
Pagi itu begitu cerah. Mentari pagi bersinar dengan gagahnya. Pengantin baru sudah beraktivitas sejak subuh tadi. Meski sedang tidak solat, istri Yusuf Mahardika Winata itu tetap bangun seperti biasa. Kebiasaan Yusuf setelah solat subuh adalah jogging. Kali ini Yusuf ditemani istrinya. Dalam kesempatan itu, Yusuf memberitahu rumah Kediaman Natakusuma dan juga Kediaman Kusuma yang letaknya tidak jauh dari Kediaman Winata.
Setelah berolahraga mereka kembali ke rumah untuk istirahat. Yusuf masih melakukan olahraga ringan di teras rumah. Nyonya muda segera menuju dapur untuk membuat sarapan. Selain roti panggang dengan selai, Cicit juga membuat bakwan kesukaan suaminya. Cicit memanggil Yusuf untuk sarapan bersama.
"Wah! Ada bakwan!" Yusuf tersenyum sumringah. Cicit membalasnya dengan tersenyum juga.
"Yang, kok banyak banget! Kalau gak habis kan sayang!"
"Aku sengaja buat banyak. Kamu ambil saja secukupnya, sisanya mau aku kasih untuk pelayan di rumah belakang. Tolong panggilkan kepala pelayan ya. Aku tidak tahu cara memanggilnya."
"Ok! Siap nyonya! Pak Im!"
"Ya tuan!" Pak Im segera masuk ruang makan. Sebenarnya Pak Iman atau yang biasa disapa Pak Im sudah ada sejak tadi. Bapak tua itu tidak ingin mengganggu nyonya mudanya sehingga diam saja sejak tadi.
"Kenalkan, ini Pak Iman! Biasa dipanggil Pak Im! Kalau kamu butuh sesuatu tinggal beritahu Pak Im saja!"
"Baiklah! Sepertinya nanti harus ada waktu untuk berkenalan dengan penghuni rumah belakang. Bisakah Pak Im mengaturnya? Bagaimana kalau besok pagi saja?"
"Siap nyonya! Akan saya persiapkan dengan baik! Ada lagi yang bisa dibantu?"
"Tolong berikan bakwan ini kepada pelayan di rumah belakang!" Cicit tersenyum sambil menyerahkan semangkuk penuh bakwan.
"Terima kasih nyonya!" Pak Im menerimanya dengan senang hati.
Setelah sarapan pasutri itu kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap ke rumah sakit. Yusuf sudah siap dengan outfitnya hari ini. Polo shirt warna putih yang dipadupadankan dengan jeans hitam. Sneaker warna putih menjadi pilihan Yusuf hari ini. Tak lupa dengan topi hitam yang sudah bertengger di kepalanya. Cicit hari ini memakai kaus lengan panjang putih dengan kulot dan hijab berwarna hijau botol. Sneaker yang dipakai juga berwarna sama dengan Yusuf.
"Ayo Cup! Nanti keburu siang! Antriannya panjang!" Cicit masih belum sadar jika menjadi Nyonya Winata maka akan selalu diprioritaskan.
"Antri? Memangnya mau antri apaan?"
"Ya Ampun Cup! Ya antri untuk tes di rumah sakit lah!" Yusuf tercengang melihat Cicit yang masih belum sadar akan statusnya sebagai Nyonya Winata.
"Nyonya Winata sayang! Kita tidak pergi ke rumah sakit umum tetapi ke rumah sakit milik Winata Grup! Di sana kita tidak perlu antri! Kita adalah pasien prioritas! Tenang saja! Joni sudah mengatur semuanya! Dia juga sudah menjemput Ibu Nadia untuk memastikan keselamatannya!" Yusuf menjelaskan kepada Cicit.
"Begitu ya! Maaf! Aku kan tidak tahu kalau Keluarga Winata punya rumah sakit. Hehehe!"
"Apa kamu tidak menyelidiki sampai ke sana?" Cicit hanya menggeleng sambil cengengesan. Yusuf menepuk jidatnya.
"Soalnya waktu itu aku belum ingin tahu tentangmu! Jadi aku tidak mencari tahu!" Cicit menjawab dengan polosnya. Yusuf menjawil hidung istrinya saking gemasnya.
__ADS_1
"Baiklah! Sepertinya aku harus mengenalkan Winata Grup padamu dengan benar!" Yusuf serius ingin memberitahu tentang Winata Grup juga Natakusuma Grup kepada Cicit.
Mereka segera berangkat setelah perbincangan itu. Tak butuh waktu lama untuk tiba di rumah sakit. Saat Yusuf tiba semua menyambut sang presdir.
"Selamat datang Tuan Muda! Silakan lewat sini!" Direktur rumah sakit menyambutnya.
"Apakah mereka sudah datang?"
"Sudah, Tuan Muda! Tuan Joni juga bersama meteka!"
Joni bertugas menjemput Zily dan Zack dari rumah singgah dan Ibu Nadia di kos-kosannya. Selama perjalanan tadi Ibu Nadia terus memakai maskernya agar tidak diketahui oleh Zily. Ibu paruh baya itu juga harus menahan perasaannya selama perjalanan. Terlebih setelah melihat Zack yang wajahnya sangat mirip dengan suaminya, Roger Waltz.
Kini mereka sudah sampai di ruangan khusus. Zily langsung berlari ke arah Yusuf saat melihatnya datang.
"Bang Ucup!" Yusuf menyambut Zily ke dalam pelukannya.
"Bang, kenapa Zily gak boleh bawa Bara dan Biri sih? Zily kan jadi bosen!"
"Itu karena di sini adalah rumah sakit untuk manusia bukan rumah sakit hewan. Takutnya kedatangan Bara dan Biri memicu alergi pasien yang ada di rumah sakit." Cicit menjawab pertanyaan Zily.
Zily yang terkejut mendengar suara Cicit langsung turun dari gendongan Yusuf. Anak kecil itu mencari-cari Cicit.
"Kak Cicit! Zily kangen!" Zily langsung memeluk Cicit dan dibalas dengan hal sama juga.
"Jon, apa pengambilan sampel yang sudah dilakukan?"
"Belum, tuan! Tadi baru pemeriksaan kesehatan saja! Untuk memastikan kesiapan mereka. Hasil pemeriksaan akan menentukan metode yang digunakan untuk pengambilan sampel."
"Bang, kenapa sih Zily harus ambil darah?"
"Iya bang! Kenapa Zack juga harus ikutan segala?" Zack penasaran.
"Karena kalian punya golongan darah yang jarang orang punya. Rumah sakit juga sedang kekurangan stok! Jadi minta kalian untuk sumbang darah! Hanya saja hari ini cukup ambil sampel dulu untuk memastikan darah kalian sehat."
"Oo... begitu! Silakan bang, ambil yang banyak!" Zack menjulurkan lengannya tanda setuju.
"Terus kenapa ibu itu juga ada di sini?" Zack bertanya lagi.
"Ibu itu sedang sakit! Kemarin abang dan Kak Cicit lihat ibu itu pingsan di rumah singgah. Jadi abang minta ibu itu datang hari ini untuk pemeriksaan."
__ADS_1
"Oo... Begitu!" Zack menghampiri ibu itu.
"Bu, ibu tenang saja! Kalau sama Bang Ucup mah dijamin ibu pasti sembuh!" Ibu Nadia hanya menunduk kemudian mengangguk tanda mengerti. Tanpa disadarinya air matanya menetes melihat Zack. Ada rasa rindu mendalam saat melihat Zack. Ibu Nadia teringat akan anaknya yang hilang dulu.
Tak lama perawat yang akan melakukan pengambilan sampel datang. Zily dan Zack lebih dulu diambil sampel darahnya. Setelah itu mereka diantar pulang oleh Pak Bagas. Setelah kepulangan Zack dan Zily, Bu Nadia terkulai lemas dan merosot dari kursinya. Sontak hal itu membuat Cicit terkejut dan segera menolongnya.
"Zack! Zack anakku!" Ibu Nadia menangis dalam pelukan Cicit. Cicit dan Yusuf yang mendengarnya juga terkejut dengan pernyataan Ibu Nadia.
Cicit berusaha menenangkan Ibu Nadia. Lima menit kemudian Ibu Nadia sudah mulai bisa mengendalikan emosinya. Cicit membawanya duduk di kursi lagi.
"Ibu sudah baikan?" tanya perawat.
"Iya! Saya sudah baikan!"
"Baiklah! Ibu sudah siap ya untuk pengambilan sampel darah?" Ibu dia anak itu mengangguk pelan. Perawat memulai prosedur pengambilan sampel darah. Setelah sampel didapat perawat itu permisi untuk segera melakukan tes.
Cicit mulai bertanya perihal Zack. Sebenarnya tujuan Zack datang agar Zily mau diambil sampel darahnya. Yusuf tak menyangka kalau akan ada kejutan seperti ini.
"Ibu bisa ceritakan bagaimana bisa Zack adalah anak ibu?" Cicit mulai bertanya.
"Karena wajah Zack sangat mirip dengan Roger, suamiku! Tujuh belas tahun yang lalu, Aku melahirkan bayi laki-laki. Kami memberinya nama Zack Waltz dan menghadiahkannya sebuah kalung dengan salib. Di salib itu dituliskan nama Zack. Namun bayi itu hilang satu minggu setelah dilahirkan. Kami sudah mencarinya ke mana-mana tetapi tidak ketemu. Aku sampai depresi dan hampir gila karena hal itu. Akhirnya Roger membawaku pergi ke luar negeri untuk pengobatan. Aku sembuh setelah 10 tahun berobat. 2 tahun kemudian aku hamil dan melahirkan anak keduaku, yaitu Zily." Ibu Nadia bercerita tentang masa lalunya.
"Pantas saja, Zily selalu memanggil Zack dengan sebutan papa! Tolong sampel Zack tadi juga dilakukan tes!" Kepala rumah sakit mengangguk tanda paham.
"Jon, apa ada yang mencurigakan selama kamu menjemput Ibu Nadia tadi?"
"Tidak ada bos!" Sepertinya mereka tidak tahu kalau Ibu Nadia asli masih hidup!"
"Bagus! Kamu siapkan orang untuk berjaga di sekitar kosan Ibu Nadia! Jika hasil tes sudah keluar dan hasilnya positif baru kita pindahkan Ibu Nadia ke rumah singgah!"
"Siap bos!"
"Apa persiapan reuni sudah siap?"
"Tadi Tuan Leon memberitahu kalau semua sudah siap! Pertemuan dimulai siang nanti bos!"
"Baiklah! Kalau begitu kita beli beberapa oleh-oleh dulu! Kamu antar Ibu Nadia dulu, nanti langsung bergabung di kediaman Kusuma!"
"Siap bos!"
__ADS_1
Joni mengantarkan Ibu Nadia kembali ke kosannya. Yusuf dan Cicit langsung pergi ke toko kue untuk membeli buah tangan.