
Ke esok kan harinya.
" Mas, apa hari ini berangkat kerja?" tanya Mila.
" Tentu saja, ada apa? " Sepertinya Rangga masih kesal dengan Mila.
" Bukan begitu, rencana nya besok saudaraku yang di kampung mau menjenguk ku kesini , tapi aku belum kuat untuk kedapur. " Kata Mila sambil memegang perutnya.
" Terus maksudnya kamu mau menyuruh aku untuk memasak untuk keluarga mu begitu, enak sekali. " kata Rangga ketus karna entah kenapa Rangga tidak menyukai bahwa kerabat dari Mila akan datang.
" Bukan begitu mas, tapi," belum sempat Mila berbicara Rangga memotong pembicaraannya.
" Sudahlah aku tidak ada waktu untuk mengurus keluarga mu, sudah beberapa hari aku tidak kerja, semua terbengkalai, duit juga sudah habis banyak, sekarang pakai acara mau menyambut keluarga mu segala, sorry aku ngak ada waktu. " Rangga langsung pergi meninggalkan Mila sendirian.
Sepergian Rangga, Mila menangis tersedu sedu, dia tidak menyangka, Rangga telah berubah, atau entah karna sudah termakan omongan keluarga nya, maka nya Rangga secepat itu berubah.
**
Sekarang Mila bisa sedikit bergerak bebas, setidaknya untuk berdiri atau mau ke toilet sudah bisa sendiri.
Dia dalam kamar mandi , dia mendengar suara tangisan anaknya, lalu berusaha untuk bisa berjalan cepat menuju anaknya.
Al Fatih adalah nama yang di berikan Rangga untuk anak mereka , dia sedikit rewel, berdeda dengan saudara nya yang lain , Al Fatih sering menangis, tidak bisa lepas dari pangkuan ibunya, jika ibunya pergi sebentar saja dia langsung menangis tak berhenti henti, membuat Mila sangat frustasi dan kehilangan akal.
" Cup cup nak, ibu ngak kemana mana kok, jangan nangis sayang ibu bersama mu, aduh kenapa dia selalu rewel seperti ini, minum asi sudah, mandi sudah, tukar popok juga sudah, tapi kenapa dia masih saja rewel, ibu mohon nak, jangan nangis lagi." Mila mencoba menenangkan anaknya.
Tiba tiba ada yang mengetuk pintu, Mila pun terburu buru membuka kan pintu sambil menggendong anak nya.
__ADS_1
Ternyata yang datang ibu Erna, si Ibunya Rido.
" Eh ibu, sialakan masuk. " Mila mempersilakan ibu yang selama ini yang dia angap sebagai ibu kandung nya, mestipun kini telah menjadi mantan mertuanya.
" Kok Fatih rewel nak, sudah mandi belum?" tanya Erna.
" Sudah buk, aku juga ngak tau kenapa, padahal sudah minum asi juga. " Kata Mila kualahan.
" Ya sudah sini ibu gendong, kamu makan saja ya, ini tadi ibu sudah buatin sup ceker ayam kesukaan mu , di makan ya. "kata Erna kepada Mila.
" Makasih banyak ya buk, Ibu memang yang terbaik, o iya Gani mana buk?. " Mila heran dari tadi tidak melihat Gani anak kandung nya.
" Itu di depan lagi main sama teman teman nya. " kata Erna.
" Oo ya sudah aku makan dulu ",
" Wah ibu hebat ya Kok fatih di gendong ibu kok diam ya, anteng banget. " Mila jadi heran baru saja di gendong ibu Erna langsung diam.
" Haha ibu ada ada saja, memang nya ngaruh kayak gitu buk, " kata Mila sambil tersenyum.
" Ya bisa lah nak, makanya kamu harus tenang, biar si Fatih juga ikutaan tenang, kalau kamu stres, anak juga merasakan nya, makanya anak jadi rewel kalau emak nya lagi banyak fikiran. " Erna mencoba menjelaskan kepada Mila.
Mila mengerti dengan yang di maksud ibu Erna, dia akan berusaha untuk tenang untuk merawat anaknya.
Kemudian Mila mencicipi masakan Erna dengan lahap nya, seperti nya dari tadi Mila belum sempat makan karna Fatih Rewel.
Setelah Fatih benar benar tidur, Erna pun meletak kan Fatih di kasur bayi, Fatih pun sangat terlelap, kemudian Erna mendekati Mila.
__ADS_1
" Sebenarnya kamu kenapa nak?, kamu kok sering melamun, jangan seperti itu, nanti kamu sakit. " Erna mengingat kan.
" Aku hanya pusing buk, besok keluargaku dari kampung, akan datang, tapi aku masih belum kuat untuk masak, aku pengen nya tadi bakal menyewa orang buat masak, tapi Mas Rangga malah marah kepada ku, mungkin dia keberatan keluarga ku datang kesini. "Erna paham maksud dari cerita Mila.
" Ibu punya usul, disamping kontrakan ibu , ada rumah kosong, gimana kita sewa saja untuk seminggu untuk kerabatmu yang akan datang dari kampung, soal masak memasak biar itu urusan ibu, lagian ibu juga pernah kenal dengan mereka, yah menjaga silaturahmi saja, keluarga mu keluarga ibu juga,
"ya supaya kamu juga tidak repot, dan kamu juga ngak punya masalah dengan Rangga, itu usul ibu, " Mila sangat senang mendengar usulan dari mantan mertuanya itu.
" Ya sudah bu, ibu tunggu bentar ya buk, " Mila pun menuju kamarnya, tak lama kemudian balik lagi.
" Ini tabungan ku buk, ibuk pegang saja, kalau ada keperluan lain kasih tau aku ya buk." Mila menyerahkan amplop kepada Erna.
" Jangan nak, kamu mintak izin dulu ke pada Rangga untuk ini. " Kata Erna tidak enak.
" Ngak apa apa kok buk, itu uang ku sendiri, hasil dari menjahit dulu, yang belum pernah ku pakai, karna Mas Rangga telah mencukupi kebutuhan ku, itu murni hasil kerja ku sendiri." kata Mila menjelaskan.
" Oo ya sudah, ibu terima yah, kamu tinggal beres saja, urusan keluarga mu biar ibu yang ngatur, ibu juga ngak mau kamu nanti ada masalah dengan Rangga, sepertinya Rangga dalam dilema, kamu jangan marah kepada nya ya, kamu harus sabar menghadapi suami mu, ibu yakin Rangga orang nya baik, mungkin sekarang lagi ada masalah, yang mungkin membuat dia seperti itu kepada mu. " Jelas Erna.
" Mungkin Iya kali ya buk, ada sesuatu yang sedang di pikirkan oleh mas Rangga, tapi belum sempat dia berbagi kepadaku." Kata Mila.
" Betul itu nak, kamu harus lebih sabar ya menghadapi suami mu, karna kalian sudah suami istri, harus saling mengingatkan dan mau menerima keku rangan masing masing. " Mila pun mengangguk.
Mereka pun bercanda gurau bagaikan anak dengan ibunya, Mila sangat beruntung di pertemukan dengan Ibu Erna.
Kasih sayang nya bagaikan kasih sayang ibu kepada Anak kandung nya, hal yang sangat istimewah, di mana sejak kecil dia selalu mendambakan kasih sayang dari seorang ibu, karna Ibu kandung Mila sudah lama berpulang kepada ilahi.
" Ya Sudah ibu permisi dulu ya, ibu mau lanjut bikin kue, ada pesanan dari buk Rt, nanti kalau ada butuh sesuatu telpon ibu ya. " kata Erna.
__ADS_1
" Iya buk makasih. " Erna pun melangkah pergi.
Mila pun melihat anak nya tertidur lelap, akhirnya Mila juga memilih juga tidur di sofa, karna mata nya begitu berat, sebab bergadang semalaman.