Baju Bekas

Baju Bekas
Malam Pertama


__ADS_3

(Mila)


Acara pun telah usai, inilah malam pertamaku dengan mas Rangga, aku deg degan, sejujurnya aku belum siap dengan semua ini.


Aku berganti pakayan, dibantu tukang rias, setelah selesai aku mandi, karna sudah terlalu gerah, setelah mandi aku keluar kamar, tiba tiba aku berteriak sangat kencang.


aaarghkk...


Ternyata mas Rangga sudah di dalam kamar, mungkin dia masuk pas aku sedang mandi.


"Woi ngapain teriak teriak, nanti kedengaran oleh orang dikirain aku apa apain kamu, " kata mas Rangga.


"Lagian situ bikin aku kaget, aku tak biasa ada laki laki didalam kamar ku, mau masuk kamar ini izin dulu, " kataku sangat kesal, untungnya aku sudah pakai baju dari dalam kamar mandi.


"Ngapain mintak izin segala, sekarang ini kamarku juga".


"Ya tapi? ".


"Ngak ada tapi tapian mana handuk buat aku aku mau mandi juga, " kata mas Rangga.


"Ngak ada, makanya mau kesini modal dong, " kata ku, tiba tiba mas Rangga menarik handuk yang ada di kepala ku, sehingga rambutku terurai.


Mas Rangga tak hentinya melihatku tampa berkedip, sepertinya dia terpana oleh ku, aku mencari sesuatu untuk menutupi kepala ku, tapi secepat kilat mas Rangga meraih tangan ku, sehingga aku tersipu malu.


" Kamu cantik, " kata mas Rangga sambil menatapku.


" Kamu bau, " kataku, sontak mas Rangga mengendus tubuh nya.


"Iya yah, bau keringat, mandi dulu ah, " dia pun berlalu ke kamar mandi.


Setelah kepergian mas Rangga aku tersandar ke dinding, mencoba menenangkan hati yang sedang berdebar debar, karna pujian dari mas Rangga.


Setelah sedikit agak tenang aku mencari kerudung, dan mencari anak anak ku, dari tadi aku belum melihat anak anakku, aku melangkah ke kamar mereka.


Tenyata mereka sudah tidur di temani ibu Mas rangga dan kini beliau sudah menjadi mertuaku.


Keluargaku ada di lantai atas, tidur di atas kasur santai, mereka seperti kelelahan aku pun turun, semua sepi semua sudah istirahat, tapi aku bingung harus bagaimana.


Mau masuk ke dalam kamar ada mas Rangga, aku belum siap untuk di sentuhnya, aku membayangkan apalah jadinya malam pertama dengan orang yang belum di cintainya.


Pelan pelan aku masuk ke dalam kamar, aku melihat mas Rangga sudah tertidur di atas ranjang, aku bernafas lega, akhirnya yang aku takutkan belum kejadian, aku tersenyum sendiri memikir kan itu.


Aku mendekat kepada mas Rangga, dia seperti kelelahan, aku melihatnya terlelap dengan sedikit mendengkur, aku tersenyum melihatnya.


Aku menarik selimut untuk menutupi tubuh nya, tiba tiba dia menarik ku.


" Eh mas aku kira kamu sudah tidur! " kataku salah tingkah.


" Sini tidur samping aku, aku suami mu sekarang" kata mas Rangga.

__ADS_1


" Tapi mas aku belum siap" kataku.


"Sudalah yang penting sekarang kamu tidur di samping aku ,jangan membantah, aku akan menunggumu, " kata mas Rangga, dia menarik tubuhku, dan mengulingkan tubuhku di sampingnya.


" Sekarang kamu tidur jangan kemana mana, disini saja" kata mas Rangga, dan dia pun kembali terlelap.


Jantungku mulai tak karuan, berdetak tak karuan, sehingga membuat mas Rangga membuka mata lagi.


"Jantung mu berdebar debar, apakah kamu grogi tidur di sampingku, ya wajar sih, tidur bareng lelaki tampan sepertiku adalah suatu kelangkaan, kamu harus bersyukur aku jadi suami mu, " aku hanya memutar bola mata malas, melihatnya.


"Mulai lagi, sudah ah aku mau tidur, capek, " aku berniat untuk memunggungi mas Rangga dengan cepat mas Rangga menahan ku.


"Aku ngak suka di cuekin, kamu harus di dekapanku sampai pagi, " lagi lagi mas Rangga sukses membuat jantung ku berbebar lagi, mas Rangga hanya tersenyum sambil memejamkan mata.


Akhirnya kami tidur saling berhadapan, aku melihat seluruh wajah mas Rangga yang kelelahan, aku berusaha memejam mata, tapi sangat sulit.


Aku terus memandang wajah mas Rangga, aku tak menyangka sekarang mas Rangga telah menjadi suamiku, apa yang harus ku lakukan?


Dalam segi lain aku sangat bersyukur bisa bersama mas Rangga, tapi di sisi lain, aku belum siap untuk menjalani rumah tangga lagi, karna aku kemaren telah putus harapan karna pernah di kecewakan di pernikahan pertama ku, yang membuat hati ku terluka sangat dalam.


Apa salah nya di coba lagi, mudah mudahan saja mas Rangga adalah yang terbaik, tampa terasa akupun ikut terlelap. Akhirnya malam pertamaku dengan mas Rangga berlalu begitu saja.


Itu di sebabkan karna kami terlalu kelelahan, dan aku sudah jujur dengan mas Rangga bahwa aku belum siap, dan mas Rangga juga siap untuk menunggu ku.


Pagi harinya aku terkaget, karna mas Rangga memencet hidungku, dia melakukan nya sambil tertawa.


" Hoi, dah pagi, sholat sana! " kata mas Rangga membuat aku spontan lansung duduk.


"Halah lebay, gitu aja jantungan, sudah lah lagian aku ngak bisa tidur karna mu, dengkuran mu itu loh, keras banget, sekeras Toa pak bambang , ganggu tau" kata mas Rangga.


" Memangnya pak bambang punya toa? kapan dia punya?" kataku pura pura b0d0h.


"Tahun depan, ngapain tanya tanya? naksir pak bambang ya? " kata mas Rangga mulai melantur.


"Bodo amat ,ya sudah, mending kita sholat berjamaah, lebih afdol dari pada berdebat sama kamu, " kataku.


"Ya sudah ayuk, " mas Rangga setuju.


Akhirnya kami beribadah bersama, dari lubuk hatiku yang paling dalam aku sangat bangga dengan mas Rangga, beda dengan mas Rido, jangan kan di ajak untuk ibadah bareng, ibadah untuk dirinya sendiri saja tidak pernah.


Setelah itu aku kedapur untuk membuat sarapan Kebetulan mertua ku sudah bangun, kami bersama sama membuat sarapan untuk semua keluarga kami.


Setelah sarapan kamipun berbincang bincang bersama, dan tak terasa satu persatu keluarga kami pulang kerumah masing masing, ibu mertua pun telah pulang kerumah mas Rangga bersama kerabatnya yang akan tinggal di rumah mas Rangga juga, karna mas Rangga tidak ingin nantinya ibunya kesepian.


Sekarang tinggal lah, kami bersama anak anak kami. Kemudian aku teringat sesuatu.


"Aku depan bentar ya mau tranfer uang ntuk bayar kontrakan".


"Ngapain? Ngak usah!."

__ADS_1


"Loh kok, nanti kalau kita di usir gimana? " kataku.


" Ini buat kamu, " mas Rangga memberikan sebuah map kepadaku.


"Ini Apa? "Aku membuka map itu, ternyata surat Rumah.


"Ini punya siapa mas? ".


" Punya kamu lah! ".


" Jangan becanda lah, lagian rumah yang mana coba? ".


" Rumah ini sekarang menjadi milik mu, " kata mas Rangga.


" Sudah lah mas, ngak lucu becanda nya," kataku masih tak percaya.


" Ya sudah kalau tak percaya, yang jelas rumah ini sudah ku beli dari teman ku, dan sekarang jadi milik mu, sebagai hadiah pernikahan kita, " aku pun terperangah di buatnya.


" Udah deh jangan lebay gitu, tutupin mulutmu itu, nanti masuk lalat, " spontan aku menutup mulut ku.


" Mas seriuskan? ".


" Iyah bawel, kan sekarang sertifikatnya ada ditangan mu, simpan baik baik, jangan sampai hilang" kata mas Rangga.


" Alhamdulillah, makasih ya mas".


" Ya sudah, kita jalan jalan yuk, anak anak kita bawa, sekarang waktunya libur, besok aku sudah harus kerja lagi, " kata mas Rangga.


" Ya sudah aku siap siap dulu, " kataku, mas Rangga hanya mengangguk.


Setelah bersiap siap, kamipun berangkat, kami mengunjungi banyak tempat, anak anak sangat senang, aku sangat bahagia melihat mereka bisa kompak seperti itu.


"Kamu bahagia? " Tanya mas Rangga.


" Tentu saja, aku belum pernah melihat mereka sebahagia itu ".


"Sama, Aqila juga demikian, setelah mama nya tiada, dia selalu murung, sekarang dia sangat bahagia ".


" Seandainya mama nya Qila masih ada, mungkin kita tidak seperti ini".


"Mama Qila adalah masa lalu ku, sekarang masa depan ku adalah kamu, " kata mas Rangga, membuat aku jadi salah tingkah.


" Kenapa? kok jadi salah tingkah begitu? grogi ya? ".


" Ngak tuh biasa saja, " kataku.


" Bohong, akui saja lah lah, sebenarnya kamu naksir berat sama aku yah".


"Ge er amat, sudah ah aku mau main sama anak anak" aku berlari menuju anak anak.

__ADS_1


"Tungguin".


Akhirnya kami bahagia main seharian, hal itu yang belum pernah kami rasakan karna ke adaan, mudah mudahan kebahagian ini jangan cepat berlalu.


__ADS_2