
(Mila)
Sejenak semua orang terdiam diruangan guru tersebut, aku sibuk mengurus Gea, kemudian Gea berkata.
" Bu, kenapa mataku buram sebelah bu, sebelah mata ku gelap, hik hik aku ngak mau buta bu, " aku spontan melihat mata Gea darah keluar dari tepi pupil matanya, aku pun panik.
Semua orang di ruangan guru juga ikutan panik.
" Lebih baik kita bawa ananda Gea ke rumah sakit, sepertinya harus dirawat, " kata salah satu guru Gea.
Aku melirik ke arah mas Rido, dia tampak tenang, tidak ada rasa cemas sama sekali.
" Ya buk guru bantu saya bawa Gea kerumah sakit" kataku.
"Maaf pak Rido dan buk Lilis mohon kerja samanya, seperti nya Gea harus dirujuk ke rumah sakit, mata Gea mengeluarkan darah".
"Kita harus secepatnya kerumah sakit, takutnya berakibat fatal, mari kita sama sama mengantar kan Gea kerumah sakit, " kata wali kelas Gea.
"Tunggu apa lagi ayo kita bergerak".
Mas Rido dan mbak Lilis membuang nafas kasar, sepertinya mereka keberatan tapi tidak bisa menolak saran guru.
Kamipun bersama sama menuju rumah sakit, setiba nya di sana, lansung di tangani oleh dokter, Gea pun di bawa keruangan UGD, kami di persilakan menunggu di luar.
Akupun menghubungi mas Rangga, dan mas Rangga pun akan menuju rumah sakit.
***
Beberapa lama kemudian keluar lah dokter, semua orang sontak berdiri.
"Maaf sepertinya pasien harus di operasi, karna terdapat sedikit luka di matanya, tapi untung saja tidak mengenai kornea matanya, disini yang mana orang tua pasien, kami butuh persetujuan orang tua pasien, " kata dokter.
" Saya pak dokter, lakukan yang terbaik untuk anak saya, "kataku dan ternyata mas Rangga sudah di samping ku juga setuju dengan tindakan dokter yang akan melakukan operasi untuk mata Gea.
Kamipun tanda tangani surat pernyataan nya, dan dokterpun langsung melakukan operasi tersebut.
Aku melempar pandangan ku ke arah mas Rido dan mbak Lilis, mereka senyum senyum melihat benda pipih mereka, memang mereka benar benar tidak punya perasaan.
Akupun dirangkul mas Rangga, dan membujuk ku agar bisa tenang, aku pun mengatur nafas, dan berusaha untuk tenang.
__ADS_1
***
Setelah 2 jam , operasi pun selesai, dokter pun keluar.
" Dok, gimana ke adaan anak saya dok? " tanya mas Rangga.
" Syukurlah operasinya berjalan lancar, tapi sayang nya untuk sementara penglihatan anak ibuk dan bapak akan terganggu, untuk sementara matanya harus kita perban supaya tidak infeksi,"
" Matanya akan kurang berfungsi sebelah, jadi di saran kan rawat jalan, dan juga terapi agar matanya berfungsi seperti semula," kata dokter.
Aku tak bisa lagi menahan tangisku akhirnya aku menangis menjadi jadi.
"Mas Rangga, Gea buta mas, kasian dia, dia masih kecil mas, aku tidak tega mas, tuhan, jangan ambil mata anak ku, aku mohon, " mas Rangga lansung memeluk ku, dan berusaha menenangkan aku.
" Hallah leb4y, kan dokter bilang nanti juga sembuh kalau rutin rawat jalan, norak banget sih! " kata mbak Lilis mengejek ku.
" Iyah lagian nanti Gea bisa menglihat lagi, makanya ajarin anak kamu itu jangan bandel, ini akibatnya, ku rasa itu karma buat mu, makanya jadi orang jangan sok benar, rasakan itu" Kata mas Rido.
Aku pun murka.
" Eh kamu memang tidak punya perasaan sama sekali ya, jelas jelas anak mu sakit kamu malah ngomong begitu, hatimu terbuat dari apa hagh? keras seperti batu, kamu memang tidak pantas menjadi seorang ayah".
"Jangan sekali kali menyentuh istri saya, jika kalau kamu masih berani, kamu berhadapan dengan saya" kata mas Rangga.
Guru guru di sana melerai mereka berdua.
" Pak Rido sebaiknya selesai kan biaya rumah sakit untuk Gea, setelah itu bapak silakan pulang, jangan buat keributan disini, " kata seorang guru.
Mas Rido membuang nafas kasar dan setelah itu membayar adminitrasi rumah sakit, setelah selesai mas Rido dan mbak Lilis pulang. Begitu pun para guru pamit ke sekolah lagi.
Setelah di pindahkan ke ruangan inap, kamipun menjenguk Gea, di ikuti oleh mas Rangga dan anak anakku yang lain.
"Gea, apa yang sakit nak? " Kataku dengan penuh iba.
"Ibu kok nangis Gea ngak apa apa kok, nanti Gea bakalan sembuh, jangan nangis lagi yah".
" Nanti kalau Gea mau sesuatu bilang ibu yah, ibu janji akan merawat kamu, " kata ku masih berusai air mata, mas Rangga menenangkan aku.
" Gea, nanti kalau kamu mau kemana gitu, akan aku temanin yah, tapi janji yah cepat sembuh, " Aqila juga memberi semangat.
__ADS_1
" Iyah Ibu, papa, Qila, Gani, aku baik baik saja kok, mestipun nanti aku tidak bisa melihat, setidak nya aku masih ingat muka kalian, jadi itupun sudah membuat aku bahagia" kata Gea, sontak kami semua memeluk Gea, dan kami pun menangis sejadi jadinya.
"Papa janji nak, akan melakukan yang terbaik, untuk mengembalikan mata mu seperti semula, atau perlu kita akan keluar negri untuk berobat, uang tidak masalah asalkan kamu sembuh, " mas Rangga memberi semangat, dan Gea pun tersenyum.
" Iyah pa makasih, aku akan berusaha sembuh, supaya kita bisa bermain bersama lagi, " kata Gea.
" Ya sudah, Gea istirahat yah, biar cepat sembuh".
" Iya bu" aku pun membantu Gea untuk berbaring, Aqila dan Gani sepertinya juga kelelahan, akupun menyuruh mereka istirahat di kursi yang ada di dalam ruangan inap tersebut.
Aku dan mas Rangga mencari makanan keluar , untuk anak anak kami, dan kami pun menuju kantin.
" kamu makan dulu, nanti kamu juga ikutan sakit".
" Aku tidak berselera, mas makan saja dulu, " aku hanya meminum air mineral.
" Ya sudah kita bawa saja makanan ini ke dalam, jika kamu lapar nanti, kamu makan yah, " aku hanya mengangguk.
*
*
*
Sudah beberapa hari kemudian Gea sudah di perbolehkan pulang, setelah bersiap siap kami pun menuju pulang, dokter menyarankan datang kembali besok untuk rawat jalan dan juga terapi, supaya mata Gea bisa berfungsi lagi.
Sesampainya dirumah, Gea ku arah kan ke kamar untuk istirahat tapi dia menolak.
" Bu aku di sini sebentar yah, aku ke pengen nonton ".
" Tapi nak matamu masih di perban, gimana mau nonton cobak?".
"Tenang bu, Qila kan ada bu, nanti biar qila ceritakan apa saja yang qila lihat kepada Gea" Kata Qila penuh antusias.
Tak terasa air mataku berlinang lagi, begitu akrabnya mereka sehingga mereka bisa saling mengerti. Ternyata mas Rangga juga terharu melihat mereka seperti itu.
" Ya sudah sini ibu antar ke ruang tengah, jika nanti kamu lelah panggil ibu yah, Ibu ada di dapur " kata ku.
"Iya ibu" kata Gea.
__ADS_1
( Tragedi ini di ambil dari kisah nyata di daerah Author sendiri, dimana seorang anak berusia 9tahun bola matanya pecah, karna mainan viral tersebut, akan di perkirakan bola mata nya akan di angkat karna sudah rusak, di ingatkan kepada orang tua, lebih di awasi lagi anak anak kita sewaktu mereka bermain).