
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Cicit dan Yusuf berpamitan pulang. Sebelumnya Cicit meminta Zack untuk menemani Zily sementara waktu. Cicit sudah mengemas barang-barangnya. Kini wanita berhijab itu sudah siap kembali ke kediaman Winata.
"Cup, bagaimana kamu akan menangani masalah Zily?" Cicit penasaran dengan langkah Yusuf selanjutnya.
"Sementara ini tes DNA harus dilakukan dulu. Jika hasilnya positif maka aku akan meminta ibunya Zily untuk tinggal di rumah singgah agar bisa terlindungi dan mudah untuk memantaunya. Nanti biar ku tambah pengawal di sana!"
"Syukurlah! Suamiku memang hebat!" Cicit memuji Yusuf. Tanpa sadar wanita itu mencium pipi Yusuf. Sang suami tentu sangat senang mendapatkan ciuman.
"Boleh cium di bibir?" pinta Yusuf sambil tertawa.
"Kamu mah gitu! Selalu aja minta lebih! Cium bibirnya nanti aja kalau sudah di rumah. Kalau disini takutnya gak sampai-sampai!" Yusuf tertawa mendengar perkataan istrinya.
Setengah jam berlalu kini mobil sudah sampai di depan gerbang Kediaman Winata. Cicit takjub melihat rumah yang megah di hadapannya. Meski rumah Kakek Krishna sangat besar tetapi masih lebih besar lagi rumah Yusuf. Yusuf membunyikan klakson mobil. Pak Satpam bergegas membuka gerbang. Yusuf menurunkan kaca mobil.
"Apa semua sudah siap?"
"Sudah siap tuan muda!"
Yusuf melajukan mobilnya menuju teras. Setelah mobil berhenti, Yusuf membukakan pintu mobil dan mengulurkan tangannya. Cicit menyambut tangan Yusuf. Kini Yusuf berjalan memasuki rumah utama dengan menggandeng Cicit. Saat pintu dibuka semua pelayan sudah siap menyambut mereka.
"Selamat datang Nyonya Muda Winata!" Meski sudah kedua kalinya diberi sambutan. Cicit tetap merasa terkejut. Baginya ini sangat berlebihan. Tetapi dia harus terbiasa karena statusnya yang sudah berubah. Cicit tersenyum saat memasuki rumah. Mereka berjalan sampai ke ruang tamu.
"Baiklah! Semuanya lihat dan dengarkan dengan baik! Ini adalah istriku! Namanya Citra Srikandi Wirabuana! Cucu dari Jendral Krishna Wirabuana dan Surya Winata! Nyonya Muda Winata kalian! Mulai sekarang kalian harus melayani dan menjaganya dengan baik! Jika orang itu datang jangan dipedulikan! Kalian jangan takut jika dia mengancam! Laporkan kepadaku! Apa kalian mengerti?" Yusuf mengenalkan sekaligus memberi peringatan.
"Kami mengerti tuan!"
"Cup! Boleh aku bicara?" Cicit meminta ijin.
"Tentu saja sayang!"
"Terima kasih atas sambutan hangat kalian! Saya sangat senang karena disambut kalian! Ke depannya mohon bantuan dan kerja samanya! Kalian boleh memanggil saya Cicit!" Cicit tersenyum kembali.
Semua pelayan terpesona melihat senyum manis Cicit. Mereka kagum dengan sikap ramah Cicit. Sama seperti nyonya besar mereka yang ramah dan baik.
"Kalian sudah selesai belum terpesonanya? Ini istri saya!" Yusuf merasa cemburu.
"Maafkan kami tuan muda! Habis nyonya memang cantik!" ucap salah seorang pelayan.
"Sebelum tuan naik ke kamar ada hal yang ingin kami sampaikan!" ucap pelayan senior. Yusuf menganggukkan kepalanya. Pelayan senior itu memberikan aba-aba.
__ADS_1
"Selamat menikah Tuan Muda Ucup kesayangan kami!"
"Semoga tuan dan nyonya muda selalu bahagia dan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah!"
"Terima kasih atas doa kalian! Ya sudah kalian kembali ke tempat masing-masing! Tolong barang-barang nyonya kalian bawa ke kamar!"
"Siap tuan!"
Semua pelayan kembali ke posisi masing-masing. Yusuf dan Cicit menaiki tangga menuju kamar Yusuf. Yusuf membuka pintu kamar. Cicit terpesona dengan kamar Yusuf. Kamarnya lebih besar dari miliknya. Semuanya furnitur kelas satu. Sangat nyaman.
"Kamu itu dari tadi apa gak capek! Kalau gak terkejut kamu malah terpesona!" Yusuf memeluk tubuh Cicit dari belakang.
"Lagian siapa suruh kamu buat aku jadi begitu!" Kini Cicit menghadap ke arah Yusuf.
"Boleh minta bonus yang tadi di mobil?"
"Ih kamu mah! Masih ingat aja deh! Kalau yang begitu aja kamu selalu ingat!" Yusuf tertawa sambil menjadi dagu Cicit. Cicit memenuhi permintaan suaminya. Kini bibir mereka saling bersentuhan. Saat sedang menikmati ciuman tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Seorang pelayan sudah berada di depan pintu dan melihat adegan mereka. Salah Yusuf yang lupa menutup pintu. Cicit sangat malu karena dipergoki pelayan sedang berciuman. Cicit bersembunyi di balik tubuh Yusuf yang besar.
"Maaf tuan! Saya hanya mengantar tas milik nyonya!" ucap pelayan wanita itu.
"Iya tidak apa-apa! Kamu boleh pergi!" Pelayan wanita itu menutup pintu dan segera pergi.
"Semua gara-gara kamu! Aku malu banget tahu!" Wajah Cicit cemberut.
"Wajah cemberut kamu sangat menggemaskan!" Yusuf menowel pipi istrinya.
"Aku lagi marah tahu!"
"Aku senang lihat wajah marah kamu! Semakin cantik!" Pipi Cicit langsung merona.
Melihat wajah Cicit yang menggemaskan, pria bertubuh besar itu langsung menggendong Cicit ke atas ranjang.
"Kamu tahu gak kalau ekspresimu barusan sangat menggairahkan?! Jangan pernah menampilkan ekspresi seperti tadi di hadapan pria lain! Aku pria pencemburu!"
"Iya Ucup sayang! Aku mengerti!" Tangan Cicit membelai lembut wajah Yusuf. Yusuf langsung terbuai dengan sentuhannya.
"Sri sayang kamu sudah memprovokasiku! Bertanggungjawablah!" Cicit sudah tidak bisa mundur lagi. Akhirnya mereka bercinta sebelum azan berkumandang. Mereka selesai tepat azan magrib berkumandang. Pasutri itu segera mandi kemudian solat magrib berjamaah. Selesai solat Cicit meminta ijin untuk memasak. Suami tercintanya minta dibuatkan nasi goreng untuk makan malam.
Saat Cicit turun ke dapur tidak terlihat satu orang pun di dapur. Cicit memasak dengan leluasa. Yusuf sudah memerintahkan semua pelayan untuk kembali ke rumah belakang. Yusuf tahu setelah kejadian tadi pastinya Cicit sangat malu dan canggung. Itulah sebabnya Yusuf memberitahu kepala pelayan agar semua pelayan kembali ke rumah belakang.
__ADS_1
Di rumah belakang.
Pelayan yang tadi melihat adegan romantis Yusuf bersama Cicit langsung bercerita. Kepala pelayan hanya mendengarkan saja.
"Ya ampun! Oh My God! Ya Allah gusti! Baru kali ini saya lihat tuan muda begitu romantis! Nyonya Cicit pasti sangat bahagia. Mereka sangat serasi!" pelayan itu bercerita dengan mata berbinar. Baginya melihat adegan tadi seperti keajaiban karena selama ini tuan muda mereka tidak pernah bersikap ramah dengan perempuan manapun.
"Kamu memangnya lihat apa sih?" tanya pelayan lain yang penasaran.
"Aku tidak sengaja melihat tuan muda sedang berciuman dengan nyonya! Bukan salahku! Pintu kamar tuan muda sudah terbuka. Seperti biasa aku mengetuk pintu. Ketika melihat ke dalam ternyata mereka sedang berciuman. Aku langsung menundukkan kepala dan meminta maaf kepada tuan!"
"Ya Ampun! Ih aku mau deh lihat adegan itu! Membayangkannya saja sudah romantis! Apalagi melihatnya langsung!"
"Hem! Saya harap ini hanya cerita di rumah belakang saja! Jangan ada yang membahasnya di hadapan nyonya muda!" kepala pelayan mengingatkan mereka.
"Siap kepala pelayan!"
Pelayan yang baru tiba terakhir langsung menggebrak meja dengan wajah tersenyum. Semuanya terkejut termasuk kepala pelayan.
"Kalian tahu gak? Ya Ampun! Masakan nyonya muda sangat harum sekali! Membuatku jadi tidak sadar dan menabrak pot!"
"Apa?! Pot yang mana? Kalau nyonya besar pulang bisa habis aku kena marah!" ucap tukang kebun.
"Maaf! Tenang saja! Potnya tidak pecah karena terbuat dari plastik. Hanya berantakan saja! Tadi sudah ku rapikan tapi tidak tahu apa hasilnya bagus atau tidak! Besok tolong kamu rapikan lagi ya!"
"Syukurlah! Ya sudah besok akan ku lihat lagi!"
"Nyonya muda kita itu ya sudah cantik, ramah, murah senyum, baik, jago masak lagi! Tuan muda memang benar-benar hebat mencari istri!" puji pelayan lainnya.
"Benar itu! Nyonya Cicit memang tiada duanya. O ya aku dengar dari Tuan Joni kalau Nyonya Cicit punya panggilan lain. Apa kami boleh tahu kepala pelayan?"
"Kalian hanya boleh tahu tetapi tidak boleh memanggilnya dengan panggilan ini! Panggilan ini hanya tuan muda saja yang boleh memanggilnya. Nama panggilan nyonya yang lain adalah Sri kependekan dari Srikandi!"
"Kalian tahu mungkin nama ini sedikit terdengar kuno atau apapun itu! Ku harap kalian bisa menjaga mulut kalian! Kalau tidak, mungkin Tuan Joni yang akan mendisiplinkan kalian!" Semua pelayan menelan ludah jika sudah mendengar Joni akan mendisiplinkan mereka.
"Menurutku nama itu tidak kuno atau ndeso! Kata ibuku orang yang memiliki nama Sri itu banyak rejekinya. Selalu diikuti keberuntungan. Sejatinya nama Sri itu merujuk kepada Dewi Sri yang merupakan dewi kesuburan!" Seorang pelayan membela.
"Iya betul itu! Aku pernah dengar juga kalau Sri itu merupakan gelar terhormat di beberapa negara. Sri bahkan digunakan sebagai gelar raja atau bangsawan gitu!" pelayan lain ikut membenarkan.
"Saya berharap kalian ke depannya bisa menjaga nyonya muda sama seperti menjaga tuan muda! Tadi tuan muda mengatakan tentang orang itu! Jadi kalian harus bersiap menghadapi orang itu! Ingat pesan tuan muda jika dia bertingkah segera laporkan! Saya tidak mau ada pengganggu di Kediaman Winata!"
__ADS_1
"Siap kepala pelayan!"