
(Mila)
Setelah bersenang senang kami pun berniat pulang kerumah, dan kami pun tidak lupa membeli makanan di jalan karna akan dipastikan dirumah tidak ada makanan, karna aku tidak sempat masak.
" O iya kita makan dimana? atau kita bungkus saja dan bawa pulang makanan nya? " kata mas Rangga.
"Pa aku kepengen pizza, " Kata Aqila.
"Ok, Gani dan Gea mau juga? "tanya mas Rangga.
"Ngak om aku mau bakso saja" kata Gea.
"Jangan panggil om dong, sekarang panggil papa saja, atau panggil ayah juga boleh, kok cuma mau bakso sih, sekali kali kita makan pizza yah" kata mas Rangga.
"Ngak usah om, eh papa Rangga maksudnya, kata ibu kita harus hemat, "spontan mas Rangga melirik ku.
"Eh ngak apa apa sekali kali kok, ibu kamu pelit ya kan, " kata mas Rangga sengaja mengejek ku.
"Ibu bukan pelit papa, malahan bagus, bukti nya aku rajin nabung, tabungan ku hampir penuh, aku sangat senang nanti aku bisa beli apapun yang aku mau dengan uangku sendiri, " Aku sangat bangga dengan anakku Gea, mendengar perkataan Gea mas Rangga melirikku sambil tersenyum.
" Papa aku juga mau nabung, ngak usah beli pizza, aku juga mau bakso saja, aku ingin seperti Gea bisa beli apapun dengan uang ku sendiri," kata Aqila penuh semangat.
Kami serentak tersenyum.
" Ya sudah, kita beli bakso saja, papa juga kepengen bakso, ya kan ibu Mila, " spontan aku mengangguk.
Akhirnya kami mencari warung bakso, setelah ketemu, kami memesan beberapa bungkus, ditambah dengan gorengan, dan keripik balado.
Setelah mendapatkan semuanya kamipun menuju pulang.
Tak beberapa lama kami sampai dirumah, kamipun siap siap untuk makan, anak anak sangat senang, apalagi Aqila sangat menyukai bakso.
"Pa ternyata bakso enak juga ya, papa sih jarang beliin aku bakso, jadi ngak tau ternyata bakso se enak ini, "kata Aqila kepada papanya.
"Ya papa ngak tau kamu suka apa?, papa kira kamu ngak suka, mangkanya papa ngak pernah ke pikiran beliin untuk kamu" kata mas Rangga.
" Makanya lebih perhatian ke anak dong, jangan mikirin diri sendiri saja, " aku sedikit mengejek mas Rangga.
"Lah ya gimana lagi, aku seharian sibuk ber kerja , Aqila di urus Ibu ku jadi aku ngak tau kesukaan Aqila apa, maafin papa ya nak yah" kata mas Rangga.
"Kamu tenang Qila nanti ibu bikin bakso yang banyak, biar kalian semua bisa puas makan baksonya, ok".
"Horeee" serentak anak anak bersorak.
" Ya udah sesudah ini, semuanya cuci kaki ,siap siap untuk tidur ya, hari sudah malam, besok kalian sekolah,wokeh!" kata ku mengarahkan.
"Iya buk, " Semua anak mengangguk.
Haripun semakin larut, setelah selesai mencuci kaki anak anak tidur di kamar mereka, Kamipun telah menyediakan tempat tidur bertingkat supaya mereka nyaman tidur sekamar.
Kini tinggallah aku dan mas Rangga, kami pun sedikit canggung, kami pun sama sama masuk ke dalam kamar.
"Sekarang kita ngapain?" mas Rangga melirik ku.
"Ya tidur, memang nya mau ngapain lagi?" kataku santai.
"Main kuda kudaan yuk".
"Besok saja di lapangan".
"Eits, malu dong kok di lapangan! ".
"Trus maunya dimana? "kataku pura pura bodoh.
"Di sini saja, empuk" kata mas Rangga.
__ADS_1
Aku hanya berkerut kening.
"Mau liat ngak, gede loh".
"Apa nya yang gede? ".
"Terong nya yang gede, mau liat? ".
"Boleh, enak tuh di baladoin".
"Emang enak kalau tangan kamu lansung yang baladoin terongnya, mau liat ngak? aku jamin kamu kepengen".
"Mana cobak? memang nya segede apa sih? " kataku sok penasaran padahal geli.
"Ini".
"Aaahrrg". aku teriak sambil menutup mata, ternyata aku ngak menyangka seberani itu mas Rangga liatin terong nya.
" Ssstt jangan berisik nanti anak anak bangun, " kata mas Rangga.
"Habis kalakuan kamu itu, tutup lagi".
" Gayamu, padahal kepengen kan," aku hanya memutar bola mata malas.
"Ayuk main yuk, kita ibadah wajib yuk, dosa loh kalo nolak, " kata mas Rangga cengengesan.
"Tapi".
"Nolak dosa loh, ".
"Ngancam ya, pake acara pakai dosa segala lagi".
" Fakta itu Karmila seyeng, hayuk, kamu ngak kasian liat aku, liat tuh, nanti si joni lemes lagi, " kata mas Rangga membujuk ku.
Hampir semua lepas tiba tiba ada yang ngetuk pintu.
"Bu ibu selimut dor*emon ku mana? "Kata Gani dari luar, sehingga kami sama sama mematung.
Secepat kilat aku memakai dasterku lagi, dan mas Rangga sembunyi di balik selimut.
"Kan ada di bawah bantal nak, sini ibu ambilkan, " aku menemanin Gani mengambil selimutnya.
Tenyata mas Rangga setia menunggu aku kembali.
" Sudah tidur? "tanya mas Rangga.
" Sudah".
" Ya sudah kita lanjutin lagi ibadah nya, " kata mas Rangga.
" Kita tidur saja yuk, ngantuk".
" Nolak, dosa loh".
Lagi lagi ngomongin dosa!
" Iyah deh iyah".
"Sini ku bukain,"
"Buka Apa? "
"Buka karung, bawel, ".
"Di sini ngak ada karung," lagi lagi aku pura pura bodoh.
__ADS_1
" Itu yang kamu pakai,"
" Eh bambang ini dasteeeerrr, bukan karung".
" Ooo, kirain karung, sini" dengan pasrah aku mendekat dan membiarkan apa saja yang akan dilakukan mas Rangga pada ku, karna dia selalu berkata dosa dosa, bikin aku salah tingkah.
"Aku masukin yah".
"Apa yang di masukin? ".
"Itunya, tenang saja aku pelan pelan kok, "lagi lagi hanya pasrah,tiba tiba.
"Aaaahhh".
"Enak? ".
"Kata siapa? ".
"Itu tadi? ke enak kan ya kan?".
"Ngak biasa saja, "
"Ah masak sih, lagi? ".
"Aaahhhh", mas Rangga tertawa geli melihatku.
"Lagi yah".
"Aaaahhhh, " mas Rangga membuat gerakan cepat, sehingga aku terlena.
" Gimana? aku jago kan, kamu pasti ke enakan, " aku tidak menjawab hanya menggigit bibir ku.
Kamipun sama sama terlena dengan permainan panas kami, wajar saja selama ini kami saling membutuhkan sebuah belaian.
kami saling melengkapi satu sama lain, sentuhan demi sentuhan membuat terbuai dan kami pun melupakan segala sesuatu yang selama ini menjadi beban hidup kami.
Mas Rangga menikmati setiap adegan sensitif itu, sudah 5 tahun lama nya dia berpuasa batin semenjak di tinggal istri pertamanya untuk selama nya.
Akhirnya kami melakukan sampai puncaknya, setelah itu kamipun tertidur pulas.
*
*
*
Paginya aku terbangun lebih dahulu, aku melihat mas Rangga tidur sangat pulas, dan juga agak sedikit mendengkur mungkin sungguh kelelahan.
Aku tidak buru buru untuk duduk untuk membersihkan diri karna hari masih menunjukan kurang dari jam 4 dini hari.
'Mas Rangga sebenarnya orang yang baik, dia adalah ayah yang baik, tapi kenapa aku masih meragukan nya, apa yang harus ku lakukan, sampai kapan dilema ini berlanjut, tetapi aku harus bisa menerima nya, karna mas rangga sudah resmi menjadi suamiku'
kata ku dalam hati sambil memandang wajah mas Rangga, tiba tiba mas Rangga menggeliat dan akupun pura pura tidur.
Ternyata mas Rangga bangun lalu mengusap wajah ku.
"Maaf kan aku agak memaksa mu hari ini, yang membuatmu menjadi lelah seperti ini, itu semua karna aku sangat menyukai mu, mudah mudahan suatu hari nanti kamu bisa membuka hati untuk ku, "setelah mas Rangga berkata demikian, dia kembali tertidur.
Akupun membuka mata, dan sedikit berlinang air mata, ternyata selama ini mas Rangga menyukaiku. buktinya dia selalu membantuku.
' Aku akan berusaha untuk membuka hati ku untuk mu mas, demi kita dan juga kebaikan anak anak, bersabar lah mas, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu, mestipun aku belum tau dengan perasaan ku sendiri' kataku di dalam hati.
Sekarang aku duduk dan melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk membersihan diri, setelah itu aku pun melakukan aktifitas seperti biasa.
Sebelum anak anak dan Mas Rangga terbangun, aku harus mulai menyiapkan sarapan di dapur, aku ingin setiap hari melakukan ini untuk keluargaku, karna sekarang aku memiliki harapan baru ,dan berharap kehidupan lebih baik dari yang sekarang.
__ADS_1