Baju Bekas

Baju Bekas
Melepas Rindu


__ADS_3

(Mila)


Aku tak menyangka, apa yang aku takutkan tidak terjadi, membayangkan seandainya aku memiliki adik madu, sungguh tiada wanita yang rela jika di madu, jika ada berarti mereka adalah wanita kuat, jujur aku tak sanggup membayangkan.


Mestipun aku belum mengerti tentang perasaan ku ke pada mas Rangga, setidaknya aku sangat nyaman bersamanya.


Tidak bisa di ungkapkan boleh kata kata, hari ini aku sangat senang, bisa melihat mas Rangga lagi, seperti semua beban ku hilang sudah, dengan hanya melihat mas Rangga pulang dengan selamat, aku bagaikan orang paling bahagia sedunia, apakah aku mulai menyukai mas Rangga?


" Kok melamun, kamu ngak senang aku pulang".


"Eh ngak, senang kok".


"Masak sih? kayak ngak deh, sepertinya kamu senang aku ngak pulang pulang kamu bisa bebas".


"Udah deh jangan mulai lagi, mau di cubit lagi? ".


"Jangan, sakit, dipeluk aja mau dong".


"Modus".


"Bukan modus, tapi kangen".


"Maunya ".


"Iya dong, o iya anak anak mana? ".


"Di rumah ibu, mereka ngak di bolehin pulang sama ibu, ibu bilang dia kesepian tampa anak anak".


" Terus kamu kenapa ada disini?".


"Ada pesanan dompet tu, harus selesai hari ini juga, terpaksa aku disini sendirian" aku menunjukkan tumpukan bahan bahan dompet di mesin jahit.


" Asik dong, berarti cuma kita berdua doang disini, yes" aku pun mengerutkan kening.


" Terus kalau berdua, memang nya kenapa? ".


" Berarti kita bisa ehem ehem, kepengen nih dah lama puasa, mau yah".


" Tapi kerjaan ku banyak tuh, kamu makan saja dulu sana, memang nya ngak lapar apa? "kataku.


"Laper sih, tapi nanti saja lah, ehem ehem dulu, ayok".


"Nanti ya".


"Sekarang".


"Nanti, aku selesaikan kerjaan ku dulu" aku pun berdiri tiba tiba mas Rangga juga ikutan berdiri lansung menggendongku.


"Eh eh eh mas, turunin nanti jatuh, aaa" mas Rangga lansung membawaku ke kamar.


"Nanti bawel, aku sudah kangen " mas Rangga meng*cup pipiku.


Mas Rangga mendudukkan aku di kasur, lalu dia menguci pintu, sekarang dia mendekat padaku.


"Mas nanti saja, belum kelar kerjaan ku".


"Nanti ku bantuin, sekarang bantuin aku dulu".

__ADS_1


" Bantuin apa coba?".


" Bantu lepasin kerinduan lah, ngak peka banget sih" aku hanya tersenyum mendengarnya.


" Gimana cara nya" kataku pura pura b*doh.


" Gini caranya" tangannya mulai nakal.


" Geli ah" kataku mulai menggeliat.


"Geli tapi enak kan".


Aku hanya menggigit bibirku.


Akhirnya kami bermadu kasih, melepas kerinduan.


Malam yang sangat indah di tambah dengan rintikkan hujan yang menemani malam panas kami, terbuai oleh kenikmatan surga dunia yang tentu nya halal bagi kami.


*


*


*


Setelah selesai bermadu kasih kami pun bersuci dan membersihan kan diri, aku pun menyiapkan makanan untuk mas Rangga, aku pun menemani nya makan.


" Ehem, kok aku masih kepengen lagi yah, kamu makin membuat aku ngak kuat nih, rahasia nya apa? " tanya mas Rangga.


"Apa sih sedang makan tidak boleh ngomong begituan, jorok" kata ku kesal.


"Biasa aja tuh, o iya kita bulan madu yuk kemana gitu, sambil jalan jalan gitu" kata mas Rangga.


" Kita boleh tua asal jiwa kita masih muda, lagian tua dari mana coba, masih tiga puluhan kali, masih ranum ranum nya, boleh lah sekali kali kita nikmatin hidup" kata mas Rangga.


" Mmm memang nya mau kemana? ingat kita punya anak anak loh, ngak mungkin di tinggal, "kataku.


" Yang bilang mau ninggalin mereka siapa Sih? anak anak kita bawa lah, mereka tanggung jawab kita, " kata mas Rangga.


Aku hanya tertawa, di pikir pikir lucu kali ya bulan madu ngajak anak anak.


" hoi, kok melamun, jadi kita kemana nih? " tanya mas Rangga.


"Ngak tau, terserah kamu saja" kataku.


" Uuuh pecuma tanya dirimu, o iya di kampung kamu ada tempat wisata ngak?, yang bisa kita kunjungi, yang seru gitu? ".


" Banyak dong".


"Ada apa saja Coba? penasaran".


" Di daerah aku ada Lembah Harau, kayak air terjun gitu, danau kembar, juga ada Kelok 9, masih banyak lagi deh" kataku.


"Kelok 9 ? apaan tuh? " tanya mas Rangga.


" Itu Kelok 9 tuh kayak jalan tol gitu, setau kamu mungkin jalan tol itu kan lurus panjang gitu kan, beda sama Kelok 9 jalan tol nya bentuk lingkaran gitu, menyatukan dua buah bukit , tinggi banget, di perkirakan tingginya setinggi gedung lantai 20 gitu" kata ku menjelaskan.


"Wah seru dong".

__ADS_1


" Iya dong, apalagi pas tahun baru, atau pas Lebaran disana sangat ramai, karna banyak pemudik gitu".


" Kalau gitu kita pulang ke kampung kamu saja, jalan jalan sambil bulan madu gitu hehehe" kata mas Rangga.


" Ngak mau pulang ah, terakhir aku pulang, aku ada masalah sama kakak ku, males ketemu dia lagi" kataku.


" Ya ngapain kita pulang kerumah mu, di sana pasti ada hotel atau penginapan kan, kita tinggal di hotel saja selama liburan, ke rumah mu hanya untuk silaturahmi saja," kata mas Rangga memberi pendapat.


"Ya ada sih banyak malahan, tapi anak anak kan sekolah" kataku.


" Biar nanti aku pergi ke sekolah, mintak izin kepada guru mereka".


"Nanti ketinggalan pelajaran gimana? " kataku pura pura belum ngerti.


" Aduh seyeeengku, kan ada handphone, kita minta saja gurunya kirim pelajaran hari itu lewat wa atau apa kek, ya jadi mereka tidak ketinggalan pelajaran, smart dong seyeng" kata mas Rangga sambil mengusap kepala ku.


" Iya deh iya kamu maha Bener" kataku sambil menjulurkan sedikit lidahku.


" Emang paling bener, aku kan tak pernah salah, bersyukurlah kamu memiliki diriku" kata mas Rangga.


Aku hanya memutar bola mata malas.


" Ngomong ngomong memang nya kamu punya masalah apa dengan kakak mu? kenapa kamu enggan pulang kerumahmu? tanya mas Rangga.


" Ehem bukan apa apa kok, cuma aku dan kakak ku tidak ada kecocok kan, aku tak mau kamu terlibat dengan masalah ku itu, aku hanya ingin sejenak melupakan peristiwa itu! ".


"Peristiwa? peristiwa apa Itu? " tanya mas Rangga.


" Eh bukan apa apa kok, ya sudah siap ini kamu mau apa lagi, mau aku bikinin teh atau kopi, " kataku, sepertinya Mas Rangga penuh dengan tanda tanya, tapi aku berusaha mengalihkan pembicaraan.


" Ya udah kalau ngak mau cerita, ya udah aku mau kopi saja, tolong bikinin yah, biar aku bantu cuci piring ini" kata mas Rangga, aku pun terperangah, yakin mas Rangga mau nyuci piring.


" Ehh jangan biar aku saja, itukan tugas aku" kata ku menolak bantuan nya.


" Bagi laki laki yang tau tentang ajaran agama, tugas seperti ini adalah tugas laki laki, istri adalah seorang ratu bukan pembantu, namun jika istri nya rela melakukan tugas ini demi membantu suaminya untuk meringankan tugas suaminya, pahala lah baginya" kata mas Rangga.


Perkata mas Rangga sontak membuat mata ku berkaca kaca, aku tak menyangka masih ada laki laki yang mau mengerti dengan wanitanya.


" Sudah deh jangan terharu begitu, aku mah gitu orang nya, baik dan perhatian, apalagi kepada orang yang ter sayang, k*ss nya dong, mau yah" kata mas Rangga menyodorkan pipinya kepada ku.


" Ngapain? ".


" k*ss nya disini, biar romantis gitu" kata mas Rangga sambil menujuk nunjuk pipinya.


" Apaan sih malu tau".


" Ngapain malu, aku suami sah mu loh, ayo".


Dengan malu malu aku meng*cup pipinya, lalu berlalu untuk membuat kopi untuk mas Rangga, mas Rangga hanya tersenyum kepada ku, lalu mencuci piring bekas makan kami tadi.


" Besok pagi kita jemput anak anak, lalu mintak izin kepada guru mereka untuk pulang kampung, menurut kamu kita ajak ibu ngak? " kata mas Rangga.


" Ajak dong, kasian beliau sendirian, ibu pasti kesepian ngak ada kita, aku biasanya setiap hari jenguk ibu" kataku.


" Ya sudah kalau gitu, habis ini kita ngapain, ehem lagi yuk" .


"Ah ngak ada, kamu dah janji bantuin aku kan, kerjaan aku masih banyak tu, pesanan itu harus di antar besok" kata ku sedikit kesal.

__ADS_1


" Ya udah deh, ayok".


Dan akhirnya kami kerja sama untuk menyelesai kan pesanan pesanan itu.


__ADS_2