
Sebuah kuda-kuda dipasang oleh Harso untuk melawan paman Hastrayasa, beberapa jurus telah dikeluarkan oleh keduanya tapi dengan basic beladiri yang mereka miliki semua serangan menjadi sia-sia
"Hebat juga kau kakek tua" tangan Harso mengepal dan mengarahkannya ke langit sebuah cahaya biru terlihat terang bersamaan dengan tangan Harso yang diangkat
Paman Hastrayasa tak mau kalah, dia memfokuskan pikiran nya dan duduk bersila memejamkan matanya dan sebuah lingkaran tercipta mengelilingi tubuhnya dengan sebuah tulisan Jawa kuno
Muncul sosok ular berkepala tiga dengan masing-masing kepala ular itu menggigit sebuah pedang besar, tubuh paman Hastrayasa hilang menyatu dengan mahluk ular itu
Harso mengarahkan pukulan tepat ke arah sosok ular jelmaan dari paman Hastrayasa, dan sebuah kepalan tinju besar berwarna biru melesat lurus
Paman Hastrayasa yang bertransformasi menjadi seekor ular pun bergerak lincah menghindari setiap pukulan yang di arahkan ke padanya
Wujudnya yang sekarang mungkin tak banyak orang yang tau, karena memang sejak awal paman Hastrayasa hanyalah seorang Pande besi yang pekerjaannya mengurusi gaman ataupun benda pusaka, bukan seorang pendekar yang sakti
__ADS_1
Sosoknya yang santun dan tak memperlihatkan sebuah kekuatan besar yang ada di dalam dirinya mungkin itu yang selalu di lihat oleh semua orang
Tetapi saat kekuatan asli, di dalam diri nya di keluarkan ternyata sangatlah menakutkan, dan bisa membuat lawan menjadi berfikir ulang jika harus melawan nya
Tapi kali ini yang di hadapi adalah Harso, adik dari Darso yang merupakan murid dari nyai Ageng Tirtayasa atau yang sering disebut Ratu kegelapan
Kekuatan Harso hampir setara dengan kakak nya, statusnya sebagai Patih di kerajaan Tanggulangin memang tidak bisa di anggap enteng, meski dicap sebagai penghianat kerajaan karena telah membunuh raja nya sendiri tapi sosok Harso tetaplah seorang yang menakutkan
Harso terus menyerang dengan pukulan andalan nya , sedangkan paman Hastrayasa masih belum terlihat membalas serangan Harso
Harso mengarahkan pukulan pada pedang besar yang kini mengarah lurus ke padanya, pedang itu hancur setelah berbenturan dengan pukulan milik Harso
Tetapi sepertinya bukan itu tujuan serangan paman Hastrayasa, karena kini tanah tempat Harso berpijak bergetar hebat
__ADS_1
Harso yang sadar jika akan ada serangan sama seperti yang terjadi pada kakak nya akan menimpa dirinya, dia langsung melompat mundur ke belakang
Dan benar sebuah kepala ular muncul dari dalam tanah tempat semula Harso berdiri, "cuma itu yang bisa kau lakukan kakek tua" Harso memukul kepala ular dengan keras setelah dia berhenti berbicara
Satu kepala ular jelmaan paman Hastrayasa hancur terkena pukulan ajian ba'da tubi atau sering dikenal dengan ajian pelumpuh
Efek yang di rasakan oleh tubuh paman Hastrayasa sangat serius membuat wujudnya berubah menjadi manusia kembali
Tubuhnya membiru dan lengan kanannya tak mampu lagi digerakkan seperti semula dan kini seperti orang lumpuh
Darah yang Perlahan menjalar ke seluruh tubuh paman Hastrayasa membawa efek dari ajian Ba'da tubi milik Harso , dan kini tubuh paman Hastrayasa melemah, setiap syaraf di dalam otaknya tak berfungsi dan langsung tergeletak
Berjalan ke arah lawan yang sudah tak berdaya Harso menarik tubuh paman Hastrayasa dan kembali berjalan menuju tempat putri Sekar Ningrum di rebahkan
__ADS_1
Tubuh putri Sekar Ningrum belum juga tampak bergerak, terkena efek saat dirinya masuk ke dalam perut ular
Tubuh putri Sekar Ningrum di angkat dibahu Harso sedangkan tubuh paman Hastrayasa diseret hingga melewati beberapa ribu semak-semak dan akhirnya menghilang di balik kegelapan