
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sudah terjadi kesibukan di kamar Yusuf. Yusuf mengatakan bahwa pagi ini ada pertemuan penting di kantor. Cicit diminta untuk hadir dalam pertemuan itu. Cicit jadi kelabakan karena tidak mempersiapkan apapun.
"Cup! Kamu itu ya jangan sekali lagi ngomong mendadak kayak gini! Aku bahkan gak punya persiapan apa-apa!" Cicit akhirnya mengomel karena kesal. Yusuf hanya tertawa saja melihat Cicit yang panik sendiri.
"Sriku sayang! Kamu harus tahu ya status kamu sekarang! Kalau sudah masuk Keluarga Winata, maka tidak ada yang tidak mungkin. Tenanglah!" Cicit yang diminta untuk tenang makin tidak bisa tenang.
Tak lama sebuah ketukan pintu terdengar. Yusuf membuka pintu kamar. Tampak satu rombongan orang yang diminta untuk membawa pakaian dan penata rias untuk Cicit. Cicit terbengong melihat kehadiran mereka. Inikah yang dimaksud suaminya tadi.
"Cup! Ini?" Cicit berusaha percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Iya! Aku sudah menyiapkannya untuk kamu! Makanya tadi sudah ku minta kamu untuk tenang!" Cicit merasa malu karena sudah mengomeli Yusuf.
"Maafkan aku ya!" Cicit langsung memeluk Yusuf. Menampilkan wajah tulus meminta maaf. Yusuf yang disuguhkan wajah menggemaskan Cicit hanya bisa membatin saja.
Duh imutnya! Sungguh menggemaskan! Kalau tidak ada orang sudah ku terkam! Yusuf.
"Iya sayang! Kamu gak salah kok! Aku senang saja menjahili kamu dengan buat kamu panik! Habis kamu sangat menggemaskan kalau sedang begitu!" Yusuf mencium kening Cicit.
"Sudah sana! Cepat bersiap! Nanti kita terlambat!" Cicit hanya mengangguk menuruti perintah suaminya.
Tak butuh waktu lama, Cicit sudah bersiap. Cicit memilih setelan setengah formal yang terdiri dari blus dan rok A-line berwarna krem. Bagian luarnya dibalut dengan blazer berwarna salem yang dipadupadankan dengan pashmina modifikasi warna senada. Cicit memilih sepatu warna senada dengan hak yang tidak begitu tinggi. Penataan rias memoles wajah Cicit dengan riasan natural dan soft. Kini Cicit sudah tampil cantik.
Yusuf terpesona melihat penampilan Cicit. Tak menyia-nyiakan waktu, Yusuf langsung mencium bibir Cicit. Cicit terkejut mendapatkan serangan tiba-tiba seperti itu. Untungnya para penata rias sudah pergi. Tak hanya sekali, Yusuf mencium Cicit berkali-kali.
"Cup! Udah dong! Kamu mah gak pernah cukup sekali!" Yusuf hanya tertawa mendengar ucapan istrinya.
"Mau gimana lagi, kamu itu sudah menjadi candu buatku! Gak cukup kalau hanya sekali!" Wajah Cicit merona mendengar kata-kata manis suaminya.
"Sudah yuk! Kita sarapan dulu! Habis itu langsung berangkat!" Yusuf menggandeng tangan Cicit menuju ruang makan. Semuanya sudah menunggu.
Sejak Cicit masuk ruangan, Bima selalu memperhatikannya. Pagi ini adalah terakhir kalinya Bima bisa melihat Cicit, putri kesayangannya. Ada perasaan lega di dirinya karena telah menyerahkan putrinya kepada orang yang tepat. Tetapi tetap saja rasa rindu selalu menyeruak. Selama 30 tahun tidak pernah terpisah dan kini waktunya telah tiba. Bima harus berbesar hati untuk itu.
Setelah selesai makan, Cicit berpamitan kepada keluarganya. Suasana haru menyelimuti ruang makan. Laras memeluk putrinya dengan erat, menyalurkan semua rasa sayang yang dimilikinya. Begitu juga dengan Bima.
"Cicit sayang! Sekarang kamu sudah menikah! Patuhlah pada suamimu dan jadilah istri dan ibu yang baik! Jangan mengedepankan rasa egois dan keras kepalamu! Pikirkan dengan baik setiap ucapan suamimu! Jika dia macam-macam denganmu, jangan segan-segan untuk menghajarnya!" Pesan terakhir Bima membuat Yusuf bergidik ngeri.
"Cup! Tolong kamu bahagiakan dan jaga Cicit dengan baik! Jika saya dengar kamu menyakiti Cicit, saya tidak segan-segan menghajarmu dan membawa Cicit pergi selamanya!"
"Ayah Bima tenang saja! Lelaki di Keluarga Winata itu sudah distempel Bucin jadi tidak ada yang namanya kedua, ketiga, dan seterusnya!" Yusuf meyakinkan diri.
"Pegang kata-katamu!"
"Siap jenderal!" Yusuf melakukan sikap hormat kepada Bima. Bima bisa melihat ketulusan dan keseriusan dalam setiap omongan Yusuf.
Kamu memang lelaki yang tepat untuk Cicit. Sejak pertemuan pertama kamu tidak pernah berubah. Semoga kalian selalu bahagia. Bima.
Joni juga berpamitan pada ayah, istri, dan anaknya. Sementara waktu, mereka akan tinggal bersama Andre. Karena Andre masih ingin berlibur maka Keluarga Joni juga harus mengikuti keinginan Andre.
Sebenarnya sejak tadi Cicit penasaran dengan pertemuan yang akan dihadirinya nanti. Wanita berhijab itu khawatir akan mengganggu jalannya pertemuan jika tidak tahu pertemuan yang dimaksud.
"Cup! Sebenarnya ada pertemuan apa sampai-sampai aku harus hadir? Apa kehadiranku nanti malah akan mrngganggu pertemuan?"
"Sri sayang! Pertemuan kali ini sangat penting. Kamu punya peranan penting di sana!"
"Peranan penting?" Cicit makin penasaran.
__ADS_1
"Sudahlah! Nanti kamu juga tahu!" Cicit akhirnya diam tidak bertanya lagi.
Perjalanan memakan waktu hampir 2 jam. Saat sampai di kantor, Cicit merasa heran karena sangat sepi.
"Cup, karyawan kamu pada kemana? Kok sepi begini?" Yusuf hanya tersenyum saja.
Yusuf segera menggandeng tangan Cicit. Mereka memasuki gedung. Tak lupa setelah masuk Joni langsung mengunci gedung dari dalam agar tidak ada pengganggu. Joni juga mengirim pesan kepada orang di aula bahwa target sudah masuk. Mereka harus segera bersiap.
Cicit dibawa Yusuf menuju sebuah ruangan. Saat Joni membuka pintu tampak semua karyawan sudah berada disana dengan barisan rapi. Saat melangkah masuk, semua karyawan menyambut Cicit dengan senyuman.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya Winata!" Cicit sangat terkejut dengan sambutan para karyawan. Cicit memasang senyum lebar untuk membalas mereka. Saat menuju podium, Cicit tertawa saat melihat spanduk yang dipasang di belakang podium. Di spanduk itu bertuliskan, "Selamat untuk Bapak Yusuf Mahardika Winata sudah melepas statusnya sebagai Bujang Lapuk!"
"Karyawan kamu sangat perhatian ya!" Cicit berbisik sambil tertawa kecil. Yusuf hanya tertawa saja.
Kini mereka berdua sudah berada di podium. Semua karyawan sudah bersiap mendengarkan sambutan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" Semua karyawan menjawab salam Yusuf. Kemudian kembali hening.
"Terima kasih atas kehadiran kalian pagi ini! Terima kasih juga atas ucapan kalian di spanduk ini! Saya sangat senang menerimanya! Pada kesempatan kali ini, saya ingin memperkenalkan istri yang baru saja saya nikahi. Gadis yang selama ini saya cari dan membuat saya menjadi bujang lapuk selama 15 tahun ini. Citra Srikandi Wirabuana. Kalian harus ingat, inilah Nyonya Winata! Dimanapun kalian melihatnya harus menyapa dan menjaga dan melindunginya! Apa kalian paham?"
"Paham bos!" Semua menjawab dengan kompak.
Cicit merasa terharu dengan pemandangan di depannya. Betapa bangganya Cicit terhadap para karyawan suaminya yang begitu perhatian, peduli, dan penuh integritas. Kini giliran Cicit yang menyampaikan sambutan.
"Perkenalkan saya Cicit Srikandi Wirabuana! Kalian bisa memanggil saya dengan Citra atau Cicit! Saya mohon bantuan dan kerja sama dari kalian semua untuk lebih memajukan perusahaan ke depannya! Terima kasih!" Cicit mengakhiri sambutan singkatnya dengan senyuman. Semua karyawan terpana dengan senyuman manis Cicit. Tiba-tiba saja...
"Sudah cukup kalian memandangi wajah istri saya! Dia ini milik saya!" Tanpa segan Yusuf mencium kening Cicit di hadapan semua orang. Semua yang melihat langsung riuh dan bertepuk tangan. Sementara Cicit merasa sangat malu dan juga sangat bahagia diperlakukan seperti itu. Wanita berhijab itu langsung menyembunyikan wajahnya di bahu Yusuf. Cicit tidak berani menampakkan wajahnya.
"Baiklah! Pertemuan sudah selesai! Ada coffe break untuk kalian semua! Jika sudah selesai langsung kembali ke posisi masing-masing! Selamat menikmati!" Joni membawa Yusuf dan Cicit keluar dari aula. Para karyawan langsung menyerbu meja prasmanan yang telah disiapkan.
"Ya Ampun! Nyonya baru kita cantik banget! Pantesan aja Si Bos rela jadi bujang lapuk demi menunggu nyonya!" Karyawan A mulai pembicaraan.
"Iya bener! Sudah cantik, baik, murah senyum lagi! Bener-bener beruntung banget Pak Yusuf!" Karyawan B menimpali.
"Eh, dengar-dengar nyonya itu anak jenderal lho!" Karyawan C mulai bergosip.
"Iya bener! Aku dapat infonya langsung dari HRD! Katanya nyonya itu melamar untuk jadi guru di rumah singgah milik tuan!" Karyawan D membenarkan.
"Rumah Singgah? Bukannya itu udah kayak rumah hantu bagi para guru yang melamar ya?" Karyawan A penasaran dengan rumah singgah.
"Iya betul! Mba Nisa dari HRD aja sampai pusing karena setiap guru yang melamar tidak ada yang lulus ujian rumah singgah. Terakhir adalah nyonya yang lulus dengan sempurna. Bahkan nih ya! Katanya nyonya berhasil mendisiplinkan anak-anak di sana! Nyonya memang hebat ya!" Karyawan D kembali membenarkan.
"Memang cocok untuk jadi Nyonya Winata! Karakternya sama dengan nyonya besar! Beda banget ya sama ulat gatel itu tuh!" Seorang karyawan di bagian resepsionis ikut bergabung.
"Iya bener banget! Ya ampun kita sampai pusing dibuat kalau itu ulat gatel udah datang! Main nyelonong aja! Udah disuruh ikut prosedur, eh malah sok-sokan bilang kalau dia calon nyonya! Kalau udah gitu, mau gak mau manggil anjing herder punya tuan deh! Baru bisa diurus itu ulat gatel!" Teman seperjuangan di resepsionis turut buka suara.
"Anjing herder? Perasaan tuan gak pernah bawa anjing deh! Karyawan B penasaran.
" Ya ampun! Masa gitu aja gak tahu! Anjing herder tuan itu siapa lagi kalau bukan Si Joni! Si Gemulai yang kalau udah buka mulut kayak petasan! Pedes banget cyin! Si Kamboja itu kan paling anti sama Joni. Kalau dia udah buat ulah ya biar Joni saja yang beresin!" Karyawan resepsionis menjawab rasa penasaran karyawan B.
Kini Cicit dan Yusuf sudah berada di ruangan Presdir.
"Selamat datang Nyonya Presdir!" Yusuf menyambut Cicit.
"Ih kamu apa-apaan sih? Gak usah begitu juga!"
__ADS_1
"Tidak boleh! Mulai sekarang kamu harus selalu ingat kalau kamu sudah menjadi Nyonya Winata! Istri dari Presdir Winata Grup! Yusuf Mahardika Winata! Kamu tidak boleh merasa rendah, atau bersikap biasa saja jika direndahkan orang! Kamu harus menunjukkan bahwa disini kamulah tuannya! Apa kamu mengerti, sayang!" Yusuf memeluk Cicit dengan erat. Wajahnya sudah mendekat. Pria itu hendak mencium Cicit.
"I... iya! Aku mengerti! Akan aku ingat itu! Tapi lepaskan dulu aku!" Cicit berusaha melepaskan diri tapi tidak bisa.
Yusuf tetap memeluk Cicit dan mencium bibirnya. Sekali, dua kali, hingga akhirnya pun Cicit larut dalam ciuman Yusuf. Suara ketukan pintu menghentikan ciuman mereka. Cicit segera duduk di sofa.
"Masuk!" Joni masuk ke dalam ruangan.
"Kamu Jon! Dikirain siapa? Ganggu aja kamu!" Yusuf kesal karena sudah diganggu.
"Aish Si Bos! Gitu aja ngambek! Lagi juga ini di kantor bos! Pamali!"
"Ada perlu apa, Jon?"
"Itu bos! Si Kamboja datang! Katanya dia mau menawarkan kerja sama! Gimana bos?"
"Suruh dia masuk! Saya mau lihat kerja sama seperti apa yang ditawarkan?"
"Bos gak takut dia macam-macam lagi kayak dulu? Dulu Si Bos aja sampai lari!"
"Tenang saja! Kan sudah ada penjaganya!" Yusuf melirik ke arah Cicit. Cicit yang dilirik Yusuf paham maksudnya. Joni segera melaksanakan tugasnya setelah mendapat ijin. Joni membawa masuk Magnolia alias Kamboja ke dalam ruangan. Magnolia yang diberi ijin masuk sangat senang sekali. Kali ini dia akan berusaha untuk menggoda Yusuf.
Saat Magnolia masuk matanya disuguhkan dengan pemandangan tak biasa. Sebenarnya saat Joni keluar ruangan, Cicit ingin berdiri tetapi sepatunya menginjak rok. Keseimbangan Cicit goyah dan hampir jatuh. Beruntung Yusuf dengan sigap berhasil menangkap tubuh Cicit. Entah disengaja atau tidak oleh Yusuf, saat Magnolia masuk, Yusuf sedang mencium bibir Cicit. Magnolia terkejut melihat Yusuf mencium perempuan.
Yusuf yang terkejut dengan kehadiran orang di hadapannya, langsung mengakhiri ciumannya. Wajah Cicit merona karena ciuman itu. Yusuf menggiring Cicit untuk duduk di sofa. Pria itu juga duduk di sampingnya.
"Ada perlu apa kamu kemari?" Sangat to the point dan tanpa basa-basi. Bahkan perkataan maaf atas ciuman yang dilakukan di depan Magnolia saja tidak ada. Cicit benar-benar takjub dengan sikap dingin suaminya.
"Siapa dia?" Magnolia sangat penasaran dengan perempuan yang dicium Yusuf barusan.
Sialan! Siapa perempuan ini! Berani-beraninya mencium Yusufku! Magnolia.
"Dia adalah istriku! Nyonya Winata! Citra Srikandi Wirabuana!" Perkataan Yusuf sontak membuat Magnolia tersedak.
"Uhuk... uhuk! Istri? Sejak kapan kamu menikah? Tapi tidak ada kabar pernikahanmu?" Magnolia masih terbatuk.
Sialan! Aku keduluan! Aku pasti akan merebutnya! Magnolia.
"Memang belum diberitakan. Tapi akan segera diumumkan!" Cicit yang melihat gelagat tidak baik dari Magnolia segera memainkan perannya.
Cicit menyandarkan kepalanya di bahu Yusuf. Tangannya menggenggam tangan Yusuf. Cicit bersikap manja pada Yusuf. Yusuf yang diberikan sikap seperti itu tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Pria itu sengaja mencium tangan Cicit untuk menunjukkan cintanya.
Magnolia yang terbakar cemburu langsung membuak blazernya. Tampak pakaian dalamnya tercetak di blus tipis yang dikenakannya. Melihat hal itu sontak saja Cicit langsung memalingkan wajah Yusuf ke hadapannya. Kemudian langsung mencium bibir Yusuf.
"Aku ada di sini! Jadi lihat aku saja!" Yusuf yang mendengar kata-kata itu seperti terhipnotis saja. Yusuf masih menikmati momen itu tanpa mempedulikan Magnolia lagi. Cicit memberi isyarat kepada Joni untuk membawa Magnolia pergi dan jangan biarkan seorang pun masuk untuk 2 jam ke depan.
Joni mengerti maksud isyarat Cicit. Lelaki gemulai itu segera menarik tangan Magnolia dan membawa blazernya sekalian keluar ruangan. Magnolia tidak terima dirinya diseret begitu saja.
"Bagaimana dengan kerja samanya?"
"Tenang saja itu akan diurus nanti! Sekarang yei pulang aja ya! Si Bos lagi repot!" Joni langsung mendorong Magnolia ke dalam lift dan melempar blazernya ke arah wajahnya.
Cicit memang berhasil menunjukkan taringnya di hadapan Magnolia. Tetapi hal itu harus dibayar mahal karena sudah membangkitkan hasrat binatang buas. Yusuf yang dipancing tentu saja tidak menolak. Yusuf yang sudah naik hasratnya membawa Cicit ke kamar di sebelah ruang direktur. Mereka menghabiskan waktu dengan olahraga pagi itu.
Magnolia yang diusir dari ruangan sangat marah. Apalagi saat mengingat Cicit yang memprovokasinya. Gadis itu betul-betul sangat marah. Dia tidak terima Yusuf telah menikah. Impiannya untuk menjadi Nyonya Winata dan mendapatkan hartanya sirna sudah. Magnolia harus segera memberitahu kakaknya perihal pernikahan itu. Setahu gadis itu, kakaknya juga sudah berusaha melamar cucu keluarga Dinata tetapi ditolak. Kini mereka harus memikirkan cara lain untuk menghancurkan Keluarga Dinata.
__ADS_1