BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 1. Bakwan kenangan


__ADS_3

Siang itu langit sudah gelap. Rinai hujan masih setia membasahi bumi. Seorang pria muda meninggalkan kursi kebesarannya. Terbaring di sofa empuk. Matanya menerawang ke langit-langit. Tangannya tak berhenti mengambil bakwan hangat yang baru saja dibeli. Sesekali senyumnya merekah setelah mengigit sepotong bakwan. Entah apa yang membuat pria itu tersenyum? Itu adalah pikiran dari asistennya yang memperhatikan kelakuan bosnya sejak setengah jam yang lalu.


Pria di sofa itu sesekali bergumam. "Bakwan ini enak tapi tetap kalah dari bakwan buatanmu, Sri!"


Sang asisten yang melihat dari ruang asisten hanya menggelengkan kepala. Tak mengerti dengan tingkah bosnya. Karena penasaran akhirnya menghampiri sang bos.


"Bos...! Bos...!" panggil asisten itu dengan suara lembut.


"Iya Sri, kangmas disini!" dengan tangan membelai lembut tangan sang asisten.


"Sri, kok tanganmu jadi besar ya? Kapalan pula!?" pikirnya dengan terheran.


"Ya iyalah bos tangan saya besar dan kapalan, maklum aja bos mantan kuli bangunan!" jawab Joni, sang asisten.


Seketika mata pria muda itu terbelalak saat mendengar jelas ucapan sang asisten.


"Astaghfirullahaladzhim! Kamu ngapain disini?" pria muda itu jadi kesal.


"Yee... Si Bos aja yang sibuk ngehalu! Dipanggil-panggil dari tadi ngelamun bae! Hati-hati bisa kemasukan bos! Eh iya, Sri itu siapa bos?"


"Btw, kalau cuma kita berdua suara kamu biasa aja dong! Sri itu gadis yang pernah ngasih bakwan ke saya waktu SMP dulu! Kamu lihat gak itu awetan bakwan di atas meja? Nah itu bakwan dia yang buat! Untuk kenang-kenangan saya awetkan pakai resin! Bagus kan!?"


"Itu bakwan asli bos?" Yang ditanya hanya mengangguk saja.


"Bagus idenya bos! Sampai orang gila aja gak kepikiran kalau bakwan bisa diawetkan!" Sebuah lemparan bantal sofa mendarat di wajah sang asisten.


"Berarti Sri itu cinta pertamanya Si Bos ya? Pantes aja sampe sekarang awet ngejomblo! Rupanya CLBK, Cinta Lama Belum Kesampean!" Joni tertawa lepas.


"Semprul! Dah berani sekarang ya sama bos! Mau balik ke jalanan lagi?"


"Ampuun bos! Bercanda bos! Orang jatuh cinta sensi amat sih!" celetuknya lagi.


"Et dah masih aja ya tu mulut! Mau pindah ke cabang Suriname?" ancam Si Bos.


"Gak bos! Udah nih saya diam aja deh kalau gitu!"


"Btw, kenapa sih harus ada istilah bujang lapuk?"


"Tadi disuruh diam, eh malah sekarang nyuruh saya jawab pertanyaan menggelitik gitu! Kan mulut saya jadi gatal bos! Lagian Si Bos udah umur segitu gak nikah-nikah! Muka ganteng, harta tajir melintir, perempuan yang mau juga ngantri. Lah ngapa Si Bos nolak cewek melulu? Saya jadi kasian sama papa dan mamanya Si Bos? Kadang tanya sama saya, apa bos punya cewek di luaran sana?"


"Mau gimana lagi Jon! Kalau belum ada yang cocok apa mau dipaksakan? Lagian juga mendiang uyut gak pernah bilang kalau saya harus ikut perjodohan dll. Lagian yang datang ceweknya tipenya itu-itu aja! Sekali lihat juga dah malas! Lagian papa sama mama juga gak ribut-ribut amat soal itu. Mereka tuh sekarang lagi seneng karena Si Kembar dah ngasih cucu!"

__ADS_1


"Emangnya bos gak risih apa, dapat julukan Ucup Bujang Lapuk?" Joni bertanya kembali.


"Kadang risih juga sih, tapi masa bodoh lah! Saya gak ambil pusing! Terserah mereka mau ngomong apa? Yang penting saya gak pernah macam-macam di luaran! Btw, orang yang kamu cari sudah ketemu?"


"Belum bos! Saya rasa orang itu gak bekerja disini! Waktu itu saya hanya ingat dia pernah masuk gedung ini!"


"Ya sudah kamu teruskan pencariannya! Ingat kamu juga punya tugas utama dari papa terkait hal ini!" Bos Ucup mengingatkan.


"Siap bos!" jawab Joni.


Perkenalkan namaku Ucup. Nama asliku Yusuf Mahardika Winata. Penerus Winata Grup, anak sulung papa Andre dan Mama Aiu. Seperti yang sudah kalian tahu usiaku sudah 30-an tahun. Status jomblo abadi masih melekat padaku. Kalau kata orang sih Bujang Lapuk.


Bukannya tak tertarik pada wanita hanya saja hatiku sudah terpaut pada "Si Bakwan". Bukan sama bakwannya tapi sama Nona yang kasih aku bakwan. Penasaran kan? Begini ceritanya.


15 tahun yang lalu...


Waktu SMP, saya termasuk orang yang paling excited pada sesuatu terutama kegiatan outdoor. Ceritanya, sekolah mengadakan eksplorasi ke sebuah hutan yang terletak di Kota B.


Singkat cerita, karena saking excited-nya mengejar Kupu-kupu Batik Kertas, saya terpisah dari rombongan. Bukan tanpa alasan saya mengejar Kupu-kupu itu. Menurut yang pernah saya baca, Kupu-kupu Batik Kertas sudah sangat jarang ditemukan karena banyak diburu. Alasannya apalagi kalau bukan karena harganya yang mahal, dapat mencapai 200 dolar per ekor.


Saat tersadar aku sudah sudah di anatah berantah. Ku coba berjalan mencari jalan pulang tapi tak kunjung ketemu juga. Akhirnya ku putuskan untuk istirahat. Sialnya, tas perbekalan ditinggal di bus begitu juga dengan hape. Karena aturan harus meninggalkan tas di bus selama kegiatan eksplorasi berlangsung.


Cacing dalam perut sudah bergoyang sejak tadi, tak jarang suaranya menggema hingga keluar perut. Air minum ku sudah habis. Udara hutan yang lembab membuatku banyak berkeringat. Suasana dalam hutan agak gelap karena banyak pohon besar dan tinggi yang menutupi masuknya cahaya matahari.


Kakiku ku tekuk, kepalaku menundukkan menyentuh lutut. Kedua tangan ku tangkupkan di atas kepala. Jantungku berdebar kencang saat suara langkah kaki mendekatiku. Mulutku tak berhenti berdoa memohon keselamatan pada Yang Maha Kuasa.


Grep! Tanganku dipegang oleh seseorang. Aku mulai ketakutan. Tiba-tiba terdengar suara lembut, "Nih bakwan buat kamu!" Ku beranikan mendongakkan kepala. Perlahan ku tatap sosok tinggi di hadapanku. Aku lega saat menatapnya secara keseluruhan. "Alhamdulillah, ternyata wadon!"


"Hahaha! Kamu ngapak ya?!" Gadis itu tertawa lepas. Aku sangat suka saat melihatnya tertawa seperti itu. Cantik! pujiku dalam hati.


"Makanlah bakwan itu! Ini masih banyak bakwannya kalau masih lapar makan saja! Suara perutmu sangat mengganggu konsentrasiku memanah!" ucap gadis itu.


"Maafkan aku! Aku tersesat! Tadi terpisah dari rombongan!" kataku dengan malu-malu.


"Iya aku tahu! Aku sudah memperhatikanmu sejak tadi! Kameramu canggih dan bagus! Tapi sayang tidak ada alat untuk navigatornya! Kamu kan anak orang kaya, kalau beli barang itu jangan cuma yang satu fungsi aja, kalau bisa yang multifungsi, terutama kalau kamu suka kegiatan outdoor. Seenggaknya kalau nyasar masih bisa pulang!" Aku terdiam mendengarkan ocehannya. Sekilas menyebalkan tetapi ada benarnya juga yang dikatakannya.


"Dari mana kamu tahu kalau aku orang kaya?" tanya Ucup.


"Tentu saja dari kameramu, bodoh! Itu kamera Leika keluaran terbaru kan? Apa orang miskin sanggup membeli barang mewah dengan harga puluhan juta seperti itu?" Aku hanya cengar-cengir mendengar jawabannya. Gadis yang sangat pintar.


"Bakwannya untuk kamu saja! Makan saja semuanya! Aku sudah kenyang! Apa sekarang sudah bisa berjalan?"

__ADS_1


"Sudah!" jawabku.


"Baiklah! Ku antar kamu ketemu rombonganmu ya!"


Aku berjalan di belakangnya. Tinggi badan gadis itu sedikit lebih tinggi dariku. Rambutnya hitam panjang sepunggung. Dia memakai jumpsuit, persis para pemain film The Hunger Games. Tangan kanannya memegang busur. Anak panah bersandar di punggungnya. Aku telah benar-benar mengganggu latihannya. Sebaiknya aku minta maaf nanti.


Lima belas menit kemudian aku sampai di perbatasan hutan. Dari situ terlihat bus dan juga teman-temanku.


"Kita sudah sampai! Lain kali jangan excited sendiri! Fokus boleh tapi harus tetap waspada dengan keadaan sekitar!" Gadis itu menasihatiku.


"Baik! Terima kasih sudah mengantarku! Maaf sudah mengganggu latihanmu!"


"It's ok! Tidak masalah!"


"Btw, namaku Ucup! Siapa namamu?" tanyaku penasaran.


"Panggil aku Sri! Maaf aku harus segera pergi! Ayahku sudah memanggil!"


Gadis itu pergi ke dalam hutan. Aku masih berdiam diri disitu sampai sosoknya menghilang. Itulah pertama kalinya hatiku bergemuruh. Jantungku berdebar, tubuhku gemetar. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.


Sepanjang perjalanan pulang, mataku hanya tertuju pada satu bakwan di tanganku. Hanya tersisa satu bakwan lagi. Tak bisa ku makan.


Saat sampai di rumah, aku minta pada papa untuk memanggil orang yang bisa mengawetkan barang. Papa bertanya padaku, "Apa yang mau diawetkan?" Jawabku hanya singkat saja, "Bakwan!"


Papa dan Mama sesaat terdiam mendengar jawabanku. "Are you serious?" tanya papa.


"Absolutely yes! Itu bakwan gak boleh ada yang makan kalau ada yang makan secuil aja, lihat aja akan ada perang dunia ketiga!" ancam ku dengan serius.


Aku terus berjalan menuju kamar. Merebahkan tubuhku di kasur kesayanganku. Mataku belum terpejam. Aku masih mengenang kejadian tadi siang. "Jika libur nanti aku akan main ke sana lagi!"


"Yang, Si Ucup kenapa ya? Pulang dari hutan kok jadi aneh gitu? Bakwan lah pake diawetin segala. Ada juga Kupu-kupu, burung, tumbuhan yang diawetin. Masa bakwan sih?"


"Ih mas nih! Masa gak peka sih sama anak! Kalau sampe itu bakwan diawetin segala, itu artinya ada hal berharga di bakwan itu!"


"Si Ucup aneh-aneh aja!"


"Namanya juga anakmu, mas! Ya nurun lah anehnya!" jawab Mama Aiu.


"Ai! Kita buat lagi adik untuk si kembar ya!" modus papa Andre.


"Kamu mah modus! Minta jatah aja pake alasan segala! Seminggu lagi ya mas! Aku lagi datang bulan!"

__ADS_1


"Hadeuh, sial! Puasa lagi deh!"


__ADS_2