
Tidak beberapa lama abang ku datang bersama istrinya, setelah saling berjabat tangan, dan berbincang bincang sedikit, aku mengajak abang ku kebelakang menuju gudang.
" Bang, abang tau tentang ini? " tanyaku.
" Tentang apa? " tanya abang ku mulai melihatkan kepanik kan.
"Kenapa ayah tidur disini".
" Maafkan abang Mil, abang tidak memberi tau kamu, ayah melarang nya".
" Sebenarnya ada apa sih? ".
" Abang sudah berusaha mengajak ayah keluar dari rumah ini, tapi ayah menolak".
" Seperti mu dulu abang juga marah melihat ayah tidur disini, ingin rasanya abang memuk*l kakak kakak mu, tapi di larang sama ayah" kata abangku.
" Sekarang aku mengerti , Seharusnya abang jangan tinggal kan ayah disini kasian dia".
" Abang sudah membujuk ayah tapi ayah kekeh ingin tetap berada di sini, karna beliau tidak ingin meninggalkan kenangan bersama ibu dirumah ini, " kata abangku.
Akupun menangis di lengan abangku.
" Mereka memang tega, seharusnya mereka mencari rumah sendiri, ngontrak kek, tinggal dengan mertua kek, ini malah menyuruh ayah tidur disini, sunggguh kejam".
" Aku ngak mau tau, ayah harus kembali ke kamarnya lagi, kalau tidak mau, kita usir saja mereka, " kataku mulai panas.
" Pecuma Mila, ayah pasti akan melarangnya" kata abang ku spontan membuat aku tambah lemas.
" Jadi kita harus bagaimana? kasian ayah bang" aku berusaha menahan tangis.
" Kita coba bertanya lagi sama ayah, mau nya gimana, abang selalu siap jika ayah memilih tinggal bersama abang" kata abangku sedikit membuat aku lega.
Kami pun pergi ke dalam rumah, dan duduk bersama di ruangan tamu, tiba tiba kak Melani dan Kak Yani pulang entah dari mana.
" E e eh ada tamu, kirain siapa, ternyata tukang m*sum pulang" kata kak Yani.
Aku pun berdiri.
" Tunggu, maksudnya Apa? " tanyaku mulai naik darah.
" Iya si tukang m*sum, ketangkep lagi ujan ujanan di dalam mobil lagi ehem ehem" entah dari mana mereka tau peristiwa itu, yang jelas mereka telah salah paham.
" Kalian salah paham, itu tidak benar".
" Alaah omong kosong, perempuan m*rahan kayak kamu pasti sering melakukan hal itu kan" ditambah oleh kak Melani.
__ADS_1
" Omongan kau di jaga ya, kau yang murahan, sadar diri lah kau, kau tu penyebab hancurnya rumah tangga orang" kataku sedikit kasar, di daerah ku (kau) itu sedikit kasar apalagi berkata kepada orang yang lebih tua.
" Kau tu b*doh, perempuan kayak kau tu mudah sekali di permainkan, jadi orang mau saja di tipu" kata kak Melisa lebih pedas.
Semua orang melerai kami, mas Rangga mencoba menenangkan aku, sekarang mas Rangga sudah paham, bahwa kak Melisa lah penyebab hancurnya rumah tanggaku yang pertama.
" Seharusnya kau tak pulang, mengganggu ketenangan kami saja".
" Apa urusan kau melarangku pulang kerumah orang tua ku, seharusnya kalian yang malu masih menyusu (numpang) dengan orang tua, seharusnya kalian malu, mengerti".
" Apa pula urusan kau kami masih tinggal disini, ayah itu kan orang tua kami juga".
" Masih kalian anggap orang tua ahg! dengan teganya kalian membiarkan ayah tinggal di gudang, kalian tidak punya hati" Seketika mereka membeku tak berkutik.
" Apa yang kau mau, ayah yang rela tinggal di gudang, kenapa pula kau sewot, sedangkan kau tidak pernah memperhatikan nya, setidak nya kami masih menjaganya" seketika aku terduduk lemas karna perkataan mereka.
" Kenapa ? merasa bersalah kau anak tak tau di untung" mendengar perkataan kak Melani tiba tiba spontan abangku menam**rnya.
plak
"Keterlaluan kau Melani, tidak bisa kau sekali tidak membuat masalah, aku sudah muak dengan sifat mu" kata abangku.
" Abang, abang kenapa tega padaku, yang ku katakan benar, adik mu yang itu tidak tau diri" sekali lagi abang ingin melayangkan tangan nya, dengan cepat aku cegah.
" Sudah lah jangan abang kotori tangan mu dengan menyentuh manusia berhati busuk itu, lebih baik kita fikirkan nasib ayah" lalu aku membawa abang ke depan.
Kami pun keluar di ikuti ayah dan juga mas Rangga.
" Ayah mau nya gimana? Aku harap ayah ikut dengan kami" kata abangku.
" Maaf nak, jangan khuatirkan ayah, ayah baik baik saja, ayah betah disini, tidak apa apa ayah di gudang, ayah tidak bisa tinggalkan rumah ini".
" Ayah mencintai rumah ini, seperti ayah mencintai ibu kalian" perkataan ayah membuat aku menangis lagi.
" Sudah lah nak, jangan bersedih lagi, ayah janji akan baik baik saja".
" Ya sudah ayah, nanti aku akan renovasi gudang itu, akan ku buat kamar mandi juga, aku usahakan sesering mungkin menjenguk ayah" kata abang ku, sehingga membuat aku sedikit lega.
" Maafkan aku ayah, tidak bisa menjenguk ayah setiap saat, tapi aku akan berusaha setiap hari menghubungi ayah, dan jika kami ada rezeki, kami akan kirim pulang, ya kan mas" dengan cepat mas Rangga mengangguk setuju.
" Ya sudah dari pada kita pusing lebih baik kita jalan jalan yuk yah, mumpung Karmila dan keluarga nya ada disini".
Ayah pun mengangguk setuju.
Akhirnya kami semua pergi dari rumah itu, tampa membawa kakak ku yang lain, akan di pastikan jika membawa mereka, mereka pasti membuat masalah lagi.
__ADS_1
Mereka tampak kesal karna kami tidak mengajak mereka, kami pun masa bodo.
Di tengah perjalanan aku melihat Tiara adik ku jalan sendirian, nampaknya dia sedang bersedih, dan kami pun menepi.
" Tiara masuk sini" aku memanggil adik ku.
Dia tersenyum dan menurut, kamipun melanjutkan perjalanan.
" Kakak kapan pulang? ".
" Kemaren dek, kamu dari mana? ".
" Jual hp kak".
" Kok di jual? ".
" Ngak ada uang lagi kak, suamiku sudah dua bulan tidak mengirimi aku uang".
" Memang nya dia kerja dimana? ".
" Dia ikut orang tuanya ke kota, sejak itu ngak ada kabar lagi, apalagi aku lagi hamil muda kak" aku berusaha menahan tangis, dia baru saja menikah sudah ditinggal suaminya dalam ke adaan hamil lagi.
" Dek kamu tau alamat nya, atau nomor yang bisa kita hubungi? "tanyaku.
" Tau kak di perumahan ***** , kalau nomornya tidak tau kak, sudah lama tidak bisa di hubungi" kata Tiara.
" Aku tau perumahan itu tidak jauh dari tempat tinggal kita " kata mas Rangga.
" Benarkah mas? ".
" Iya, kalau Tiara mau, nanti jika kita pulang ke kota kita ajak Tiara saja, untuk menemui suaminya".
" Benaran mas, kamu mau Tiara? ".
" Iya kak aku mau, " kata Tiara sangat semangat.
" Ya sudah nanti kita temui suami mu, tapi kamu tidak ada masalah kan dengan suami mu? " tanyaku.
" Tidak kak, hanya saja waktu itu dia izin mencari kerja".
" Ya sudah kalau gitu, sekarang kita pergi jalan jalan dulu, kamu tau kan kemana tempat tempat wisata yang lagi viral saat ini, ".
" Tau dong kak, nanti aku arahin lokasinya" akhirnya aku melihat senyum Tiara lagi adik yang ku sayang.
Aku sungguh kasian pada nya, dia masih muda, seharusnya dia masih sekolah, tapi dia lebih memilih menikah muda.
__ADS_1
Ya apa boleh buat nasi sudah jadi bubur, aku harus mencari suaminya, dia tidak bisa menelantarkan istri dan calon anak nya, dia harus tanggung jawab untuk menafkahi istrinya, tidak di biarkan seperti ini.