
Pada pagi harinya, kami pun menuju rumah ibu, sesampainya di sana ibu lansung menyambut kami dengan penuh terharu, dia sangat senang mas Rangga sudah pulang, anak anak pun berhamburan ke pelukan papa mereka.
" Papa kami kangen pa" kata Aqila dan anak kami yang lain pun mengangguk.
" Papa juga kangen kalian semua" kata mas Rangga.
" Gimana ke adaan mu nak? kamu sehat? makan di sana banyak ngak, ibuk sangat cemas dengan kamu nak, " kata ibu mertua ,mas Rangga lansung memeluk ibu nya.
" Aku baik baik saja bu, ibu juga sehat kan, maaf buk tidak sempat beri kabar, aku pulang kemaren, aku bilang ke Mila jangan kasih tau dulu, biar jadi kejutan" kata mas Rangga tersenyum nyengir.
" Ah kamu ini ke biasaan, ya sudah kamu sudah makan? " .
" Sudah tadi buk, o iya bu, gimana kalau kita pergi liburan, aku sangat rindu kita pergi main sama sama, rencana aku sama Mila pengen ke kampung halaman nya Mila, aku penasaran disana gimana, semua nya harus ikut yah".
" Hore hore liburan, " semua anak bersemangat.
" Kamu atur saja nak, ibu setuju setuju saja".
"Sip kita siap siap sekarang saja, nanti sore kita berangkat, soalnya perjalanan kita jauh, semangat "kataku.
Semua serentak menjawab " Baiklah".
***
Sedang asik asik berkemas, memasuk kan barang ke mobil, dari kejauhan ada yang celingak celinguk mengawasi kami, mungkin mereka penasaran.
Mas Rangga melirik ku, dan mengode sambil berbisik.
" Liat tuh, mantanmu datang" kata mas Rangga sangat pelan, spontan aku berbalik badan.
" Eh eh eh, kayak nya ada yang butuh liburan nih setelah keluar dari penjara, kasian yah mas, padahal lebih bagus si Rangga di penjara, biar si Baju Bekas tambah merana" kata mbak Lilis sambil bergayutan di lengan mas Rido.
" Iya sih sayang emang pantas si Rangga di penjara, orang sombong kayak dia lebih baik membusuk di penjara" kata mas Rido, spontan mas Rangga ingin menghampirinya ingin menghantamnya, cepat aku mencegah nya.
" Hek bukan yang pantas di penjara sampai busuk tuh bukan nya kamu, jelas jelas kelakuan mu yang lebih busuk dari pada sampah, seharusnya kamu tidak di sini, sana kembali kepenjara" akupun mengeluarkan kata pedas.
Mas Rido mulai panas, Mbak Lilis heran, mungkin dia tidak tau mas Rido pernah di penjara.
" Sayang kamu pernah di penjara? kapan? ".
" Ngak ada, Baju bekas ini hanya ngomong omong kosong, jangan percaya" mas Rido membela diri.
Aku hanya tersenyum sumbing, kami pun melanjutkan berkemas.
" Ngomong ngomong pasti kalian ke kampung nya si baju bekas ini kali ya, saran saya sih ngak usah, malu maluin ,si baju bekas ini adalah aib bagi keluarga nya, makanya dia terbuang dari kampung nya" kata mas Rido sambil tertawa.
__ADS_1
" Yang punya aib tu kamu, tukang m*sum, eh mbak lilis kamu ngak j*j*k apa? sama lelaki satu ini, banyak yang make loh, aku sih ogah makanya aku lepasin, tapi sayang malah kamu tangkap, ambil saja bekas ku itu" kata ku mulai tak terkontrol lagi.
Mas Rido marah besar, dengan sigap mas Rangga melindungi aku.
" Apa? Mau memukul istri ku lagi ah, jangan harap, lawan aku dulu, " kata mas Rangga menantang, Mas Rido di tahan oleh mbak Lilis, mungkin ngak mau kali ya suami nya lecet.
" Eh Karmila, jangan sembarang ngomong ya, mestipun mas Rido pernah dengan mu, tadi dia tak pernah cinta sama mu, cinta nya sama aku, kamu kalah jauh dari aku".
" Iya kali palingan sih orang ini manfaatin kamu doang mbak, siap di porotin ntar dirimu ditinggal, jadi orang jangan B*go b*go amat deh mbak" kataku judes.
" Eh Baju Bekas jangan sembarangan kamu, topeng nya saja baik, perangai mu b*suk, awas kamu ya, aku akan balas" kata mas Rido.
" Apa? apa ah mau ngancam istriku, kalo kamu jago sini jangan berani nya sama perempuan, dasar laki laki l*mah" kata mas Rangga memancing emosi mas Rido.
" Ok siapa takut" mas Rido menantang, dengan cepat mbak Lilis menarik suaminya untuk menjauh dari kami.
Setelah mereka pergi, mas Rangga masih ngomel ngomel sendiri.
"Dasar l*mah, berani cuma sama perempuan, berlindung juga di bawah ketek perempuan, ngak maco banget, eh Mil kok dulu kamu mau sama lelaki itu, ngak ada bagus bagusnya".
" Udah deh, jangan bahas dia lagi, capek hati kalau kita membahas dia, dia juga kenapa yah, ngak bosan bosan cari masalah sama kita, heran! " kata ku.
" Gagal move on kali, " kata mas Rangga meledek ku.
" Sirik kali! " kata mas Rangga.
Aku membuang nafas kasar.
" Ngomong ngomong si Rido di perjara karna kasus apa? " tanya mas Rangga.
" Nanti kamu juga tau sendiri mas, ya sudah kita siap siap sekarang, lupain mereka, ngak penting" kata ku.
" Yah dari tadi juga kamu kali yang ngomong panjang kali lebar, aku mah dengarin saja" kata mas Rangga.
" Kok aku? mas juga dari tadi juga ngomel ngomel kayak cewek saja".
"Mana ada! ".
" Ada lah".
" Ngak tuh".
"Iyah".
" Iyah deh bos qu, aku ngalah deh sama miss bawel".
__ADS_1
" Enak aja bawel".
"Emang bawel blek" mas Rangga menjulurkan lidah, spontan aku ngambil sandal mau lepar ke arah mas Rangga, tiba tiba mertuaku datang.
" Sudah sudah, kalian seperti anak kecil saja, kapan kelar nya tuh barang barang masuk ke dalam mobil, malu dong sama anak anak emak bapak nya berantem mulu" serentak kami menjawab, " iya buk".
***
Setelah berkemas kami pun berangkat, dan tidak lupa menghubungi guru anak anak untuk mintak izin untuk beberapa hari tidak masuk sekolah.
Kami juga tidak lupa cek semua pintu pintu rumah, sedangkan rumah ibu ada yang jaga, yaitu saudara ibu sendiri yang biasa yang menemani ibu mertua di rumah.
Sebenarnya aku sangat deg degan, jika di kampung nanti ada masalah lagi.
Aku tak ingin di pandang buruk oleh mas Rangga dan ibu nya nanti, karna aku dan sebahagian saudara ku sedikit ada problema.
Tapi untung nya kami nanti akan tinggal di penginapan, karna aku tak ingin kakak kakak ku nanti mengusik suami dan mertuaku, untung saja di daerah ku banyak hotel atau penginapan, karna di daerahku banyak tempat wisata.
Aku sangat yakin, anak anak akan senang berliburan di sana, aku juga kangen ayah dan abang kandungku, mereka lah semangat ku untuk pulang, hanya mereka lah keluarga yang sangat mengerti aku, aku sangat merindukan mereka.
Aku tak perlu menyembunyikan apa apa lagi dari mas Rangga, jika nanti mas Rangga tau , apa yang sebenarnya terjadi di rumah ku nanti, dan aku harap mas Rangga mau mengerti dengan apa yang aku alami itu.
Aku harus melupakan kenangan pahit tersebut.
" Mil, kok bengong? " aku di kaget kan oleh mas Rangga yang sedang sibuk menyetir.
" Eh ngak, aku hanya memikirkan ke adaan ayah ku di kampung, aku sudah sangat rindu".
" Ya kamu bersabar lah nanti juga bertemu," kata mas Rangga.
"Iyah mas".
" Bu, nanti di sana ada sungai ngak buk, aku pengen bermain di sungai" tanya Aqila.
" Ada dong, di sana lengkap sayang, di sana ada danau, sungai, air terjun, juga ada pantai pasir putih, dan ada juga batu Malin Kundang" kata ku sedikit bar bar hahahaha.
" Batu Malin kundang? apaan tu bu? ".
" Gea bantu jelasin, " kataku kepada anak ku Gea, karna sedari kecil aku menceritakan cerita dongeng Malin kundang kepadanya.
" Jadi gini Qila, jaman dulu ada anak durhaka namanya Malin Kundang, dia tidak mau mengakui ibu kandungnya, lalu ibu nya mengutuk nya menjadi batu, akhirnya Malin kundang Menjadi batu, jadi sampai sekarang batu Malin kundang masih ada, menyerupai manusia sedang bersujud meminta ampun, " kata Gea menjelaskan.
"Ooow keren, penasaran aku pengen liat" kata Aqila penuh antusias.
Jadi akhirnya di dalam perjalanan kami , kami pun menceritakan banyak cerita cerita dongeng, anak anak pun senang mendengar nya, perjalanan kami menjadi seru dan menyenangkan.
__ADS_1