BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 44. Babak pertama


__ADS_3

Semua orang dalam ruangan konferensi terkejut melihat kedatangan Rachel. Wanita itu berjalan ke depan kemudian berdiri di depan wartawan. Yusuf yang melihat kedatangannya hanya tersenyum kecil.


"Bagus! Tikus masuk perangkap!"


Wanita itu langsung berkonfrontasi dengan Yusuf.


"Apa yang dikatakan Tuan Muda Yusuf tidak benar! Surat itu pasti direkayasa! Saya membawa bukti hidup yang dapat memberitahu bahwa Nyonya Muda Winata sudah tidak suci! Ini dia orangnya!" Sebelumnya Rachel sudah menyuruh Bram untuk bersiap. Bram mengikuti perintah Rachel. Kini pria itu berada di hadapan Yusuf dan juga para wartawan.


"Pria ini bernama Bram! Dia adalah pasangan Nyonya Cicit saat peristiwa itu terjadi!" Semua wartawan terkejut. Yusuf hanya diam saja.


"Katakan yang sejujurnya apa yang terjadi pada hari itu!" Rachel meminta Bram untuk bercerita tentang hari itu.


"Baiklah! Sebelumnya saya meminta maaf kepada Tuan Yusuf dan juga Cicit tentang masalah ini! Saya juga tidak mengerti kenapa bisa masalah ini muncul? Tapi ya sudahlah! Saya hanya akan menceritakan kejadian sebenarnya pada hari itu!" Bram diam sebentar sebelum melanjutkan ceritanya.


"Hari itu, 17 tahun yang lalu! Memang menjadi hari yang mendebarkan bagi saya. Saya mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan kepada teman satu sekolah yaitu, Cicit. Saya meminta Cicit untuk datang ke atap sekolah. Ternyata dia datang lebih dulu dan menunggu sangat lama. Karena gugup saya hanya mondar-mandir saja di kantin. Sampai ada gadis yang datang menghampiri dan memberikan sebungkus permen. Katanya bisa meredam rasa gugup. Benar saja saya jadi tidak gugup kemudian bergegas menemui Cicit di atap. Saat sampai, Cicit sudah marah karena menunggu lama. Saya akhirnya mengungkapkan perasaan padanya. Hasilnya saya ditolak! Saat itu saya tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saya menjadi marah dan mendesak Cicit sampai ke dinding. Saya tidak mengerti ada hasrat yang begitu besar datang begitu saja. Saya mencoba untuk menciumnya tetapi tidak berhasil karena dia memberontak. Sampai akhirnya Jendral Bima, ayah Cicit datang dan menghajar saya. Setelah mendapat beberapa pukulan, saya seperti tersadar dari sesuatu. Saya sampai bertanya apa yang terjadi? Ayah Cicit memberitahu semuanya. Saya mengaku bersalah saat itu, tetapi Jendral Bima bilang itu bukan salahku sepenuhnya karena saya sedang dalam pengaruh obat. Jadi, saya katakan lagi bahwa benar Nyonya Cicit hampir mengalami pelecehan tetapi dirinya masih suci saat itu. Tuhan masih melindungiku juga dia. Saya sangat bersyukur! Itulah kebenarannya!" Bram menghela napas. Ada kelegaan dalam hatinya karena sudah menceritakan kebenarannya.


"Surat hasil visum itu juga benar adanya! Karena saya juga melihat surat itu dulu! Surat itu asli! Jika tidak percaya silakan kalian konfirmasi di rumah sakit militer!" Rachel geram dengan Bram karena tidak mengikuti rencananya.


"Kau sudah berbohong! Kau pasti diancam mereka kan untuk berbohong!" Rachel masih belum menyerah.


"Mereka mengancamku? Apa tidak sebaliknya? Mengapa kamu begitu yakin kalau saya menodai Cicit? Apa kamu sudah pernah mencoba obat itu sebelumnya dan tidak berhasil lolos dari efeknya?" pertanyaan Bram membuat Rachel terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Bram bisa menebak dengan tepat.


Kenyataannya adalah Rachel kehilangan kesuciannya karena obat itu. Beberapa hari sebelumnya Rachel menghubungi ayahnya dan memberitahu tentang rencananya. Ayahnya mengirimkan dua butir obat untuk digunakan. Kedua butir obat itu dia masukkan ke dalam bungkus permen. Tak disangka satu bungkus itu dimakan oleh pacarnya sendiri, Ryan. Sebenarnya Rachel pacaran hanya untuk membuat Yusuf cemburu. Kenyataannya Yusuf tidak pernah peduli dengannya.


Reaksi obat itu sangat cepat dan kuat. Obat itu sudah bereaksi membuat Ryan menjadi kepanasan dan sangat berhasrat. Dengan cepat Ryan menarik tangan Rachel dan membawanya pergi menuju ruang kosong yang tidak terpakai. Sesampainya di sana, Ryan langsung mencium dan mencumbu Rachel. Kesucian Rachel hilang pada hari itu. Makanya dia sangat yakin kalau Cicit juga pasti tidak akan lepas dari Bram sebagaimana dirinya yang tidak bisa lepas dari Ryan.


"Sepertinya dugaanku tepat ya?! Kasihan! Sekarang aku ingat! Kamu itu pacarnya Ryan kan?! Ryan pernah mengatakan padaku bahwa dia pernah memakan permen yang sama denganku. Dia jadi sangat berhasrat dan melakukannya denganmu! Kamu menuduh orang lain tidak suci padahal diri sendiri sudah ternoda! Sungguh tidak tahu malu!" Bram akhirnya bisa melampiaskan emosinya yang selama ini dia tahan.


"Kau! Berani sekali kau Bram! Apa...?" Ucapan Rachel terpotong.

__ADS_1


"Apa? Kamu mau mengancamku? Ayah dan ibuku sudah bebas! Jadi kamu tidak usah mengancamku lagi!" Rachel terkejut. Dia mengirim pesan kepada orang yang diminta menjaga orang tua Bram tetapi tidak ada balasan. Sudah bisa dipastikan bahwa mereka telah terungkap. Rachel mengepal tangannya kuat. Satu rencananya telah gagal.


"Nona Rachel, apa benar yang dikatakan Tuan Bram bahwa anda menyandera orang tuanya?" Tiba-tiba seorang wartawan bertanya. Rachel tidak menjawab. Wanita itu langsung mengalihkan dengan isu lainnya.


"Mungkin benar Nyonya Muda Winata itu masih suci tetapi tetap saja tidak bermoral! Sudah bersuami tetapi masih bertemu dengan pria lain. Bukan begitu Tuan Bram?" Rachel balik memojokkan Bram. Yusuf hanya diam dan menikmati pertunjukkan.


"Kau memang tidak menyerah! Betul! Aku memang bertemu dengan Cicit. Ketika kami bertemu, dia tidak sendiri. Ada Tuan Joni yang menemani. Tuan Joni duduk tidak jauh dari posisi kami duduk. Aku bertemu Cicit untuk meminta maaf secara langsung atas kejadian masa lalu. Hanya itu saja! Jika tidak percaya, di sana ada Tuan Joni, silakan kalian konfirmasi kebenarannya!" Joni langsung mengambil mikrofon dan mengonfirmasi kebenarannya.


"Apa yang dikatakan Tuan Bram benar adanya! Tuan Yusuf juga sudah tahu kalau hari itu Nyonya Cicit akan bertemu dengan Tuan Bram. Karena tuan muda tidak bisa menemani nyonya maka saya yang diminta untuk menemani." Rachel makin geram.


"O ya ini ada rekaman CCTV yang menunjukkan bahwa saya juga berada di sana saat itu!" Joni memutar rekaman CCTV. Semua wartawan percaya. Itu terlihat dari kepala mereka yang manggut-manggut.


"Meski begitu tetap saja istri Tuan Muda Yusuf itu tidak bisa bersikap sopan! Dia mengusir saya dari rumah!" Rachel masih melakukan perlawanan.


"Sepertinya kamu memang tidak pernah menyerah ya! Saya akan katakan dengan tegas bahwa yang mengusir Rachel dari rumah bukan istri saya tetapi saya sendiri! Saya punya bukti rekaman videonya!" Mata Rachel langsung melotot.


Tidak mungkin! Bukankah di teras tidak ada CCTV? Rachel.


Di layar sudah terlihat gambar rekaman kejadian pagi itu. Semua orang melihat bagaimana Rachel menghina nyonya rumah. Sudah sepantasnya jika tuan rumah mengusir tamu yang tidak sopan. Wajah Rachel langsung merah padam melihat tampilan video itu. Rasa malu sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Semua sudah terbongkar.


"Nona Rachel, apa sebenarnya motif dan tujuan anda melakukan hal itu?" Seorang wartawan bertanya kembali.


"Kamu tidak perlu menjawab. Akan ku katakan dengan tegas sekali lagi. Baik dulu, sekarang atau di masa depan saya tidak pernah menyukai kamu, Rachel!" Semua wartawan terkejut dengan pernyataan Yusuf. Sebuah penolakan terang-terangan.


"Sepertinya kamu bangga sekali memiliki istri seorang Citra Srikandi Wirabuana. Katamu istrimu diculik? Benar diculik atau dia kabur ke pelukan lelaki lain? Kasihan!" Mata Rachel menunjuk ke arah pintu di mana Jordan Vincent berdiri bersama seorang wanita. Rachel tersenyum senang. Akhirnya dia dapat memukul balik Yusuf.


Semua mata tertuju ke pasangan yang baru datang. Jordan menggandeng wanita itu menuju tempat dimana Rachel berdiri. Dengan senyum bangga dia berjalan.


"Selamat malam semua! Perkenalkan ini istri saya, Citra Srikandi Wirabuana!" wanita di samping Jordan tersenyum dan melambaikan tangan. Semua wartawan mengabadikan mereka seolah tidak mau ketinggalan momen.

__ADS_1


"Eh, ada Tuan Yusuf! Aku tidak bermaksud pamer! Tapi mau bagaimana lagi, aku lebih tampan darimu sampai-sampai istrimu saja datang sendiri kepadaku!" Jordan mengejek Yusuf.


"Sepertinya kau sangat senang dengan wanita itu! Silakan saja kamu ambil! Aku tidak peduli!" Yusuf tidak peduli dengan pasangan itu. Hal itu malah membuat Rachel senang. Wanita itu mengira Yusuf sudah membenci Cicit.


"Lihat kan! Istri yang sudah kamu banggakan bahkan pergi ke pelukan pria lain!" Rachel mengompori.


"Sepertinya kalian salah sangka! Aku mengatakan aku tidak peduli dengan wanita itu bukan tidak peduli dengan istriku! Sampai saat ini istriku masih menjadi wanita terbaik bagiku."


"Apanya yang terbaik? Istri sudah selingkuh masih dikatakan yang terbaik. Apa otakmu sudah rusak?" Para wartawan juga mengamini perkataan Rachel. Mereka bingung dengan logika berpikir Yusuf.


"Hei, Tuan Jordan! Aku tidak tahu siapa perempuan yang kau gandeng itu. Yang pasti itu bukan istriku! Tubuh istriku tidak sependek itu, badannya tidak kurus, dan sangat berisi. Wanita itu bukan istriku karena istriku ada di sini! Keluarlah sayang!" Yusuf memanggil Cicit.


Seorang wanita berdiri di pintu masuk ruang konferensi. Yusuf turun dari panggung dan menjemput wanita itu. Kini kedua pasangan itu saling berhadapan. Semua orang bingung karena melihat ada 2 Cicit di sana.


"Kok ada dua?!" ucap seorang wartawan. Rachel juga jadi bingung dengan kehadiran 2 orang dengan wajah sama.


"Kenapa Rachel sepertinya kamu sangat terkejut?" Cicit tersenyum kecil sambil menatap wajah Rachel yang kebingungan.


"Hai, Bram! Kamu sudah selesai di sini! Sebaiknya kamu pergi temui keluargamu!" Bram langsung pergi dari sana menuju kamar keluarganya tinggal.


Tidak hanya Rachel, Jordan Vincent juga kebingungan. Pria itu segera melepas tangan wanita yang digandengnya.


"Si... Siapa kamu?" Jordan bertanya kepada wanita yang digandengnya. Dia mempercayai Yusuf saat ini. Karena sedari tadi Yusuf tidak melakukan perlawanan yang berarti.


"Aku Citra! Citra Wulandari! Gadis yang pernah kau culik, lalu kau nodai dan campakkan begitu saja! Apa kau masih ingat dengan wajah ini?" Gadis itu membuka topengnya. Semua orang terkejut termasuk Jordan sendiri.


"Kau... Kau... Bukannya kau sudah mati?" Tubuh Jordan gemetar seperti sedang melihat hantu.


"Mati? Mungkin saja! Jika bukan karena pertolongan Tuhan mungkin aku sudah mati. Nyatanya aku masih hidup! Ini saatnya untuk kematianmu, Jordan!"

__ADS_1


Jordan berlari dari ruangan konferensi. Citra Wulandari juga mengikutinya. Kini tinggal Rachel sendiri disitu.


Kira-kira apa yang akan dilakukan Rachel ya? Ikuti terus ya!


__ADS_2