Baju Bekas

Baju Bekas
Nikah Paksa


__ADS_3

Sejak kejadian itu aku dan mas Rido tidak pernah lagi bertegur sapa, mestipun sering berpas pasan, tapi kami seperti orang asing, seperti orang tidak kenal.


Seiringnya waktu aku sudah terbiasa dengan hal itu termasuk anak anak juga tidak pernah menanyakan ayah mereka, mungkin mereka troma, jadi jika mereka melihat ayah nya, mereka lebih menghindar, mungkin masih ada rasa takut.


Tapi aku selalu mengingatkan anak anak ku untuk tidak membenci ayah mereka, mereka mulai semangat menjalani hidup mereka, mestipun hanya ada seorang ibu di samping mereka.


*


*


*


Suatu pagi aku dapat berita, ada saudara yang sakit, dan sedang di rawat di rumah sakit di kota ini, ternyata ayah dan abang ku sedang di dalam perjalanan menuju kota ini, karna mereka ingin menjenguk saudara kami itu.


Dengan secepat kilat aku membersihkan rumah, akan dipastikan mereka akan singgah dirumah ku, aku akan membuat mereka senyaman mungkin berada dirumah ku nanti.


Sedang asik membersihkan halaman, lewat lah pajero sport milik mas Rangga, mobilnya berhenti tepat di halamanku, aku pun heran kenapa dia kesini.


" Tumben kesini, " kataku.


" Kangen," katanya tampa basa basi.


"Uek, modus, omongan mu buat aku mual, " kataku sok jijik padahal perkataan mas Rangga spontan membuat jantungku berdebar debar.


"S0m bong banget, padahal aku jujur loh".


" Sudah sudah, sekarang jelasin mau apa kesini?".


"Mmm,, mau ngajak kamu ke kota batik, kata ibu ku kemaren kamu tanya tanya tentang batik! ya kurasa mungkin lagi butuh, kebetulan aku ada urusan ke kota batik, kamu bisa ikut kalau kamu mau, " kata mas Rangga.


"Emang butuh si buat bikin dompet, pesanan pelanggan, tapi maaf aku ngak bisa pergi, ayah sama abang ku mau datang, " kataku.

__ADS_1


" Memang nya mereka nyampe kapan? ".


" Mungkin besok, ".


" Ya sudah kita berangkat sekarang, nanti sore kita balik lagi, kan dekat, kita lewat jalan tol saja," kata mas Rangga menjelaskan.


"Trus anak anak ku gimana, di ajak gitu? tapi kasian ntar capek besok juga sekolah lagi, " kataku.


" Ya sudah kita titip sama ibu ku dulu, pasti beliau tidak keberatan," mas Rangga memberi usul.


" Bener ngak keberatan? kasian nanti kerepotan, "


" Iya bener, buruan, nanti kesiangan, kita antar kan anak anak ke ibu ku dulu, nanti kita jemput pas sore, " kata mas Rangga.


Aku pun setuju, setelah mengantarkan anak anak kamipun berangkat ke kota penghasil batik, aku memang ingin membuat kerajinan dari batik, banyak yang memesan supenir dari bahan batik, semoga disana nanti harga bahan nya ada yang lebih murah.


Untuk rutenya kami mengambil jalan tol, kata mas Rangga agar bisa sampai disana lebih cepat.


Setelah sampai aku di turun kan di toko khusus menjual bahan bahan dari batik, mas Rangga mintak izin sebentar ke kantor cabang untuk mengambil sesuatu, mas Rangga menyuruh aku tetap di sini sampai aku di jemputnya nanti.


Tidak berapa lama, Mas Rangga datang, lalu kami pun tancap gas menuju pulang, sesampai di gerbang tol ternyata ada kecelakaan, jadi untuk sementara jalan tol di tutup.


Akhir nya kami menjari jalan lain untuk menuju pulang.


Langit sudah gelap, Akhirnya hujan turun dengan lebat nya, karna hujan lebar mas Rangga tenyata salah jalan, akhirnya kami sering bertanya ke orang untuk menanyakan jalan keluar.


Sedang serius mencari jalan tiba tiba ban mobil meledak seperti menghantam benda tajam, kami pun berhenti, mas Rangga mencek keluar separah apakah ban nya, dia pun mengambil ban serap, tapi sayang juga bocor.


Hari makin sore, hujan masih belum berhenti, kami basah kuyup, kami lihat sekeliling sepi, kami melihat rumah tapi jauh di tepi bukit, kami kebinggungan, akhirnya kami berteduh di dalam mobil dengan ke adaan basah kuyup.


Aku melihat mas Rangga seperti kedinginan, baju nya basah semua, itu menyebab kan bersin bersin, mungkin mas Rangga juga masuk angin, lalu dia melepas baju nya yang basah.

__ADS_1


"Hoi ngak sopan banget, buka buka baju di depan aku, jangan macam macam ya, nanti aku tendang loh, " kataku.


"Hei markonah! siapa yang mau macam macam sama kamu, aku mau tukar baju, aku punya baju ganti tapi ada di belakang sono, ge er amat ," kata mas Rangga sedikit membuat aku membeku.


" Sana minggir aku mau kebelakang ngambil baju," kata mas Rangga.


Aku pun mengelak, saat mas Rangga ingin melangkah kebelakang, dia terpeleset lalu jatuh kepada ku, spontan b*b*r kami saling bertautan, akupun melotot, tak percaya adegan sensitif itu berlansung, dan tampa di sadari, ternyata di luar sudah banyak warga yang mengelilingi mobil mas Rangga.


" Keluar kalian pasangan m*sum, jangan kotori kampung kami dengan kelakuan kalian, " kata warga itu.


spontan aku mendorong mas Rangga hingga terjungkal.


" Keluar kalian atau kami bakar mobil ini, " kata mereka, kami pun keluar mobil sambil hujan hujanan.


" Pak, bapak bapak salah paham, kami tidak ada hubungan apa apa," kata mas Rangga.


"Hallah Itu buktinya, kalian berduan di dalam mobil, tidak pakai baju pula, ayo arak mereka ke balai desa, " kata salah satu warga.


"Tunggu pak, saya mengambil hp saya dulu pak, untuk menghubungi orang tua kami nanti, " mas Rangga dengan cepat mengambil hp dan juga menguci mobil nya.


Kamipun diarak ke balai desa, mereka berkata kasar kepada kami, jika kami tidak menuruti kami akan di giring ke kantor polisi.


Kami di hakimi oleh warga tersebut, dan di paska menikah, kami disuruh menelpon keluarga kami.


Aku menghubungi abang ku ternyata mereka sudah sampai dirumah ku, lalu aku cerita kan semua, dan mereka siap men jemputku.


Mas Rangga menelpon saudara nya yang dekat dengan lokasi, ibu mas Rangga tak bisa datang karna sedang menjaga anak anak kami.


Tidak terlalu lama bagi abangku untuk sampai ke desa ini karena dia sudah sering melewati daerah ini untuk jalan jalan.


Begitu pun saudara mas Rangga sudah datang juga dari tadi karna, beliau tinggal tidak terlalu jauh dari sini.

__ADS_1


Akhirnya kami dinikahkan secara agama di desa itu, yang menjadi wali ku adalah ayahku sendiri, aku tidak bisa berkata apa apa lagi, aku sudah memalukan keluarga mestipun mereka percaya padaku, aku pun merasa kasian kepada mereka karna ke lakuanku.


Setelah di nikahkan kami pamit pulang dan meminta maaf kepada warga yang ada di sana, dan malam itu juga kami kembali ke kota dengan hati yang tak menentu.


__ADS_2