
Malam hari semua anggota keluarga berkumpul di ruang makan untuk makan malam. Pengantin baru datang terakhir. Terlihat Yusuf menggenggam tangan Cicit dengan begitu mesra. Semua yang melihat jadi iri. Mama Aiu yang melihat kemesraan mereka jadi jahil.
"Duh yang pengantin baru! Auranya beda banget! Cup, kamu udah buka segel belum?" Mama Aiu bicara terang-terangan, membuat yang mendengar jadi terbelalak.
Apa-apaan mamanya Si Ucup ini?! ngomong gak pake filter! Bima.
"Udah dong ma!" Yusuf menjawab dengan mantap dan sambil tersenyum lebar, membuat yang mendengar terbelalak lagi.
Apa-apaan keluarga ini? Ngomongnya pada nyablak! Bima.
Sementara itu wajah Cicit sudah memerah karena malu. Sepertinya dia harus terbiasa dengan keluarga Yusuf yang bicara ceplas-ceplos.
"Joni mana ma?" Yusuf sejak datang tidak melihat keberadaan Joni.
"Saya disini tuan muda!" Joni menjawab dari arah belakang Yusuf.
"Astaghfirullah, kamu ngagetin aja! Saya pikir ada jelangkung! Tau-tau nongol gitu aja! Kamu gak pergi ke sana?"
"Sebentar lagi tuan, setelah makan malam!"
"Oo, setelah ini jangan pergi dulu! Saya ada urusan sama kamu!"
"Baik, tuan!"
Semua orang mulai makan. Bima melirik ke arah Cicit, tampak Yusuf dengan penuh perhatian menyuapi Cicit dan begitu juga sebaliknya. Dalam hati merasa senang karena Yusuf begitu perhatian tapi juga merasa sedih karena anak gadis yang sering bermanja padanya sudah tidak bisa lagi begitu. Laras yang melihat Bima langsung mengalihkan perhatiannya. Laras memegang wajah Bima dan memutar pandangannya agar melihat padanya.
"Sini, aku suapin! Laras sudah siap dengan sendok berisi makanan di tangannya. Tentu saja Bima sangat senang dengan perlakuan Laras. Bima segera membuka mulutnya. Sendok di tangan Laras langsung mendarat sempurna di dalam mulut Bima. Andre yang melihat Bima disuapin juga tidak mau kalah. Dia mulai bermanja-manja pada Aiu.
"Aiu sayang! Suapi mas dong!" Aiu melihat sekitar tampak pasutri saling menyuapi. Aiu mengerti keinginan suaminya. Wanita itu juga mulai ikut menyuapi Andre. Sekarang tinggal para jomblo yang meringis.
Cakra melihat ke sekeliling semua pasutri saling suap-suapan. Dilihatnya Arsha juga asik dengan istrinya. Begitu juga dengan Shaka yang asik dengan anak dan istrinya. Disitu hanya tinggal dirinya dan Andi yang masih jomblo.
"Di, kamu suapi aku dong!" pinta Cakra dengan memelas.
"Kamu itu kalau iri jangan jadikan aku sebagai pelampiasan! Aku gak mau! Nanti dikira jeruk makan jeruk!" Andi menolak.
"Nasib jomblo gini amat yak! Ini juga kenapa para senior jadi rame-rame menindas jomblo sih?"
"Jangan salahkan mereka! Salah kita kenapa belum punya pasangan?"
"Kamu benar Di! Kenapa sih susah banget cari istri?" Cakra lagi-lagi mengeluh.
"Sebenarnya gak susah sih cuma kamu aja yang kebanyakan kriteria. Mana ada cewek yang semuanya harus seperti ibu atau kakakmu! Mau sampai botak bejengger juga gak bakal ada!" Andi menyindir Cakra.
"Habis mau gimana lagi cuma mereka berdua yang terlihat sempurna di mataku! Cewek jaman sekarang matrenya gak ketulungan udah gitu manja banget!"
"Pasti ada kok! Kita aja yang nyarinya harus ekstra!"
"Benar juga kamu! Kapan-kapan kita cari barengan yuk!"
"Boleh! Habis ini ya!"
Setelah selesai makan, sesuai rencana, Cakra dan Andi ijin kepada orang tua mereka untuk pergi jalan-jalan. Kecuali dua orang itu, semua masih berada di tempatnya.
"Jon, sebelum kamu pergi, ada perempuan yang mau saya kenalkan sama kamu!" Joni terkejut dengan perkataan Yusuf.
"Maaf bos! Bukankah kita sudah sepakat kalau tidak akan membahas hal ini lagi! Lagi pula saya sudah pernah bilang kalau tidak ingin menikah lagi!" Joni mulai geram karena Yusuf mengungkit hal yang tidak disukainya.
__ADS_1
"Kamu jangan emosi dulu dong! Ini perempuan cantik banget! Pas buat kamu! Dia juga orangnya setia sama kayak kamu! Kalian pasti cocok!" Yusuf memberi gambaran tentang wanita itu.
"Maaf bos! Terima kasih! Tetapi buat saya Rania tak kan tergantikan! Saya permisi!" Joni langsung berdiri dari kursinya. Pria itu sudah melangkah menuju pintu.
"Kamu yakin, jon! Gak mau lihat dulu wanita yang mau ketemu sama kamu ini! Dia udah ada disini lho! Nanti kamu nyesel lho!" Ketika Joni hendak pergi sebenarnya dari pintu lainnya sudah berdiri seorang wanita cantik. Wanita cantik yang akan meluluhlantakkan hati Joni.
"Tidak bos! Sekali lagi saya tegaskan bahwa cinta saya hanya untuk Rania saja!" Joni pun melangkahkan kakinya lagi. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara wanita yang sangat dikenalnya. Tapi dirinya belum sadar. Joni mengira itu adalah ulah Yusuf. Joni pun mulai kesal.
"Yusuf Mahardika Winata, saya peringatkan kamu, jangan main-main denganku! Apa kamu pikir dengan meniru suara Rania akan menghentikanku!" Joni bicara dengan nada keras dan tinggi.
"Siapa juga yang meniru suara Rania? Apa saya pernah bertemu dengan istri kamu? Makanya saya bilang jangan pergi! Kamu lihat dulu ke sini! Jangan marah mulu ngapa?" Joni berpikir tentang ucapan Yusuf. Memang benar Yusuf belum pernah bertemu dengan Rania.
Jadi suara yang barusan itu suara siapa? Kenapa suaranya seperti suara Rania? Joni.
"Kamu itu memang bandel ya! Apa perlu saya kurangi nilai nol bonusmu bulan ini?" Mendengar itu sontak saja Joni langsung berlari ke arah Yusuf dan langsung berlutut.
"Ampun bos! Jangan dikurangi ya!" Joni menunjukkan wajah seimut mungkin agar Yusuf berubah pikiran.
Semenjak kehilangan keluarganya Joni menghabiskan waktunya dengan mengabdi pada Yusuf. Joni berubah jadi pemburu dolar. Dirinya tidak rela jika angka nol dari gaji atau bonusnya berkurang. Makanya Yusuf sering mengancam akan mengurangi bonus atau gaji jika Joni tidak menurut.
Di saat bersamaan wanita cantik itu mendekati Joni.
"Mas Joni!" suara wanita itu terdengar jelas di telinga Joni.
Saat Joni menoleh ke asal suara itu, dia sangat terkejut melihat sosok di hadapannya. Sampai-sampai Joni jatuh ke belakang. Kedua tangannya mengucek kedua matanya. Seolah masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ra... Ra... Rania? Apa betul itu kamu?" Wanita di hadapan Joni mengangguk sambil tersenyum.
Joni melihat ke arah kakinya. Kakinya masih menapak di bumi. Rania mendekati Joni. Rania bersimpuh di hadapan Joni. Tangan Rania membelai wajah Joni. Terasa kehangatan dari sentuhan wanita. Kehangatan yang dirindukannya selama ini.
"Rania istriku!" Joni langsung menghambur memeluk Rania. Air mata Joni tumpah seketika. Tak disangka kalau dirinya masih bisa bertemu orang terkasih.
Suasana menjadi haru. Tak hanya Rania, seorang pria juga mendekati Joni.
"Joni!" Pria tua itu memanggil Joni. Joni menoleh ke arah suara yang memanggilnya lagi. Mata Joni melotot melihat sosok di depannya. Dirinya tidak menyangka akan ada hari dapat bertemu dengannya lagi.
"Pa...pa! Papa!" Joni melepas pelukan Rania dan langsung memeluk papanya. Tak hanya sampai disitu. Kejutan lainnya juga sedang menunggu Joni.
"Mama! Siapa om ini?" Seorang anak kecil menghampiri Rania. Joni yang mendengar suara anak kecil memanggil Rania langsung melihat ke arah anak itu.
Rania menyuruh anak itu untuk duduk di pangkuannya. Anak itu menurutinya.
"Mama pernah bilang kan kalau papa Bintang sedang bertugas demi negara kan?" Anak kecil itu mengangguk.
"Nah sekarang papa sudah pulang! Itu Papa Bintang! Sana peluk papa!" Anak kecil itu langsung berlari ke arah Joni dan memeluknya. Joni juga menyambutnya.
"Papa kemana saja! Bintang kangen sama papa!" Joni tak kuasa menahan air matanya. Joni menggendong Bintang.
"Papa kok nangis sih! Kata mama laki-laki tidak boleh nangis!" Bintang mengelap air mata Joni.
"Ini namanya air mata bahagia! Papa senang bisa ketemu Bintang!" Joni menciumi wajah Bintang.
"Ehem... ehem! Tadi siapa yang bilang gak mau ketemu sama wanita itu?" Yusuf menyindir Joni.
"Ah Si Bos! Kenapa gak bilang langsung sih?"
"Kalau saya jujur apa kamu bisa terima! Dulu saja waktu saya bilang ada kemungkinan keluargamu masih hidup saja kamu gak percaya!" Joni hanya cengengesan.
__ADS_1
"Ya sudah kamu bawa duduk dulu keluargamu! Nanti baru kita bahas!" Joni menuruti perintah Yusuf. Joni membawa keluarganya duduk.
Setelah semua kembali ke posisi. Perbincangan dilanjutkan lagi. Kini Joni yang bertanya kepada papanya.
"Pa! Bagaimana kalian bisa selamat?" Dalam ingatan Joni setelah bom meledak dirinya dan Rania terlempar ke arah yang berlawanan. Joni terlempar ke jalan sedangkan Rania terlempar ke dalam rumah.
"Kami selamat berkat ruang bawah tanah yang kamu buat! Ketika mendengar suara ledakan itu, papa berlari ke depan. Ketika akan sampai tiba-tiba tubuh Rania yang terlontar menabrak papa dengan keras dan membuat kami berdua semakin terlontar ke belakang. Saat punggung papa menabrak tuas, ruang bawah tanah terbuka dan kami masuk ke dalamnya. Keesokan harinya saat Pakdemu datang, papa bisa mendengar suaranya dan berteriak minta tolong. Itulah sebabnya kami bisa selamat." Pak Doni menjelaskan.
"Coba ceritakan kenapa bisa rumah kalian dibom?" Yusuf penasaran. Sebenarnya sudah lama Yusuf ingin tahu tetapi pria yang sudah menjadi suami Cicit itu tak ingin membuat Joni terus mengingat kejadian menyedihkan itu.
"Sebenarnya beberapa hari sebelum kepulangan Mas Joni, ada surat kaleng yang bertuliskan saat suamimu kembali maka itu adalah akhir hidup kalian. Hanya saja saya tidak memedulikan hal itu! Saya pikir itu hanya ulah orang iseng saja. Saat Mas Joni tiba, kami masih berada di teras melepas rindu. Saat itu Mas Joni bilang mendengar suara detikan jam yang tidak biasa. Mas Joni mencari sumber suara itu. Saat ditemukan ternyata sebuah bom waktu. Waktunya hanya tinggal 5 detik lagi. Karena panik, Mas Joni hanya bisa mendorong saya masuk ke dalam rumah. Sisanya seperti yang diceritakan papa!" Rania menceritakan kisah kelam 5 tahun lalu.
"Kenapa kamu gak cerita kalau dapat surat kaleng?" Joni bertanya pada Rania.
"Aku tidak mau mengganggu konsentrasimu dalam pelatihan. Lagi pula aku juga menganggap itu hanya hal iseng belaka. Jadi untuk apa diberitahu." Rania masih menganggap enteng hal itu.
"Sikapmu yang terlalu positif dan cuek itu hampir saja membunuh kita semua! Beruntung Allah masih menyelamatkan kita semua!" Joni merasa kesal dengan sikap Rania yang tak pernah waspada.
"Maaf Mas!" Rania merasa bersalah.
"Sudahlah! Yang penting semua sudah berlalu dan kita dapat bertemu lagi!"
"Apa kalian punya musuh?" Kini Andre yang bertanya.
"Sebenarnya itu hanya hal yang sudah lama berlalu. Saya tidak begitu pasti. Kemungkinan itu dilakukan oleh adik tiriku, Singgih! Keluarga Wardhana hanya punya dua anak, yaitu saya Doni Wardhana dan kakak saya, Dinda Wardhana. Kakak saya menikah dengan Krishna Wirabuana. Dulu, saya sering sakit-sakitan, sehingga membuat kesulitan dalam memimpin perusahaan. Sampai akhirnya saya menyerahkan perusahaan pada Singgih. Setelah itu saya banyak bepergian untuk berobat sampai akhirnya bertemu dengan istri saya. Dia mengatakan bahwa tubuh saya penuh racun. Itulah penyebab saya sering sakit. Dia juga mengatakan bahwa saya sengaja diracuni. Setelah penyelidikan ternyata yang meracuni saya adalah Singgih. Singgih sangat serakah, dia bahkan ingin menguasai semua harta Wardhana. Sebelum itu terjadi, saya mengambil keputusan untuk membekukan harta milikku dan Dinda. Sampai suatu hari mereka menemukanku dan mengancam aka membunuh anak dan istriku jika tidak memberikan harta itu. Akhirnya demi keselamatan keluarga, saya serahkan semuanya. Saya pikir semua sudah berlalu, tak disangka mereka akan berbuat seperti itu!" Pak Doni menceritakan semuanya.
"Saya rasa pemicunya bukan kejadian masa lalu. Semuanya mungkin ada kaitannya dengan istrimu, Jon!" Yusuf mulai menyelidik. Yang lain masih menyimak, termasuk Bima.
"Mas Joni sebenarnya ada hal yang mungkin ku anggap tidak penting tapi mungkin itulah pemicu yang dimaksud Pak Yusuf." Rania mulai merasa bersalah lagi.
"Apa itu, Rania?" Joni jadi penasaran.
"Sebenarnya anak pamanmu, yang bernama Ari pernah melamarku tapi ku tolak karena memang aku tidak suka dan tidak cinta sama dia. Waktu itu aku tidak tahu kalau kamu dan dia bersaudara. Sampai hari pernikahan kita, ketika dia datang dan bersalaman. Aku baru tahu saat kamu mengenalkan dia sebagai sepupumu. Ku pikir semua tidak ada masalah. Ternyata sepupumu itu sangat pendendam. Beberapa hari kemudian saat kamu pergi dia datang dan bertanya padaku kenapa menolaknya? Ku katakan kalau aku tidak punya perasaan padanya. Dia tidak percaya dan menganggap aku perempuan materialistis karena kamu yang merupakan ahli waris keluarga Wardhana. Aku tidak memedulikannya dan langsung mengusirnya. Aku lupa untuk cerita padamu." Rania menceritakan semuanya.
"Ya ampun Rania! Kamu itu beneran deh, sikap cuekmu itu hadeh!" Joni sampai kehabisan kata kepada Rania.
"Maaf, Mas Joni!" Rania menundukkan kepalanya.
"Sudahlah sebaiknya kalian beristirahat saja! Sepertinya masalah ini tidak sesederhana itu!" Yusuf menyudahi perbincangan itu.
"Pa, Malam ini Bintang tidur sama papa ya?" Joni meminta pada Pak Doni. Pakai Doni paham maksud Joni. Dia hanya mengangguk saja.
"Bintang, malam ini bobonya sama kakek dulu ya! Papa sama mama mau baut adik untuk Bintang, boleh kan?" Joni merayu Bintang.
"Bintang mau punya adik! Asiik!" Anak kecil yang polos itu kegirangan.
Setelah makan malam usai mereka kembali ke kamar masing-masing. Joni yang tak sabar langsung menggendong Rania menuju kamar.
"Woi Jon! Sampai segitunya yang gak sabar!" Yusuf meledek Joni.
"Maaf bos! Sudah lima tahun ini puasa!" Joni pergi meninggalkan Yusuf.
"Sri, kita buat anak juga yuk!" Yusuf merayu Cicit.
"Ih kamu mah gak ada capeknya apa?" Cicit berusaha menolak secara halus.
"Kalau urusan begitu mah gak capek dong, sayang!" tanpa aba-aba Cicit langsung dibopong menuju kamar.
__ADS_1