BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 12. Makan Malam


__ADS_3

Panggilan telepon telah berakhir. Cicit segera bersiap untuk pergi. Yusuf menunggu di teras. Ini pertama kalinya Cicit akan makan malam selain dengan keluarganya. Dirinya merasa sangat canggung saat ini. Rasa gugup juga menyelimutinya. Tetapi semuanya harus dihadapi. Beruntungnya saat gajian kemarin, Cicit telah membeli sebuah gaun. Pasalnya ketika keluar dari rumah gadis itu tidak membawa gaun satupun. Dirinya tidak pernah berpikir jika kejadian malam ini tidak akan pernah ada.


Gaun berwarna biru lembut selutut dengan lengan panjang dan bagian leher tertutup sudah melekat di tubuhnya. Gadis itu memadukannya dengan flat shoes berwarna senada. Rambutnya dikepang dan diberi aksesori bunga di sepanjang kepangan. Wajahnya hanya memerlukan sedikit riasan natural saja. Kini gadis itu sudah siap. Sebenarnya Cicit merasa aneh pada dirinya sendiri karena mau berdandan. Bahkan saat menghadapi perjodohan dulu dirinya tidak pernah berdandan seperti saat ini.


Sementara itu, Yusuf masih menunggu di teras. Yusuf merasa kalau saat ini ada yang mengintipnya. Yusuf berdehem dan meminta si pengintip keluar. Ternyata yang mengintip tidak hanya seorang.


"Kalian ngapain sembunyi di situ?"


"Gak ngapa-ngapain bang! Abang mau ngajak Kak Cicit kencan ya?" ledek Soni. Muka Yusuf memerah.


"Gak kencan! Mama abang nyuruh jemput Kak Cicit untuk makan malam di rumah." Yusuf berlagak tenang.


"Sama aja bang!" balas Arul.


"Beda dong! Kalau kencan kan cuma berdua aja. Kalau ini bukan kencan tapi makan berjamaah. Kayak kalian tadi ngintip berjamaah."


"Hihihi...! Abang mah gitu, suka ngelawak! Tapi kalau abang suka sama Kak Cicit kami sih setuju banget!" ujar Karina.


"Beneran?" Yusuf tersenyum lebar.


"Bener bang! Kalian itu pasangan yang cocok. Kak Cicit itu baik, cantik, tegas, bisa bela diri, jago masak. Pokoknya paket komplit deh bang! Kalau Karina ini cowok, udah Karin lamar Kak Cicit!"


"Ini kalian bilang begini bukan ada maksud terselubung kan?" Yusuf curiga dengan sikap anak-anak.


"Hehehe! Abang tahu aja! Jangan lupa oleh-oleh untuk kami bang!" Jawab Zack sambil cengengesan.


"Huh! Kirain kalian serius mau dukung abang gak taunya ada udang dibalik bakwan!" Yusuf cemberut.


"Ish abang ini! Ngambek kayak anak kecil! Yang tadi Karina bilang itu beneran bang! Emangnya kami gak tahu kalau abang sering ngintip Kak Cicit kalau lagi ngajar!"


"Ssssttt! Jangan keras-keras nanti Kak Cicit dengar!" Jari telunjuk Yusuf masih berada di bibir saat Cicit datang.


"Apanya yang jangan keras-keras?" Cicit penasaran.


"Gak ada apa-apa ko...!" Suaranya makin melemah. Pandangan Yusuf kini tertuju pada penampilan Cicit. Tak hanya Yusuf, anak-anak juga dibuat terpesona oleh Cicit.


Subhanallah! Cantik sekali wanita di depanku. Ya Allah, kalau Cicit jodohku dekatkanlah. Kalau bukan jodohku maka jadikan dia jodohku. Yusuf.


"Ada Princess Elsa!" Ara langsung berlari ke arah Cicit dan memeluknya. Cicit menangkap Ara dan menggendongnya. Cicit hanya tersenyum. Yusuf masih terpaku di tempatnya. Pandangannya masih terhipnotis dengan kecantikan Cicit.


"Pak Yusuf, ayo kita pergi!" Cicit segera menurunkan Ara. Yusuf masih tak bergeming. Sampai-sampai Arul harus meneriakinya.


"Bang! Ada maling bang!" Teriak Arul di telinga Yusuf. Arul sampai naik ke kursi untuk meneriaki Yusuf. Yusuf yang mendengar ada maling langsung gelagapan.


"Mana malingnya? Sini, biar abang hajar!"


"Hahahahaha!" Semua tertawa melihat tingkah Yusuf termasuk Cicit. Yusuf akhirnya sadar kalau dirinya dikerjai. Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wajahnya memerah karena malu.


"Segitunya banget bang lihat Kak Cicit!" ledek Zack.


"Habis cantik banget!" Wajah Yusuf masih memerah saat mengatakan itu.


"Ya sudah kami berangkat ya! Kalian jangan keluyuran jauh-jauh!" Yusuf berpesan kepada anak-anak.


"Tenang aja bang kami gak ke mana-mana kok! Jangan lupa pesanan kami ya bang!" Zack memastikan kalau mereka tidak akan pergi malam itu. Mereka berniat akan menonton film bersama. Apalagi Yusuf sudah menyiapkan bioskop mini. Mereka menonton juga bersama Bu Nia dan pelayanan lainnya.

__ADS_1


Yusuf berjalan di samping Cicit. Jantung Yusuf berdebar kencang. Jika saja sudah halal, tangan Cicit sudah pasti ku genggam. Itulah yang ada di pikiran Yusuf saat ini. Yusuf membukakan pintu mobil. Cicit duduk di kursi depan. Yusuf segera memacu mobilnya ke lokasi. Lima belas menit perjalanan mereka sudah sampai di lokasi. Cicit merasa bingung kenapa mereka ke sini padahal tadi bilangnya mau ke rumah. Cicit tidak segera turun.


"Pak Yusuf, kenapa kita ke hotel bukankah bapak bilang mau ke rumah bapak?" Cicit bertanya dengan tegas.


"Astaghfirullah! Maaf! Saya lupa kasih tahu kamu ada perubahan rencana. Nih kamu lihat pesan dari mama kalau tidak percaya!" Yusuf memberikan hapenya ke Cicit. Cicit membaca pesan dari Mama Aiu.


Dari: Mama Sayang


Cup! Kita ganti lokasi. Gak jadi di rumah ada pengganggu datang! Nanti ketemuan di Hotel X aja ya! Baik-baik bawa mobil! Anak orang jangan sampai lecet!


Cicit penasaran dengan kata "Cup" di awal pesan. Ada pertanyaan menggelayuti pikirannya. Apa arti kata "Cup" tadi ya? Hanya saja Cicit tidak berani bertanya.


"Maaf, pak! Saya hanya terkejut karena tidak sesuai dengan kesepakatan di awal." Cicit menunduk karena malu.


"Tidak apa-apa! Saya mengerti kok! Apa saya perlu hubungi orang tua kamu lagi?"


"Tidak usah pak!" Cicit gelagapan menjawab pertanyaan Yusuf.


Yusuf turun dari mobil kemudian membukakan pintu untuk Cicit.


"Terima kasih, pak! Gak usah repot-repot! Saya bisa buka sendiri!" Cicit malu karena diperlakukan sangat baik oleh Yusuf.


"Saya gak repot kok! Ini hal biasa kok! Sudah sewajarnya!" Cicit merasa sedikit kecewa dengan ucapan Yusuf. Entah mengapa ada sedikit rasa cemburu di hatinya.


"Saya lupa bapak kan presdir ya! Sudah biasa kalau membukakan pintu mobil untuk wanita!" Kata-kata itu begitu saja meluncur dari mulut Cicit.


Meski terkejut mendengar ucapan Cicit tapi Yusuf merasa senang.


"Yang mau naik ke mobil saya memang banyak tapi baru kamu aja yang saya kasih ijin. Yang biasa naik mobil ini cuma saya, Pak Bagas, sama Joni. Untuk ke depannya juga cuma kamu aja yang boleh duduk disini!" Yusuf menunjuk ke kursi depan mobil.


Kamu kalau lagi malu gitu jadi makin cantik. Bikin gemes deh pengen peluk. Ekspresimu itu mirip seperti Sri yang malu-malu waktu ku puji masakannya dulu. Entah kenapa melihatmu seperti melihat Sri. Apakah kamu itu Sri yang ku cari selama ini? Yusuf.


"Yuk masuk! Mama sama paps sudah menunggu di dalam." Cicit hanya mengangguk dan mengikuti Yusuf di sampingnya.


"Ma! Kami sudah sampai!" Mama Aiu langsung berdiri dan berjalan ke arah mereka. Yusuf sudah bersiap menerima pelukan tapi sayang yang dipeluk adalah Cicit. Papa Andre hanya tertawa melihat ekspresi kecewa Yusuf.


"Mama mah jahat! Masa Yusuf dicuekin!" Yusuf merajuk.


"Kamu itu udah gede masih aja merajuk! Malu tahu!" Mama Aiu membawa Cicit ke meja makan dan mempersilakannya duduk di kursi di samping dirinya. Yusuf juga ikut duduk.


"Ma, kenapa sih kok tiba-tiba pindah ke sini? Siapa pengganggunya?" Tanya Yusuf dengan suara manja.


"Biasalah, siapa lagi kalau bukan Si Kamboja itu! Bikin mama badmood aja! Udah kayak jurig aja, datang gak diundang! Kan sayang makanannya!" Mama Aiu jadi kesal mengingat kejadian tadi. Si Kamboja alias Magnolia tiba-tiba datang begitu saja. Membuat Mama Aiu kesal setengah mati. Mama Aiu sudah masak banyak untuk Cicit. Tapi jadi mubazir.


"Udah! Makanannya minta tolong Pak Bagas untuk kirim ke rumah singgah aja. Jadi gak mubazir!" Yusuf memberi saran.


"Telat kamu kasih sarannya! Mama udah lakuin, mungkin sekarang Pak Bagas sudah sampai." Cicit merasa tidak enak hati. Hanya karena dirinya mereka jadi pindah ke restoran.


"Maafkan saya, bu! Gara-gara saya..." Belum selesai Cicit berbicara, Mama Aiu sudah memotongnya.


"Bukan salah kamu, Cit! Mama yang undang kamu. Masakan yang mama masak cuma untuk kamu. Semua kesukaan kamu. Mana mungkin mama rela acara mama ini diganggu sama orang gak diundang. Lebih baik pindah saja. Lain kali pasti mama akan masak untuk kamu lagi. Jadi jangan merasa bersalah gitu ya!" Mama Aiu menenangkan Cicit.


"Iya bu! Terima kasih!"


"Sayang, ternyata Cicit cantik ya! Pantas saja Si Ucup sampai dibuat bingung hatinya! Padahal mereka orang yang sama! Hihihi!" Bisik Andre di telinga Aiu.

__ADS_1


"Hihihi! Iya mas! Biarin aja! Sekali-kali ngerjain Ucup boleh kan? Mama mau lihat apa Yusuf bisa mengenali masa lalunya atau tidak?"


"Sayangnya mas paling bisa deh!" Andre menjadi hidung Aiu. Rupanya adegan itu membuat iri Yusuf. Yusuf berdehem untuk mengingatkan orang tuanya kalau mereka sedang ada di ruang publik.


"Kalau mau bermesraan di rumah aja!" Sindiran Yusuf.


"Kamu itu makanya cepat cari istri biar gak jadi bujang lapuk mulu!" Papa Andre malah meledek Yusuf yang membuat dirinya makin kesal.


"Biarin jadi bujang lapuk yang penting kan gak pernah nakal!"


"Kamu emang gak nakal tapi apa gak panas kupingmu dibilang bujang lapuk gak laku! Nak Cicit asal tahu saja ya! Di keluarga besar kami, cuma dia aja yang belum nikah. Adiknya yang kembar saja sudah menikah, saudara yang lainnya juga sudah. Dia ini masih belum bisa move on dari Si Bakwan!" Papa Andre sengaja memancing dengan kata bakwan untuk melihat reaksi Cicit.


"Bakwan?" Cicit penasaran. Terlihat dari ekspresinya. Tapi dia tidak berani mengungkapkan.


"Iya! Cuma gara-gara bakwan anak papa ini rela jomblo sampai sekarang!"


"Papa sudahlah! Jangan dibahas lagi! Ini makanannya sudah datang! Ayo makan!" Yusuf mengalahkan pembicaraan.


Sementara itu Cicit masih penasaran dengan bakwan yang dimaksud Papanya Yusuf. Cicit jadi memandangi Yusuf. Entah mengapa saat memandangnya barusan jadi terlintas bayangan Ucup kecil. Apa mungkin ya?


"Nak Cicit kok bengong? Ayo makan! Mama sudah pesan kan semua makanan kesukaan Cicit!"


"Sayang, kok kamu pesannya banyak sekali! Ini melebihi porsi makanmu yang banyak, lho!" Papa Andre asal ceplos saja.


"Yusuf bilang makannya Cicit juga banyak! Jadi mama pesan banyak! Kalau nanti Cicit kelaparan karena makan sedikit, mama kan jadi malu!" Mama Aiu juga bicaranya blak-blakan sekali membuat Cicit malu.


Cicit memiringkan tubuhnya dan berbisik di telinga Yusuf. Tak lupa jari kepitingnya sudah mencubit keras lengan bawah Yusuf. Yusuf menahan sakit cubitan Cicit.


Ampun! sakit banget cubitan nya. Kayaknya di masa depan nanti gak boleh provokasi Cicit dalam bentuk apapun. Bisa amsyong. Yusuf.


"Bisa tidak lain kali jangan bocor! Kamu itu sudah buat saya malu di depan orang tuamu!" Tanpa sadar Cicit bicara tidak formal kepada Yusuf.


"Ya maaf! Tapi Mama saja tidak masalah kok! Dia senang karena ada yang bisa mengimbanginya dalam hal makan. Kamu gak usah malu! Cubitan kamu sakit banget! Untung aku pakai jas agak tebal kalau tidak mungkin sudah berdarah!"


"Maaf! Makanya lain kali jangan buat saya malu lagi! Kalau terjadi lagi, tidak hanya cubitan, pukula atau tendangan bisa saya berikan buat kamu!" Cicit mengancam Yusuf.


"Lihat deh pa! Mereka juga bermesraan! ledek Mama Aiu.


" Iya ma! Serasi deh! Cicit kita jadikan mantu saja gimana?" Andre mengompori.


"Sayangnya gak bisa pa! Soalnya Cicit udah punya calon. Namanya Leika!" Mama Aiu menambahkan.


Haduh! Ini Mama Aiu kok bocor banget sih! Ini keluarga ember bocor ya!? Cicit.


Leika? Kok kayak nama merk kamera ya? Aneh banget namanya. Yusuf.


"Sayang banget ya! Btw, ganteng mana anak papa dibanding Leika?"


"Gak tahu pak kalau sekarang! Soalnya sudah 15 tahun gak pernah ketemu lagi! Makanya saya cari!"


Lima belas tahun? Kok bisa samaan gitu ya? Yusuf.


"Wah! Kamu sama aja kayak anak papa! Gak bisa move on ya! Setia banget kamu! Kalian cocok! Hahaha!" Andre sebenarnya sudah tahu kalau Sri yang dicari Yusuf adalah Cicit. Mama Aiu menceritakan kejadian tadi sore kepada Andre setelah pulang dari mengajar memasak.


Mereka melanjutkan makan. Setelah selesai makan, Yusuf mengantar kembali Cicit pulang ke rumah singgah. Banyak pertanyaan di benak mereka masing-masing gara-gara perkataan Andre tadi. Tak lupa oleh-oleh untuk anak-anak juga dibawa.

__ADS_1


__ADS_2