
Setelah acara reuni itu, Papa Andre dan Mama Aiu tidak pulang ke kediaman Winata. Mereka memilih tinggal di hotel sementara waktu untuk mengurus persiapan resepsi pernikahan. Alasan lainnya adalah memberikan keleluasaan bagi Cicit untuk mengajari pelayan yang membangkang dan menunjukkan padanya who's the boss?!
"Yang! Besok aku minta ijin untuk pergi ke kota sebelah. Aku akan mengendarai mobil sendiri!" Cicit meminta ijin pada suaminya.
"Kenapa harus menyetir sendiri?" Sang suami merasa khawatir.
"Aku hanya tidak ingin merepotkan Pak Bagas juga ingin tahu tentang Si Pengkhianat ini lebih jauh! Jika ada Pak Bagas khawatirnya dia tidak mau bercerita lebih jauh! Tenang saja aku sudah meminta Cakra untuk mengikuti dari kejauhan! Lagipula dia tidak terlalu berbahaya." Cicit meminta suaminya untuk tidak khawatir.
"Baiklah, jika itu keinginanmu! Tapi jika terjadi sesuatu di luar kendali kamu harus segera menghubungiku!" Sang istri mengangguk lalu memeluknya.
"Mama Aiu apa tidak butuh bantuan? Aku sebenarnya malah merasa tidak enak karena membiarkan Mama Aiu bekerja sendirian." Cicit merasa tidak enak hati karena tidak dilibatkan dalam perencanaan resepsi.
"Kamu jangan merasa tidak enak begitu. Sebenarnya mama sudah sejak lama merencanakan hal ini! Bisa dibilang sejak kamu curhat waktu itu! Mama sudah mulai merencanakannya waktu itu. Bahkan untuk gaun yang akan kamu pakai nanti, mama sudah minta Karina untuk mempersiapkannya. Jadi kamu tenang saja ya! Besok juga papa akan mengadakan konferensi pers mengenai hal ini! Tenang saja semua sudah dalam kendali!"
"Kok bisa mama begitu percaya diri kalau semua ini akan terjadi? Apa tidak takut kalau prediksinya gagal?" Cicit penasaran.
"Itu karena insting mama selalu tepat! Mama memang memiliki kemampuan prediksi yang hebat. Meskipun misalnya hanya ada sedikit peluang, mama pasti akan membuatnya terjadi dengan kemampuan yang dimilikinya. Apalagi saat kamu curhat itu mama sudah yakin peluangnya >90%, maka jangan heran jika semuanya bisa berjalan sesuai keinginannya."
"Mama hebat ya!" Cicit sangat kagum dengan ibu mertuanya itu.
"Sama halnya denganmu yang bahkan bisa tahu ada pengkhianat! Kami bahkan tidak mengetahui hal itu jika kamu tidak memberitahu. Beruntungnya kami tidak pernah membawa masalah pekerjaan ke dalam rumah dan bertindak seperti biasa saja. Jika tidak entah berapa banyak yang akan dilaporkannya kepada Si Cuckoo." Yusuf merasa beruntung memiliki istri seperti Cicit.
"Sebenarnya itu tidak sepenuhnya salah pelayan itu. Dia hanya dimanipulasi pikirannya hanya karena sebuah balas budi. Pelayan itu tidak tahu jika selama ini hanya ditipu."
"Maksudmu pelayan itu melakukannya untuk balas budi pada Si Cuckoo?" Yusuf memastikan bahwa yang didengarnya tidak salah.
"Yup! Jika pelayan itu tahu kebenarannya mungkin dia tidak akan pernah melakukan pengkhianatan ini! Jadi ku harap kalian jangan menyalahkannya sepenuhnya! Dia sedang di bawah pengaruh hipnotis Si Cuckoo!"
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Dari sikapnya saat pertama kali bertemu. Sewajarnya untuk pertemuan pertama kali bagi orang yang tidak saling mengenal, tidak akan mengeluarkan sikap antipati! Tetapi pelayan itu menunjukkan sikap begitu! Itu artinya seseorang telah memasukkan sugesti dalam pikirannya, jika dia melihat ada wanita mendekatimu maka wanita itu adalah musuhnya."
"Hmmm... Itu artinya kepergianmu besok itu untuk memecahkan pengaruh hipnotisnya?"
"Wah! Suamiku memang pintar!"
"Baiklah! Aku percaya padamu! Kamu tetap harus waspada!" Yusuf tetap mengingatkan istrinya untuk berhati-hati.
"Siap bos!"
Keesokan paginya, seperti biasa Cicit mempersiapkan kebutuhan suaminya yang akan pergi bekerja. Mulai dari pakaian hingga sarapan Cicit menyiapkannya sendiri. Setelah Yusuf pergi, Cicit memulai aksinya.
Dengan ditemani Pak Im, Cicit pergi ke rumah belakang untuk berkenalan dengan para pelayan. Sesuai dugaan dari sekian banyak pelayan, hanya satu yang menunjukkan reaksi tidak senang dengan keberadaan Cicit. Pelayan itu bernama Mona. Pak Im merasa geram dengan sikap Mona tetapi Nyonya Winata melarangnya untuk bertindak. Pak Im paham maksudnya dan tetap diam di samping nyonyanya.
Setelah acara perkenalan selesai Sang Nyonya meminta pelayan untuk kembali bekerja, kecuali Mona. Pelayan itu diminta untuk tetap berada di tempat.
"Kamu ikut saya sekarang juga! Saya akan memberikan kejutan untukmu!" tanpa basa-basi Cicit meminta pelayan itu untuk ikut dengannya.
"Mau kemana nyonya?" tanya pelayan itu dengan gugup. Mona takut kalau dirinya sudah ketahuan berkhianat.
__ADS_1
"Kamu tahu juga panggil saya nyonya! Saya pikir kamu akan sekurang ajar tuanmu! Kamu tidak perlu tahu! Ikut saja sekarang! Tapi sebelum itu kamu ganti pakaianmu sekarang!" Cicit melepaskan bandana dan apron yang melekat di pakaian pelayan. Pelayan itu pergi berganti pakaian.
"Pak Im, tolong bakar bandana dan apron ini! Nanti ganti dengan yang baru!"
"Siap nyonya!"
Mona sudah berganti pakaian. Cicit memintanya untuk mengikuti dari belakang. Sesampainya di halaman depan, Cicit meminta Mona untuk masuk ke dalam mobil. Wanita berhijab itu memintanya untuk duduk di depan.
"Pakai sabuk pengamanmu kalau tidak ingin celaka!" Cicit sengaja mengeluarkan aura mendominasi yang kuat. Hal itu dilakukan untuk mengintimidasi dan menimbulkan rasa takut di diri Mona agar nantinya lebih mudah untuk mematahkan pengaruh Cuckoo saat kebenarannya terungkap.
Pelayan itu mengikuti perintah nyonyanya. Mona merasakan ada rasa takut yang mulai menjalaninya jika tidak menurutinya. Mesin mobil telah dihidupkan. Cicit mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sebelumnya Cicit sudah menghubungi Cakra untuk bersiap. Cakra sudah berada di posisi saat Cicit keluar dari gerbang rumah. Adik Cicit itu mulai mengikuti dari belakang.
"Kamu sudah berapa lama bekerja di kediaman Winata?" Cicit mulai menginterogasi.
"Kurang lebih 10 tahun!"
"Saya dengar kamu itu pelayan yang paling berdedikasi ya! Bahkan kamu tidak pernah kembali ke rumah selama bekerja di kediaman Winata!"
"I... Itu benar nyo.. nya!"
"Apa kamu tidak rindu pada orang tuamu?" Pertanyaan Cicit sontak membuat pelayan itu terkejut dan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri alasan kenapa dirinya tidak pernah pulang.
"Ibuku sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Kata dokter tidak bisa dijenguk untuk menjaga kestabilan kesehatan fisik dan mentalnya." Itu adalah alasan yang selalu dikatakan Rachel saat pelayan itu menanyakan keadaan ibunya.
"Ooo... Begitu! Di mana ibumu dirawat? Kenapa tidak dirawat di rumah sakit milik Keluarga Winata? Setahu saya setiap orang yang bekerja untuk Winata Grup selalu mendapatkan fasilitas kesehatan yang mumpuni baik untuk pekerjanya maupun keluarganya." Pelayan itu terkejut mendengar omongan Cicit. Pasalnya dia tidak tahu akan hal itu.
"Kenapa kamu kaget begitu? Apa kepala pelayan tidak memberitahu hal itu?"
"Padahal jika kamu mengatakan hal itu pada Tuan Yusuf atau tuan besar, mereka bisa memindahkan ibumu dengan mudah!" Selama ini Rachel selalu mengatakan bahwa ibunya tidak bisa dipindahkan. Jadi ibunya harus dirawat di rumah sakit yang lama. Selain itu dirinya harus mentransfer biaya pengobatan rutin setiap bulannya kepada Rachel. Rachel mengatakan bahwa 95% biaya rumah sakit telah ditanggung, jadi Mona hanya perlu membayar 5% biaya rutin obat setiap bulannya sebesar 5 juta rupiah.
Cicit tersenyum melihat ekspresi yang ditunjukkan Mona. Ekspresi itulah yang diharapkan Cicit sehingga saat kebenaran terungkap dapat langsung mematahkan pengaruh Rachel sekaligus. Meski Cicit tahu akan ada guncangan emosi yang hebat pada Mona.
Mereka telah sampai di suatu tempat yang penuh dengan kebisuan. Hanya papan kayu yang terpampang di atasnya, jasad tak lagi nampak, hanya gundukan tanah saja yang terlihat. Mereka sedang berada di pemakaman. Cicit membawa Mona menuju sebuah makam yang tidak terawat. Beruntung masih terlihat jelas tulisan di nisan. Tertulis nama Ratih binti Marwan di nisan itu. Mona masih tidak mengerti alasan keberadaannya di situ.
"Kenapa kita kemari nyonya?"
"Ini adalah sebuah kebenaran. Seharusnya kamu tahu jelas siapa yang terbaring di dalam makam ini, bukan?" Pelayan itu memang membaca nama di nisan itu. Nama yang tertulis sama seperti nama ibunya. Tapi dirinya masih percaya kalau ibunya masih hidup. Beberapa hari lalu dia bertanya kepada Rachel kalau ibunya sudah membaik. Jadi tidak mungkin kalau makam itu adalah makam ibunya.
"Maksud nyonya apa? Ibu saya masih baik-baik saja! Dia masih dirawat dengan baik di rumah sakit!"
"Apa kamu pernah sekali saja menjenguk ibumu? Melihat secara langsung kondisi ibumu?" Mona hanya menggeleng.
"Ta... tapi Nona Rachel bilang...! Upps!" Mona keceplosan.
"Akhirnya kamu menyebut namanya juga! Dia bilang kalau ibumu baik-baik saja! Dan kamu percaya dengan perkataannya?"
"Tentu saja! Nona Rachel tidak mungkin berbohong! Dia sudah menyelamatkan saya! Dia orang yang baik hati!" Mona membela Rachel.
"Jika dia seperti perkataanmu, kenapa dia tidak pernah mengijinkanmu bertemu ibumu sendiri? Jika kamu menjawab demi kesehatan ibu, maka kamu harus melihat kertas ini!" Cicit memberikan laporan kesehatan terakhir milik Ibu Ratih. Itu adalah laporan kesehatan dari 10 tahun lalu. Mata Mona terbelalak melihat angka tahun dalam laporan itu. Logikanya mulai kacau. Dirinya masih tidak mau mempercayai laporan itu.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin! Nyonya, anda pasti telah merekayasa laporan ini! Ibu saya masih hidup! Dia sudah membaik!" Emosi Mona mulai naik karena tidak terima jika ibunya dikatakan telah meninggal. Cicit sudah menduga kalau pelayan itu tidak mudah percaya. Akhirnya Cicit membawa Mona ke rumah sakit tempat ibunya dirawat yang letaknya tidak jauh dari pemakaman.
"Baiklah! Kita sudah sampai! Kamu tahu kan ini tempat apa?" Mona tahu betul tempat itu. Rumah sakit tempat ibunya dirawat. Ada perasaan senang di hatinya karena akhirnya dia memiliki kesempatan untuk melihat ibunya. Cicit membawa Mona menemui dokter yang merawat ibunya.
Pintu sudah diketuk. Terdengar suara seseorang mempersilakan masuk dari dalam ruangan. Cicit masuk bersama Mona. Dr. Fadli yang sedari tadi menunggu Cicit terkejut saat melihat Mona bersamanya. Tanpa aba-aba, Dr. Fadli langsung menghampiri dan menampar Mona.
Plakk! Cicit terkejut melihat aksi Dr. Fadli.
"Apa yang dokter lakukan?" Cicit tidak senang dengan aksi dokter itu.
"Kamu tanyakan saja pada anak tidak berbakti itu? Mentang-mentang sudah bekerja di kediaman orang kaya lalu lupa pada ibunya. Tidak pernah menjenguk apalagi membayar biaya pengobatan ibunya. Bahkan saat ibunya meninggal, dia tidak bisa dihubungi. Aku tidak masalah menanggung biaya ibunya tapi setidaknya dia harus menjenguk ibunya! Ini tidak ada kabar beritanya." Dr. Fadli sangat marah dengan kelakuan Mona. Mona shock dengan apa yang dikatakan Dr. Fadli. Hal itu sangat berbeda dengan apa yang dikatakan Rachel padanya.
"Terlebih lagi ibunya meninggal karena ada seseorang yang melepas selang pernapasannya!" Pernyataan terakhir Dr. Fadli membuat Mona sangat terkejut.
"Tidak mungkin! Ibu saya masih hidup! Nona Rachel bilang ibu dalam kondisi baik! Saya selalu mentransfer uang 5 juta setiap bulannya untuk pengobatan ibu!"
"Rachel? Siapa dia?" Dr. Fadli tidak mengenal Rachel.
"Dia adalah anak angkat keluarga Winata, penyelamatku. Dia mengatakan jika aku menjadi mata-mata untuknya maka akan menjamin kesembuhan ibu. Nona juga bilang saya hanya perlu mentransfer 5jt per bulan untuk membantu biaya obat saja!"
"Jika kamu tidak percaya, kita lihat kamar rawat ibumu! Apa ibumu masih ada di sana atau tidak? Sekalian saja kamu lihat video bagaimana ibumu meninggal?" Dr. Fadli mengajak Mona ke kamar rawat ibunya dulu. Saat Mona memasuki kamar itu ibunya sudah tidak ada. Mona mulai lemas tidak mendapati ibunya di sana. Dirinya masih belum percaya. Sampai Dr. Fadli menunjukkan sebuah video.
Di video itu terlihat sosok wanita berambut panjang yang masuk ke dalam ruangan, lalu dengan sengaja melepas selang pernapasan. Setelah tidak bernapas, selang itu dipasang kembali. Mona terkejut melihat sosok wanita itu. Pasalnya dia sangat mengenali wanita itu. Semua info kini bertabrakan dalam otaknya membuat dirinya bingung untuk percaya dengan siapa. Rasa shock juga kebenaran yang tiba-tiba membuat tubuh Mona tidak kuat menahannya hingga membuat dirinya pingsan.
Ketika sadar gadis itu hanya melamun tak berdaya. Air matanya mengalir tanpa suara suara isak. Cicit memeluk Mona dengan erat. Mengelus rambutnya untuk memberi kekuatan.
"Menangislah! Jangan ditahan! Keluarkan semua perasaanmu!" Mona merasa bodoh selama ini percaya kepada orang yang salah. Orang yang telah membunuh ibunya. Apalagi setelah mendengar kata-kata yang diucapkan Rachel, "Dasar gadis bodoh! Kau pikir aku sudi merawat ibumu dan membuang uang untukmu! Jangan salahkan aku untuk kematian ibumu, salahkan dirimu yang begitu bodoh percaya denganku, hahaha!"
"Nyonya!!!" Mona tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Cicit masih memeluknya. Dr. Fadli jadi merasa bersalah karena sudah menamparnya tadi. Pria tampan itu kini merasa kasihan kepada Mona yang dibohongi oleh Rachel. Dia mengerti bagaimana sakitnya perasaan Mona saat ini.
"Apa kamu sudah bisa menerima kebenarannya?" Mona mengangguk pelan. Meski berat tapi kenyataan itu harus diterimanya.
"Maafkan saya, nyonya! Saya sudah berkhianat!" Mona sangat menyesali perbuatannya selama ini.
"Sudahlah! Yang terpenting kamu sudah tahu kebenarannya dan tahu siapa tuanmu!" Mona mengangguk mantap.
"Sebaiknya kamu merawat makam ibumu! Kita masih punya waktu sebelum kembali!" Mona mengangguk. Mereka berdua segera meninggalkan rumah sakit. Sebelum pergi Dr. Fadli meminta maaf pada Mona karena sudah menamparnya. Mona sudah memafkan dan memang sudah sepantasnya dirinya mendapatkan tamparan itu.
Mona dengan ditemani Cicit membersihkan makam Ibu Ratih. Mona membacakan Yasin dan Surat Al Fatihah untuk ibunya.
"Ibu, maafkan Mona! Mona tidak tahu apa-apa selama ini! Ibu tenang saja, Mona akan pastikan Rachel akan mendapatkan balasannya!"
"O ya apa kamu sudah tahu siapa penyelamatmu saat itu?" Mona menggelengkan kepala.
"Bukankah kamu sudah bertemu dengannya tadi?"
"Maksud nyonya? Dr. Fadli?" Mona tidak percaya. Cicit hanya tersenyum. Gadis itu tidak menyangka kalau Dr. Fadli yang telah menyelamatkannya.
"Sekarang, saya hanya ingin kamu terus berpura-pura setia kepada Rachel! Bersikaplah biasa saat dia pulang nanti! Karena kamis semua sudah menyiapkan hadiah balasan untuknya!"
__ADS_1
"Siap, nyonya!"
Tunggu pembalasanku, Cuckoo! Mona.