
Sebuah rumah tapi lebih mirip dengan sebuah gubuk, karena kini tampak kecil di mata semua orang, karena masih terlihat cukup jauh di salah satu lereng gunung Merapi
Joko Patah menghentikan langkahnya, mencoba mengatur nafasnya sejenak untuk melonggarkan otot-otot yang kaku karena setelah sekian jauh menggendong lelaki yang bahkan dia tak mengenalnya
"Kenapa kau berhenti...???" Lagi-lagi suara wanita itu terdengar setelah Joko Patah membaringkan tubuh paman Hastrayasa di sebuah pohon
"Kita istirahat dulu, lagi pula tempatnya juga tidak jauh lagi" balas Joko Patah dengan sambil merebahkan tubuhnya di samping paman Hastrayasa
Mata Patih Lintang Sanggabumi melihat ke sekitar, memutar hingga tiga ratus enam puluh derajat dan terhenti setelah melihat sebuah gubuk di kejauhan
"Apa itu tempatnya...???" Tanya Patih Lintang Sanggabumi sambil menunjuk ke arah gubuk kecil yang tampak di sebuah lereng
Joko Patah menganggukkan kepalanya pelan, tanpa menatap ke arah wanita yang berkata
"Kalau begitu cepatlah, aku tidak punya banyak waktu!!!"
Joko Patah terbangun dari tempat dia merebahkan tubuhnya, dan kini mengambil posisi duduk selonjoran
Menghembuskan nafas berat seolah terpaksa akan keadaan, yang tak bisa dia hindari
"Beri aku satu alasan, mengapa aku harus menuruti keinginan mu" kata Joko Patah sambil berdiri dan menatap tajam ke arah wanita di depannya
__ADS_1
Patih Lintang Sanggabumi sedikit kaku karena kini posisi Joko berkata tepat dihadapan wajahnya
Hanya tinggal beberapa centimeter saja mungkin bibir mereka akan bersentuhan
Patih Lintang Sanggabumi segera memalingkan wajahnya dan berkata "ini tentang keselamatan putri Sekar Ningrum, dia dalam bahaya besar, aku harus segara menolongnya"
Joko Patah mendekati Patih Lintang Sanggabumi dan langsung "kenapa bibik tak bilang dari tadi jika masalahnya tentang seorang wanita" kata Joko Patah dengan bergegas menggendong kembali lelaki yang sebelumnya dia baringkan di bawah pohon
Melihat sikap lelaki tak jelas yang seperti orang gila, tapi jika mendengar kata wanita hidupnya seolah berwarna, membuat Patih Lintang Sanggabumi tak percaya akan hal itu
Apa yang dia lihat kini seperti orang gila dengan kekuatan yang dia sendiri belum mengerti, membuatnya menarik napas berat memikirkan hal itu
Patih Lintang Sanggabumi enggan berkata lagi dan segera mengikuti lelaki tak jelas itu berjalan
Kali ini langkahnya terasa sangat cepat, entah itu karena apa yang membuat lelaki itu bersemangat Patih Lintang Sanggabumi juga belum mengerti
Karena dia hanya mengatakan tentang keselamatan putri Sekar Ningrum, lelaki itu sudah membuat dirinya menjadi sosok yang berbeda
Patih Lintang Sanggabumi menertawakan lelaki yang kini tampak cepat dalam setiap langkahnya
Bagi Patih Lintang Sanggabumi ini bagus, tapi di sisi lain mana mungkin dia mengajak lelaki aneh dalam pertarungan yang mengerikan
__ADS_1
Meski Patih Lintang Sanggabumi mengakui jika lelaki di depannya memiliki bakat kemampuan tinggi, tapi masalah dengan pengikut nyai Ageng Tirtayasa bukanlah perkara yang mudah
Dia tidak mau orang tak berdosa ikut menanggung apa yang dia lakukan di masa lampau
Cukup dia sendiri yang akan maju menemui Darso maupun Harso dengan resiko nyawanya sebagai taruhannya
Dengan cepat kini Patih Lintang Sanggabumi sudah berdiri di depan rumah kayu yang tampak sepi
Tak ada tanda-tanda kehidupan sepertinya, karena rumah itu sudah di penuhi sarang laba-laba dan daun-daun berserakan di depan teras nya
"Apa kau yakin disini tempatnya...????" Bertanya Patih Lintang Sanggabumi pada lelaki yang baru saja membaringkan tubuh lelaki yang dia gendong
"Iya, karena aku juga dibesarkan di tempat ini" balas Joko patah dengan senyum yang sama seperti awal mereka bertemu
Melihat senyuman itu Patih Lintang Sanggabumi sedikit risih, karena dia merasa jika lelaki didepannya hanya memiliki otak mesum
Dengan terpaksa Patih Lintang Sanggabumi menanggapi senyum lelaki tak jelas itu, meski tampak terpaksa semua demi menyelamatkan nyawa paman Hastrayasa
"Sudah mari kita masuk bibik" kata Joko Patah sambil membuka pintu dan membawa masuk paman Hastrayasa ke dalam rumah
Patih Lintang Sanggabumi enggan memasuki rumah karena dia merasa tidak yakin, karena di rumah itu tampak tidak ada sedikitpun kehidupan
__ADS_1