BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 2. Nona Bakwan


__ADS_3

Seperti biasanya, pagi ini pun sepiring bakwan sudah bertengger di atas meja makan. Sejak kejadian tersesat di hutan, setiap pagi wajib ada bakwan di meja makan. Mama Aiu tentu tidak pernah bosan untuk membuatnya apalagi untuk anak tercinta.


Yusuf memang masih tinggal bersama Mama Aiu dan Papa Andre. Bukan karena Yusuf tidak mampu membeli rumah sendiri hanya saja pemuda itu ingin merawat kedua orang tuanya sendiri. Itu merupakan tanggungjawab anak laki-laki. Lagipula, rumah yang ditempati sekarang adalah peninggalan sang uyut, Pak Hendra. Banyak kenangan yang tertinggal di rumah itu. Kakek Adrian dan Nenek Airin lebih memilih tinggal di villa mereka di pedesaan di Kota B. Biasanya sebulan sekali mereka akan berkunjung ke villa.


Sama seperti pagi-pagi sebelumnya, Joni sudah berada di rumah bosnya. Tentu saja untuk menjemput bosnya. Tak lupa Mama Aiu selalu mengajaknya untuk sarapan.


"Joni, ayo sini! Kita sarapan!" ajak Mama Aiu.


Joni yang diajak pun langsung duduk di meja makan. Joni sudah tak sungkan lagi di rumah itu. Joni bahkan sudah dianggap seperti anak oleh Aiu dan Andre. Apalagi Joni pernah menyelamatkan Yusuf.


"Ya ampun! Bakwan lagi... Bakwan lagi! Mama bos, apa gak bosan tiap hari buat bakwan? Saya heran, kenapa juga Si Bos gak bosan-bosan makan bakwan? Gak pagi, gak siang, gak sore, bakwan mulu!" Joni berceloteh sambil mengunyah bakwan.


"Cerewet! Ngoceh-ngoceh tapi dimakan juga bakwannya!" balas Ucup tak mau kalah.


"Sayang bos kalau gak dimakan! Mama bos kan dah capek buatnya. Lagian masakan Mama Bos kan paling enak! Benar kan Papa Bos?!"


"Benar tuh! Papa aja jatuh cinta sama mamamu karena masakannya enak!" balas Andre.


Mama Aiu hanya tersenyum mendengarnya. Aiu sangat terhibur dengan ocehan-ocehan Joni di pagi hari. Baginya itu adalah obat rindu saat semua masih bisa berkumpul seperti dulu, saat si kembar belum menikah dan punya kehidupan sendiri. Meski terkadang Aiu merasa kesepian tapi apa daya, Si Kembar kini sudah menikah dan harus mengurus rumah tangga mereka.


Terkadang timbul rasa egois di hati Aiu yang ingin memaksa Yusuf untuk segera menikah. Aiu sempat berdiskusi masalah ini dengan Andre. Andre menolak dengan tegas ide untuk menjodohkan Yusuf. Apalagi pesan Pak Hendra masih teringat jelas di benaknya agar membiarkan anak-anak mereka memilih jodohnya sendiri. Andre sangat mengerti kesepian yang dirasakan Aiu tapi baginya memberikan kebebasan kepada Yusuf adalah yang terbaik. "Bersabarlah Ai! Kamu seorang ibu maka doakanlah Yusuf agar cepat bertemu jodohnya!"


"O ya bos! Guru untuk rumah singgah sudah ada. Hari ini dia akan datang hanya saja dia minta untuk bertemu jam 3 sore!"


"Kenapa dia minta jam 3? Bukankah kalau pagi lebih baik?" tanya Ucup.


"Dia baru akan tiba di kota ini jam 8 pagi! Dia minta waktu untuk istirahat dulu! Saya bacakan ya bos profilnya!"


"Namanya Citra Srikandi Wirabuana. Asalnya dari desa di Kota B. Lulusan S1 jurusan pendidikan dari universitas di Kota B dengan predikat cumlaude. Gadis ini juga sudah banyak pengalaman dalam mengajar anak-anak jalanan sewaktu kuliah dulu bos! Ditambah lagi dia bisa ilmu bela diri dan juga memanah! Makanya saya pilih dia!"


"Apa??!! Memanah??" Ucup hampir tersedak setelah mendengar kata memanah.


"Si Bos kenapa sih? Kok kaget begitu?"


"Hmmmm... Baiklah! Kita lihat nanti performanya!"


Apa jangan-jangan...? Meski kemungkinan itu ada tapi belum tentu juga itu dia! Ucup.


"Ayo Jon, kita berangkat! Lah... dia ngunyah lagi! Cepetan, nanti telat!"


"Sabar napa bos! Itu Mama Bos masih nyiapin bekal!"


Bekal sudah siap. Kedua jejaka itu pamit kepada Aiu dan Andre. Rumah kembali sepi.


"Mas, kamu lihat gak ekspresi Yusuf waktu Joni bilang kalau guru itu jago memanah? Sepertinya gadis yang dicarinya selama ini seorang pemanah deh?" Aiu memulai diskusi.


"Bisa jadi! Soalnya ekspresinya sampe kaget begitu! Yang, kayaknya aku pernah dengar deh nama yang tadi disebut Joni!? Tapi dimana ya?" Andre masih mengingat-ingat.


"Dimana mas? Bukan simpenan kamu kan?" wajah Aiu menelisik dalam manik mata Andre.


"Astaghfirullah! Gak lah yang! Cukup kamu seorang aja sayang! Mas lupa dimana pernah dengar nama itu! Nanti kalau sudah ingat mas kasih tau!"


Sementara itu, seorang gadis dengan membawa ransel di punggungnya baru saja turun dari kereta. Gadis bertopi itu segera menuju pintu keluar. Hal yang pertama dicarinya adalah penginapan. Perempuan berkepang itu mengeluarkan ponselnya kemudian mencari penginapan terdekat dengan lokasinya saat ini. Tak perlu waktu lama, penginapan pun didapat. Setelah mandi dan sarapan, gadis itu beristirahat. Alarm disetel pukul 13.00.


Di suatu tempat di Kota B, sepasang suami istri tengah kalut karena hanya menemukan sepucuk surat di kamar putrinyaputrinya pagi ini.

__ADS_1


"Memang benar-benar keturunan ayah dan ibu, kamu nak! Kemampuan menghilang tanpa jejak kamu memang perlu diacungi jempol!" senyum merekah dari wajah pria tua tampan.


"Kamu itu ya, anak hilang masih bisa tersenyum begitu!" omelan khas ibu yang anaknya telah hilang.


"Tapi memang betul kan! Kemampuan anak kita memang hebat! Coba kamu baca suratnya! Dia minta kita untuk tidak mencari! Jadi, biarkan saja dulu dia sendiri!"


Teruntuk ayah dan ibu,


Cicit minta maaf karena pergi dari rumah. Tolong jangan cari Cicit untuk sementara waktu. Cicit butuh waktu untuk menyendiri. Tolong bilang sama kakek, Cicit gak mau dijodohin. Biarkan cicit ketemu sama jodoh cicit sendiri. Cicit pasti akan menjaga diri. Jika sudah tenang Cicit akan menghubungi ayah dan ibu.


Salam sayang dan cinta,


Cicit.


"Bim, dari mana dia tahu kalau mau dijodohkan? Bahkan kita aja belum mengiyakan ide papa dan ayah. Kenapa Cicit bisa tahu?"


"Laras sayang! Coba kamu lihat kamar anakmu ini! Anak itu pasti sudah menyadap percakapan pesan antara ayah dan kamu. Tapi anak gadismu itu hanya fokus pada kata perjodohan saja. Dia tidak baca semua pesan dengan seksama. Rencana ayah kan hanya ingin mengenalkan saja Cicit dengan cucu rekan bisnisnya. Bukan untuk menjodohkan. Jika mereka berkenan lanjut ya silakan jika tidak juga tidak apa-apa!"


"Begitu ya!"


"Ya sudah kita biarkan saja dia sendiri dulu. Kalau kita maksa mencari dengan mengerahkan anak buah, bisa-bisa dia kabur lagi! Nanti pelan-pelan kita cari sendiri. Sebaiknya jangan kasih tau papa dulu! Bilang saja kalau Cicit keluar kota selama beberapa bulan karena pertukaran guru!"


Waktu menunjukkan pukul 14.00. Seorang gadis dengan kemeja flanel dan celana jeans sedang duduk santai di area street food. Gadis dengan rambut dikepang dan bertopi itu sedang menunggu pesanannya yang ketiga. Sebenarnya gadis itu sudah sampai sejak pukul 13.30. Hanya saja karena belum makan dia putuskan untuk mengisi perutnya dulu. Gadis itu memang suka makan. Dua pesanan sebelumnya sudah habis. Sekarang dia sedang menunggu dimsum pesanannya. Setelah sebelumnya memakan crepes dan kue cubit.


Sambil menunggu pesanannya, sesekali dia melihat layar handphonenya. Tampak foto ayah, ibu, dan adiknya di layar itu. Setitik bening air hampir turun dari sudut matanya, tapi ditahannya. Ini adalah keputusanku, tak boleh lagi menyesal. Ucap Cicit dalam hatinya. Tak lama kemudian, pesanannya datang. Wajahnya pun kembali ceria ketika makanan mengisi perutnya.


Waktu menujukkan pukul 14.45. Suara dering telepon terdengar. Cicit menjawab panggilan itu.


"Selamat siang Bu Citra! Apakah sudah sampai di lokasi?" tanya si penelepon.


"Posisi tepatnya dimana? Pakai baju apa?"


"Saya sedang di gerai bakso Mang Ujang! Saya pakai kemeja flanel warna hijau, dengan topi motif army!"


"Ok! Kami akan kesitu!"


Cicit meneruskan makannya. Gadis itu memesan 1 mangkok bakso lagi. "Mang, baksonya enak! saya pesan 1 lagi!"


"Bos, dia lagi makan bakso Mang Ujang!"


"Ya sudah, kita makan juga! Saya sudah lama gak makan bakso Mang Ujang!"


Lima menit kemudian mobil yang ditumpangi Ucup sampai di rumah singgah. Ucup dan Joni langsung ke area street food, tepatnya ke gerai bakso Mang Ujang.


"Nah itu dia bos orangnya!" telunjuk Joni menunjuk ke arah gadis berbaju flanel dan bertopi army.


Saat Yusuf melihat ke arah gadis itu, entah mengapa terasa semilir angin lembut menari di sekelilingnya, seakan menerbangkan berjuta kelopak bunga seolah musim semi baru saja tiba. Perasaannya tiba-tiba kembali ke saat itu, perasaan yang sama seperti 15 tahun yang lalu. Melihat sosok gadis di depannya membuat Yusuf terkenang dengan gadis berkepang yang menyelamatkannya dulu. Tanpa sadar terucap dari bibirnya, "Bakwan?!"


Joni yang mendengar bosnya menyebut kata bakwan jadi bingung. Pria itu menghampiri Cicit.


"Selamat siang Bu Citra!" sapa Joni.


"Selamat Siang! Pak Joni ya!"


"Ya! Ini bos saya yang punya rumah singgah itu!"

__ADS_1


"Perkenalkan nama saya Citra Srikandi Wirabuana! Panggil saya Citra atau Cicit!"


Yusuf sejak tadi hanya berdiri dan senyum sendiri. Pemuda itu masih terbuai dalam kenangannya.


"Maaf pak, nama bapak siapa?"


Yusuf yang masih setengah sadar tidak sadar dengan yang dikatakannya.


"Saya.... Bakwan!"


"Maaf, nama bapak Bakwan?" Cicit menahan tawa.


Joni yang melihat hal itu langsung menginjak kaki Yusuf agar cepat sadar.


"Aduh! Sakit tau, Jon! Ngapain sih pakai injak kaki segala?"


"Biar kamu sadar! Masa kamu bilang nama kamu bakwan! Bikin malu saja!"


"Maaf, Bu Citra! Fokus saya teralihkan sama bakwan! Saya Yusuf Mahardika Winata!"


"Jon, tolong kamu bilang sama Mang Ujang, ini piring-piringnya dibereskan dulu, gak biasanya Mang Ujang numpuk piring kotor! Bu Citra mau pesan apa lagi? Pesan saja nanti biar saya yang bayar!"


"Maaf, pak! Ini semua piring bekas saya makan. Saya belum bayar jadinya belum dibereskan." Citra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Alamak! Ni cewek makannya banyak banget! Imbang sama mama! Ucup.


"Bu Citra lapar atau rakus?" celetuk Joni.


"Lapar dan doyan, Pak Joni! Makanan disini enak-enak! O ya ini biar saya yang bayar aja!" jawab Citra.


"Gak Usah Bu Citra! Biar saya yang bayar semuanya!"


"Ini pesanan saya banyak loh Pak Yusuf! Saya jadi ndak enak hati!"


"Gak apa-apa Bu Citra! Anggap saja ini bagian layanan dari kami karena sudah merepotkan Bu Citra untuk datang kemari!"


"O ya Bu, saya mau tau apa alasan ibu menerima pekerjaan ini! Jarang-jarang lho ada yang mau dengan pekerjaan begini!" tanya Ucup.


"Yang utama karena saya senang mengajar. Apalagi anak-anak jalanan ini kan memang butuh pendampingan dan bimbingan. Yang kedua karena gaji besar dan saya boleh tinggal di rumah singgah. Jadi saya gak perlu sewa rumah atau kost. Yang terakhir karena saya sedang mencari orang!"


"Mencari orang? Kalau boleh tahu siapa? Mungkin nanti bisa dibantu!"


"Tidak perlu Pak Yusuf! Saya bisa cari sendiri! Terima kasih!"


"Baiklah kalau begitu! Kalau sudah selesai mari kita ke rumah singgah! Akan saya perkenalkan dengan anak-anak! Waktunya pas karena jam segini biasanya mereka sudah pada pulang!"


Mereka berjalan menuju rumah singgah. Joni sejak tadi memperhatikan gerak dan bahasa tubuh Citra yang sangat terlatih.


"Bu Citra, maaf sebelumnya! Apa ibu pernah masuk sekolah militer?" Joni sangat penasaran.


"Tidak! Saya hanya senang berolahraga saja!"


"Eh Joni! Kenapa tanya begitu ke Bu Citra?"


"Maaf bos! Soalnya tubuh Bu Citra sangat atletis seperti pernah berlatih di kamp militer!"

__ADS_1


"Begitu ya!? Menarik! Kamu selidiki saja!"


__ADS_2