
Ke esokkan harinya.
Setelah mencari cari info, akhirnya Rangga mendapatkan suatu tempat yang bisa di tempati Kevin dan keluarga.
Setelah selesai kerja Rangga membondong keluarga Kevin menuju tempat itu.
" Sepertinya Ruko ini sangat cocok untuk kalian, Ruko ini berlantai dua, juga mempunyai dua buah kamar, yang terpenting di sini pusat perbelanjaan, sepertinya kalau jualan disini pasti laku keras, " Kata Rangga kepada Kevin.
" Makasih banyak pak, saya sangat berhutang budi sama bapak, saya janji akan kembalikan modal yang bapak berikan, " kata Kevin sangat bahagia.
" Sudah lah Kevin jangan di pikirin itu dulu, yang terpenting sekarang Kalian sudah ada tempat tinggal yang nyaman, dan satu, jangan panggil aku bapak jika di luar seperti ini, panggil kakak saja, atau abang juga boleh, panggil bapaknya di kantor saja, paham," kata Rangga.
" Baiklah pak, eh kak Rangga, " kata Kevin sambil menggarut kepalanya yang tidak gatal.
Rangga hanya senyum melihat tingkah laku Kevin.
***
Hari berikut nya Kevin membondong keluarga nya pindah ke Ruko ter sebut, mereka sangat bahagia, termasuk Tiara sangat bahagia bisa berkumpul dengan suaminya lagi.
" Kak makasih banyak kak, sudah banyak membantu kami, kalau tidak ada kakak dan juga kak Mila, mungkin aku masih ada di kampung, menunggu suatu hal yang tidak pasti," kata Tiara kepada Rangga.
Rangga hanya senyum.
" Sudah lah dek, kami akan melakukan yang terbaik untuk mu, yang terpenting sekarang kamu jaga kesehatanmu jaga kandungan mu, jangan sampai kelelahan ok, " Kata Karmila kepada adiknya.
" Iya kak makasih".
" Ya sudah kami pulang dulu ya, kalau butuh apa apa hubungi kami," kata Rangga.
" Baiklah kak".
Rangga dan Mila pun pulang, hari mulai sore, mereka sempatkan ziarah sebentar di pemakaman adik Rangga.
Setelah berdoa bersama di pemakaman adik nya Rangga, mereka pun pulang, karna hari sudah mulai gelap.
***
Pagi harinya Mila mengantar anak anak ke sekolah, karna Rangga sudah berangkat duluan dini hari karna ada keperluan mendesak.
Setelah selesai mengantar anak anak, Mila pulang kerumah, tiba tiba Mila di paksa berhenti di tengah jalan oleh seseorang.
" Mil, mila berhenti sebentar, aku mohon".
__ADS_1
" Mas Rido? ada apa! aku mau pulang, minggir," kata Mila kesal karna jalan nya sudah di halangi Rido si mantan suaminya.
" Aku mohon berhenti sebentar" Kata Rido sedikit gugup.
Tiba tiba Ada tiga orang menghampiri kami.
" Rido mau lari kemana kamu, bayar hutang mu" kata orang itu dengan sangar.
" Maaf, kenalin ini Mila istri saya, urus saja urusan kita dengan dia, saya sudah terlambat kerja, saya permisi dulu".
" Eh tunggu dulu, maaf pak saya bukan istri nya " kata Mila, spontan Mila turun dari motornya, lansung menarik baju Rido, karna Mila tidak terima bakalan membayar hutang Rido.
" Apa apa an ini , kalian mau tipu kami ah".
" Benaran pak saya bukan istrinya," Rido hendak kabur, Mila semakin erat menarik baju nya,
" Mau kemana kamu ah, enak saja, kamu yang ngutang, masak aku yang bayar".
"Pliss Mila bayarin hutang ku, nanti ku ganti, pak Istri saya yang ini yang akan bayar" kata Rido menunjuk Mila.
" Benaran kamu istrinya? ".
" Dulu pak, sekarang sudah cerai, saya tidak ada hubungan lagi dengan dia".
" Bohong pak, dia masih istri saya".
Tak lama Lewat lah Si Lilis dengan motor Metic nya.
" Eh eh apa apaan ini, narik narik laki orang, tak tau diri kamu ya si Baju Bekas, mau jadi pelakor kamu ah," Kata Lilis sambil menghentikan motornya, lalu menghampiri Mila dan Rido.
" Lepas ngak, dia suami aku" Lilis menepis tangan Mila dari baju Rido.
" Bagus akhirnya mak lampir datang, pak ini nih bininya, bapak nagih sama dia saja, dia orang kaya loh pak, duitnya banyak, emasnya bertumpuk tumpuk, saya mah bukan apa apanya di banding dia," Kata Mila sengaja merendah.
" Bagus nyadar, " Ledek Lilis.
" Aku Sengaja merendah , biar kamu saja nanti yang kena peras mbak, haha," kata Mila sambil berbisik di telinga Lilis.
" Apa ?maksudnya apa ini?, mas ini sebenarnya ada apa? " Lilis betanya tanya kepada Rido.
" Mmm itu, mmm anu".
" Ayo bayar sekarang, Rido punya hutang kepada kami lima juta, harus di bayar sekarang! " Kata bapak bapak preman itu.
__ADS_1
" Apa? kamu punya hutang mas? Aku kenapa tidak tau" Kata Lilis sambil memukul bahu Rido.
" Rasain, bayar tu hutang, haha" Kata Mila sambil menaiki motor nya.
" Awas ya kamu si Baju Bekas, berani ketawai kami, nanti aku balas".
" Bodo amat," Mila pun melajukan motornya arah pulang.
Dari ke jauhan Mila mendengar Lilis meraung, mungkin tidak terima membayar hutangnya Rido, Mila pun merasa geli melihat tingkah laku musuhnya itu.
**
Sesampainya dirumah mertua, mertua merasa heran melihat Mila senyum senyum sendiri, tak tau sebabnya.
" Eh kamu kenapa, senyam senyum kayak gitu, lagi dapat kabar apa? " tanya Ibu mertua.
" Eh ibu, ngak ada kok bu, tadi ada kejadian lucu di jalan, hehe".
" Apa itu ?".
" Tapi janji ya bu, jangan bilang mas Rangga ya," Ibu mertua pun berkerut kening.
" Emang nya apa sih? ".
" Hehe itu loh bu, tuh tetangga depan, suaminya punya hutang, di tagih di jalanan tadi, tapi yang lucunya, dia nyuruh aku yang bayar hutang nya, ya aku ngak mau lah, pake ngaku ngaku aku masih istrinya lagi haha".
" Siapa sih, si Rido ya, mantan suami mu itu? " tanya ibu.
" Iya bu, untung saja si mbak Lilis lewat sana, jadi yang kena tagih ya si mbak Lilis itu haha, ibu tau ngak ,si Lilis nangis nangis ngak terima mau membayari hutang lakinya, haha".
" Waduh ada ada saja ya, haha, sabar ya nak, itu cobaan untuk kita, tuhan akan menguji kita, bisa lewat mana saja, contoh nya kamu, di uji dengan kehadiran sosok masa lalu kamu, kamu harus kuat ya nak, ".
" Iya bu , makasih ya bu, ya mudah mudahan saja mereka tidak mengganggu keluarga kita lagi, lagian mereka kenapa sih suka banget, mengusik hidup aku, heran bu".
" Sudah sudah jangan dipikirin, lebih baik kita masak yuk, ajarin ibuk bikin gulai cubadak
( Gule Nangka) yuk, Ibu lagi kepengen makan itu" kata Ibu bersemangat.
" Ya sudah buk, kita mulai sekarang saja, bahan bahan nya ada ngak bu? ".
" Ada tadi sudah ibu beli di abang sayur, lengkap".
" Sip deh bu, ayo bu".
__ADS_1
Mereka pun berkerja sama untuk masak, mereka sangat bersemangat, Mila sangat beruntung mempunyai mertua yang sangat baik kepada nya.
Mila pun mendapatkan sosok penganti ibunya yang telah tiada, yaitu mertuanya sendiri.