
Beberapa hari kemudian Karmila di perbolehkan pulang.
Karna luka caesar Mila belum kering total, Rangga pun mengambil cuti untuk mengurus anak dan istrinya, Rangga ingin mengurus keluarganya sendiri karna tidak mau merepotkan kerabatnya yang lain.
Hari demi hari , Rangga selalu rutin membantu Karmila mengurus bayi nya, Rangga sangat telaten mengurus keluarga kecilnya itu.
Mendengar Karmila sudah melahirkan, silih berganti tetangga menjenguknya, mereka juga ingin melihat bayi Karmila dan Rangga.
Mantan mertua Mila juga ikut mengunjungi nya serta membawa Gani juga.
Ada yang memberi selamat ada juga yang sekedar memberi saran yang pedas kepada Mila.
" Duh mbak Mila gimana sih, kasian suaminya, pasti sudah lama ambil cuti kan, makanya pas waktu hamil itu rajin gerak, jadi ngak perlu operasi segala, sembuhnya lama tau, masak iya aku lihat mas Rangga tiap hari jemurin pakaian pakaian kamu, Mas Rangga kayak ngak punya harga diri nya lagi tuh, ya kan. " kata Salah satu tetangga.
" Iya betul tuh, aku saja, ngak pernah repotin suami, suamiku palingan libur nya cuma satu atau dua hari saja, setelah itu aku handle semua kerjaan rumah, ngak kayak mbak Mila ini, sudah hampir seminggu kerjaaan nya tidur mulu, gimana sih mbak Mila. " mendengar ocehan tetangga Mila pun menunduk jadi sedih karna mereka semua menyudutkan Mila.
" Sudah ibuk ibuk, mbak mbak pulang ya, Mila nya mau istirahat dulu, besok boleh main lagi kesini ya." Kata Ibu Rido kepada tetangga yang julid tersebut.
" Dih gimana sih buk, kami mau jenguk kesini, malah di usir. " kata mereka.
" Bukan di usir, tapi Mila kelihatan mengantuk, jadi ibuk ibuk pulang ya. " kata Ibu Rido lagi.
" Uuuuh, ngantuk? tidur mulu, enak banget jadi orang, nyusahin. " Mereka pun melangkah keluar dari rumah Mila, Mila pun tidak bisa menahan air matanya.
" Sudah Mila jangan di dengarin omongan mereka, kamu harus tetap samangat, ini bukan salah kamu kok, wajar perut kamu masih sakit, kan habis caesar, dan juga ngak boleh banyak gerak, takutnya nanti infeksi, yang sabar ya nak. " Ibu Rido berusaha menenangkan Mila.
__ADS_1
" Tapi yang di katakan mereka memang benar, andai saja aku lahiran nya normal, mungkin aku masih bisa bergerak bebas, dan tidak bergantung kepada mas Rangga buk. " kata Mila terus meneteskan air mata.
" Sabar ya nak. " Ibu Rido pun memeluk mantan menantunya itu.
Ke esok kan harinya Rangga mengadakan syukuran untuk kelahiran anak nya, dia mengundang kerabat dan tetangga sekitar, acara nya sangat lancar, banyak yang mendoakan yang baik kepada anak nya.
Mila di dalam acara itu berusaha tersenyum, dan menyambut para tamu, padahal sebenarnya hati nya sangat gelisah tak menentu, setiap perkataan negatif dari tetangga nya kemaren terus bermutar mutar di kepalanya, kadang dia sangat sedih, sering melamun tampa sebab, dan bila dia sedang sendirian selalu menangis.
" Mila tetap lah sabar nak, ibu sangat mengerti dengan perasaan mu, kamu harus mengontrol emosimu dan juga berusaha tetap tenang, tidak baik ibu yang setelah melahirkan sering melamun seperti itu. " Ibu Rido selalu mendampingi Mila, karna Ibu Rido sangat paham betul kalau Karmila sedang mengalami Baby Blues Syndrom, dimana Mila selalu terlihat murung, kadang mengacuhkan bayi mungilnya itu.
" Iya buk aku tidak apa apa." Setelah kepergian Ibu Rido keluar, dan datang lah Bibi Desi yang kemaren ,yang sempat membuat Mila frustasi.
" Nah nah, liat kan dia tidak bisa ngapa ngapain, cuma duduk makan duduk makan, enak banget kamu jadi perempuan, kasian tuh Rangga , dia banyak mengorban kan waktu untuk mengurus mu, menyusahkan." Mila tidak tahan lagi, pelan pelan dia berdiri, lalu mendorong kursi yang diduduki nya hingga terjatuh.
Braaaaaagk, semua orang yang berada di acara syukuran tersebut terkejut termasuk Rangga.
Semua orang terperangah dengan kelakuan Mila, Rangga pun mendekati Mila yang sudah bercucuran air mata, kemudian membawa Mila kedalam kamar.
Bibi Desi tadi sempat syok karna di permalukan Mila di depan orang ramai, memilih pergi meninggalkan rumah Rangga.
Tetanggapun mulai berbisik bisik, Ibu Rido pun sangat mencemaskan Mila.
Di dalam kamar.
" Kamu ini kenapa sih Mila?, ini acara syukuran anak kita, dan kamu juga tidak ada sopan santunnya kepada orang tua. " Kata Rangga marah.
__ADS_1
" Terus, terus kamu bela bibimu itu, kamu juga tidak memikirkan perasaan aku, dia selalu memojok kan aku, aku tidak kuat lagi mas, aaarrrgh. " kata Mila sambil ******* ***** bajunya.
" Tapi setidak nya kamu jangan seperti itu di depan orang banyak, malu, ingat malu. " kata Rangga kesal.
" Rasa malu ku sudah hilang tenggelam oleh sakit hatiku ini mas, kamu tidak mengerti mas, hik hik." Mila tak kuasa menahan tangisnya.
" Terserah kamu, aku tidak mengerti yang ada di dalam pikiran mu, lebih baik kamu di dalam kamar saja, bikin malu. " kata Rangga yang mulai tak terkontrol.
Rangga pun keluar meninggalkan Mila sedang menangis tersedu sedu.
Rangga meminta maaf kepada para tamu atas sikap istrinya, mereka pun melanjutkan acara nya kembali tampa kehadiran Mila lagi.
Didalam kamar Mila pun Tertidur sangat pulas, karna tidak tahan dengan sakit kepalanya, kemudian Rangga datang membawa bayinya.
" Mila bangun, anak kita haus, kamu susu kan dia sebentar. " Mila pun berusaha bangun dengan mata sembab nya, lalu meraih bayinya tampa mau menatap Rangga lagi.
" Mila maafkan aku ya, bukan maksudku membentak mu, tapi aku.. " Rangga pun menjeda ucapan nya, melihat Mila tidak merespon ucapan nya mau pun memandang wajahnya, Ranggapun meninggalkan Mila yang sedang menyusui anaknya, mungkin Mila butuh waktu sendiri.
Setiba nya di luar ternyata Angela dan Rido sudah datang, Rangga pun menjadi heran siapa yang mengundang mereka.
" Maaf aku datang tiba tiba, aku hanya ingin mengantarkan bingkisan baju baju bayi ini untuk anak mu, aku permisi dulu. " Angela pun melangkah pergi di ikuti Rido.
Rangga menjadi heran, lalu menghentikan Mereka.
" Angela, Rido makasih. " mereka pun tersenyum lalu melangkah pergi, Rangga sempat heran dengan tingkah laku mereka, tapi setelah itu berusaha berfikiran positif tentang mereka.
__ADS_1
Acara pun selesai, Rangga di bantu beberapa kerabatnya untuk membereskan acara, begitu pun dengan ibu Rido, sempat menanyakan kebaradaan Mila, setelah di arahkan kedalam kamar, Ibu Rido berusaha menguatkan Mila lagi supaya bisa sabar dengan omongan orang yang bersifat menjatuhkan nya, kemudian Ibu Rido pun pamit.