BAKWAN?!!

BAKWAN?!!
Bab 17. Lamaran 1


__ADS_3

Setelah keributan yang terjadi, masing-masing langsung masing ke kamar sesuai perintah Jendral Krishna. Rencananya besok setelah sarapan Keluarga Wirabuana akan kembali ke Kota B. Laras menemani putrinya sebentar sebelum kembali ke kamarnya.


"Apa Cicit baik-baik saja?" Laras hanya memastikan keadaan anaknya. Setidaknya dia dapat mendengar cerita putrinya meski tidak dapat membantu menyelesaikan masalah. Kini mereka duduk di kasur. Cicit merebahkan kepalanya di pangkuan Laras. Laras mulai membelai rambutnya.


"Cicit tidak baik-baik saja, bu! Kenapa jadi begini bu? Kenapa untuk bahagia saja sesulit ini jalannya? Baru juga kami bertemu kenapa kami harus berpisah lagi?" Tak terasa air mata Cicit mengalir. Laras mengerti kesedihan sang putri. Tapi dirinya juga sama tak berdayanya saat ini.


"Cicit harus sabar ya! Kita akan bertanya pada kakek besok! Ibu hanya bisa memberi saran. Jika Cicit sangat yakin dengan Yusuf makan berjuanglah bersamanya. Berdoa sama Allah minta diberi kemudahan jalan untuk kalian! Ibu akan selalu mendukung kalian!" Laras tersenyum sambil menatap wajah Cicit.


"Tapi bu! Jika tidak berhasil bagaimana? Terus ayah juga sepertinya tidak suka dengan Yusuf?!" Cicit masih merasa ragu.


"Makanya usaha dulu! Jangan patah semangat gitu! Kalau kamu seperti itu seperti bukan Cicit saja! Mana Cicit yang berhasil mengalahkan 30 Laki-laki pilihan Jendral Krishna?" Cicit dibuat tersipu oleh Laras. Wajahnya mulai berangsur tersenyum, tidak muram seperti tadi.


"Ayahmu itu bukan tidak suka dengan Yusuf hanya saja belum bisa menerima kalau putrinya akan dipinang lelaki lain. Bukankah kamu tadi dengar sendiri kalau Yusuf mengatakan hal yang sama. Dulu, waktu pertama Ucup melamar kamu, ayahmu sangat terkejut. Karena dia telah menemukan lawan yang seimbang. Hanya saja waktu itu kalian masih sangat muda, tidak mungkin baginya melepasmu secepat itu bahkan kita saja tidak tahu bagaimana masa depan kalian nanti. Ayahmu hanya menguji Ucup saja. Buktinya saat ini ayahmu memberikan kesempatan pada Ucup untuk merebutmu langsung. Bukankah itu artinya ayahmu setuju?" Cicit bangun dari pangkuan Laras kemudian memeluknya. Gadis itu mencari kehangatan disela-sela kegelisahannya.


Laras memeluk putri kesayangannya dengan lembut. Membelainya. Memberikan ketenangan padanya. "Lihatlah Ucup! Bukankah dia sangat semangat untuk mempertahankanmu? Dia akan sedih jika lihat Cicit seperti ini! Kamu juga harus semangat ya!" Cicit mengangguk sambil tersenyum. Keduanya saling melepaskan pelukan.


"Ya sudah kamu istirahat dulu ya! Besok pagi temani ibu jalan-jalan ya. Kamu bilang kalau pagi banyak orang jualan jajanan pasar! Ibu mau pergi melihat-lihat."


"Siap! Nyonya Jendral!"


Saat Laras keluar pintu, Ibu dua anak itu dikejutkan dengan kehadiran Yusuf yang berdiri bersandar di dinding. Laras tahu kalau Yusuf mengkhawatirkan putrinya. Sebelum Yusuf bertanya Laras lebih dulu mengatakan keadaannya.


"Cicit baik-baik saja! Kamu istirahat juga ya! Perjalanan esok akan sangat panjang dan melelahkan!" Yusuf tenang setelah mendengar kondisinya baik-baik saja.


"Alhamdulillah! Ya sudah saya kembali ke kamar dulu. Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Sesampainya di kamar, Yusuf mengirim pesan kepada Cicit.


Kepada: My Dear Sri


Kamu tenang saja. Aku akan memperjuangkanmu sampai kamu jadi istriku. Berjuanglah bersamaku! I love you, Sri!


Cicit yang mendapat pesan cinta langsung semangat kembali.


Kepada: Ucup Kesayanganku


Baiklah! Sri akan berjuang bersama Ucup! Sri juga sayang Ucup! ❤


Yusuf yang mendapat balasan langsung tersenyum. Apalagi melihat tanda hati di belakangnya. Perasaannya melambung tinggi.


Keesokan paginya Joni datang ke rumah singgah untuk membawa mobil pesanan Yusuf. Seperti biasa Joni berpenampilan heboh. Memakai kaus pantai dan celana hawai, wig warna pink juga menghiasi kepalanya. Pria melambai itu berjalan sambil lenggak-lenggok menuju rumah singgah.


"Assalamualaikum! Yuhuuu! Anak-anak! Joni is in the house!" Suara nyaring Joni membuat seisi rumah keluar kamar. Begitu juga dengan Bima dan Krishna. Laras dan Cicit setelah solat subuh sedang berjalan-jalan di sekitar rumah singgah. Mereka asik melihat-lihat aneka jajanan pasar yang dijual.


"Bang Joni!" teriak Zily. Bara dan Biri juga langsung menghampirinya. Kedua anjing itu langsung memberi hormat padanya.


"Zily kesayangan abang! Abang kangen!" Joni memeluk Zily. Kemudian menghampiri kedua anjing dan mengelus kepala mereka.


Bima yang penasaran dengan kehebohan langsung mendatangi TKP. Betapa terkejutnya melihat penampilan orang di depannya.


"Astajim! Ada hantu blao!" Joni menghampiri Bima bermaksud untuk berkenalan. Bima yang dihampiri malah berlari membuat Joni bingung dan mengejarnya. Bima yang dikejar Joni berteriak minta tolong. Anak-anak yang melihat kejadian itu malah tertawa terbahak-bahak.


"Pa! Tolong Bima pa! Ada hantu blao ngejar Bima, pa!" Bima langsung bersembunyi di balik tubuh Krishna. Yusuf yang mendengar keributan langsung keluar kamar. Joni yang masih berlari langsung berhenti saat melihat wajah Jendral Krishna.


"Eh, Ya Allah! Hampir aja eike nabrak! Haduh capek juga lari-lari! Duh Si Om ngapain sih pake lari segala! Eike kan jadi bingung! Ikutan lari juga deh!" Joni melambai-lambaikan tangannya yang gemulai.


"Ada apa ini?" Yusuf yang baru datang jadi penasaran.


"Eh Si bos! Itu bos! Tadi kan maksud eike mau kenalan, eh Si Omnya malah lari! Jadi eike ikutan lari juga deh!"


"Cup! Kamu ngapain sih pake ngundang hantu blao kesini? Bikin bulu kuduk merinding aja!" Bima protes dengan kehadiran Joni. Pria berbadan kekar itu masih bersembunyi dibalik tubuh papanya.


"Maaf, Pak Bima! Ini Joni! Asisten pribadi saya. Saya minta dia kesini bawa mobil sekalian jadi supir nanti!"


"Ya Allah, Cup! Apa kamu gak bisa cari asisten yang lebih baik apa?" Bima masih protes.


"Yang seperti ini lebih baik Pak! Lebih bisa dipercaya dan kerjanya juga bagus! Saya lebih aman karena gak ada cewe atau cowo yang berani dekat-dekat, hehe!" Yusuf menjawab dengan santai.


"Hmmm... Pak Bima apa takut sama orang seperti Joni?" Yusuf penasaran dengan sikap Bima yang tidak biasanya.


"Dia bukan takut hanya trauma saja dulu waktu masih sekolah di akmil pernah dikejar-kejar banci hampir setiap hari! Maklumlah calon mertuamu ini punya muka tampan juga!" Jendral Krishna menjawab pertanyaan Yusuf.


"Maaf deh om! Tapi gimana lagi ya, eike kan emang begini! Harap omnya bisa menerima ya! Saya gak akan ngejar-ngejar om, kok! Percaya deh!" Joni mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V. Bima hanya mengangguk saja.

__ADS_1


"Bos, bapak ini siapa?"


"Yang kamu kejar barusan itu Pak Bima, calon mertua saya! Yang sudah sepuh itu Jendral Krishna! Ayahnya Pak Bima, kakeknya Cicit!"


"Pak Bima, Pak Krishna! Salam kenal! Saya Joni, asisten pribadinya Pak Yusuf!" Bima hanya mengangguk dari kejauhan.


"Semalam aman, Jon?"


"Aman bos! Si Kamboja kemarin sore datang! Untung eike datang juga pas dia sampai! Jadi eike langsung usir dah tuh wadon!" Yusuf hanya mengangguk-angguk saja.


"Tapi bos! Eike curiga takutnya dese kemari cari bos!"


"Udah kamu tenang aja! Kita bakalan pergi sebelum dia datang! Untuk urusan dia biar anak-anak yang urus!


Yusuf ke ruang tengah untuk meminta bantuan anak-anak. Anak-anak masih tertawa mengingat kejadian tadi.


" Anak-anak! Abang minta tolong kalian urus Kamboja kalau nanti dia kemari! O ya permintaan kalian untuk buka bazaar hari minggu abang setujui! Kalian persiapkan dengan baik ya! Dua minggu lagi waktunya!"


"Siap Bang!" Zack mewakili anak-anak. Anak-anak yang mendengar akan ada bazaar hasil karya mereka bersorak kegirangan.


Setelah sarapan, mereka bersiap untuk berangkat. Semua barang bawaan telah dimasukkan ke mobil termasuk kue jajanan pasar yang tadi dibeli Laras. Saat mobil keluar menuju jalan utama, tampak sebuah mobil sedan menuju ke rumah singgah. Joni mengenali mobil itu.


"Bos, kayaknya Si Kamboja datang deh?"


"Udah biar aja! Biar diurus sama anak-anak! Besok jangan lupa sebelum pulang kita beli oleh-oleh dulu untuk anak-anak!"


"Siap bos!"


"Hmmm... Kamboja itu siapa?" Cicit penasaran. Soalnya jika urusannya dengan anak-anak sudah pasti akan berujung pada hal tidak baik.


"Namanya Magnolia Vincent! Turunan bule! Cantik sih cantik cuma pedenya gak ketulungan. Berasa dia yang punya segalanya! Dese lagi nyari jalan untuk dijodohin sama eike punya bos! Udah ditolak berkali-kali masih aja ngejar-ngejar! Keponya tingkat dewa! Bahkan nyonya besar aja geram sama dia! Mbak Cicit mesti hati-hati sama dia!" Joni menjelaskan dengan gaya bicaranya yang melambai.


Setelah perjalanan satu jam akhirnya sampai di pusat Kota B. Laras minta mampir ke pasar untuk berbelanja sayuran. Joni menemani ibu dan anak itu. Sedangkan Yusuf menemani Bima dan Krishna di parkiran.


"Kamu yakin bisa menang? Kakek Cicit saja tidak bisa berbuat banyak." Bima bertanya tiba-tiba.


"Yakin! Kenapa kita harus menyerah? Kakek buyut saya pernah bilang jika kamu dihadapkan pada dua pilihan yang tidak mau kamu pilih maka buatlah pilihan ketiga."


"Apa pilihan ketigamu?"


"Rahasia! Bapak tenang saja! Semua sudah saya atur. Hanya perlu tahu siapa si pembuat masalah itu!"


"Ah biasa saja! Dalam dunia bisnis kita harus punya kekuatan juga kuasa! Jika lemah maka akan ditindas terus. Keluarga Winata tidak sendirian. Kami punya aliansi sendiri. Ada Kusuma Grup, Natakusuma Grup. Kami saling menguatkan. Tidak semua aliansi harus didasarkan pada pernikahan. Kusuma Grup sudah kami anggap seperti saudara sendiri." Yusuf menjelaskan.


"Natakusuma Grup itu punya ibumu?"


"Natakusuma sekarang dipegang oleh pamanku, Aoi Natakusuma. Mama hanya pegang 30% sahamnya saja."


"Saya penasaran waktu kamu bilang bikin bangkrut dalam semalam. Kamu punya kemampuan itu?"


"Tentu saja! Kami bisa membuat saham perusahaan terkait anjlok hanya dengan jentikan jari! Bahkan membelinya dengan harga murah! Semua itu bisa dilakukan." Yusuf sangat santai mengatakannya. Tapi perkataan Yusuf itu membuat Bima bergidik ngeri. Meski terlihat tenang dan kalem ternyata calon menantunya itu sangat menakutkan.


Setelah selesai belanja mereka melanjutkan perjalanan kembali. Saat memasuki desa, Yusuf mulai mengenang kembali kisah lama. Wajahnya tersenyum. Cicit penasaran apa yang membuat lelakinya tersenyum.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri gitu?"


"Aku tersenyum karena mengingat saat dulu pertama kali kemari. Saat tersesat dan bertemu kamu!" Sontak wajah Cicit tersipu malu. Cicit diam dan tidak berani bertanya lagi. Bima yang memperhatikan dari belakang hanya tersenyum kecil.


Mereka sampai sekitar pukul 11 siang. Laras dan Cicit segera membawa bahan makanan ke dapur. Mereka segera masak. Sebelum memasak, Laras menempatkan kue-kue yang dibelinya pagi tadi di piring. Sementara untuk pengganjal perut sebelum makanan siap.


Setelah makan siang dan solat zuhur mereka berkumpul di teras.


"Jon, bagaimana dengan yang ku minta apa sudah ada petunjuk?"


"Sudah bos! Sebenarnya ada dua yang meminta perjodohan dengan Non Cicit! Satu dari Keluarga Vincent dan satunya lagi belum diketahui!"


"Kok bisa?"


"Iya bos! Pertahanan mereka kuat susah ditembus!"


Tidak mungkin kan kalau ku bilang bahwa yang satu lagi adalah permintaan bos besar! Nanti bisa digantung eike sama papa bos!


"Terus Vincent yang dimaksud itu apa keluarganya Kamboja?"


"Yap! Betul bos! Tepatnya Jordan Vincent! Kakaknya Magnolia! Tetapi sepertinya Keluarga Dinata tidak ingin menjalin hubungan kerja sama dengan Keluarga Vincent."

__ADS_1


"Vincent ya??! Sebelumnya ayah pernah menyinggung tentang Vincent sepertinya. Ayah pernah marah karena hampir saja ditipu mereka. Beruntung ayah selalu melakukan penyelidikan lebih dulu terhadap orang yang mengajukan kerja sama. Mungkin karena itu juga ayah berani menolak perjodohan yang mereka minta tanpa harus mengkonfirmasi dulu dengan kami." Laras memberikan info.


"Berarti untuk sementara Vincent bisa dilupakan dulu. Terus siapa yang berani bermain-main denganku! Buat jengkel saja!" Yusuf mulai emosi. Sementara Joni hanya bisa tertawa dalam hati.


Tak lama kemudian terdengar suara klakson berbunyi. Dua mobil tiba di garasi rumah. Pak Surya dan rombongan sudah datang. Cakra, Shaka, Arsha, dan Sandi juga hadir.


"Kakek Krishna!" ucap Shaka.


"Shaka apa kabar?"


"Baik kek!"


"Jadi, cuma Shaka saja yang ditanya? Sandi sama Bang Arsha, juga Bang Cakra gak ditanyain?" Sandi merajuk.


"Mana mungkin kalian gak ditanya. Kalian semua kan cucu kakek!" Jendral Krishna memeluk semua cucunya.


"Arsha, ayahmu dimana? Dia tidak ikut?" Jendral Krishna tidak melihat Harun.


"Ayah dan ibu tidak bisa datang, paman besar! Ayah dipanggil ke markas." Jendral Krishna paham dan tidak bertanya lagi.


"Bang Bima, Kak Laras! Ini ada titipan dari ibu!" Arsha memberikan bungkusan kepada Laras. Laras menerima bungkusan itu dan menaruhnya di dalam.


Yusuf menghampiri orang-orang yang baru datang. Cakra memanggil Yusuf.


"Bang Ucup, kemari! Sini, Cakra kenalin sama saudaranya Cakra!" Yusuf mendatangi Cakra dan memperkenalkan diri.


"Saya Yusuf Mahardika Winata! Panggil saja Ucup!" Yusuf menjabat tangan mereka satu per satu. Sama seperti Cakra waktu pertama bertemu Yusuf, Sandi, Shaka, dan Arsha juga harus mendongakkan kepala mereka untuk melihat wajah Yusuf.


Pak Surya juga menghampiri Yusuf.


"Surya! Saya kakeknya Cicit!" Pak Surya menjabat tangan Yusuf.


"Saya Yusuf Mahardika Winata! Panggil saja Ucup!"


Saya sudah tahu siapa kamu! Memang tidak salah pilih. Pemuda yang sangat cocok dengan Cicit. Pak Surya.


Sekarang mereka semua duduk di ruang tamu.


"Yah, apa alasannya sampai-sampai ayah tidak bisa menolak perjodohan itu?" Laras mulai membuka percakapan.


"Orang tua dari laki-laki itu sangat menyukai Cicit. Katanya setelah melihat foto Cicit mereka langsung suka. Katanya sangat cocok dengan anak mereka. Ayah juga sudah menjelaskan kalau Cicit sudah punya orang yang disukai tapi mereka tidak peduli. Mereka hanya ingin Cicit. Nanti malam keluarga mereka datang ke sini. Jika ingin menolak itu lebih baik kalian yang bicara karena kalian orang tuanya. Mungkin mereka lebih bisa mendengarkan kalian."


"Maaf saya menyela! Kalau boleh tahu dari keluarga mana mereka?" Yusuf bertanya karena penasaran.


"Mereka bilang saya tidak boleh memberitahu kamu! Kamu bisa bertemu mereka nanti malam. Jika kamu keberatan kamu bisa negosiasi secara langsung dengan mereka." Pak Surya dapat melihat rasa kesal di wajah Yusuf.


Maafkan saya ya! Ini permintaan kedua orang tuamu sih. Pak Surya.


"Begitu ya?!"


"Kamu sabar saja dulu! Buat saja strategi untuk menghadapi mereka!" Pak Surya memberi saran.


"Baik, pak!"


Malam telah tiba. Rumah keluarga Dinata terlihat ramai. Yusuf terlihat cemas dan tegang sejak tadi. Begitu juga dengan Cicit. Berbeda dengan mereka, Bima kini berwajah cerah. Pasalnya sejak tahu ada orang lain selain Ucup yang akan meminta putrinya, Bima jadi tidak senang. Bima sebenarnya sudah suka dengan Yusuf sejak pertama kali bertemu. Pria itu tidak mau Cicit bersama dengan yang lain. Dia bahkan sempat berpikir akan mengambil jalan kekerasan jika kesepakatan tidak dicapai.


Tapi kini Bima tidak perlu khawatir lagi. Yang perlu dilakukannya sekarang hanya mengikuti permainan saja. Setelah pertemuan di ruang tamu tadi. Pak Surya mengajak Bima, Laras, dan Jendral Krishna ke gudang belakang. Pak Surya memberitahu yang sebenarnya kepada mereka bertiga. Bima sangat lega setelah mendengar itu.


Bima mulai jahil kepada Yusuf. Pria paruh baya itu mulai mengompori Yusuf.


"Saya tadi diberitahu Kakek Surya kalau lawanmu itu sangat tangguh dan kuat. Saya sudah lihat fotonya. Dia lebih tampan dari kamu. Saya sepertinya suka dengan dia!" Bima memanas-manasi Yusuf.


"Kita lihat saja nanti! Saya pasti menang!" Yusuf tidak mau kalah.


Bima hanya tertawa kecil melihat ekspresi Yusuf yang mulai gelisah.


Rasakan itu! hahaha. Bima.


Suara mobil berhenti terdengar. Keluarga Cicit segera keluar untuk menyambut tamu. Semua beranjak keluar hanya Yusuf saja yang tidak beranjak pergi. Malas sekali jika harus menyambut musuh. Cicit masih belum keluar kamar. Rencananya jika sudah sepakat baru Cicit akan dibawa keluar.


Keluarga Dinata menyambut tamu yang berjumlah delapan orang.


"Mari silakan masuk!" Pak Surya mempersilakan masuk.


"Mana orang katanya akan mengajukan keberatan dengan rencana kami?" Mama Aiu sengaja bersuara lantang.

__ADS_1


Dari dalam Yusuf sayup-sayup seperti mendengar suara mamanya. Pria itu tetap tidak peduli dan tidak beranjak dari duduknya. Rombongan sampai di ruang tamu. Yusuf tetap tak bergeming. Dia tidak peduli dengan orang yang datang. Wajahnya masih menatap layar hape. Sejak tadi dia berusaha menelepon mamanya agar datang tetapi sejak sejam lalu tidak bisa dihubungi. Di saat Yusuf sedang fokus dengan hapenya, tiba-tiba dia kejutkan dengan suara yang dikenalnya.


"Ooo... jadi ini orang yang ingin mengajukan keberatan dengan rencana saya!" Yusuf menoleh ke arah suara. Betapa mengejutkannya bahwa orang yang diteleponnya sejak tadi ada dihadapannya.


__ADS_2