kamu bersiaplah menuju kerajaan Adibuana, sampaikan pesan ini pada prabu Jayadiningrat" senyum manis menghinggapi wajah prabu Losanjaya setelah berbicara
"Hamba siap Gusti"
Tiba-tiba seorang prajurit datang menghadap ke arah prabu Losanjaya "maaf Gusti prabu, ada orang yang mencoba mencuri kepala prabu Adiyaksa, saat ini orang itu sedang di hadang oleh para prajurit di alun-alun" kata prajurit itu dengan sedikit cemas karena takut jika dia akan dibunuh karena tidak bisa menjaga dengan baik
__ADS_1
Tatapan prabu Losanjaya mengarah pada Patih Wiryo hadirojo dengan penuh makna, Wiryo hadirojo paham maksud tatapan dari prabu Losanjaya "mungkin dia Patih Baladewa Gusti prabu, karena hanya dia yang waktu malam pertarungan itu pergi meninggalkan istana" kata Patih Wiryo hadirojo dengan tatapan yakin
"Apa kau mampu menghadapinya putraku" kali ini prabu Losanjaya bertanya pada Satria Mahardika
"Akan aku tunjukan kekuatan ku pada nya, agar dia tahu sedang berhadapan dengan siapa Romo"
"Bagus, tunjukan padanya kekuatan raja kerajaan Lingga pada nya" kata prabu Losanjaya setelah putranya yakin bisa mengalahkan Patih Baladewa
Di alun-alun kerajaan Dharmasraya, seorang dengan penutup wajah berwarna hitam membawa sebuah karung yang berisi kepala dari prabu Adiyaksa, mencoba menyelamatkan diri dari kepungan prajurit istana yang jumlahnya mencapai ratusan "apa aku harus menghabisi mereka semua" gumam hatinya masih ragu jika harus membunuh setiap prajurit yang menyerang
Sebuah anak panah terbang menuju ke arah Patih Baladewa, dengan sedikit gerakan memutar Patih Baladewa menghindar dari serangan anak panah tersebut
Melihat ke arah anak panah itu berasal, seorang lelaki muda dengan pakaian istana berdiri di ujung sebuah jalan, tatapannya tajam seperti orang yang siap bertarung, tapi Patih Baladewa tak sedikit pula takut akan kehadiran lelaki tersebut
Melesat ke arah tempat lelaki itu berdiri masih belum menunjukan jurus ataupun ajian yang akan dia gunakan, Patih Baladewa langsung menyerang dengan pedang yang dia rampas saat berhadapan dengan prajurit tadi
Lelaki tersebut adalah Satria Mahardika yang ditugaskan untuk menghadang Patih Baladewa, Satria Mahardika mengeluarkan pedang yang dia bawa, menahan setiap serangan pedang dari Patih Baladewa dengan pedang miliknya
Pertarungan pedang tingkat tinggi yang di peragakan keduanya mampu membuat para prajurit yang melihat hanya menonton saja, ajian Guntur sejagat sebuah pukulan dengan di iringi sebuah gemuruh Guntur yang mengiringi setiap pukulan yang dilakukan oleh Satria Mahardika, Patih Baladewa memilih bertahan dan menghindar dari serangan ajian Guntur sejagat, dia tau jika Samapi terkena pukulan ajian Guntur sejagat maka tubuhnya sama saja dengan disambar oleh petir
Satria Mahardika menguasai betul ajian Guntur sejagat membuat Patih Baladewa hampir tak memiliki celah untuk melawan, membuat Patih Baladewa terpojok untuk sekedar menghindar, "jika seperti ini aku bisa mati, "ajian lembu sekilan" setiap serangan dari ajian Guntur sejagat semua meleset meski tubuh Patih Baladewa tak bergerak
Bergerak maju dengan cepat sebuah pukulan "Cemoro Geni" sebelum akhirnya tangan kanan Patih Baladewa terlihat memerah dan menghantam dada Satria Mahardika, seketika tubuh Satria Mahardika terpental mundur beberapa meter, pakaian yang dia kenangan berlubang membentuk sebuah telapak tangan di dadanya, dia mengerang menahan panas dari ajian Cemoro Geni, Patih Baladewa yang memiliki celah untuk menghindari pertempuran yang lebih dalam lagi, mencoba dengan cepat bergerak meninggalkanedan pertempuran, berlari sekuat tenaga menjauh dari kerajaan Dharmasraya
__ADS_1
Melihat apa yang di alami oleh Satria Mahardika, salah seorang melaporkan hal itu pada Gusti prabu Losanjaya "mohon ampun Gusti prabu, pangeran Satria Mahardika terluka parah, saat ini masih berada di alun-alun Gusti" seketika prabu Losanjaya bergegas mengarah ke tempat dimana prajurit tadi berkata
Satria Mahardika terlihat sudah sekarat, tubuhnya melepuh dan dadanya hitam bekas pukulan ajian dari Patih Baladewa "tidak salah lagi, ini adalah ajian Cemoro Geni" anom Sudarsono berkata menjelaskan apa yang terjadi pada prabu Losanjaya
"Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengobati luka ini Ki...???" Prabu Losanjaya bertanya pada Ki Anom Sudarsono
"Sedikit sulit Gusti prabu, kita harus mencari daun Cemoro yang tumbuh di puncak gunung merapi"
"patih Wiryo hadirojo, untuk sementara tunda dulu rencana pergi ke kerajaan Adibuana, sekarang cepat pergi ke gunung Merapi dan cari daun itu" berkata prabu Losanjaya dengan sedikit cemas dengan kondisi putranya
Tanpa menunggu lama patih Wiryo hadirojo berangkat bersama Senopati Wirang Saji dan beberapa prajurit untuk menyiapkan semua keperluan
...................
Di hutan manggalingan
Sebuah pusaka berwarna merah menyala menyinari tempat kediaman paman Hastrayasa, pedang naga merah yang menjadi pusaka milik prabu Adiyaksa yang di titipkan untuk putrinya kelak kini sedang dicoba untuk disempurnakan oleh paman Hastrayasa, Paman Hastrayasa mengunakan beberapa jurus untuk mengetahui seberapa kuat pedang naga merah itu, memang dia tak bisa menggunakan sepenuhnya, karena meskipun dia ada hubungan keluarga dengan prabu Adiyaksa, tapi dia bukan keturunan langsung dari keluarga prabu Adiyaksa, dia hanyalah menantu dari kakak kandung prabu Adiyaksa, yang putrinya menikah dengan paman Hastrayasa, karena telah melakukan hubungan badan dengan istrinya itulah, membuatnya bisa menggunakan pedang naga meskipun tidak bisa menguasai sepenuhnya
Setelah mencoba beberapa jurus saja kekuatan paman Hastrayasa sudah merasa jika saat ini terkuras habis, nafasnya terengah-engah seperti orang yang sedang menggunakan ajian Pamungkas
Paman Hastrayasa sedikit memikirkan apa yang kira-kira ditambahkan untuk lebih menyempurnakan pusaka naga merah, tak ada yang terlintas dipikiran nya saat ini, dia hanya berfikir akan melakukan puasa untuk mencari petunjuk pada para leluhurnya
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar oleh paman Hastrayasa, setahu dia tak ada orang lain yang bisa masuk ke hutan ini selain Patih Baladewa, ternyata apa yang dia tebak memang benar, sosok Patih Baladewa datang dengan sangat tergesa-gesa, seolah ada hal yang penting yang ingin dia sampaikan
__ADS_1