
Waktu sudah hampir menunjukkan tengah hari. Cuaca hari ini begitu terik. Angin pun tak semilir seperti biasanya. Seorang gadis berambut coklat sudah sejak tadi mengipasi tubuhnya yang kepanasan. Peluh yang keluar sudah berkali-kali disekanya. Entah sudah berapa banyak tisu yang habis untuk menyeka. Sudah hampir satu jam dia berdiri di tempat penjemputan tetapi sampai saat ini tidak ada seorang pun yang menjemputnya.
Kakinya sudah letih berdiri. Sumbu kesabarannya hampir habis terbakar. Dirinya masih mengira bahwa kemacetan ibukota adalah alasan utama lamanya penjemputan. Seorang pengawal wanita yang menemaninya sejak tadi sudah menyarankan untuk menelepon dan bertanya apakah ada yang menjemputnya? Tetapi saran itu tidak didengarkan. Gadis itu masih menganggap bahwa dirinya adalah tamu istimewa yang harus diperlakukan istimewa.
"Assalamualaikum tante!" Akhirnya gadis berambut coklat itu menghubungi Mama Aiu.
"Waalaikumsalam! Ada apa Rachel? Kamu sudah sampai?" Mama Aiu bertanya dengan polosnya.
"Iya tante! Rachel sudah sampai sejak sejam yang lalu. Kok mobilnya gak sampai-sampai ya?"
"Mobil? Mobil apa ya Rachel?" Mama Aiu balik bertanya.
"Mobil yang jemput Rachel kok gak sampai-sampai ya dari tadi. Rachel sudah capek menunggu!"
"Astaghfirullah! Maaf Rachel! Tante lupa! Sekarang ini semua supir sedang melakukan tugas lain yang berkaitan dengan persiapan pesta! Jadi maaf gak ada yang bisa jemput! Gimana kalau kamu naik taksi aja?"
Sialan! Dasar wanita tua! Rachel.
"Baiklah tante! Rachel bawa satu pengawal untuk tinggal di rumah!"
"Oke! Baiklah! Hati-hati di jalan ya!"
Rachel kesal setengah mati dibuat lama menunggu. Jika saja dia memiliki kekuatan super mungkin saat ini bandara itu sudah rata dengan tanah.
"Nona, apa perlu saya panggilkan taksi?" Pengawal bernama Ros itu bertanya.
"Apa masih perlu kamu bertanya?" Rachel semakin kesal karena pertanyaan dari pengawalnya.
Gadis dengan pakaian serba hitam itu segera memanggil taksi. Tak lama kemudian taksi datang. Supir taksi segera membukakan pintu untuk Rachel dan pengawalnya. Kemudian membuka bagasi dan memasukkan semua barang.
"Kita mau ke mana Nona?" tanya supir taksi dengan sopan.
"Kediaman Winata!" menjawab dengan ketus.
"Kediaman Winata itu di mana?" Mata Rachel langsung membelalak. Urat-urat yang tadinya sudah rileks kini kembali berkontraksi.
"Kediaman Winata ya kediaman Winata! Kok masih tanya!"
"Maaf non! Saya benar-benar tidak tahu di mana kediaman Winata. Apa ada alamat atau kartu nama, non? Maklum saya baru pertama jadi supir taksi!" sang supir nyengir kuda.
"Astaga! Banyak sekali orang menyebalkan hari ini!" Rachel mengeluarkan kartu nama dan memberikannya kepada supir taksi. Supir taksi menerima kartu itu dan segera membacanya.
"O... kalau alamat ini sih saya tahu, non!" tetap dengan nyengir kudanya. Rachel meremas tangannya menahan emosi.
Hampir sejam perjalanan. Akhirnya taksi sampai di tujuan. Hanya saja taksi itu tidak diperbolehkan masuk ke dalam halaman. Hanya boleh berhenti di pintu gerbang.
"Ada apa ini? Kenapa tidak masuk saja?"
"Maaf, Nona Rachel! Taksi hanya boleh sampai gerbang saja! Tidak diperbolehkan masuk ke dalam! Ini sudah aturan dari Tuan Besar!" Seorang pengawal yang berjaga menjawab pertanyaan Rachel.
"Apaa?" Sejak kapan ada aturan itu?"
"Sejak kejadian pengeboman dulu itu! Stelah rumah direnovasi aturan ini berlaku sampai sekarang! Jadi, silakan Nona Rachel turun dan berjalan sampai ke rumah utama!" Sekali lagi Rachel dibuat kesal dengan aturan yang tak masuk akal. Jarak antara gerbang dengan rumah utama begitu jauh. Dia harus berjalan dengan sepatu hak tingginya.
Akhirnya Rachel turun dari taksi. Sebelum pergi dia meminta pengawal di gerbang untuk membawakan kopernya tetapi ditolak pengawal itu, "Maaf nona! Saya tidak bisa meninggalkan pos jaga!" Rachel merasa seperti sedang dikerjai.
Akhirnya Rachel membawa kopernya sendiri dan berjalan menuju rumah utama. Gadis itu juga melepas high heels-nya. Kini mereka sampai di pintu rumah utama. Tak ada seorang pun yang menyambutnya di sana. Jadi dia harus menekan bel pintu agar pintu terbuka.
Ting Nong! Ting Nong! Ting Nong! Rachel menekan bel berkali-kali. Kali ini kesabarannya sudah habis. Pak Im segera membuka pintu. Pak Im terkejut melihat wajah wanita di hadapannya. Riasan yang sudah luntur, wajah yang letih serta rambut yang sedikit berantakan.
"Maaf, nona siapa?" Pak Im tidak sadar bahwa di hadapannya adalah Rachel.
"Pak Im, saya Rachel! Sudahlah pak! Cepat buka pintunya! Saya sudah capek!" Pak Im tak menyangka kalau wanita di hadapannya adalah Rachel.
__ADS_1
"Maafkan saya nona! Saya hampir tidak mengenali anda! Silakan masuk, Non Rachel!" Pak Im segera mempersilakan masuk Rachel.
"Di mana kamar saya?" Pak Im segera membawa Rachel menuju kamar tamu yang sudah disiapkan. Rachelengerutkan dahinya saat sampai di depan kamar tamu.
"Silakan non! Ini kamar non!" Pak Im membukakan pintu kamar.
"Bapak tidak salah membawa saya ke kamar ini?" Pak Im menggeleng tanda bahwa dirinya benar.
"Di mana tante? Masa saya tinggal di kamar tamu?" Suara Rachel mulai meninggi.
"Nyonya besar dan Tuan besar tidak ada di rumah. Mereka di hotel sedang mengurus persiapan pesta!"
"Siapa yang menyiapkan kamar ini?"
"Nyonya Muda atas perintah Nyonya Besar!"
"Apa tidak ada kamar lain?"
"Tidak ada nona! Semua kamar utama sudah terisi. Lagipula sejak dulu kan kamar utama di rumah ini hanya ada 4 saja! Sisanya kamar tamu!" Rachel mengepal tangannya. Sedari kecil dia hanya tinggal di kamar tamu.
"Di mana kamar Nona Kembar? Saya mau istirahat di sana saja!"
"Maaf nona! Kami tidak ada yang tahu password untuk masuk ke kamar Nona Kembar!"
"Bukankah setiap hari dibersihkan?!"
"Password akan berganti otomatis setiap kali selesai dibersihkan! Jadi kami tidak tahu passwordnya! Kecuali meminta kepada Nona Aisy dan Maira!"
Sialan! Apa-apaan rumah ini! Setelah kepergianku banyak sekali yang berubah! Rachel.
"Ya sudah saya akan tinggal di kamar ini! Siapkan kamar lain untuk pengawal saya!"
"Baik nona!"
Rachel pun memasuki kamar tamu disusul dengan Pak Im di belakangnya. Pak Im membawakan kopernya. Setelah itu Pak Im mengajak Ros menuju kamar tamu lainnya. Pak Im mempersilakan Ros untuk beristirahat. Rachel berpesan agar waktu makan siang nanti semua pelayan berkumpul di ruang makan. Dia kan memilih pelayan untuk melayaninya.
"Ceritakan padaku apa saja yang sudah terjadi selama aku tidak ada!"
"Tidak ada yang berubah non! Semua yang saya laporkan kepada nona mulai hari itu sama saja. Semua kegiatan rumah saja. Tuan besar atau Tuan Muda tidak pernah membawa urusan kantor ke rumah. Lagipula selain Pak Im tidak ada seorang pelayan pun yang memiliki akses untuk dekat dengan mereka. Kami sudah diberi tugas masing-masing." Mona melaporkan semuanya.
"Apa mereka mencurigaimu selama ini?"
"Tidak non! Mereka tidak curiga! Sudah saya katakan tadi bahwa hanya Pak Im saya yang bisa dekat dengan mereka. Selain itu tidak ada lagi yang diperbolehkan mendekat tanpa seijin Pak Im!"
"Apa nyonya barumu itu curiga juga?"
"Tidak non!"
"Bagus! Dia sudah mengambil Yusuf dariku! Maka aku akan merebutnya kembali!"
Tidak semudah itu Cuckoo! Mona.
Waktu berlalu dengan cepat. Tak terasa matahari sudah akan terlelap kembali. Seorang gadis sedang menunggu kepulangan sang pujaan hati di teras rumah. Tak lama sebuah mobil memasuki halaman rumah. Gadis itu tersenyum senang. Kini gadis itu sudah rapi, cantik, dan wangi. Bersiap menyambut sang pujaan.
Mobil berhenti tepat di muka teras. Asisten setia turun lebih dulu untuk membukakan pintu sang tuan. Seorang pria tampan turun dari mobil. Meski sudah sore wajah tampannya tak luntur. Pria itu berdiri di samping mobil mengulurkan tangannya hendak menyambut seseorang yang masih ada di dalam mobil. Tak lama seorang wanita cantik berhijab turun sambil memegang tangan pria tampan itu. Mereka berjalan beriringan menuju ke dalam rumah.
Gadis berambut coklat itu langsung berlari menghampiri sang pria pujaan tanpa memedulikan wanita yang digandeng sang pria. Sayang seribu sayang, gayung pun tak bersambut. Harapan pupus. Angan pelukan hangat tinggallah angan.
"Aww! Sakit!" Rachel terjatuh saat melompat ke arah Yusuf. Yusuf menghindari Rachel dengan bergeser ke samping Cicit. Yusuf tidak peduli dengan Rachel. Pria itu terus membawa istrinya masuk ke dalam rumah. Rachel segera menyusul pasangan itu.
"Ucup kamu kok tega banget sama aku! Aku jatuh tahu!" Rachel menunjukkan sikap manjanya kepada Yusuf.
"Terus kenapa?"
__ADS_1
"Aku kan baru pulang masa tidak disambut? Istri kamu itu tidak bekerja dengan baik!"
"Apanya yang tidak bekerja dengan baik?"
"Aku tidak dijemput! Disuruh naik taksi! Jalan dari gerbang sampai rumah! Terus tinggal di kamar tamu!" Rachel mencoba memprovokasi Yusuf.
"Setauku kamu itu cuma minta disiapkan kamar! Istriku sudah menyiapkan kamar untukmu! Jadi dimananya yang salah?"
"Masa aku di kamar tamu?"
"Kamu kan memang tamu! Jadi ya tinggal di kamar tamu! Kamu jangan lupa ya status kamu di rumah ini hanya tamu! Tamu ya tinggal di kamar tamu! Bukannya sejak dulu juga tinggal di kamar tamu!?" Yusuf menjawab dengan tegas. Niat hati ingin mempermalukan Cicit tapi malah dirinya yang dipermalukan.
"Pak Im!"
"Saya, Tuan Muda!"
"Mulai detik ini jika ada orang yang berkeliaran di kediaman Winata dengan pakaian seperti orang itu segera usir dia keluar! Ini Kediaman Winata bukan rumah bordil!" Telunjuk Yusuf masih menunjuk ke arah Rachel. Hanya saja wajahnya tidak melihatnya. Rachel mengenakan pakaian seksi dengan maksud hati menggoda Yusuf.
Pasutri itu langsung menaiki tangga menuju kamar. Rachel sangat geram dan sakit hati mendengar ucapan Yusuf. Sesampainya di kamar, Yusuf langsung duduk di sofa.
"Rumah jadi tidak tenang kalau ada dia." Yusuf mengeluh.
"Apa penampilannya barusan membuat hasratmu jadi tidak tenang juga?"
"Kamu cemburu ya?" Cicit menggeleng.
"Kalau kamu yang berpenampilan begitu baru hasratku bisa tidak tenang! Kalau tidak percaya kamu bisa pegang Si Junior! Dia saja masih lemas gitu!" Yusuf menarik tangan Cicit untuk menyentuh barang miliknya.
"Iya! Aku percaya!" Cicit menarik tangannya. Wajahnya memerah karena malu.
"Kamu kapan sih selesainya? Aku mau buka puasa!"
"Tunggu adzan maghrib! Kamu baru bisa buka puasa!" Yusuf rajin puasa Senin-Kamis. Hari ini Hari Kamis Yusuf berpuasa.
"O.. iya juga! Yang, buatkan aku bakwan untuk buka puasa!"
"Iya, nanti ku buatkan! Sekarang kamu mandi dulu ya!" Cicit mendorong Yusuf ke kamar mandi. Saat akan meninggalkan kamar mandi, Yusuf menarik tangan Cicit untuk ikut masuk juga.
"Kamu itu apa-apaan sih? Kamu lagi puasa lho!"
"Tahu! Tapi aku pengen dimandiin sama istriku!" Yusuf bertingkah manja. Akhirnya Cicit mengalah dan mandi bersama.
Setelah mandi Yusuf menemani Cicit memasak bakwan di dapur. Pemandangan itu tak luput dari mata Rachel. Gadis itu sungguh dibuat kesal oleh mereka. Yusuf sengaja tidak membiarkan Cicit melakukan apapun seorang diri di rumah. Alasannya tentu untuk melindungi Cicit dan mencegah sesuatu yang buruk terjadi. Alasan lainnya tentu ingin membuat Rachel kesal setengah mati.
Sialan! Mereka malah mesra-mesraan! Rachel.
"Ucup sayang! Kamu ngeh gak sih kalau ada yang ngintip?" Yusuf hanya mengangguk.
"Kalau gitu kita bikin baper aja dia! Nah kebetulan udah adzan maghrib!"
Cicit sudah menyiapkan bakwan dan segelas susu di meja makan untuk buka puasa suaminya. Dengan manja Yusuf meminta istrinya untuk menyuapinya. Cicit mengiyakan permintaan Yusuf. Pemandangan itu tentu membuat mata Rachel sangat pedih. Terlebih ketika Yusuf yang tiba-tiba mencium bibir Cicit.
"Memang lebih afdol kalau buka puasa pakai kiss! Makan apapun jadi berasa lebih enak!"
"Kamu itu mesum deh!"
"Biarin! Yang penting kan mesumnya sama istri sendiri!" Yusuf menjawil hidung Cicit yang kini berada di pangkuannya.
"Kamu mau makan apa malam ini?"
"Pengennya sih makan kamu tapi lagi gak bisa!" Cicit langsung mencubit pinggang Yusuf.
"Ampuun nyonya! Kita makan di luar aja ya! Aku kangen sama anak-anak di rumah singgah. Sekalian pengen makan bakso Mang Ujang!"
__ADS_1
"Ya sudah, nanti aku kirim pesan ke Zack agar anak-anak bisa makan di warung sekitar rumah singgah! Ya sudah kamu solat maghrib dulu! Aku mau siap-siap juga!"
Mereka berdua membereskan meja makan sebelum kembali ke kamar. Setelah solat maghrib Yusuf memacu mobilnya menuju rumah singgah. Malam itu Yusuf dan Cicit bersuka ria bersama anak-anak di rumah singgah. Mereka banyak bertukar cerita terutama anak-anak yang senang karena akan pergi ke pesta. Mereka juga memamerkan baju-baju yang akan mereka pakai di pesta. Malam itu berakhir bahagia bagi pasutri itu. Sebaliknya sangat menyedihkan bagi Rachel.