Back To Castle

Back To Castle
sebelas


__ADS_3

Patih Wiryo hadirojo merupakan manusia yang memiliki ketahanan tubuh kuat, di tambah dengan ajian Bandung Bondowoso membuat ketahanan tubuhnya semakin kuat, tapi kali ini lawan yang di hadapi bukanlah orang lain, melainkan sosok yang menyerupai dirinya sendiri


Bahkan jurus dan Kanuragan yang di miliki pun sama persis, membuat Patih Wiryo hadirojo kebingungan untuk menghadapi sosok tersebut


Sesaat setelah dirinya melukai dirinya sendiri, terlihat sosok itupun juga melakukan hal yang sama, dalam ingatan nya hanya satu yang bisa dia lakukan yaitu bunuh diri


Karena menurut ilmu pengetahuan yang dia miliki, sosok yang saat ini dia hadapi adalah sosok dari dirinya sendiri, dan konon katanya sosok diri sendiri bisa di hadirkan untuk melawan lawan yang sangat kuat yaitu dengan ajian "mbelah Sukmo" ajian mbelah Sukmo adalah ajian untuk menyerupai sosok yang dia inginkan tapi ajian itu sudah lama tak terlihat karena itu hanya ada dalam cerita masyarakat


Tapi apa yang di alami oleh Patih Wiryo hadirojo saat ini bukanlah sebuah mimpi karena sosok dari perwujudan dirinya sendiri kini berada tepat di depan matanya


"Siapapun orang yang menggunakan ajian mbelah Sukmo pastilah bukan orang sembarangan" gumam Patih Wiryo hadirojo melihat keadaan nya yang semakin lama semakin terasa dingin karena darah yang sudah banyak sekali keluar membuat tubuhnya membiru


.............


Di sebuah gubuk yang rumayan besar milik kakek tua yang menyelamatkan Dewi sekardalu terlihat seorang anak kecil sedang bermain di dalam rumah tersebut

__ADS_1


Seingat Dewi sekardalu tadi sebelum dia meninggalkan gubuk itu, dia tak melihat anak kecil yang saat ini sedang bermain dengan sebuah burung yang ada di dalam sebuah sangkar


"Maaf kek,,,, tapi sebelum aku pergi tadi, aku tak melihat ada seorang anak kecil disini...???" Dewi sekardalu mencoba menanyakan sebuah hal pada kakek tua itu


Tersenyum kakek tua itu mendengar pertanyaan dari Dewi sekardalu "cucuku ke sini sebentar" sesaat anak kecil itu berjalan ke arah kakek tua setelah kakek tua itu memanggil nya


"Iya kek,,, ada apa...????"


"Perkenalkan, ini Dewi sekardalu, ratu dari kerajaan Dharmasraya" kata kakek tua itu pada anak kecil laki-laki yang berumur lima tahun nan


Berjalan maju ke arah Dewi sekardalu anak laki-laki itu memeluk lutut Dewi sekardalu "ibu,,,,, ibu..." Kata anak kecil itu sontak membuat Dewi sekardalu sedikit teringat tentang putranya yang telah tiada yaitu Panji Sastra


Kakek tua itu terdiam sejenak "aku menolongnya di saat sebuah pertempuran antara seekor naga dengan seekor ular raksasa, di dalam sebuah tebing yang sangat curam, di sebelah kanan dari gunung Merapi ini, di saat itu dia berada di antara keduanya yang tampak bertarung seolah memperebutkan anak ini, aku juga tidak tau kenapa dia bisa berada di tempat seperti itu dan siapa yang membawanya sampai ke tempat itu," kakek itu bercerita sambil mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu


"Lalu siapa nama anak ini kakek....???" Dewi sekardalu tampak senang melihat anak kecil seusia putranya yang telah tiada

__ADS_1


"Aku juga belum tau, mau aku panggil dia dengan nama siapa,, mungkin Dewi sekardalu punya usulan...???"


Berfikir untuk menentukan nama yang tepat untuk anak yang kini ada di pangkuannya Dewi sekardalu tampak kebingungan karena dia sendiri tak memiliki pandangan tentang nama apa yang akan dia berikan


"Bagaimana jika kita kasih nama anak ini Joko Patah kek....???" Dewi sekardalu bertanya pada kakek tua yang juga belum menemukan nama yang pas untuk anak laki-laki di pangkuan Dewi sekardalu


"Baiklah kalau begitu" tanggapan kakek tua membuat Dewi sekardalu tersenyum dan memeluk anak laki-laki yang ada di pangkuannya


"Lalu siapa nama kakek sendiri...????" Tiba-tiba Dewi sekardalu menanyakan tentang nama kakek tua yang selama ini selalu menyelamatkan hidupnya


Kakek tua itu tersenyum mendengar pertanyaan Dewi sekardalu karena merasa selama berpuluh puluh tahun dia hidup menyendiri di hutan ini tak ada satu orang pun yang memanggil namanya, kali ini ada orang yang bertanya nama kepadanya membuat dia ingin tertawa sendiri, menertawakan diri sendiri yang memilih menepi dari ramainya peradaban yang kian hari kian berkembang


"Kenapa kakek tertawa, apa ada yang salah dengan pertanyaan ku....???" Dewi sekardalu mencoba menanyakan maksud kakek tua itu tertawa


"Tidak ada yang salah dari pertanyaan mu nak, hanya saja aku sudah puluhan tahun tak mendengar pertanyaan seperti itu, membuatku hampir lupa dengan siapa nama ku sendiri" kakek tua itu menjawab sambil masih tersirat tawa di bibirnya

__ADS_1


"Panggil saja kakek dengan nama Suro kakek Suro" sambung nya


"Baiklah kek"


__ADS_2