Baju Bekas

Baju Bekas
Apa Yang Terjadi Ayah


__ADS_3

Akhirnya kami sampai ke pada tujuan kami, kampung halaman ku yang tercinta.


Dua hari perjalanan membuat kami sedikit kelelahan, tidak membuang buang waktu kami pun mencari penginapan dan memesan dua buah kamar.


Yang satu buat aku dan mas Rangga dan yang satu nya lagi untuk mertua dan anak anak, dan tidak lupa meminta pihak penginapan menyediakan kasur tambahan untuk anak anak.


Malam itu kami melepas lelah, karna badan semua terasa pegal pegal, dan kamipun terlelap.


***


Dan tak terasa hari mulai pagi, aku pun terbangun.


Setelah kami bersih bersih dan ibadah, kami pun duduk di teras penginapan.


Udara di luar penginapan sangat sejuk, sawah terbentang luas di apit dua bukit yang menjulang tinggi.


Tak jauh dari penginapan terlihat air terjun yang begitu indah, airnya bagaikan menari nari jatuh menghantam bebatuan.


Mentari mulai muncul dari ufuk timur menambah pesona alam yang sangat asri dan memukau.


Inilah kampung halaman ku yang sangat ku rindukan dan sangat ku cintai.


" Wah keren, monen kayak gini jarang kita temui di daerah lain nih".


" Iya dong, ini belum seberapa, masih banyak yang harus kita kunjungi kalau kamu mau,


ya itu pun kamu ngak pelit ngeluarin uang nya" kata ku sedikit menyindir mas Rangga.


" Wiss enak saja pelit, yang ngajak liburan siapa coba? aku yang ngajak kan, ya se andainya uang kita habis nanti, ya kita cari lagi dong, yang penting sekali kali kita menghibur keluarga kita, terutama anak anak".


" Anak anak atau kamu mas yang butuh liburan?".


" Iya aku juga hehehe, ya kamu maklumi saja, aku ditahan kemaren ngak bisa ngapa ngapain, hanya duduk, tidur, makan, bikin suntuk saja selama di sana" mas Rangga menunduk, mungkin membayangkan kondisinya pas dia di tahan di kantor polisi.


" Ya sudah lah mas jangan di pikirin lagi, o iya selama di dalam sana ,ada yang gangguin kamu ngak mas".


" Jelas ada dong, aku penah kena p*kul di samping mata, waktu itu pas aku pertama kali masuk di sana" Mas Rangga menujuk samping matanya, aku pun mulai cemas.


" Ya Tuhan, sakit ya mas yah? ".


" Ngak! ya sakitlah markonah, jelas kena p*kul juga".


" Duh kasian, sekarang masih sakit ngak?".


"Masih, obatin dong".


" Masak sih, ngobatinya pakai apa yah! ".


" Nih di cium saja dekat sini, pasti bakalan sembuh" kata mas Rangga mendekatkan kepalanya padaku.


" Modus, modus mulai lagi, gatel".


"Gatel? kok gatel sih? ".


" Yah habis kamu sih, orang serius nanya malah di becandain".


" Ya elah itu doang kali, o iyah ngomong ngomong kita jadi hari ini kerumah mu? ".


" Mmm gimana ya? tapi kamu janji dulu nanti jangan tersinggung atau pun marah, di antara saudara ku ada yang sedikit bar bar, aku ngak mau nanti kamu malah tersinggung gitu".


" Ah biasa saja, aku sudah terbiasa ladeni orang seperti itu, tidak masalah bagi ku".

__ADS_1


" Ya ok lah, aku siap siap dulu, dan juga mau siap siap untuk anak anak".


" Ya sudah".


***


Setelah siap siap, kami bersama sama menuju rumah ku, dan tidak lupa menghubungi abangku, karna abangku memiliki rumah sendiri, dan tidak terlalu jauh dari rumah orang tua ku.


Tidak berapa lama kami pun sampai dirumah, ternyata sepi, mungkin mereka sudah berangkat kerja, atau masak di dapur.


Rumah yang tidak terlalu besar, tapi banyak penghuninya, ada tiga keluarga di dalam rumah ini, dan mempunyai 4 kamar.


Saat mengetuk pintu, tidak ada yang keluar, aku pun penasaran, lalu menyusuri setiap sudut rumah, aku menyuruh mas Rangga, ibu dan anak anak tunggu di depan.


Akupun menuju ke belakang, di belakang ada gudang yang agak terpisah dengan rumah, dari kejauhan terdengar seperti orang sedang mendorong meja, mungkin ada orang yang membersihkan gudang.


Setiba di depan pintu gudang, aku terperangah ternyata ayah sedang beres beres gudang, yang membuat aku heran kenapa semua barang ayah ada di sini, selimut, kasur yang lusuh serta baju bajunya ada di sini semua.


" Ayah, ayah tidur disini? " spontan aku membuat ayah kaget.


" Eh nak kapan kamu pulang? ".


" Kemaren ayah, jawab pertanyaan ku, kenapa barang barang ayah di sini semua, benarkan ayah tidur disini? " ayah hanya menunduk, aku sangat kasian kepada nya.


" Ayah? ".


" Eh nak kamu dengan siapa kamu kesini? " ayah berusaha mengalihkan pembicaraan, dan mengajak ku keluar.


Aku mebuang nafas, yang begitu sesak.


" Dengan suami dan anak anakku yah".


" Di depan yah" ayah pun berjalan cepat ke depan meninggalkan aku yang masih mematung, aku pun menyusul ayah.


" Cucuku" Ayah memeluk anak anak ku, setelah itu berjabat tangan dengan mas Rangga dan juga ibu mertua ku.


" Ini siapa anak manis ini, namanya siapa? " ayah mengusap ngusap kepala Aqila.


" Qila kek".


" Panggil atuk yah, duh anak pintar".


" Ya tuk".


" Ya sudah masuk yuk, kakak kakak mu mungkin ngak ada dirumah, mereka mungkin pergi suatu acara".


"Ya sudah masuk mas, buk".


Setelah membuka pintu, ke adaan nya sangat berantakan, baju ,buku dan alat alat lain berserakan dimana mana.


Aku pun mengambil tindakan.


" Mas Maaf, aku rapikan dulu, mas, ibu duduk dulu" Aku dan ayah dengan cepat merapikan barang barang itu.


Sesampainya di dapur , tambah berantakan.


" Yah, ada ini, kenapa semua nya berantakan seperti ini, mereka kan banyak, masak tidak ada yang mau membersihkan rumah ini".


" Sudah lah nanti ayah jelaskan, ayah ke gudang dulu ada buah buahan yang ayah petik tadi, kayaknya di dalam rumah tidak ada makanan".


" Ngak apa apa ayah, kami bawa banyak makanan kok".

__ADS_1


" ngak apa apa buah nya untuk cucu cucu ayah ".


" oo ya sudah, aku lanjutin beresin ini".


"Iya nak" Ayah menuju gudang, aku merapikan dapur yang berantakan, setelah itu aku ke depan lagi.


" Maaf mas Menunggu lama".


"Ya ngak apa apa".


Ayah datang membawa banyak buah buahan.


" Wah asik ada limau (jeruk)" kata Gani, karna Gani memang menyukai jeruk.


" Aku suka botiak(pepaya) mmm enak".


" Botiak? lucu yah namanya hehe" kata Qila.


" Enak itu Qila, ini juga ada cubadak masak(nangka matang), manis, kamu mau" kata ayah.


" Aku mau, pasti enak dan manis kan tuk".


" Iya dong Qila".


Anak anak sangat senang dengan buah buahan yang di bawa ayah.


" Ini buah buahan ayah tanam sendiri ayah" tanya mas Rangga.


" Iya nak, tuh di kebun masih banyak lagi, makan nak".


" Boleh yah, nanti boleh liat kebunnya yah, penasaran nih".


" Boleh dong nak".


Aku sangat senang melihat anak anak dan mas Rangga akrab dengan ayah ku.


Tapi entah kenapa, dada ku begitu sesak, melihat kondisi rumah seperti ini, ditambah ayah sekarang tidur di gudang.


Padahal dulu gudang itu tempat penyimpanan padi dan barang barang bekas, namun sekarang, ternyata ayah lah yang tidur di sana.


Entah apa yang telah dilakukan kakakku kepada ayah, sehingga nasibnya begitu memprihatinkan.


Dulu kamar yang di ujung sana kamar ayah dan juga mendiang ibu ku, sekarang entah siapa yang telah menempati kamar tersebut.


Kakak kakak tidak ada mempunyai anak perempuan, apakah anak laki laki mereka yang tidur sana.


Aku pun penasaran, lalu melangkah ke kamar itu, setelah ku buka, ternyata benar, ternyata anak lelaki kakakku yang tidur disana.


Kondisinya sangat berantakan, barang barang berserakan, mereka orang tua yang buruk tidak mengajarkan anak anak nya untuk memiliki sifat yang bersih.


Aku berusaha menahan tangis, begitu tega nya mereka kepada ayah, apa salah nya mereka menyuruh anak anak nya sekamar dengan ayah.


Ini ayah malah di pindahkan dari kamarnya sendiri, dan juga tinggal di luar, padahal rumah ini adalah hasil keringatnya bersama ibu, sungguh tega mereka kepada ayah.


Akupun ke depan, melihat ayah ku agak kurus sekarang, apakah dia di beri makanan yang layak oleh anak anaknya lain.


Ingin Rasanya aku membawa kemana pun aku pergi, karna aku tidak tega melihat dia di sini menanggung pilu sendirian.


'Ayah maafkan aku belum bisa membahagiakan mu, maafkan aku yang selama ini kurang memperhatikan mu' kata ku di dalam hati.


Mereka sangat keterlaluan, aku harus membuat perhitungan dengan mereka, jika benar mereka sengaja membuat ayah begini akan ku balas perbuatan mereka nanti.

__ADS_1


__ADS_2