
(Rangga)
Setelah mobilku di perbaiki, kami pun berangkat ke kota kami, aku melihat Karmila masih menangis, dia lebih memilih naik mobil abangnya, kini aku sendirian menuju pulang.
Beberapa jam kemudian, kami sampai dikota pagi hari nya, Karmila menjemput anak anaknya dan dia mengajak keluarga nya menuju ke kontrakkan nya, sebenarnya aku keberatan tapi ibu ku melarangku, akhirnya Karmila pergi juga.
Aku melihat ibu dengan mata berkaca kaca.
"Kenapa bisa seperti ini nak, jika kamu menginginkan nya kan bisa di nikahkan secara baik baik, kenapa harus seperti ini," kata ibuku tangisnya mulai pecah.
"Ibu percayalah padaku semua ini salah paham, aku tidak mungkin melakukan hal itu, apalagi kepada Mila, aku tak sanggup menyakitinya, itu semua salah paham, " kataku menjelaskan.
" Jadi sekarang rencanamu apa? Kalau keluarga kita tau, kita malu nak, " kata ibuku.
"Ibu tenang saja, kejadian itu hanya kita yang tau, aku akan menikahkan Karmila secara resmi, itu yang terbaik".
"Kamu yakin Karmila akan menerima mu?" tanya ibuku.
" Tidak tau bu yang jelas sekarang kita melindungi nama baik kita ,juga nama baik keluarga Karmila, " kata ku.
" Ya sudah nanti ibu dan keluarga kita yang lain akan mengantarmu ke rumah Karmila untuk melamarnya secara resmi, " kata ibu mendukungku.
Ibuku mulai Sibuk menghubungi saudaranya, dan juga sibuk memesan keperluan nya nanti, akupun di datangin anakku Aqila.
"Papa bener tante karmila menjadi Ibuku? kalau itu bener aku sangat senang, akhirnya aku dan Gea jadi saudara, kami sudah lama menginginkan itu, " katanya begitu polos, ternyata anak ku mendukungku juga, dia sangat membutuh kan peran seorang ibu dalam kehidupan nya.
" Iya sayang kamu bahagia? ".
" Tentu saja, aku dan Gea pernah punya impian, aku pernah membayangkan tante Mila jadi ibuku, dan Gea membayangkan papa jadi ayahnya, kami sangat berharap itu jadi kenyataan, dan sekarang impian kami terwujud, kami akan jadi saudara,horee, " anakku melompat lompat kegirangan.
Aku tersenyum melihatnya, ternyata selama ini dia membayangkan Karmila adalah sesosok ibu yang dia harapkan, aku sudah membulatkan kan tekat, untuk bisa membahagiakan anak ku termasuk ingin menjalani hidup baru dengan Karmila.
*
*
*
*
Hari pun sudah siang, aku menghubungi Karmila, dan memberi kabar aku akan datang kerumah nya, Karmila hanya besikap dingin kepada ku, tapi dia mengizinkan aku datang.
Aku sangat deg degan, karna takut di tolak bisa saja nanti dia akan meminta aku untuk menalak nya, dan tidak mau lagi untuk menemui aku.
__ADS_1
Aku sangat gugup, tapi aku harus berusaha ini demi anak anak kami yang sangat mendambakan keluarga mereka utuh, dan lengkap.
Rombongan ku sudah siap, tapi aku masih cemas, jika benar Mila meminta aku menalak nya nanti, betapa kecewa nya ibu dan ke keluargaku nanti, ibu melihat kepanik kan ku.
"Kamu tenang nak, berfikir tenanglah, apapun yang terjadi, kita hadapi bersama sama, " kata ibu ku menguatkan.
" Iya bu, makasih dukungan nya, aku akan melakukan apapun demi anak dan keluarga ku, restui aku ibu, " kataku sambil memeluk ibuku.
" Iya nak, kamu yang kuat ya, ayo kita berangkat, "kata ibu ku.
Tidak beberapa lama akhirnya kami sampai dirumah Karmila, kami di sambut oleh keluarganya dengan ramah, kami di persilakan masuk, ternyata mereka menyambut kami dengan suka rela.
Tidak seperti bayangan ku tadi, yang sangat cemas jika aku di tolak nanti, dari kejauhan aku melihat Karmila hanya menunduk di bawah kerudungnya, sikapnya hanya dingin, apakah dia tidak terima kedatangan kami disini.
Tampa basa basi kami lansung mengatakan niat kami datang ke sini ingin meminang Karmila secara resmi, seluruh anggota keluarga Mila menyerahkan semua keputusan kepada Karmila.
Karmila masih dengan sikap dingin nya, aku sangat kuatir dia menolak ku, keluarga nya pun bertanya padanya, dia masih terdiam membisu, seperti sedang berfikir panjang.
Tidak lama setelah itu dia hanya mengangguk, serentak kami mengucap syukur ternyata Mila menerima pinangan ku, setelah acara selesai, aku mengajak Mila keluar berbicara empat mata, dia hanya mengikuti ku dengan sikap dingin nya.
" Kamu masih keberatan dengan semua ini?" tanya ku.
" Ngak," jawabnya singkat.
"Ngak juga tuh".
" Trus kenapa kamu masih dingin padaku?" tanya ku.
" Sudahlah mas, kita selesai masalah kita ini, aku sudah lelah untuk mengeluh, keluarga ku bersikeras menyuruh aku untuk menerima mu, dan menjadi istri yang baik untukmu, ya harus gimana lagi aku tidak bisa membantah keluargaku, " katanya dengan mata berkaca kaca.
"Jadi kamu tidak sepenuhnya mau nerima aku? " kataku sedikit kecewa.
" Mas pikir sendiri! selama ini apakah mas bersikap baik pada ku, mas terus saja membully ku, membuat aku kesal, dan sekarang aku di tuntut menjadi istri yang baik untuk mu, ya aku harus berbuat apa? semua sudah terlanjur seperti ini, " katanya sedikit menahan tangis.
Akupun menunduk, aku pun juga merasa bersalah, ku akui selama ini sering membuat Karmila kesal, tapi itu tak aku sengaja, aku hanya ingin membuat dia lupa dengan masalah nya.
"Maafin aku ya, aku berusaha untuk merubah sikapku, ini kita lakukan demi anak anak kita, Aqila anakku sangat menginginkan kamu jadi ibunya, dan aku berusaha menjadi ayah yang baik untuk Gea dan Gani," kataku sehingga Karmila menatapku.
" Mas serius Aqila mau menerima ku?, apakah dia mau punya ibu tiri?, kebanyakkan anak anak takut dengan ibu tiri, aku tidak mau Qila takut padaku, " kata Karmila.
" Iyah, asal kamu jangan keluarkan muka sangarmu ke padanya, kalau kamu tersenyum manis, ya aku rasa Qila sangat senang kamu jadi Ibunya, " spontan Mila memonyongkan bibirnya untuk menyindir perkataan ku, aku hanya tertawa.
"Ya sudah beberapa hari lagi kita akan mengulang akad nya secara Resmi juga mengadakan sedikit acara, ya ku rasa itu bisa menututi kejadian kemaren, " kataku.
__ADS_1
"Kejadian itu ngak bakalan terjadi kalau kamu ngak gegabah, atau kamu sengaja kali?" kata Karmila masih saja ngak percaya.
"Sudahlah Mila jangan memperkeruh suasana lagi, kebiasaan kamu ya, ya sudahlah kamu bersiap siaplah kita akan mengadakan acara di sini, biar semua keperluan kami yang ngatur, kamu tinggal tenang dan liat saja ok," kata ku dan akupun lansung menuju keluarga ku, ternyata mereka berencana untuk pamit.
*
*
*
Beberapa hari kemudian rumah Mila sudah di pasangkan tenda, dan acara akadpun akan dimulai, surat surat sudah tersedia dan pak pengulu nya sudah datang, tamu undangan juga sudah datang, ternyata keluarga Mila dari kampung halamannya juga datang sepertinya acaranya akan meriah.
Tiba saat nya Karmila keluar, dia memakai gaun yang sangat indah, riasan nya tidak terlalu menor, semua mata tertuju padanya, mestipun dia tidak gadis lagi, tapi dia begitu menawan, aku sangat suka dengan kesederhanaan nya.
Acara di mulai, aku menyucapkan janji suci secara lantang.
"Aku terima nikah dan kawin Karmila Dermawan binti Zainal dengan mas kawin 20gram dibayar tunai... " kataku.
Sah..... semua seretak, akhirnya nya aku dan Karmila resmi menjadi suami istri secara hukum dan agama.
Aku melihat senyum di bibir Karmila, padahal kemaren sikapnya sangat dingin, aku sangat senang melihatnya seperti ini, kami pun di antar ke atas kursi pelaminan, kami bak Raja dan ratu sehari , ini persis seperti impian ku, mempunyai istri yang baik, ternyata aku juga mendapat bonus anak nya, aku senyum sendiri mengingat itu.
Diantara tamu yang hadir aku melihat, Lilis tetangga ku, entah siapa yang mengundang nya yang lebih membuat aku terperangah dia bersama Rido mantan suami Karmila.
Aku melirik Karmila, ternyata arah tujuan matanya juga kepada mereka, aku merasakan Karmila tidak tenang, lalu akupun menggenggam tangan nya, Milapun menoleh kepadaku.
"Kamu tenang, jangan liat kesana, move on dong, " kataku.
"Apaan sih biasa saja".
" Terus kenapa tegang, sini dekat dekat sama aku, kita bikin mereka tambah panas, " tampa persejutuan Mila aku pun mencium pipinya, sontak Karmila membeku, tamu undangan bersorak kegirangan.
Cie.. cie aku juga melihat ke arah Lilis dan Rido seperti mereka juga kepanasan melihatnya, akhirnya mereka keluar juga dari acara, sehingga aku melihat Karmila agak tenang, tampa ku sadari ternyata Mila mencubit pinggang ku.
"Auuh sakit".
" Rasain, siapa suruh genit, malu tauk, kamu liat kita di liatin semua orang, " kata Karmila.
" Biarin, kamu kan sekarang istriku, jadi ngak bakalan ada yang melarang aku untuk melakukan nya kepadamu, bilang saja senang kan, " kataku.
" Mau di cubit lagi ah, sini".
" Jangan sakit tau, ya deh maaf maaf, " kataku akhirnya aku mengalah juga.
__ADS_1
Kami sangat bahagia acara telah berlansung aman dan lancar tidak ada yang menganggu, aku sangat senang, keluargaku dan keluarga Karmila turut bahagia dengan acara itu, sejenak kami sudah melupakan kejadian kemaren .