BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 46. Resepsi: Momen-Momen Tak Terduga


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00. Acara resepsi akan segera dimulai. Semua tamu sudah sudah duduk di kursi masing-masing. Acara malam itu sangat meriah dengan dekorasi mewah dan kue pengantin yang sangat besar dan tinggi.


Anak-anak dari rumah singgah juga sudah hadir sejak tadi. Mama Aiu sudah menyiapkan baju-baju pesta untuk mereka. Kini di rombongan Mereka bertambah satu orang, yaitu Nadia Wijaya, Ibunda Zily. Dua hari sebelum pesta hasil tes DNA sudah keluar. Hasilnya menyatakan bahwa benar Nadia adalah ibunda Zily. Hasil lainnya yang sungguh mengejutkan bahwa Zack juga ternyata anak Nadia yang hilang belasan tahun silam. Untuk hal itu baik Yusuf dan Cicit belum memberitahukan kepada mereka. Oleh karena itu, Yusuf sangat memperketat pengawalan mereka.


Mereka tak berhenti makan hidangan yang disediakan. Khusus untuk anak-anak rumah singgah Yusuf sengaja menyediakan tempat dan makanan terpisah bagi mereka. Pelayan juga disediakan bagi mereka. Sebagian pelayan adalah pengawal yang dipekerjakan untuk menjaga anak-anak. Anak-anak juga diberitahu untuk tidak bergerak sendiri. Baik ke toilet atau kemanapun harus memberi tahu pengawal dan tidak boleh sendirian.


Adrian dan Airin masih berada di ruang CCTV. Mereka terus memantau tamu yang datang. Sudah sejak konferensi dimulai, orang yang dicari belum juga ditemukan. Airin sampai ingin menyerah rasanya. Wanita tua itu meminta Adrian untuk menyudahi pemantauan hari itu. Mungkin dia tidak datang. Adrian juga setuju.


Saat keluar dari ruang CCTV, Airin dan Adrian tak sengaja menabrak seorang pria. Nampaknya pria itu tergesa-gesa mengejar seseorang. Betapa terkejutnya Airin saat melihat ke arah wajah pria itu.


"Paman Indra?!" Airin tanpa sadar menyebut nama pamannya. Adrian yang sadar juga akhirnya menghentikan pria tadi.


"Hei! Apa kamu tidak punya etika?" Tangan Adrian sudah memegang bahu pria itu. Pria muda itu masih celingukan mencari ke mana larinya wanita tadi.


"Maafkan saya tuan dan nyonya! Apa kalian baik-baik saja? Sekali lagi saya minta maaf!" Pria muda itu membungkukkan badannya, tanda meminta maaf.


"Sepertinya kamu terburu-buru? Siapa yang sedang kamu kejar? Jangan membuat keributan di sini! Kalau kamu berani, saya akan bawa kamu ke polisi!" Sebenarnya Adrian hanya berpura-pura menakuti saja.


"Maafkan saya, tuan! Saya tidak bermaksud membuat keributan. Saya hanya merasa melihat istri saya saja! Saat ingin memastikan, wanita itu malah kabur! Jadi saya mengejarnya." Pria itu menundukkan wajahnya. Dia malu saat mengungkapkan alasannya.


"Oo... begitu! Bagaimana kalau saya bantu kamu memastikannya?" Adrian sengaja memberikan bantuan agar pria itu bisa lama bersama dirinya. Itu juga usaha agar Airin bisa memastikan dengan benar apa yang dilihatnya saat ini. Mereka kembali ke dalam ruang CCTV.


"Baiklah! Bisakah kamu memberitahu lokasi dan waktu pertemuan kalian?" Adrian duduk di samping operator CCTV.


"Lima menit yang lalu di sekitar toilet!" Operator yang mendengar itu langsung mencari dan memutar kejadian di sekitar toilet lima menit yang lalu.


"Ah, itu dia! Wanita berbaju putih itu!" telunjuknya menunjuj ke arah monitor, tepat di mana wajah wanita itu.


"Tolong besarkan gambar wanita itu dan diperjelas!" Adrian meminta operator untuk memperbesar gambar wanita itu. Operator itu segera melaksanakan perintah Adrian.


"Benar dugaanku!" Pria itu memegang dagunya.


"Apanya yang benar?" Adrian penasaran.


"Wanita itu benar istriku! Apakah bisa tolong dicek siapa namanya?" Pria itu meminta operator mencari tahu.


"Sebentar tuan! Saya akan mengirimkan gambar ini ke bagian penerima tamu untuk mengonfirmasi!" Pria itu hanya mengangguk saja.


"Wanita itu datang bersama rombongan anak-anak rumah singgah. Atas nama Nadia Wijaya!"


"Apa?! Jadi... Dia benar istriku!" Meski sesuai dengan dugaannya tetap saja rasa terkejut itu tidak bisa disembunyikan. Ada rasa kelegaan tetapi juga ada banyak pertanyaan yang muncul. Meski selama ini pria itu sudah curiga ada yang tidak beres, tetapi tidak menyangka kalau kecurigaannya adalah benar.


"Aku harus segera mencarinya!" Pria itu segera ingin meninggalkan ruangan. Adrian berhasil mencegahnya.


"Oo... tidak semudah itu anak muda! Kamu itu, bagaimana bisa habis manis sepah dibuang! Main pergi begitu saja! Tenang saja! Jika sudah waktunya kamu akan bertemu dengannya! Tetapi saat ini kami punya keperluan denganmu!" Pria itu bingung. Keperluan apa yang menyangkut dirinya? pikirnya dalam hati.


"Airin, silakan!" Adrian mempersilakan Airin memulai.


"Sejak tadi, saya belum tahu nama kamu. Oh, maaf! Perkenalkan nama saya Airin Atmaja!" Pria itu terkejut mendengar nama belakang wanita tua di hadapannya.

__ADS_1


"Saya Roger! Roger Waltz! Maaf, nyonya! Apa saya boleh tahu nama ayah anda?" Roger jadi teringat akan pesan mendiang kakek buyutnya sebelum meninggal dulu.


"Nama ayah saya Hendra Atmaja!" Mata Roger membulat sempurna karena terkejut. Dia tidak mengira akan ada momen langka seperti ini. Bertahun-tahun dia mencari kerabat dari kakek buyutnya. Akhirnya bisa bertemu di sini.


Tanpa sadar pria itu langsung memeluk Airin. "Nenek!" Air mata tanpa sadar menetes dari pelupuknya. Airin juga membalas pelukannya. Adrian yang melihat momen hari itu juga jadi meneteskan air mata. Setidaknya dia jadi tenang karena sudah melaksanakan tugas terakhir dari mertuanya.


"Sebaiknya kita pindah tempat saja! Ada banyak hal yang harus dibicarakan bukan?!" Roger setuju. Adrian membawa Roger ke kamarnya bersama Airin.


Sementara itu seorang wanita kini tengah bersembunyi di balik dinding. Napasnya masih memburu. Wanita muda itu mengintip perlahan ke arah koridor yang dia lewati tadi. Tidak terlihat pria yang mengejarnya tadi. Akhirnya wanita itu bisa lega. Tubuhnya merosot di dinding. Kini wanita itu terduduk lemas di lantai.


Bagaimana bisa aku bertemu dengan Roger? Kenapa dia bisa langsung mengenaliku? Padahal saat ini aku sedang berhijab. Nadia.


Pikiran Nadia menerawang jauh. Ibunda Zily itu tidak menyangka bahwa Roger masih mengenali dirinya. Saat keluar dari toilet, dirinya tidak sengaja menabrak seorang pria. Saat mata mereka bertemu, Roger tanpa sadar menyebut nama Nadia. Nadia terkejut mendengar namanya disebut. Tanpa sadar dia berlari begitu saja dan terjadilah adegan kejar-kejaran.


Saat sedang berpikir, Tiba-tiba sebuah tangan sudah mendarat di bahunya. Wanita itu sangat terkejut dan tidak berani menoleh ke belakang.


Ya Ampun! Bagaimana ini? Nadia.


"Nyonya Nadia! Kenapa anda tiba-tiba berlari?" Nadia lega karena yang menemukannya adalah pengawal yang ditugaskan untuk menjaganya.


"Maafkan saya! Tadi bertemu dengan seseorang yang mengenali saya! Tanpa sadar langsung berlari!" Sedikit banyak pengawal itu sudah diberitahu info tentang Nadia. Jadi pengawal itu tidak menyalahkan Nadia yang spontan berlari.


"Ya sudah! Sebaiknya kita segera kembali! Kemungkinan anak anda sekarang sedang cemas! Sebaiknya saya memberi tahu Nyonya Cicit tentang situasi anda! Jadi kami bisa melakukan langkah selanjutnya!" Nadia hanya diam saja. Pengawal itu mengirim pesan kepada Cicit. Tak lama kemudian datang sebuah balasan berisi perintah agar Nadia dan Zily kembali ke kamar.


"Nyonya Cicit meminta anda dan Tuan Zily kembali ke kamar!" Nadia mengangguk setuju. Pengawal itu mengirim pesan kepada pengawal lain yang menjaga Zily untuk membawanya kembali ke kamar.


Di lain tempat, seorang wanita muda lainnya tengah kebingungan di keramaian. Kepalanya tak berhenti menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan seseorang. Wanita itu tidak lain adalah Marina yanga menyamar menjadi Nadia. Dia mencari keberadaan Roger sejak tadi.


"Hei, nyonya! Apa anda sudah gila? Datang langsung menjambak rambut orang! Anda sungguh tidak beretika!" teriak pria muda itu. Pria itu memegangi gadis tadi.


Wanita itu langsung bangkit dan langsung menerjang gadis tadi. Beruntung masih bisa dihalangi sang pria.


"Hei kamu! Masih belia sudah jadi pelakor! Kamu juga mas, kenapa membela dia?" Tangan Marina menunjuj ke arah gadis itu.


"Mas? Siapa yang kamu panggil mas? Saya? Maaf saya tidak kenal anda, nyonya!" Pria itu memalingkan wajahnya. Fokus dengan gadis di depannya.


Kemarahan Marina semakin menjadi ketika melihat pria yang dikira suaminya mengelus kepala gadis itu.


"Mas Roger, kamu keterlaluan! Sudah punya istri masih menggoda gadis belia!" Marina mulai menangis. Semua orang jadi memperhatikan mereka.


"Hei, kamu juga! Masih belia sudah berani menggoda pria! Kalau mau menggoda cari yang seumur dong!" Marina mulai menghina gadis belia itu yang tak lain adalah Karina. Zack yang sejak tadi selalu dikira suaminya sudah tidak bisa menahan lagi emosinya.


"Hei nyonya! Anda dengar ya! Nama saya Zack bukan Roger! Apa wajah saya setua itu sampai disamakan dengan suami anda! Saya baru 17 tahun! Coba anda lihat dengan jelas! Jangan-jangan anda butuh ke dokter mata!"


Rupanya keributan itu menarik perhatian Yusuf. Yusuf dan Cicit menghampiri mereka.


"Ada apa ini ribut-ribut?" Yusuf bertanya pada Zack.


"Ini bang! Wanita itu datang-datang langsung jambak rambut Karina! Dia bilang Karina pelakor!" Cicit yang mendengar aduan Zack jadi tahu siapa wanita yang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Maaf, anda siapa? Kenapa menjambak anak asuh saya? Saya tidak senang dengan perilaku anda! Saya bisa membawa anda ke polisi!"


"Saya Nadia Wijaya, istri Roger Waltz! Tapi gadis itu memang pelakor!" Marina masih bersikukuh pada pendiriannya.


"Roger Waltz?! Coba anda perhatikan baik-baik anak ini! Apakah dia Roger Waltz atau bukan?" Yusuf meminta Marina untuk mengamati dengan baik.


"Namanya Zack bukan Roger! Dia anak asuh saya!" Seketika Marina teringat bahwa Roger memakai jas warna senada dengan baju yang dipakainya. Jas yang dipakai Zack jelas beda warnanya. Nadia mulai mengamati perlahan. Setelah melihat dengan jelas, Marina menyadari bahwa wajahnya Zack sangat mirip dengan Roger . Wajahnya berubah pucat seketika. Wanita itu segera berlari meninggalkan mereka.


"Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini!" Yusuf meminta maaf dengan tulus. Akhirnya para tamu membubarkan diri.


"Itu siapa sih? Zack gak suka sama wanita itu!"


"Sudahlah gak usah dipikirkan! Kalian sebaiknya kembali ke posisi kalian. Karin, kepala kamu baik-baik saja?" tanya Cicit dengan lembut!


"Karin baik-baik saja! Kepala Karin masih sakit sedikit tapi nanti pasti baik lagi!"


"Ya sudah kalian kembali ke posisi! Jangan berkeliaran sembarangan!!" Cicit memberikan kode kepada pengawal untuk menjaga mereka dengan ketat.


"Siap! Nyonya Yusuf!" Zack dan Karina kembali ke tempat duduk mereka.


Wajah Marina masih pias. Jantungnya berdebar kencang karena takut. Wanita itu teringat kembali dengan dosanya 17 tahun yang lalu. Kepalanya masih geleng-geleng menolak untuk percaya apa yang baru saja dilihatnya. Jika benar anak tadi adalah anak Roger, maka lebih baik Roger tidak mengetahuinya. Marina bertekad untuk menyembunyikannya selamanya.


Roger yang sejak tadi dicari malah terlihat keluar dari sebuah kamar.


"Mas Roger!" Marina langsung datang menghampiri.


"Nak Roger, siapa dia?" tanya Airin.


"Dia Nadia, istriku!" Marina menampilkan senyum palsu untuk menutupi ketidaksukaan.


"Kamu kemana aja sih mas? Jangan bilang kamu kencan dengan nenek tua ini!" Nadia mulai emosi lagi.


"Jaga mulutmu, Nadia! Nenek tua ini adalah Nyonya Airin, Nenek dari yang punya hajat!" Sontak Marina merasa malu karena sudah mengatakan hal buruk.


"Ma... Maafkan saya nek! Saya tidak tahu!"


"Sudahlah! Toh kalau memang aslinya buruk ya buruk saja! Mau dipoles bagaimanapun tidak akan mampu menutupi keburukannya. Kamu pulang saja! Besok kita bicarakan lagi tentang bisnis tadi! Tapi kamu jangan bawa dia ya!" Airin langsung masuk begitu saja dan menutup pintu dengan keras.


Roger langsung menepis pegangan tangan Nadia. Pria itu pergi meninggalkannya sendirian. Marina memanggil dan mengejar Roger. Roger tak bergeming dan tetap acuh.


"Mas kamu kenapa sih?" Marina berusaha menyamakan langkah kakinya.


"Kamu itu yang kenapa? Gak bisa apa sopan sedikit kepada yang lebih tua! Menuduh Nyonya Airin yang tidak-tidak! Apa kamu masih punya otak?" Roger melampiaskan kekesalannya.


"Iya! Aku minta maaf! Aku salah!" Roger tidak menggubris permintaan maaf Nadia. Pria itu terus saja berjalan sampai ke lobi. Ketika mobilnya sampai di lobi, Roger langsung masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja meninggalkan Nadia.


Nadia berteriak memanggil Roger saat baru tiba di lobi. Wanita itu terduduk lemas melihat mobil suaminya pergi. Ini sangat memalukan baginya. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Roger berubah tiba-tiba? Beberapa pertanyaan muncul di benak Nadia yang tak lain adalah Marina.


Seorang petugas hotel membantu Marina berdiri. Petugas itu juga memanggilkan taksi untuk dirinya. Marina kembali ke kediaman Waltz dengan penuh rasa malu dan amarah.

__ADS_1


Hai reader yang baik hati! Maafkan author ya yang terlambat up! Author sedang mulai usaha baru, jadi belum bisa manage waktu dengan baik nih! Doakan ya semoga semua berjalan lancar. Jadi bisa up lebih banyak lagi! Terima kasih! ☺☺☺☺


__ADS_2