BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 43. Sebuah Permulaan


__ADS_3

Hari semakin sore. Cuaca yang tadinya terik perlahan mulai menurun. Halaman depan hotel mulai dipadati wartawan. Mereka sedang bersiap menunggu kehadiran Keluarga Winata juga tamu undangan lainnya.


Tiba-tiba dari arah jalan datang segerombolan orang dengan berbagai tulisan. Para wartawan yang tadinya santai berubah jadi antusias. Siapa juga yang tidak antusias jika disodorkan bahan berita yang menarik. Tulisan yang dibawa mereka sebagiannya berisi protes dan hinaan untuk Cicit. Dituliskan bahwa menantu Keluarga Winata telah mengusir anak angkat Keluarga Winata. Dituliskan juga Nyonya Muda Winata tidak bermoral karena bertemu pria lain. Hal lainnya adalah protes para pekerja yang meminta agar Nyonya Winata pergi karena telah membuat saham Keluarga Winata anjlok. Lalu ada juga tulisan yang bertuliskan wanita kotor tidak pantas menjadi Nyonya Winata. Dan masih banyak tulisan lainnya.


Yusuf yang memperhatikan kerumunan sejak tadi merasa sangat geram dan ingin sekali mengusir mereka semua. Sementara istrinya masih duduk santai sambil menikmati secangkir teh hijau dan keripik kentang.


"Sayang, kamu kok bisa santai begitu? Aku aja ingin sekali menangkap dan menjebloskan mereka ke penjara!" Yusuf kini duduk di sebelah Cicit sambil mengambil keripik kentang dari dalam kantong.


"Kamu itu ngapain sih emosi begitu? Mereka itu hanya suruhan! Biarkan saja! Kan kalau gak begitu gak rame!" Yusuf memutar bola matanya merasa jengah dengan omongan istrinya.


"Kamu itu apa gak ada rasa ingin marah? Sudah difitnah juga! Apa kamu takut?" Meski kesal pria itu tetap memasukkan keripik kentang ke dalam mulutnya.


"Suamiku sayang! Kamu harus ingat ini baik-baik! Tidak ada kata takut di Keluarga Wirabuana. Dulu, Jendral Soedirman menggunakan taktik gerilya untuk melawan penjajah. Apa aku juga tidak boleh begitu?" Mata Cicit melotot sambil tangannya memegang wajah tampan suaminya. Yusuf merasa ngeri untuk sesaat. Terasa aura dingin yang menerpa tubuhnya. Pria itu hanya bisa menelan ludah saja.


"Maafkan aku, Sri! Aku hanya merasa kesal saja saat ini karena tidak bisa membalas mereka secara langsung! Rasanya tanganku sangat gatal sekali untuk bertindak! Maafkan aku!" Yusuf menyesal telah berkata demikian kepada istrinya.


"Aku sangat mengerti kondisimu, Cup! Tapi percayalah padaku! Ini hanya sebuah permulaan saja. Kita belum bertemu dengan musuh sebenarnya! Jadi kamu harus bersabar ya! Ada banyak hal yang ku temukan selama mengulik info tentang Rachel. Ini tidak mudah! Sangat rumit karena berkaitan dengan masa lalu! Dan itu terjadi sudah beberapa generasi!" Awalnya Cicit ingin memastikan lebih dulu sebelum memberi tahu tetapi jika itu tetap dilakukan maka bisa dipastikan suaminya akan marah.


Cicit akhirnya mulai menceritakan semua info yang didapat. Yusuf menyimak dengan baik cerita istrinya. Pria jangkung itu tidak menyangka kalau akar masalahnya terjadi sudah begitu lama bahkan sebelum dirinya atau ayahnya lahir.


"Apa yang ku ceritakan hanya berdasarkan info yang ku dapat belum dapat memastikan kebenarannya? Aku berencana untuk bertanya kepada Kakek Adrian dan Nenek Airin tentang hal ini! Karena ada kemungkinan biang keladinya masih hidup sampai saat ini! Aku tidak mengerti kenapa dia sangat terobsesi dengan harta kekayaan keluargamu? Seharusnya jika dia bisa hidup begitu lama lebih baik mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhirat!" Cicit geleng-geleng kepala.


"Baiklah! Nanti kita bahas bersama dengan mereka!"


"Tidak! Ini harus diberitahu sekarang! Awalnya kau ragu untuk bicara tetapi sejak tadi perasaanku tidak enak! Aku khawatir mereka akan bergerak dimulai dengan Kakek Adrian. Cup, tolong beritahu mereka! Jika nanti ada yang mengatakan bahwa Rachel adalah kerabat kalian jangan dipercaya! Itu kemungkinan siasat mereka!"


"Baiklah! Aku akan menelepon kakek dan mengatakan semuanya!"


Yusuf menelepon Kakek Adrian dan juga bertelekonferensi dengan papanya. Ia ingin agar papanya juga tahu. Adrian terkejut mendengar info dari Yusuf. Dia tidak menyangka bahwa rahasia yang dirinya simpan selama ini bisa terbongkar. Memang benar bahwa selama ini Adrian masih diberi tugas oleh Mertuanya, alm. Hendra Atmaja untuk mencari kakaknya ataupun keturunannya yang masih hidup. Sejak Pak Hendra masih hidup hingga kini, pencarian masih tetap dilakukan.


"Kakek akan berkata jujur bahwa sebenarnya selama ini kakek masih mencari keberadaan mereka. Itu merupakan tugas yang belum selesai dari kakek buyut! Jika mereka akan menggunakan Rachel ada kemungkinan mereka tidak tahu keberadaan kakek buyutmu, Indra Atmaja! Kakek tidak tahu persis kejadian awalnya bagaimana sampai Indra Atmaja menghilang! Nanti kita tanya detailnya pada nenekmu! Dari mana kamu tahu hal ini, Cup?" Adrian penasaran.

__ADS_1


"Dari istriku!" Adrian makin terkejut. Kakek tua itu tidak menyangka kalau Cicit akan menyelidiki sampai ke sana bahkan bisa memprediksi kemungkinan yang akan terjadi.


Memang tidak salah memilih cucu menantu! Terkadang Airin yang keras kepala itu juga patut diacungi jempol! Untung saja aku menuruti kemauannya, jika tidak, entah apa yang akan terjadi? Alhamdulillah! Terima kasih Ya Allah! Adrian.


"Pa, kenapa tidak membiarkan mereka menjalankan rencananya? Bukankah dengan begitu akan lebih cepat memancing mereka keluar?" Andre yang sejak tadi diam menyimak akhirnya angkat bicara.


"Ucup rasa jangan pa! Papa kan tahu bagaimana kita memperlakukan Rachel selama ini! Jika tiba-tiba berubah bukankah akan menimbulkan kecurigaan. Lagipula Sri bilang, jika kita mudah mengakuinya maka mereka akan curiga. Sri malah ingin mereka mengungkap sendiri kejadian sebenarnya, meski kemungkinan cerita itu sudah direkayasa, tetapi setidaknya dapat diketahui motifnya! Lagipula...!" Ucup menjeda ucapannya membuat kedua orang tua itu penasaran.


"Lagipula apa?" Papa Andre sangat penasaran.


"Lagipula kita akan bertemu dengan keturunan Kakek Buyut Indra yang sebenarnya di sini! Itu yang dikatakan Sri! Meski belum tahu siapa, tapi kemungkinan besar Nenek Airin bisa mengenalinya karena kemiripan wajah. Sri bilang dia berharap jika musuh tidak melihatnya. Jika iya maka mereka akan menargetkan dia!"


"Begitu ya? Kalau begitu lebih baik kami tidak usah muncul saja! Jika yang dikatakan Cicit benar, maka lebih baik kalau kami memantau dari ruang CCTV saja!" Adrian memberikan ide.


"Begitu lebih baik pa!" Andre menambahkan.


"Cicit mana, Cup? Coba berikan hapemu padanya biar kakek lebih jelas lagi!" Adrian ingin dengar sendiri dari mulut Cicit.


"Cup! Jangan coba-coba ya! Kalau juniormu masih ingin berjaya!" Tiba-tiba saja Cicit membalas ocehan asal suaminya.


"Ampun ratu! Saya tidak akan berani!" tiba-tiba Yusuf merasakan bulu judulnya merinding, rupanya sang istri kini berada di belakangnya. Cicit segera mengambil hape Yusuf dan berbicara dengan mereka.


"Kek, nanti kita bahas lagi saja detailnya di depan yang lain juga. Sekarang memang lebih baik kakek dan nenek tidak muncul! Karena itulah yang diharapkan mereka. Nanti kan Papa Andre bisa beralasan untuk ketidakhadiran kakek dan nenek. O iya, nanti jika nenek sudah memastikan, tolong jangan langsung dipanggil orangnya. Cicit berencana untuk membuat orang itu tidak berada di pesta. Jadi, musuh tidak bisa melihatnya!"


"Baiklah! Kami akan mengikuti rencanamu!" sambil manggut-manggut. Cicit mengembalikan hape suaminya kemudian fokus lagi di depan laptop.


"Sudah dulu ya kek! Lagian sebentar lagi maghrib! Kita siap-siap untuk solat maghrib!" Panggilan akhirnya selesai.


Yusuf menghampiri istrinya yang sedang fokus dengan laptopnya.


"Kamu ngapain sih yang? Dari tadi sibuk aja di depan laptop? Aku kan pengen juga diperhatikan!" Yusuf mulai manja kepada Cicit.

__ADS_1


"Kamu itu, kapan sih gak diperhatikan? Setiap hari aku selalu memperhatikan kamu! Udah jangan ganggu dulu! Btw, bisa gak kalau nanti situasi jadi kacau, minta Joni atau siapapun untuk membius pengawalnya Rachel, Si Rosalinda itu!"


"Kenapa kamu tiba-tiba menginginkan dia?"


"Nanti kamu akan tahu! Kalau bisa sih jangan langsung diambil gitu aja! Buat serangan dulu gitu! Terus bekuk pengawal itu di hadapan Rachel! Ya kamu tahu kan selanjutnya gimana?!" Yusuf hanya manggut-manggut tanda paham.


Setelah solat maghrib, Yusuf langsung menuju ruang konferensi pers. Andre dan Joni juga baru tiba di sana. Sebelum acara resepsi dimulai memang diadakan konferensi pers untuk menjawab pertanyaan media. Belum lagi menjawab pertanyaan, para awak media dikejutkan dengan pernyataan Yusuf.


"Selamat malam semua! Sebelum kami menjawab pertanyaan kalian, ada satu hal yang akan saya beritahukan kepada kalian. Pesta resepsi ini dibatalkan karena istri saya telah diculik!" Yusuf memasang wajah sedih. Para wartawan saling pandang.


"Mengapa kami tidak mendengar apapun?" Wartawan A bertanya.


"Karena kami yang meminta untuk tidak mempublikasikannya. Sudah banyak rumor yang beredar jika ditambah lagi dengan berita ini kami tidak tahu apa yang akan terjadi dengan nenek kami tersayang. Penculikan itu terjadi kemarin sore saat kami dalam perjalanan pulang. Mobil yang kami tumpangi dipepet penjahat, sampai akhirnya mobil kami mengalami kecelakaan. Saat sadar istri saya sudah tidak ada!"


"Mengapa bisa terjadi penculikan?" Wartawan B bertanya.


"Sepertinya ada pihak yang tidak senang dengan pernikahan kami!"


"Jadi, apakah anda ingin mengatakan bahwa rumor yang beredar tidak benar?" Wartawan C meminta penjelasan.


"Tentu saja tidak benar! Bukankah pada konferensi sebelumnya sudah saya katakan bahwa istri saya itu masih suci saat menikah! Apa perlu saya bawakan bukti darah malam pertama kami?" Semua wartawan terdiam.


"Lagipula mertua saya sudah memperlihatkan hasil visum dari kejadian itu! Kenyataannya memang istri saya masih suci! Pria itu belum melakukan apapun karena Jendral Bima keburu datang dan langsung menghajarnya! Ini adalah hasil visumnya! Lihat itu tanggal dan tahunnya! Sudah 17 tahun berlalu! Jadi tentu saja surat ini asli dan tidak ada rekayasa!" Para wartawan melihat dan mengabadikan gambar surat yang dipajang di proyektor. Sedangkan di sisi lain, ada seorang wanita yang sejak tadi mengamati konferensi yang berjalan.


Di luar gedung para pendemo langsung terdiam begitu melihat cuplikan surat itu. Mereka langsung bertanya-tanya mana yang benar. Rachel yang awalnya berdiri disitu langsung pergi.


"Hei! Di mana Nona Rachel tadi? Bukankah dia tadi ada di sini?" Pendemo A mencari-cari.


"Mungkin dia ada urusan lain!" sahut pendemo yang lain.


Rachel sebenarnya langsung pergi menuju ruang konferensi untuk berkonfrontasi dengan Yusuf.

__ADS_1


Mau tahu lanjutannya? Ikuti terus ya! ☺☺


__ADS_2