
Setelah setiap tatapan diantara mata keduanya, Patih Lintang Sanggabumi maupun Darso langsung memulai maju melancarkan serangan
Ilmu Kanuragan dengan berbagai jurus mereka keluarkan, langit mendung secara tiba-tiba menandakan ada sebuah pertarungan hebat yang sedang terjadi
"Ajian sewu nilon" ucap Patih Lintang Sanggabumi
Kaca nilon berukuran besar mulai muncul mengelilingi mereka berdua, Darso menoleh ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan Patih Lintang Sanggabumi yang kini tak lagi terlihat
"apa kau takut" Suara lembut Patih Lintang Sanggabumi kini mulai terdengar di dalam setiap cermin yang mengelilingi Darso
Sekelebat cahaya menyerang dari salah satu nilon menuju ke arah Darso, banyaknya nilon memantulkan cahaya tersebut, Darso salah mengantisipasi serangan yang datang membuatnya harus mundur beberapa langkah setelah serangan cahaya tadi mampu melukai tubuhnya
"Bang#sat" belum selesai Darso menggerutu puluhan pedang muncul menyerang langsung dari setiap nilon yang ada
Tubuh Darso mengeluarkan cahaya hitam pekat membuat puluhan pedang itu terhenti menyentuh tubuh Darso sesaat sebelum menyentuh tubuhnya
Kekuatan ajian Bandung Bondowoso memang maha dahsyat, bahkan tak bisa di anggap remeh siapa saja yang memiliki ajian tersebut
Darso merapal sebuah mantra dan tanah mulai bergerak, semua nilon yang yang ada ikut bergetar
__ADS_1
Darso berteriak lantang dan semua nilon pecah hancur berkeping-keping, sosok Patih Lintang Sanggabumi tersenyum di balik salah satu nilon yang masih utuh bentuknya
"Ajian raungan macan mu begitu memukau Darso" puji Patih Lintang Sanggabumi melihat kehebatan ajian milik Darso
"Jangan meremehkan ku, sekarang aku jauh lebih kuat jika dibandingkan aku yang dulu, bahkan untuk mencabut nyawamu pun kini aku mampu Sanggabumi" balas Darso setelah mendengar pujian dari Patih Lintang Sanggabumi
"Sumbar mulut bus#ukmu" langkah Patih Lintang Sanggabumi semakin cepat bergerak maju
Darso berteriak kembali, langkah kaki Patih Lintang Sanggabumi berhenti seketika tertahan oleh suara keras dari ajian raungan macan
Nilon yang digunakan untuk melindungi tubuh Patih Lintang Sanggabumi pecah dan tubuhnya terlempar membentur pepohonan
Jika tidak dengan ajian tameng Waja yang melindungi tubuhnya, mungkin keadaan Patih Lintang Sanggabumi akan jauh lebih parah
"Sebaiknya kau katakan dimana kau menyimpan jasad guruku" Darso kembali menanyakan tentang jasad gurunya yang hilang entah kemana
"Sampai matipun aku tak akan pernah memberitahu mu Darso" balas Patih Lintang Sanggabumi dengan kembali menata pakaian yang sempat terbuka
Kembali Darso berteriak lantang kali ini semua pepohonan yang ada di sekitar nya maupun yang ada di sekitar Patih Lintang Sanggabumi terbang entah kemana
__ADS_1
Suara yang dihasilkan dari ajian raungan macan memang sangat menakutkan, mungkin jika terkena orang biasa mungkin sudah langsung mati karena kerasnya terpaan angin saat ajian itu di keluarkan
Dengan ajian tameng Waja Patih lintang Sanggabumi bertahan, langkahnya terus terdorong mundur bahkan kini kulit lengan nya mulai menerima sayatan-sayatan yang tak tahu dari mana itu berasal
Seolah angin yang menerpanya memiliki mata tajam untuk menggores kulit "jika seperti ini terus aku bisa mati" gumam Patih Lintang Sanggabumi
Menarik nafas panjang tenaga dalam mengalir di dada Patih Lintang Sanggabumi dan sesaat lengkingan suara Patih Lintang Sanggabumi juga terdengar
Kali ini dari arah Patih Lintang Sanggabumi arah angin berbalik ke arah Darso, serangan yang di keluarkan Patih Lintang Sanggabumi bukan serangan biasa
Ajian gelap sayuto merupakan ajian penghancur yang diciptakan oleh gurunya untuk melawan ajian yang memiliki jenis yang sama
Petir dan Guntur silih berganti mengeluarkan suara merdunya di langit, gesekan dari kedua kekuatan yang beradu membuat kilat terus menyambar ke segala arah
Paman Hastrayasa yang terlihat berlari membawa putri Sekar Ningrum pun merasakan jika saat ini Patih Lintang Sanggabumi memang melawan orang yang sangat sakti mandraguna
Satu hal yang tak diharapkan terjadi, tiba-tiba saat paman Hastrayasa berhenti karena melihat dan merasakan langit berubah menjadi tak karuan saat pertarungan Patih Lintang Sanggabumi dan seorang yang bernama Darso
Sosok lelaki yang sebelumnya bersama Darso berdiri di hadapan paman Hastrayasa dengan tatapan sombong
__ADS_1
"Sebaiknya kau serahkan gadis itu kakek tua..!!!!" Harso mencoba menegosiasi dengan paman Hastrayasa
"Aku lebih baik mati jika harus menyerahkan putri Sekar Ningrum" paman Hastrayasa membaringkan putri Sekar Ningrum dan langsung menyerang Harso