BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 18. Lamaran 2


__ADS_3

"Ooo... ternyata ini orang yang keberatan dengan rencana saya!" sontak saja Yusuf terkejut mendengar suara orang yang sejak sejam lalu dihubunginya tapi tidak tersambung ada disini.


"Ma...ma?!" Yusuf yang masih terkejut perlahan beranjak dari kursinya. Kedua tangannya mengucek-ngucek matanya. Memastikan bahwa dirinya tidak salah lihat. Semua orang yang berada di sana menahan tawa melihat tingkah Yusuf.


"Ini beneran mama?" Yusuf masih tidak percaya.


"Apa sekarang kamu percaya?" Mama Aiu menjewer telinga Yusuf. Yusuf mengaduh kesakitan. Aiu melepas jewerannya.


"Iya ma... iya! Yusuf percaya! Sakit ma!" Yusuf memegangi bekas jeweran Aiu tadi.


"Ma, mama ke sini mau bantu Yusuf kan untuk merebut kembali Sri?! Bilang ke papanya Sri, ma! Kalau Ucup ini lebih cocok sama Sri, ma! ya ma, ya?" Aiu hanya mengusap wajahnya kasar. Ternyata anaknya ini masih belum sadar. Aiu memandang Andre memintanya untuk menyadarkan Yusuf. Andre masih menahan tawanya. Andre maju menghampiri Yusuf lalu menjitak kepalanya dengan keras.


"Aww! Sakit pa! Papa apa-apaan sih?" Yusuf tidak terima kalau dijitak.


"Kamu itu kalau jatuh cinta jangan sampai bodoh kenapa? Masih belum sadar? Apa papa minta kakek saja untuk membatalkan perjodohan ini?" Andre terpaksa mengancam Yusuf untuk membuatnya sadar. Yusuf perlahan mulai mencerna perkataan Andre.


"Jadi maksud papa, orang yang akan dijodohkan dengan Cicit adalah Ucup?" Andre hanya mengangguk.


"Beneran pa? Seriusan?" Yusuf masih tidak percaya.


"Iya! Apa mau papa jitak lagi biar kamu percaya?" Andre hanya bercanda saja.


"Jangan dong pa! Masa udah ganteng gini ada benjolnya, hehehe!" Yusuf cengar-cengir.


"Tunggu sebentar! Itu artinya mama sama papa ngerjain Yusuf gitu?" Mama Aiu dan Papa Andre mengangguk dengan mantap.


"Papa sama mama kok jahat banget sih! Ini berarti Si Joni juga sudah tahu?" Pasangan suami istri itu juga mengangguk.


"Joniiiii! Bonus bulan ini dipotong!" Yusuf sangat kesal karena dikhianati Joni.


"Maaf bos! Jangan dipotong bos! Eike kan cuma ikut perintah nyonya besar! Ya bos ya?! Lagian kalau gak gitu kan gak seru, bos! Cinta itu harus ada rintangannya!" Joni merayu Yusuf sambil membela diri.


"Kalau bos gak mau gak apa-apa! Besok eike minta pindah ke cabang aja! Gak mau lagi jadi penjaganya bos dari Si Kamboja itu!" Kini giliran Joni yang merajuk.


"Jangan dong, Jon! Gitu aja ngambek! Iya... iya! Gak jadi dipotong bonusmu!" Yusuf akhirnya mengalah.


"Nah gitu dong, bos! Joni mengacungkan jempolnya.


Sekarang Yusuf dengan pedenya menghampiri Bima. Dia ingin mengembalikan ejekan Bima tadi.

__ADS_1


" Pak Bi-ma! Hehehe! Calon mantu bapak itu ganteng banget ya, pak! Kan bapak lebih senang, bukan! Hehehe! Makasih ya pak!" Yusuf memeluk Bima.


"Ih kamu ini! Apa-apaan sih pakai peluk-peluk segala! Minggir sana! Jangan sampai saya berubah pikiran ya!" Mendengar hal itu Yusuf langsung berhenti mengerjai calon mertuanya.


"Sudah! Sudah! Jangan bercanda lagi! Sekarang kita duduk dulu untuk membahas kelanjutannya!" Pak Surya menengahi mereka. Akhirnya mereka duduk. Suasana kembali tenang.


Laras menuju kamar Cicit untuk membawanya keluar. Cicit digandeng saat berjalan karena matanya ditutup kain. Itu merupakan ide Yusuf. Cicit duduk di samping Bima.


"Bu, apa sudah boleh buka penutup matanya?"


"Belum nak! Calonmu ingin bertanya padamu. Kakek akan mewakilinya. Kamu jawablah dengan jujur!" Cicit mengangguk paham.


"Cit, ini adalah calon jodohmu. Namanya Yusma! Apa kamu bersedia menikah dengannya?" tanya Pak Surya.


"Maafkan Cicit kek! Jujur, Cicit tidak bisa menerima perjodohan ini. Cicit mencintai Ucup, kek! Mungkin dia tidak sekaya calon yang kakek bawa, tapi buat Cicit apa yang ada di dirinya sudah cukup! Lagipula Ucup adalah Ucup yang Cicit cari selama ini. Tidak mungkin Cicit berpaling dari orang yang sudah Cicit cintai selama 15 tahun ini!" Air mata Cicit perlahan membasahi pipi.


"Apa keputusanmu sudah bulat untuk menolak perjodohan ini?" Cicit mengangguk.


"Begini saja! Sebelum kamu memutuskan ada baiknya kamu melihat dulu calonmu! Bukalah penutup matamu dan lihatlah calonmu! Dia ada di hadapanmu sekarang!" Cicit membuka penutup matanya. Saat membuka mata, gadis itu terkejut dan masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pria tampan yang sudah mengisi hatinya selama 15 tahun ada di hadapannya. Cicit menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan kepada kedua orang tuanya. Laras dan Bima mengangguk.


Yusuf berlutut di hadapan Cicit. Tangan kanannya memegang kotak cincin yang sudah terbuka. Sebuah cincin berlian dengan model simpel menanti untuk disematkan.


"Ya! Aku mau menikah denganmu!" Yusuf menyerahkan cincin itu kepada Bima untuk disematkan di jari manis Cicit. Bima menyematkan cincin di jari Cicit.


"Eit! Tunggu dulu! Jangan kesenangan dulu kamu! Besok kamu harus tetap ikut ujian. Kamu harus mengalahkan The Brothers Squad! Itu saudara-saudaranya Cicit! Masih ada dua lagi yang belum datang. Mungkin besok sudah bergabung. Kamu harus mengalahkan mereka jika ingin diakui!"


"Ya Allah, pak! Saya kira bapak sudah lupa! Baiklah! Saya akan ikuti kemauan bapak! Saya pasti menang!" Yusuf sangat pede saat mengatakannya.


"Bukan cuma mereka yang harus kamu lawan! Kamu juga harus mengalahkan Para Mantans Squad! Mereka ada 30 orang. Mereka adalah orang-orang yang berhasil dikalahkan Cicit dalam perjodohan waktu itu!" Jendral Krishna tersenyum sambil menyeringai.


"What?!! Siapa taku!?! Saya pasti menang!" Yusuf masih pede.


"Besok kamu akan saya lepas di hutan di belakang rumah ini! Semoga kamu tidak tersesat seperti waktu itu. Tugasmu hanya mengalahkan mereka dalam permainan besok. Targetmu ada 36 orang. Kamu boleh melakukan cara apapun untuk mengalahkan mereka. Kamu akan dilengkapi dengan senjata airsoft gun. Kamu bisa memilih senjatanya besok. Selain senjata yang disebutkan tidak diperkenankan. Apa kamu mengerti?" Bima ingin melihat kesiapan Yusuf.


"Siap! Saya mengerti! Untuk senjata, saya bisa pakai punya sendiri. Kebetulan Joni sudah mempersiapkan. Boleh saya minta tambah kuota orang, hanya satu saja boleh?" Yusuf memohon pada Bima.


"Apa kamu takut?"


"Bukan saya takut! Saya cuma iseng aja, pak! Saya cuma minta Joni untuk menemani saja. Dia tidak akan melakukan apapun. Dia hanya akan menjadi mata saya saja. Bagaimana?"

__ADS_1


"Baiklah! Kalau Joni ya bolehlah!"


Keesokan paginya setelah selesai sarapan. Yusuf datang bersama keluarganya. Yusuf mengenakan celana panjang lapangan, dengan kaus lengan pendek pas badan. Tak lupa topi hitam kesayangannya. Yusuf tampak gagah dengan setelan itu. Tak lupa dia juga membawa peralatan perangnya. Joni juga mengenakan pakaian yang sama sampai-sampai membuat Cicit sekeluarga tidak mengenalinya.


"Kamu bukannya mau bawa Joni? Mana dia?" Bima masih belum sadar.


"Lah ini Joni, pak! Masa bapak ngenalin?" Yusuf menunjuk ke arah Joni.


"Yang bener kamu?" Bima masih tidak percaya.


"Jon, ngomong napa? Jangan diem bae!" Yusuf meminta Joni bicara.


"Halo! Calon mertuanya pak bos! Masa lupa sih sama eike!" Bima langsung berjengit karena terkejut.


"Amit-amit jabang bayi! Saya percaya deh!"


Gila Si Joni! Kalau dia gak bersuara gak percaya kalau itu dia! Fisiknya tentara banget! Bima.


"Mana peralatan kamu? Saya periksa dulu!" Yusuf mengeluarkan peralatan airsoft gun dari kotaknya. Bima terkejut melihat senjata yang dikeluarkan Yusuf.


Anjim! Ni anak punya airsoft gun keluaran terbaru. Lengkap lagi! Bima.


Bima memeriksa senjata itu. Tidak ada kecacatan atau kerusakan pada senjata itu.


"Baiklah! Ikuti saya ke belakang!" Yusuf mengekor di belakang Bima. Begitu juga Joni yang mengikuti di belakang Yusuf. Mama Aiu dan Papa Andre tidak ikut ke belakang. Para tetua tetap di ruang tamu sambil memantau dari layar yang sudah disediakan.


Tampak 30-an orang sudah berbaris rapi. Bima mengenalkan 2 saudara Cicit lainnya, yaitu Irwan dan Adam yang merupakan anak dari Arif. Yusuf menyalami mereka.


"Baiklah! Semua kembali ke barisan! Perkenalkan ini Yusuf panggilannya Ucup, calon menantu saya! Yang itu asistennya, Joni! Dia akan ikut untuk menemani saja! Tidak ikut bermain. Target kalian adalah Ucup! Dan target Ucup adalah kalian! Kalian bisa masuk lebih dulu! Lima menit kemudian baru Ucup masuk! Kalau sudah mengerti, Bubar! Jalan!" Bima membubarkan barisan. Brothers squad dan Para Mantans Squad masuk lebih dulu.


Cicit menghampiri Yusuf. Gadis itu membawakan makanan dan minuman dalam tas khusus. Cicit khawatir permainan akan berlangsung lama.


"Ini ku bawakan bakwan dan minuman! Kamu hati-hati ya! Semangat!" Cicit menyemangati Yusuf dengan penuh senyuman. Yusuf bahagia melihat senyuman Cicit.


"Terima kasih, kupu-kupu cantikku!" Bima yang mendengar gombalan Yusuf berdehem dengan keras. Yusuf tidak menghiraukan deheman itu dan terus menggoda Cicit. Lima menit berlalu, Yusuf pamit kepada Cicit.


"Aku pergi dulu! Doakan agar aku membawa kemenangan!"


"Iya, pasti! Semoga Allah selalu melindungi kamu dan memberikan kemenangan padamu!"

__ADS_1


Yusuf beranjak pergi meninggalkan Cicit. Cicit memandangi punggung Yusuf yang perlahan menghilang di kedalaman hutan.


__ADS_2