
Langkah kaki beriringan mulai memasuki sebuah hutan yang tampak memiliki Medan naik dan turun
Para prajurit yang berjalan selalu mengawasi sekitar mereka masing-masing, kewaspadaan sangat di tingkatkan di sini karena kini perjalanan mereka mulai memasuki hutan yang di dalamnya terbiasa menjadi sarang penyamun
Tapi bukan hanya sebagai sarang penyamun tetapi di hutan tersebut ada sebuah lembah yang konon sangat angker dan berbahaya
Setiap orang yang memiliki maksud buruk jelas akan bernasib sial jika melintasi wilayah lembah tersebut, tetapi kini rombongan Patih Lintang Sanggabumi hanya sekedar lewat tanpa mengganggu penunggu lembah tersebut
Patih Lintang Sanggabumi yang berjalan paling depan sangat berhati-hati disetiap pijakan langkah nya, karena para penyamun banyak memasang perangkap untuk menjebak siapa saja yang berniat melewati hutan ini
Ini adalah jalan terdekat menuju kerajaan Balongan, sebenarnya ada jalan lain tetapi akan sangat memakan waktu lama jika menggunakan jalan tersebut karena memang letaknya yang memutar bahkan bisa memakan waktu dua sampai tiga kali lipat jika dibandingkan melewati jalur hutan ini
Setelah kejadian di desa Mbareng kemaren Patih Lintang Sanggabumi sangat berhati-hati untuk memilih jalan, apalagi saat ini rombongan telah memasuki hutan Patek dan sebentar lagi akan sampai di lembah jurang kematian
"Mengapa di tempat ini begitu sepi" gumam Patih Lintang Sanggabumi
Karena sering terjadinya pertempuran di tempat ini bekas-bekas serpihan pedang maupun tombak berserakan di tepian jalan
__ADS_1
Patih Lintang Sanggabumi hanya memandang aneh karena sejauh perjalanan kini belum ada satu perampok atau halangan yang mereka hadapi
Nama besar nya mungkin banyak yang mengenali tapi masih ada pula pendekar hebat yang masih mampu mengimbanginya dalam pertempuran satu lawan satu
Apalagi sekarang dalam rombongan ada putri Sekar Ningrum yang ikut menjadi bagiannya, akan menjadi sangat susah jika harus bertarung sambil melindungi seseorang
Tebing tinggi mulai terlihat setelah semakin dalam masuk ke dalam hutan, kewaspadaan semakin ditingkatkan oleh semua rombongan, putri Sekar Ningrum yang baru pertama kali merasakan pengalaman di Medan perang selama hidupnya pun membuat jantung nya berdebar-debar
Tatapannya mengarah ke kiri dan ke kanan seperti semua prajurit yang ada di sekelilingnya, meski masih menggenakan pakaian prajurit tapi hatinya juga masih merasa takut saat ini
Puluhan langkah kaki yang berlari mengepung dirinya dari balik-balik pepohonan mulai bisa dirasakan, bahkan putri Sekar Ningrum sangat takut saat Patih Lintang Sanggabumi menyuruh semua rombongan berhenti
Mulai menampakan diri satu persatu para perampok mulai mengepung rombongan Patih Lintang Sanggabumi, berjumlah tiga kali lipat dari rombongan yang ada
"Bagaimana ini" gumam putri Sekar Ningrum yang tampak risau
"Patih Lintang Sanggabumi, aku tak menyangka bertemu denganmu kembali" lantang suara pemimpin perampok itu berkata
__ADS_1
"Cihh,,, siapa yang ingin juga bertemu dengan perampok yang selalu membuat resah para rakyat, bukankah kau sudah berjanji untuk tidak melakukan perbuatan keji ini, kali ini aku tidak akan lagi memberikan ampunan padamu" melesat lurus sebuah pedang untuk menyerang para perampok setelah Patih Lintang Sanggabumi berkata
Pertarungan tak seimbang mungkin memang terjadi antara jumlah pasukan perampok lebih banyak daripada rombongan kerajaan Adibuana
Tetapi kesenjangan kekuatan sangat terlihat lebih memihak pada rombongan kerajaan Adibuana yang lebih bisa membunuh para perampok dengan mudah
Kini tinggal seorang pemimpin perampok yang berdiri dengan wajah ketakutan melihat semua anak buahnya mati tak tersisa, tatapan nya mengarah ke kiri, kanan, depan, belakang seolah mencari sesuatu
"Apa yang kau cari, sudah tak ada lagi yang bisa membantu dirimu" teriak Patih Lintang Sanggabumi pada lelaki yang kini tampak berjalan mundur karena merasa takut
Diangkat pedang Patih Lintang Sanggabumi bersiap menebas ke depan, sesaat sebelum pedang itu menyentuh kulit lawan yang ada di depannya
Sebuah anak panah melesat lurus dari balik pepohonan, Patih Lintang Sanggabumi menghindar dari serangan anak panah yang kini menancap di salah satu pohon yang ada di belakangnya
Ditatap lurus ke arah anak panah yang masih menancap di batang pohon "tidak mungkin" gumam nya dalam hati
Seorang lelaki paruh baya dengan pakaian serba hitam membungkus lelaki yang kini tersenyum memandang wajah Patih Lintang Sanggabumi
__ADS_1